Moona dan Shiren merupakan kakak adik yang saling menjaga dan menyayangi.
Namun entah mengapa Shiren dengan teganya menjebak adiknya yang bernama Moona melakukan hubungan one night stand dengan calon suaminya sendiri di hari menjelang pernikahan antara Shiren dan Ryan tersebut.
Hingga pernikahan pun berganti mempelai yakni Moona lah yang menggantikan sang kakak untuk bersanding di pelaminan bersama dengan Ryan.
Bagaimana kisah ketiga nya selanjutnya?
Yukk ikuti terus setiap episodenya.
Jangan lupa untuk like, komen dan subscribenya yaa🤗
Terimakasih ❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
End
Siang itu terlihat Ryan dan Shiren yang tengah duduk berdua di restoran yang tak jauh dari kantornya tersebut. Terlihat wajah Ryan yang nampak berseri-seri begitu melihat Shiren mengajaknya makan siang bersama. Berbeda dengan wajah Shiren yang terlihat menatap Ryan dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Pesanlah lebih dulu Ryan," ucap Shiren dengan menyodorkan buku menu kepada Ryan.
Ryan pun dengan segera melihat buku menu tersebut dan segera memilih beberapa menu. Setelah itu giliran Shiren yang menulis menu makan siang yang sedang di ingin kan nya tersebut.
Tak lama kemudian menu tersebut pun terhidang di depan keduanya. Dengan segera Shiren pun melahap menu yang telah ia pesan.
"Ryan, jangan lagi mengharapkan ku. Hiduplah dengan bahagia bersama dengan adikku. Karena aku sudah mencintai Angga sudah sejak lama sebelum bertemu denganmu. Dan sekarang pun sudah ada janin yang tumbuh di dalam perutku ini," ucap Shiren dengan tanpa perasaan hingga membuat Ryan pun tak percaya dengan apa yang sedang Shiren ucapkan.
"Kamu bercanda kan sayang?" ucap Ryan dengan berharap bahwa yang dirinya dengar adalah kesalahan.
"Aku berkata sejujurnya. Lihatlah foto usg bayi yang sedang ku kandung yang telah memasuki usia dua bulan. Aku telah mengkhianati mu dengan melakukan hal tersebut hingga diriku hamil," tutur Shiren dengan meletakkan alat makan nya dan menyodorkan sebuah lembaran hasil USG.
Ryan pun segera melihat lembaran kertas hasil USG tersebut dengan mata yang memerah menahan amarah.
"Kenapa kalian dengan sengaja mempermainkan ku?!" pekik Ryan dengan nada tinggi yang membuat seluruh pengunjung menatap keduanya.
"Maaf ... maka dari itu aku menjebak kalian malam itu. Agar kamu segera memiliki pendamping hidup yang baik seperti adikku Ryan. Aku pun berharap agar adikku Moona segera mengandung anak kamu agar kamu bisa segera menerima kehadiran adikku dan calon anak kalian," ucap Shiren dengan lirih karena rasa bersalah menghinggapi nya kembali.
"Kenapa kamu tega sekali mengorbankan adik kandung kamu Moona? Tidakkah kamu tahu jika setiap hari aku selalu menyiksa Moona dan berharap agar kamu segera kembali ke sisi ku? Namun apa yang aku dengar kali ini? Aku sangat kecewa terhadap kamu Shiren!" pekik Ryan dengan segera meninggalkan restoran tersebut dengan perasaan kacau.
Di dalam hati Ryan pun rasanya sangat sesak sekali melihat dan mendengar ucapan yang mengalir dari mulut Shiren yang terlihat tanpa beban sedikit pun.
Ryan pun memutuskan untuk kembali menuju kantornya. Hingga dirinya sampai di depan perusahaan nya pun dirinya melihat tubuh Moona yang terlihat bersimbah darah dan di masukkan ke dalam ambulan karena telah ditabrak oleh sebuah mobil.
Kejadian pun bermula ketika Moona hendak menyeberang menuju ke restoran di depan kantornya tersebut untuk menemui kedua sahabatnya yang telah dulu tiba dan menunggu di restoran tersebut.
Tubuh Moona pun terlihat terpental sejauh 20 meter hingga siapa pun yang melihat kejadian tersebut pun berteriak dengan histeris.
Tak luput Lily, Dika dan Dryan yang melihat kejadian tersebut yang terjadi di depan matanya secara langsung pun membuat ketiga nya lemas tak berdaya.
Ketiga nya pun segera berlari menolong Moona yang sudah bersimbah darah dengan denyut nadi yang kian melemah. Tak lama kemudian ambulan dan petugas medis pun segera membawa tubuh Moona tersebut dengan di ikuti oleh ketiga teman nya tersebut dengan ikut masuk ke dalam ambulan.
Lily pun nampak menangis dengan sangat histeris di dalam ambulan tersebut hingga dirinya pun tak sadarkan diri.
Sedangkan Ryan, dengan cepat mengikuti kemana ambulans tersebut melaju dengan perasaan kacau balau. Ryan pun terlihat merutuki segala sikap buruknya terhadap istri kecilnya tersebut dan telah menuduhnya dengan banyak praduga yang tidak pantas untuk di ucapkan.
Hingga tak lama kemudian ambulans tersebut tiba disebuah rumah sakit terdekat. Dengan cepat petugas dan dokter yang berjaga di IGD pun terlihat segera mengambil tindakan.
"Keluarga pasien!" ucap sang dokter dengan lantang.
"Saya dok!" ucap Ryan dengan segera mendekat ke arah dokter tersebut.
"Pasien butuh operasi secepatnya. Tolong segera tanda tangani untuk persetujuan operasi dari pihak keluarga," ucap sang dokter.
Ryan pun dengan segera membubuhkan tanda tanganya di selembar kertas persetujuan tersebut. Tak lama kemudian operasi pun di lakukan.
Hingga berjam-jam lamanya sang dokter pun tidak kunjung keluar dari ruangan tersebut hingga membuat tubuh Lily, Dika, Ryan dan Dryan pun semakin lemas dan memiliki firasat buruk tentang keadaan Moona.
Setengah jam kemudian sang dokter pun keluar dari ruangan nya tersebut dengan muka lesu.
Dengan segera mereka pun berlari mendekati sang dokter. "Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Ryan dengan muka cemas.
Dokter pun terlihat menggeleng lemah. "Saya dan petugas medis yang terlibat telah melakukan yang terbaik untuk pasien. Namun nona tersebut telah meninggalkan kita semua. Kami turut berduka cita sedalam-dalamnya," ucap sang dokter tersebut yang membuat mereka semua menjadi syok begitu juga kedua orang tua Moona yang terlihat menangis histeris mendapati putri bungsunya telah meninggal kan mereka untuk selamanya.
Pemakaman pun di lakukan dengan cepat yang nampak di sertai dengan turun nya hujan yang membuat Ryan pun semakin bersalah terhadap almarhumah istrinya tersebut. Apalagi ketika sang dokter mengatakan jika almarhum istrinya tersebut sedang hamil muda dan keduanya tidak ada yang bisa di selamat kan.
Ryan pun menangis meraung dipemakaman istrinya tersebut hingga dirinya pun ditemukan jatuh pingsan karena tubuhnya yang terserang demam tinggi.
Hari pun telah berganti bulan dan tahun. Ryan pun terlihat bangkit dari keterpurukan nya dengan menyibukkan diri dengan terus bekerja tanpa memikirkan wanita lain manapun setelah penyesalan nya karena telah menyia-nyiakan wanita baik hati dan calon anaknya yang kini telah berada di syurga.