"Aku terjebak dalam draf novel yang bahkan belum aku pikirkan alur ceritanya, dan sialnya, aku adalah karakter utamanya."
Tidak ada sistem yang akan membuatku kaya raya. Tidak ada kekuatan luar biasa yang diberikan untuk melawan para penjahat di dunia ini. Hanya aku, seorang penulis yang terjebak di tubuh seorang budak bernama Julian, ditemani oleh Anima dan Animus yang cerewet, serta Yisla gadis miskin yang menyelamatkanku dari perbudakan bersama kakak laki-lakinya bernama Vito.
Kami harus lari dari kejaran para penguasa, menukar daging beku demi koin perak, dan mencoba bertahan hidup di dunia yang genrenya terus berubah di luar kendali.
Bersama Yisla, gadis yang menjadi satu-satunya saksi perjuanganku, aku sebagai Julian harus melintasi perbatasan Utara yang dingin menuju ke Selatan. Mencoba peruntungan hidup baru demi merubah hidupku dan Yisla.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
...── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──...
Langkah kaki Julian dan Yisla terhenti di depan bangunan kayu tiga lantai yang tampak memprihatinkan. Papan namanya yang bertuliskan 'Penginapan Cozy Nyaman' menggantung miring, berderit ngilu saat dihantam angin.
Yisla refleks merapatkan mantel barunya. "Jul... kamu yakin kita nggak salah tempat? Ini tempat menginap atau bekas sarang penyamun? Kok auranya mistis banget."
Duit kita pas-pasan, Yisla. Kalau nekat cari yang estetik di jalan utama, besok kita pulang sambil ngesot, batin Astra merana meraba sisa sepuluh koin peraknya.
"Sudah, yang penting ada atap dan kasur. Ayo masuk!" balas Julian, langsung mendorong pintu kayu yang berdecit nyaring.
Crieeettt!
Di balik meja konter yang berdebu, duduk seorang pria paruh baya bermuka masam. Julian mengetuk meja dengan percaya diri.
"Permisi, Pak. Kamar kosong untuk semalam berapa harganya?"
Resepsionis itu mendongak dengan malas. "Untuk satu kamar dua ranjang, lagi diskon jadi cuma tiga koin perak. Tapi kalau mau yang satu kamar satu ranjang, harganya lima koin perak."
Julian langsung melongo. Otak-nya seketika eror. Hah? Logika fiksi macam apa ini?! Di belahan bumi mana kamar dua ranjang harganya jauh lebih murah?!
Yisla menyenggol lengan Julian pelan. "Jul... kok aneh ya? Kamar yang kasurnya lebih banyak malah lebih murah?"
"Anu, Pak... kok bisa kamar dua ranjang lebih murah?" tanya Julian menyelidik.
"Kamar dua ranjangnya dekat gudang kayu di belakang, agak bising kalau malam. Mau ambil yang mana? Cepat pilih," jawab resepsionis itu acuh tak acuh.
Julian melirik sisa koinnya, lalu berdeham. "Oke, saya ambil yang diskon tiga koin perak saja, Pak."
Yisla spontan membelalakkan matanya, menatap Julian dengan wajah syok dan pipi yang mendadak memanas.
"J-Julian?! Berarti... kita bakal tidur sekamar?"
Melihat reaksi panik dari Yisla, Julian mendadak sadar dan buru-buru menatap resepsionis itu lagi.
"Bentar, Pak! Itu kamarnya... maksudnya ranjangnya terpisah jauh atau bagaimana, ya?"
Resepsionis itu menguap lebar sambil menyodorkan sebuah kunci kuningan.
"Ranjangnya ada dua, tapi ukurannya kecil-kecil dan dijadikan satu berdempetan di tengah ruangan karena kamarnya sempit. Jadi ya... sama saja kayak tidur seranjang. Mau kamar lain?"
Julian menelan ludah berat, sementara di sampingnya, Yisla sudah menenggelamkan setengah wajahnya ke dalam syal dengan pipi yang memerah padam.
Mampus dah, batin Astra menjerit panik sekaligus pasrah. Skenario macam apa lagi ini?! Menghemat budget malah berujung jebakan maut iman jilid dua!
Julian buru-buru menyambar kunci kuningan itu dan menaruh tiga koin perak di atas konter, lalu menarik Yisla menjauh secepat kilat sebelum si resepsionis berubah pikiran.
Mereka menaiki tangga kayu yang berderit parah hingga akhirnya menemukan pintu kamar nomor 13 di ujung lorong.
Cklek. Brak.
Julian langsung mengunci pintu rapat-rapat, bersandarkan daun pintu sambil mengembuskan napas panjang. Kamar ini benar-benar sempit. Dua ranjang kayu kecil diletakkan berdempetan tepat di tengah ruangan hanya menyisakan ruang gerak yang sangat terbatas.
Julian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Y-Yisla... maaf banget, ya. Aku beneran nggak tahu kalau konsep 'dua ranjang' di sini tuh sekocak ini. Ini murni demi menghemat sisa koin kita buat besok pulang."
Yisla tidak langsung menjawab. Ia melepas mantel barunya dan hanya menyisakan pakaian rajut yang lebih tipis. Wajahnya sengaja dipalingkan ke arah lain, seolah menutupi rona merah muda di pipinya.
"I-iya, nggak apa-apa, Jul. Aku tahu kok."
Julian ikut melepas mantel wolnya, lalu dengan kaku mendudukkan diri di kasur sebelah kiri.
Yisla, setelah ragu sejenak, ikut duduk di kasur sebelah kanan tepat di samping Julian tanpa adanya jarak.
Wush.... Suhu mendadak drop tanda-tanda kemunculan Duo Hemisphere bersaudara, mereka tampak sudah nangkring bersila di atas lemari pakaian di kamar itu.
"Skema klise komedi romantis yang sangat mudah ditebak," cibir Animus sinis.
"Ayo Julian! Tunggu apa lagi? Suasananya sudah mendukung nich!" seru Anima histeris.
Heh, kalian, bisa diam gak?! Kepalaku rasanya mau pecah! jerit Astra frustrasi dalam hati.
Namun, perhatian Julian mendadak teralih saat melihat gerak-gerik aneh Yisla.
Gadis di sampingnya itu mendadak bertingkah aneh. Napasnya agak memburu, matanya pun sayu, dan tubuhnya sedikit limbung seperti akan kehilangan keseimbangan.
"Yisla? Kamu sakit?" tanya Julian, mendadak panik.
"N-nggak... aku gak apa-apa, Jul," elak Yisla terbata-bata, mencoba memundurkan tubuhnya namun gerakannya justru terlihat makin lemas.
Julian yang menganggap situasi ini serius tidak percaya begitu saja. "Muka kamu merah banget, Yisla. Jangan bohong."
Tanpa pikir panjang, Julian memajukan tubuhnya. Ia condong ke depan, mendekatkan wajahnya demi memeriksa suhu kening Yisla dengan telapak tangannya. Jarak mereka kini terkikis begitu instan hingga embusan napas Julian langsung menerpa wajah Yisla.
Yisla terkejut, refleks bergerak mundur karena terlalu gugup. Sialnya, kasur kecil yang mereka duduki bergeser sedikit akibat tekanan mendadak. Kaki Julian pun slip di sela-sela sambungan ranjang.
Gedebuk!
Efek domino terjadi lagi, tapi kali ini jauh lebih berbahaya untuk kesehatan jantung hahaha, ehem.
Julian kehilangan keseimbangan dan jatuh menindih Yisla. Kasur pun berderit nyaring saat tubuh mereka mendarat di atas kasur. Posisi mereka seketika mengunci atmosfer ruangan, Yisla kini telentang di bawah tubuh Julian, sementara kedua tangan Julian bertumpu di sisi kiri dan kanan kepala Yisla, seolah-olah sedang mengurung gadis itu sepenuhnya.
Napas Julian tercekat. Matanya terkunci pada sepasang mata bulat Yisla yang sekarang berjarak kurang dari lima sentimeter dari wajahnya. Jantungnya berdegup brutal, saking kencangnya sampai terasa seperti mau mendobrak dadanya.
Di atas lemari, Anima dan Animus yang tadinya siap memprovokasi, mendadak saling pandang satu sama lain.
"Oke, sepertinya kita harus segera enyah dari sini," bisik Animus.
"Uuu, momennya terlalu suci untuk diganggu, nich! Selamat 'berjuang', Author-ku sayang~" goda Anima penuh gairah dengan suara super pelan.
Wush.... Kedua entitas itu menghilang dalam sekejap, menyisakan keheningan antara Yisla dan Julian yang masih di posisi yang sama.