NovelToon NovelToon
CEO Galak Takluk Pada Pewaris Kecilnya

CEO Galak Takluk Pada Pewaris Kecilnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:28.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mom Ilaa

"Musnahkan benih itu!"
Satu perintah dingin dari Adrian Winston menghancurkan segalanya. Perselingkuhan istrinya adalah luka yang tak termaafkan. Ia tidak hanya menjatuhkan talak tiga, tapi juga bersumpah untuk menghapus setiap jejak darah dagingnya dari muka bumi. Adrian ingin masa lalunya mati.
Namun, di sudut kota yang berbeda, Elena melakukan kegilaan. Terjepit antara paksaan kakeknya untuk memiliki pewaris dan kebenciannya pada pernikahan, ia mencuri sampel berharga dari musuh bebuyutan keluarganya sendiri, benih yang seharusnya sudah dimusnahkan.
Lima tahun kemudian, Adrian adalah raja bisnis tak berhati. Sampai suatu hari di kantor polisi, seorang bocah mungil menarik ujung jas mahalnya.
"Paman... Papa Achi yang bangkit dali kubul ya? Tapi napa pakai baju kelja? Bukan kain putih? Badannya napa ndak gendut juga? Opelaci dali mana?”
Adrian membeku. Bocah itu memiliki mata yang sama persis dengannya, namun dengan mulut setajam silet yang terus mengoceh tentang wajah dan badannya.
Siapa sebenarnya bocah cadel yang berani menyebutnya sebagai Papa ini? Dan kemana Ibunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayi Raksasa

Pagi itu, seberkas cahaya matahari menyelinap di antara celah tirai, menggelitik kelopak mata Arshy. Gadis cilik itu mengerjap pelan, mengucek matanya yang masih terasa berat, lalu merosot turun dari ranjang. Dengan rambut acak-acakan dan langkah gontai yang belum seimbang, ia menyeret kakinya keluar kamar.

“Bunda…?” panggilnya dengan suara serak khas bangun tidur.

Tujuan pertamanya adalah kamar sang ibu. Namun saat pintu didorong pelan, yang ia temukan hanyalah kamar kosong. Ranjang sudah rapi, selimut terlipat sempurna di sudut kasur tapi sosok yang dicarinya tidak ada di sana.

Arshy memiringkan kepala. Alisnya bertaut heran. "Bunda ke mana…?" gumamnya pelan.

Awalnya ia berniat ke kamar mandi untuk mencuci muka, namun langkahnya terhenti saat ia melewati dapur. Di sana, ia melihat siluet ibunya.

Elena berdiri diam di depan kompor.

Di atas api yang menyala, sebuah panci kecil mengeluarkan uap pekat. Air di dalamnya sudah mendidih hebat, menimbulkan bunyi gemericik yang berisik, namun Elena sama sekali tidak bergerak. Ia hanya diam. Menatap kosong ke arah dinding, seolah jiwanya sedang terjebak di dimensi lain.

“Bunda?” Arshy memanggil hati-hati.

Elena tersentak. Bahunya sedikit melompat saat kesadarannya ditarik kembali ke realita. Dengan gerakan refleks yang kikuk, ia mematikan kompor tepat sebelum air di panci itu benar-benar menguap habis.

“Pagi, Sayang,” sapa Elena sembari memaksakan sebuah senyum.

Arshy tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah ibunya lekat-lekat. Mata Elena tampak merah dan sembab, sisa-sisa badai emosi semalam yang belum hilang sepenuhnya. Jari mungil Arshy terangkat, menunjuk ke arah mata ibunya.

“Bunda napa matanya melah-melah? Mata Bunda cakit?”

Elena tertegun sejenak. Ia mengelus sudut matanya, lalu menggeleng pelan. “Enggak kok.”

Kening Arshy berkerut dalam. Ia tampak berpikir keras, sebelum akhirnya matanya membulat sempurna seolah baru saja memecahkan misteri besar.

“Digigit tawon?!”

Tawa Elena pecah. Kepolosan itu sedikit mengikis awan mendung di hatinya. “Hm… mungkin saja.”

“Mana tawonnya, Bunda?!” Arshy langsung celingukan dengan heboh. “Bial Achi yang pukul pakai laket nyamuk! Belani-belaninya cakitin Bunda!”

Logat cadel itu membuat tawa Elena kembali mengalun, kali ini terasa lebih ringan. Elena berjongkok, membelai pipi chubby putrinya dengan penuh kasih. “Bukan karena tawon, Sayang. Bunda cuma begadang semalaman.”

Mendengar itu, Arshy langsung melipat tangan di depan dada, memasang wajah otoriter yang menggemaskan.

“Bunda jangan celalu begadang! Begadang itu ndak baik. Nanti Bunda cakit, lho!"

Ia menunduk sejenak, lalu menatap Elena dengan mata bening yang berkaca-kaca.

Hati Elena mencelos. Ia memang tidak sepenuhnya berbohong soal begadang. Bayangan tentang masa depan di keluarga Adrian terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.

Diterima atau dibuang? Apakah Papa Rendra akan mengakui mereka?

Elena mengepalkan tangan.

Tidak, aku harus bertahan. Ini satu-satunya jalan untuk mengungkap kebenaran di balik kematian orang tuaku.

"Elena... kamu harus kuat," bisiknya pada diri sendiri. Ia kemudian menoleh ke arah Arshy.

"Abangmu mana?"

“Abang macih bobo,” jawab Arshy sambil menguap lebar.

“Kalau… Paman yang kemarin?”

Arshy menunjuk ke arah ruang tamu. Di sana, di atas sofa sempit yang jelas tidak sanggup menampung postur tubuhnya yang atletis, sang CEO Adrian masih tertidur lelap. Kakinya yang panjang menjuntai keluar dengan posisi yang sangat tidak nyaman. Kontras sekali dengan citra aristokratnya sehari-hari.

Tiba-tiba, ponsel Elena bergetar. Nama 'Bianca terpampang di layar. Elena pun mengangkatnya dengan ekspresi dingin.

"Di mana kamu, El?! Dan di mana kedua ponakanku?" suara melengking Bianca langsung menyerang gendang telinga.

"Aku di rumah lama, Kak," jawab Elena datar.

"Ngapain di sana?! Cepat balik ke mansion Kakek! Sekalian bayar utangku di warung makan, sudah seminggu belum kubayar!"

Elena terdiam sesaat. Tatapannya menajam. "Baiklah. Tapi mulai sekarang... aku tidak akan kembali lagi ke mansion itu."

"Apa—?!"

Tut.

Panggilan diputus membuat Bianca kesal. Tapi Elena tak peduli lagi dengan kemarahan kakaknya di ujung sana.

Sementara itu, di ruang tamu, Arshy sedang memulai misi rahasia. Ia berjinjit mendekati Adrian, menatap wajah pria itu dengan penuh selidik.

"Tampan kali Paman ini. Cekinkelnya apa ya," gumamnya sembari hendak menyentuh pipi Adrian.

Tap!

Sebuah tangan menepuk bahu Arshy. Ia menoleh dan menemukan Arsen sudah berdiri di sana dengan wajah sedingin es. Arsen menempelkan telunjuk di bibir.

"Ssttt," bisik Arsen tajam. "Jangan tertipu. Paman ini yang kemarin bikin Bunda nangis."

Mata Arshy membelalak. "Hah? Kenapa?"

"Dia mau pisahin kita dari Bunda," lanjut Arsen dengan binar mata yang terlihat dewasa sebelum waktunya. Sebuah seringai tipis muncul di bibirnya. "Tapi tenang saja. Abang punya ide."

Arsen menyelinap masuk ke kamar dan kembali dengan kotak make-up bekas milik Bianca.

Dengan ketelitian layaknya seniman yang sedang merasuki raga bocah, Arsen mulai beraksi. Bedak ditabur tebal hingga wajah Adrian seputih porselen pecah, lipstik merah menyala dipoles asal-asalan, dan pensil alis digoreskan tanpa ampun. Arsen mendengus kesal karena betapa miripnya wajah Adrian dengan dirinya sendiri, rasanya seperti sedang mencorat-coret cermin.

Tak mau kalah, Arshy juga mengambil karet rambut warna-warni. Rambut klimis sang CEO kini dikuncir sana-sini hingga menyerupai antena serangga.

"Hehehe... Paman kayak bayi lakcaca!" Arshy melompat kegirangan, sementara Arsen tersenyum puas.

Beberapa saat kemudian, Elena muncul dari dapur. "Yuk, kita keluar sebentar. Bunda mau ke warung depan."

Saat Elena ingin melirik ke arah sofa, si kembar dengan sigap mendorong tubuh ibunya menuju pintu keluar.

"Eh? Kenapa?"

"Biar Paman istirahat saja, Bunda! Jangan diganggu!" sahut Arsen cepat. Elena mengernyit heran melihat tingkah mereka yang mendadak sangat pengertian, namun ia tetap melangkah keluar.

Di halaman, mereka berpapasan dengan Willy yang baru saja tiba dengan wajah lelah.

“Anda mau kemana, Non Elena?”

“Ke warung sebentar, bayar utang Bianca. Kami permisi dulu.”

Setelah kepergian mereka, Willy melangkah masuk ke rumah dengan santai. Di saat yang bersamaan, Adrian terbangun dengan tulang-tulang yang terasa remuk.

"Ugh..." Adrian mengerang. Ia terlalu malas untuk sekadar mencuci muka di wastafel tua rumah itu, takut airnya merusak tekstur kulitnya. Ia memilih langsung berjalan keluar.

Tepat di ambang pintu, ia bertabrakan dengan Willy.

Hening sejenak.

Detik berikutnya, tawa Willy meledak seketika.

"Pffft— HAHAHAHAHA!"

Adrian mengernyit tajam, auranya mendingin.

"Apa yang lucu?"

Willy berusaha menutup mulutnya, namun bahunya bergetar hebat sampai air mata keluar. Merasa ada yang tidak beres, Adrian menoleh ke arah kaca jendela yang memantulkan bayangannya.

"APA-APAAN INI?!"

Adrian melompat mundur, nyaris terjungkal. Di pantulan kaca, ia melihat sosok mengerikan, wajah putih berantakan, bibir merah menor yang meluber, dan rambut yang diikat bak pohon kelapa di pantai.

"WILLYYYYYY!!"

"Bukan saya, Bos! Sumpah! Saya baru sampai!" teriak Willy panik sambil menyodorkan sapu tangan.

Adrian merampasnya dengan kasar lalu menggosok wajahnya. Giginya gemertak. Ia tahu pasti siapa pelakunya. Dua kurcaci kecil yang sangat mirip dengannya itu.

“Bocah-bocah itu... beraninya mereka!” dengus Adrian, wajahnya memerah karena malu sekaligus kesal. Ia buru-buru masuk kembali ke dalam sebelum ada tetangga yang melihat sang CEO berubah menjadi ondel-ondel.

Di sisi lain, di jalan menuju warung, Elena kebingungan melihat anak kembarnya yang sejak tadi tak berhenti cekikikan.

— 🌹

1
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 goooddd
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 pait dong
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Abinaya Albab
ayah bulat 😂😂😂😂😂 semoga Adrian dengar 😂😂😂😂😂
A R
telolll dongg 🤣🤣
Budi Rahayu
alchy aku padamu ... aku cuka .... aku cuka .... 🫶💖😘
Budi Rahayu
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Abinaya Albab
mukanya mirip pas Adrian masih gendut 🤭 tp imut 😘
PengGeng EN SifHa
Ni anak bener² kebanyakan MAKAN MERCON DEHHHHH🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Rian Moontero
mampiiirrr😍
tia
bilang saja kalo cemburu,,gk usah ngomong mengada Ngada adrian 🤣
mimief
bodo amet..kata elena🤣
mimief
bukan dr kc ijo a
chi...dari tanah sengketa🤣🤣
suryanti1989
ceritanya lucu,bagus dan luar biasa,i like it
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
ririen handayani
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ tau aja mokondo
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Raisha
bener banget🤣🤣🤣🤣
Raisha
🤣🤣🤣🤣🤣 perut bulatnya papamu dah di jadiin pelampung arshy🤣🤣🤣
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ yassalam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!