Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.
Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.
Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.
Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.
Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.
Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
𖣂|Bab 31 Keteguhan Diambang Batas|
...|Legacy of Soryu|...
......· · ─ ·𖥸· ─ · ·......
Shu berdiri tegak, dengan napas yang masih memburu, sementara kepalan tangannya yang memerah masih terasa panas. Di hadapannya, Bara Soryu tetap berlutut dengan kepala tertunduk. Darah menetes dari dagu sang pewaris Soryu, mendarat satu per satu di atas semen yang berdebu.
"Aku sudah bertanya dengan sopan," desis Shu, suaranya parau karena emosi yang meluap.
"Aku sudah memberikanmu kesempatan untuk menjelaskan tanpa perlu ada kekerasan. Tapi kau terus bertele-tele dengan jawaban tidak jelasmu itu."
Shu mulai berjalan melingkar. Kemudian ia berhenti tepat di belakang tubuh Bara, ia membungkuk sedikit hingga bibirnya berada di dekat telinga pria itu.
"Jadi sekarang," bisik Shu dengan nada mematikan, "aku akan bertanya dengan cara yang berbeda. Cara yang biasa dipahami oleh orang-orang seperti kita."
Bara tidak memberikan reaksi fisik apa pun. Ia tetap diam, seolah sedang menghemat setiap inci tenaganya untuk tetap sadar.
Shu mundur dua langkah, lalu memberikan isyarat kepada anak buahnya yang berdiri di sudut-sudut ruangan. "Lepaskan ikatannya."
Para pengawal itu saling lirik, ragu. "Tuan Muda Shu, tapi dia—"
"Lepaskan sekarang!" bentak Shu.
Salah satu dari mereka maju dan memotong tali yang melilit pergelangan tangan Bara. Begitu terbebas, tangan Bara jatuh terkulai ke samping. Ia menggerakkan jemarinya perlahan yang terasa kaku dan gemetar—namun tidak ada satu pun keluhan yang keluar dari mulutnya.
Shu melepas jaket kulitnya, melemparkannya ke kursi kosong disampingnya. Kaus hitamnya kini telah basah karena di guyur keringat.
"Kau boleh melawan, Soryu," tantang Shu sembari memasang kuda-kuda. "Gunakan kemampuan beladiri ala keluarga Soryu-mu itu. Aku tidak akan melarangmu membela diri."
Bara mendongak perlahan, menatap Shu dengan satu mata yang masih bisa terbuka. Ia menggeleng lemah. "Aku... tidak akan melawan."
"Kenapa?! Kau ingin membuatku terlihat seperti pengecut yang menghajar orang tak berdaya?!" Shu berteriak frustrasi.
"Bukan," jawab Bara lirih. "Karena aku mengerti kenapa kau marah. Jika aku berada di posisimu, aku mungkin akan melakukan hal yang jauh lebih buruk."
Shu tertawa pahit, sebuah tawa yang sarat akan kebencian. "Kau tidak mengerti apa-apa soal rasa sakit adikku!"
BUGH!
Pukulan pertama Shu mendarat telak di ulu hati. Bara tidak menghindar. Ia justru menerima seluruh kekuatan pukulan itu tanpa perlawanan sedikitpun. Tubuhnya tertekuk ke depan.
"Kau tidak akan berteriak?" tanya Shu, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari Bara.
Bara mengatur napasnya yang tersengal, menatap Shu dengan datar. "Apa gunanya? Teriakan tidak akan menyembuhkan luka Nana."
Mendengar nama adiknya disebut oleh pria yang dianggapnya sebagai perusak, amarah Shu meledak kembali. Ia melayangkan pukulan kedua tepat ke arah rusuk kiri Bara.
BRAK!
Bara tersungkur ke samping, lutut dan sikunya menghantam semen dengan keras. Ia mengerang tertahan, sebuah suara pendek yang menunjukkan rasa sakit yang luar biasa, namun ia segera memaksa tubuhnya untuk bangkit kembali.
"Katakan!" perintah Shu sembari menarik kerah kaus Bara yang sudah bernoda darah. "Kenapa kau mendekati Nana? Apa rencanamu dengan keluarga Adama?!"
Bara menggeleng pelan, darah merembes dari sudut bibirnya. "Aku tidak bisa mengatakannya padamu."
Shu melepaskan cengkeramannya dan memberikan tendangan keras ke perut Bara.
DUAR!
Tubuh Bara terguling ke belakang, punggungnya menghantam lantai dengan suara berdebam.
Dari sudut ruangan, Davian menjerit histeris.
"STOP! TUAN SHU, TOLONG BERHENTI! ANDA BISA MEMBUNUHNYA!"
Shu tidak bergeming. Fokusnya terkunci pada sosok yang kini sedang berusaha merangkak bangun di depannya. "Bangkit, Soryu! Jangan jadi pengecut! Bangkit dan jawab aku!"
Bara, dengan tangan yang gemetaran, kembali menopang tubuhnya. Ia berdiri dengan kaki yang sudah goyah, namun postur punggungnya tetap dipaksa tegak.
Pukulan-pukulan berikutnya datang tanpa henti. Kanan ke arah pipi, kiri ke arah rahang, disusul serangan bertubi-tubi ke arah tubuh bagian tengah. Bara tetap pada pendiriannya, ia tidak memblok satu pun mencoba menangkis serangan. Ia membiarkan dirinya menjadi samsak hidup bagi kemarahan Shu.
Wajah yang biasanya bersih dan berwibawa itu kini berubah drastis. Alisnya pecah, hidungnya berdarah, dan pipinya membiru. Namun, di balik lebam itu, mata Bara tetap menyimpan ketenangan.
"Tuan Shu, berhenti! Dia bisa mati!" teriak Davian lagi, suaranya parau karena terus menangis.
Shu berhenti sejenak. "Dia tidak akan mati secepat itu. Aku tahu persis di mana harus memukul tanpa menghancurkan organ vitalnya."
"TAPI DIA SUDAH MUNTAH DARAH!"
Shu melirik ke lantai, melihat genangan merah gelap yang keluar dari mulut Bara. Ia kembali menatap Bara. "Bicara, Soryu! Katakan satu hal saja yang masuk akal, dan aku akan berhenti."
Bara mendongak, matanya yang setengah tertutup darah menatap Shu dengan sisa kekuatannya. "Aku... tetap pada jawabanku. Aku tidak bisa memberitahumu."
Amarah Shu yang kini tercampur dengan rasa frustrasi karena tidak bisa mematahkan mental Bara, membuatnya gelap mata. Ia memberikan satu tendangan terakhir tepat ke dada Bara dengan seluruh tenaganya.
BRAK!
Kepala Bara membentur lantai semen dengan suara keras yang memuakkan. Tubuhnya kini tergeletak diam, tidak lagi bergerak.
"Masih hidup, Tuan muda," lapor salah satu anak buah Shu setelah memeriksa denyut nadi di leher Bara. "Tapi sangat lemah. Sepertinya dia pingsan."
Shu mundur beberapa langkah, ia menatap tangannya yang kini sudah memar, lalu menatap tubuh Bara yang bersimbah darah. Rasa puas yang ia harapkan ternyata tidak kunjung datang yang ada hanyalah kekosongan yang menyesakkan.
"Bawa dia ke ruang belakang," perintah Shu dengan suara serak. "Obati lukanya. Jangan sampai dia mati sebelum aku mendapatkan jawaban."
"Tapi Tuan, keadaannya—"
"Lakukan saja!" bentak Shu sebelum ia berjalan keluar meninggalkan gudang dengan perasaan yang berkecamuk.
Satu jam kemudian, di sebuah ruangan sempit di belakang gudang, Davian duduk bersimpuh di samping tubuh Bara yang terbaring tak sadarkan diri di atas kasur tipis. Wajah Bara hampir seluruhnya tertutup perban darurat.
Davian menyeka air matanya dengan pundaknya karena tangannya masih terikat, ia menatap majikannya dengan penuh kesedihan.
"Wakadanna... kenapa Anda harus melakukan ini? Kenapa tidak jujur saja kalau Anda memang sengaja mendekati Nona Nana untuk mendapatkan informasi tentang ayah Anda..."
Bara tetap diam dalam tidurnya yang dalam akibat trauma fisik. Davian menyadari satu hal malam itu, Bara Soryu mungkin adalah seorang monster di mata dunia, tetapi monster tidak akan pernah membiarkan dirinya hancur hanya untuk menebus rasa bersalah kepada seorang gadis.
"Ternyata Anda jauh lebih manusiawi daripada yang saya kira, Wakadanna," bisik Davian lirih, sembari terus menjaga Bara di tengah kesunyian gudang yang mencekam.
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉