NovelToon NovelToon
Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Minggu sore. Suasana di rumah orang tua Aurel terasa tenang. Raka sedang bermain mobil-mobilan di ruang keluarga bersama kakeknya. Sementara Aurel membantu ibunya menyiapkan teh di dapur.

Tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.

Ayah Aurel melongok ke luar jendela. "Sepertinya ada tamu."

Tak lama kemudian, bel rumah berbunyi. Aurel melangkah membuka pintu.

Begitu pintu terbuka, langkahnya terhenti. Di hadapannya berdiri kedua orang tua Mahesa.

"Pak... Bu..." Suara Aurel terdengar pelan.

Ibu Mahesa langsung menundukkan kepala. "Maaf mengganggu, Nak."

"Boleh kami masuk?"

Aurel terdiam beberapa detik sebelum mengangguk. "Tentu, Pak... Bu... silakan."

Ayah dan ibu Mahesa masuk dengan langkah pelan. Suasana ruang tamu mendadak terasa canggung. Ayah Aurel mempersilakan mereka duduk.

Setelah teh tersaji, tidak ada satu pun yang langsung memulai pembicaraan.

Hingga akhirnya ayah Mahesa menarik napas panjang. "Pak..."

"Saya datang ke sini sebagai orang tua."

"Bukan untuk membela Mahesa."

Ayah Aurel hanya mengangguk.

"Kami datang..."

"...untuk meminta maaf." Kalimat itu membuat suasana semakin sunyi.

Ibu Mahesa mulai menangis pelan.

"Maafkan anak kami."

"Kami gagal mendidiknya menjadi suami yang baik."

Aurel menundukkan kepala. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

Ayah Mahesa kembali berbicara. "Selama ini keluarga Bapak sudah sangat baik kepada Mahesa."

"Bahkan saat mereka merintis usaha..."

"...keluarga Bapak ikut membantu."

"Kami tidak akan pernah melupakan itu."

Ayah Aurel menghela napas panjang. "Yang terjadi sudah terjadi."

Ayah Mahesa mengangguk. "Iya."

"Dan kami tidak datang untuk meminta Aurel membatalkan gugatan."

Aurel menatap mertuanya.

"Kami tahu..."

"...Mahesa yang salah."

Ruangan kembali hening. Ayah Mahesa lalu mengeluarkan sebuah map dari tasnya.

"Soal rumah..."

"Kami sudah mendengarnya."

"Mahesa sempat bercerita."

Ia meletakkan map itu di atas meja.

"Kami sekeluarga ikhlas."

"Kalau nantinya rumah itu menjadi milik Aurel."

Aurel langsung menggeleng. "Pak..."

Ayah Mahesa mengangkat tangan, menghentikan ucapan Aurel.

"Dengarkan saya dulu."

"Rumah itu berdiri di atas tanah milik keluarga Aurel."

"Kami tahu itu."

"Kalaupun keluarga kami ikut membantu membangun..."

"...kami tidak ingin bantuan itu menjadi alasan untuk menyulitkan Aurel."

Ibu Mahesa mengusap air matanya. "Anggap saja itu hadiah kami untuk Raka."

Mata Aurel mulai berkaca-kaca. Ia sama sekali tidak menyangka kedua mertuanya akan berkata demikian.

Ayah Mahesa kemudian menatap Aurel dengan mata yang mulai memerah.

"Tapi..."

"Kami punya satu permintaan."

Aurel mengangguk pelan. "Apa itu, Pak?"

Suara ayah Mahesa bergetar. "Jangan putuskan hubungan kami dengan Raka."

"Kami ikhlas kehilangan menantu."

"Kami juga menerima keputusan Aurel."

"Tapi..."

"...tolong jangan ambil cucu kami."

Ibu Mahesa tak lagi mampu menahan tangis. "Raka tidak bersalah."

"Dia tetap darah daging kami."

Aurel ikut meneteskan air mata. Sejak awal, ia tidak pernah berniat menjauhkan Raka dari kakek dan neneknya.

Ia menarik napas panjang sebelum menjawab. "Pak... Bu..."

"Sejak awal saya tidak pernah berniat memisahkan Raka dari kakek dan neneknya."

Kedua orang tua Mahesa menatap Aurel.

"Masalah saya adalah dengan Mahesa."

"Bukan dengan Bapak dan Ibu."

"Raka tetap boleh bertemu."

"Tetap boleh berkunjung."

"Dan tetap boleh menyayangi kakek neneknya."

Tangis ibu Mahesa semakin pecah. "Terima kasih, Nak."

Ayah Mahesa mengusap sudut matanya yang mulai basah. "Terima kasih. Aurel..."

"...terima kasih karena masih berhati besar kepada kami."

Aurel menggeleng pelan. "Bapak dan Ibu tidak pernah menyakiti saya."

"Justru selama saya menjadi bagian dari keluarga, Bapak dan Ibu selalu memperlakukan saya seperti anak sendiri."

Ayah Aurel yang sejak tadi hanya diam akhirnya berbicara. "Kami semua sama-sama menjadi korban dari keputusan Mahesa."

"Tidak ada gunanya saling menyalahkan antarkeluarga."

Ayah Mahesa mengangguk dengan mata berkaca-kaca. "Semoga setelah semua proses ini selesai..."

"...hubungan kedua keluarga tetap baik."

Di sudut ruang keluarga, Raka yang sejak tadi tidak memahami pembicaraan orang-orang dewasa berlari kecil menghampiri.

"Kakek..."

Sapaan polos itu membuat kedua orang tua Mahesa spontan menoleh. Ibu Mahesa langsung memeluk cucunya erat. Tangisnya kembali pecah. Di pelukan kecil Raka, mereka menemukan satu alasan untuk tetap menjaga hubungan baik dengan keluarga Aurel, meski ikatan pernikahan antara Aurel dan Mahesa sebentar lagi akan benar-benar berakhir.

♡♡♡

Pagi yang cerah, suasana pengadilan jauh lebih ramai daripada biasanya. Orang-orang datang dengan berbagai urusan. Ada yang mengurus perceraian, sengketa warisan, hingga perkara perdata lainnya.

Aurel menarik napas panjang sebelum turun dari mobil. Hari ini adalah sidang yang telah lama ia tunggu.

Di sampingnya, Arya Aditia berjalan sambil membawa map berisi seluruh berkas perkara.

"Sudah siap, Bu Aurel?" tanya Arya.

Aurel mengangguk pelan. "Insyaallah."

Arya tersenyum tipis. "Ingat, jawab semua pertanyaan dengan tenang. Tidak perlu terburu-buru."

"Baik, Pak." jawab Aurel.

Mereka kemudian berjalan memasuki gedung pengadilan.

Di ruang tunggu, Mahesa sudah lebih dulu datang. Wajahnya tampak lelah. Beberapa malam terakhir ia memang sulit tidur.

Tatapannya langsung bertemu dengan Aurel. Namun, seperti biasa, Aurel hanya mengangguk sekilas sebelum duduk di kursi yang cukup berjauhan.

Tak lama kemudian, Najwa datang.

"Rel."

Aurel berdiri dan memeluk sahabatnya. "Makasih sudah datang."

Najwa mengusap bahu Aurel. "Aku datang bukan cuma sebagai sahabat."

"Tapi juga sebagai saksi."

"Aku akan menyampaikan apa yang memang aku ketahui."

Aurel mengangguk penuh rasa syukur.

Sementara itu, di sudut lain ruang tunggu, seorang perempuan mengenakan kacamata hitam tampak memperhatikan mereka. Dia Kayla. Ia sengaja datang pagi-pagi. Bukan karena dipanggil sebagai saksi. Melainkan karena ingin memastikan satu hal. Bahwa proses perceraian Mahesa dan Aurel benar-benar berjalan.

Di benak Kayla hanya ada satu harapan. Semakin cepat Mahesa resmi bercerai, semakin cepat pula ia bisa menikah dengan Mahesa.

Namun saat melihat Mahesa terus memandang ke arah Aurel dengan sorot mata penuh penyesalan, hati Kayla mulai terasa tidak nyaman.

Ia berjalan menghampiri Mahesa. "Kamu sudah datang dari tadi?"

Mahesa menoleh sekilas. "Iya."

"Kamu ngapain ke sini?"

Kayla tersenyum kecil. "Aku cuma mau mendukung kamu."

Mahesa mengembuskan napas pelan.

"Aku tidak minta didukung."

Jawaban itu membuat senyum Kayla memudar.

"Tapi aku ingin melihat semuanya selesai."

Mahesa tidak menjawab. Ia kembali menatap ke arah ruang sidang. Bagi Mahesa, sidang hari ini bukan sesuatu yang ingin dirayakan. Sebaliknya. Setiap langkah menuju ruang sidang terasa seperti membawa dirinya semakin dekat pada kehilangan yang tidak pernah ia inginkan.

Beberapa menit kemudian, nama para pihak dipanggil. Aurel, Mahesa, dan kuasa hukum masing-masing memasuki ruang sidang.

Kayla hanya bisa menunggu di luar. Ia duduk dengan gelisah. Sesekali melihat pintu ruang sidang yang tertutup rapat.

Di dalam ruang sidang, persidangan dimulai. Majelis hakim memeriksa identitas para pihak, lalu mempersilakan proses pembuktian dilanjutkan.

Arya menyerahkan sejumlah dokumen yang telah disusun dengan rapi. Bukti-bukti percakapan. Dokumen yang berkaitan dengan perkara. Serta bukti lain yang mendukung dalil gugatan Aurel.

Setelah itu, hakim mempersilakan saksi dari pihak Aurel memberikan keterangan.

Najwa melangkah maju dengan tenang. Ia mengucapkan sumpah sesuai ketentuan, lalu mulai menjawab setiap pertanyaan hakim dengan jelas.

Najwa menjelaskan apa yang ia ketahui secara langsung, termasuk kondisi Aurel setelah perselingkuhan itu terbongkar dan fakta-fakta yang memang pernah ia saksikan sendiri.

Arya sesekali mengajukan pertanyaan untuk memperjelas keterangan tersebut.

Sementara Mahesa hanya bisa menundukkan kepala. Semakin banyak fakta yang terungkap di ruang sidang, semakin ia menyadari bahwa tidak ada lagi yang bisa disembunyikan.

Di luar ruang sidang, Kayla berjalan mondar-mandir. Baginya, sidang itu bukan sekadar proses hukum. Melainkan gerbang menuju kehidupan baru yang selama ini ia impikan. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa impiannya dan keinginan Mahesa kini sudah berjalan ke arah yang berbeda.

Kayla menunggu dengan penuh harap. Sedangkan di dalam ruang sidang, Aurel hanya memiliki satu doa. Semoga semua proses ini segera selesai, agar dirinya dan Raka bisa benar-benar memulai kehidupan yang baru.

1
Ma Em
Karena Aurel percaya seratus persen pada Galang jadi Aurel tdk menaruh curiga pada dua orang peselingkuh itu sampai bertahun tahun .
jekey
up lg thor
Allea
bagusss
Ma Em
Mahesa selingkuh dgn Kayla selama tujuh tahun dan Aurel tdk curiga sama sekali kalau Kayla sendiri tdk beritahu Aurel sekarang Aurel msh tenang2 saja , benar2 perselingkuhan yg hebat bisa sampai tujuh THN tdk diketahui .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!