NovelToon NovelToon
Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Petunjuk dari Surat yang Terbakar.

Matahari siang merayap kian tinggi di atas langit pesisir selatan, memancarkan hawa panas yang menyengat permukaan pasir dan batuan kapur. Namun, sebelum Erlang dan Sekar Arum melangkah lebih jauh menuju jalur timur laut Goa Langse yang disarankan oleh Bagas Suroto, Sekar mendadak menghentikan ayunan kakinya tepat di pembatas ceruk bukit karang tempat puing pondok Mbah Wiro berada.

"Erlang, tunggu sebentar," panggil Sekar Arum, matanya menatap tajam ke arah sisa-sisa tumpukan arang yang masih hitam legam. "Ada yang mengganjal di hatiku. Rasanya aneh kalau kita langsung pergi begitu saja tanpa memeriksa kembali tempat ini dengan lebih teliti. Pasukan bayaran Gagak Hitam itu terkenal sangat rapi, tapi dalam situasi kacau saat Mbah Wiro meloloskan diri, bisa jadi ada sesuatu yang terlewat oleh mereka."

Erlang menurunkan kembali pikulan bambunya ke atas tanah dengan gerakan santai, lalu menyeka keringat di lehernya menggunakan ujung baju lusuhnya. "Waduh, Nimas Sekar. Tempat ini kan sudah rata dengan tanah, semuanya sudah jadi arang hitam begini. Memangnya apa lagi yang bisa kita cari di antara abu sisa bakaran ini toh?"

"Kau ini memang tidak punya jiwa penyelidik sama sekali ya, Erlang," ketus Sekar sembari melangkah anggun namun cekatan mendekati area yang dulunya merupakan kamar Mbah Wiro. Jubahnya sengaja diangkat sedikit agar tidak menyentuh serpihan jelaga. "Musuh sehebat apa pun pasti punya celah kelalaian. Coba kau bantu aku menggeser sisa tiang penyangga yang tumbang di sebelah kananmu itu."

"Nggih, Nimas, siap laksanakan," sahut Erlang santai.

Ia berjalan mendekati tiang kayu jati besar yang sudah hangus terbakar setengah bagian. Dengan menggunakan dorongan tenaga murni ringan, Erlang mengangkat dan menggeser tiang berat itu semudah memindahkan sebatang ranting kering. Srek. Tiang itu bergeser, menyingkap seonggok gundukan abu tebal di bawahnya yang tidak terkena angin laut secara langsung.

Sekar Arum langsung berlutut di dekat gundukan abu tersebut. Sepasang mata bulatnya yang jernih bergerak lincah memindai tanah. Jemari lentiknya yang putih bersih perlahan mengorek sisa-sisa runtuhan atap rumbia yang mengarang. Tiba-tiba, gerakan tangan Sekar terhenti. Di balik sebuah pecahan genting tanah liat yang tertelungkup, terdapat sepotong kertas tebal yang kondisinya sudah sangat mengenaskan, pinggirannya hangus terbakar, namun bagian tengahnya masih menyisakan tulisan dan sebuah tanda yang sangat mencolok.

"Erlang! Kemari! Lihat ini!" seru Sekar, nada suaranya mendadak berubah menjadi sangat serius.

Erlang ikut berlutut di samping Sekar, memiringkan kepalanya mulai merasa penasaran. "Ada apa, Nimas? Wah, itu kertas apa toh? Kok ada warna merah-merah seperti darah kering di bagian bawahnya?"

"Ini bukan darah, Bodoh. Ini adalah cap segel resmi," bisik Sekar Arum, wajah cantiknya mendadak pucat pasi saat jarinya meraba sepotong lilin merah yang meleleh dan mencetak sebuah lambang kuno bermotif burung garuda yang sedang mencengkeram ular naga. "Gusti Allah... Erlang, ini bukan cap segel dari kadipaten lokal atau padepokan sepuh biasa. Ini adalah cap segel resmi dari Kerajaan Jenggala!"

Erlang menggaruk kepalanya yang tidak gatal, matanya mengerjap polos menatap potongan kertas tersebut. "Kerajaan Jenggala? Waduh, Jenggala itu kan wilayah timur yang katanya sudah lama melebur dengan kerajaan-kerajaan besar lainnya toh, Nimas? Kenapa surat dari tempat sejauh itu bisa ada di pondok terpencil pesisir selatan ini?"

"Itulah yang membuatku merinding, Erlang," jawab Sekar, suaranya agak bergetar sembari tangannya dengan sangat hati-hati membersihkan sisa jelaga yang menutupi beberapa baris tulisan yang masih tersisa di potongan surat tersebut. "Lihat baris tulisan yang belum hangus ini. '...kitab tanpa silsilah... harus dimusnahkan bersama sisa keturunan... jangan sampai batin selatan terbangun...'."

Erlang membaca kata demi kata yang ditunjuk oleh Sekar dengan dahi yang berkerut dalam. Aliran energi tak terbatas di dalam dadanya mendadak bergejolak hangat, seolah memberikan respons terhadap kata 'kitab tanpa silsilah' yang tertulis di kertas itu. "Nimas Sekar... kitab tanpa silsilah itu... apa mungkin maksudnya adalah kitab kulit tanpa nama yang sekarang sedang saya simpan di balik baju ini?"

"Kemungkinan besar iya, Erlang," sahut Sekar Arum tajam, matanya menatap lurus ke dalam sepasang mata jernih Erlang. "Sekarang semuanya mulai masuk akal secara nyata. Mengapa orang tua mu diserang orang sakti, mengapa Mbah Wiro diburu oleh pasukan bayaran kelas tinggi Gagak Hitam, dan mengapa rumah ini diratakan dengan tanah. Ini bukan sekadar urusan dendam lama dunia persilatan atau rebutan wilayah bajak laut. Ada pihak dari lingkaran dalam Kerajaan Jenggala kuno yang sangat ketakutan kalau keberadaanmu dan kitab ini terendus oleh dunia luar."

Erlang mengembuskan napas panjang, lalu tersenyum kecut sembari bangkit berdiri dan merapikan kembali ikat pinggang kainnya. "Waduh, misterinya makin lama makin melar seperti karet ya, Nimas. Saya ini cuma anak desa yang dari kecil hobinya cuma mencari kayu bakar dan makan tahu bacem di lereng Lawu. Kenapa sekarang malah dituduh membawa pusaka yang bisa membuat orang-orang kerajaan seberang ketakutan begitu toh?"

Sekar Arum ikut bangkit berdiri, menyimpan potongan surat bersegel resmi Jenggala itu dengan sangat hati-hati di dalam lipatan jubahnya. "Makanya, Erlang, garis keturunan ini pasti bukan orang sembarangan. Mbah Wiro adalah satu-satunya saksi hidup yang memegang kunci jawaban dari seluruh pertanyaan ini. Surat ini membuktikan bahwa musuh kita memiliki jaringan kekuasaan yang sangat luas dan berduit banyak, sampai bisa menggerakkan pasukan bayaran lintas wilayah."

"Nggih, Nimas Sekar. Berarti tebakan Kangmas Bagas Suroto tadi beneran tepat," kata Erlang santai, wajahnya kembali dihiasi oleh senyuman polosnya yang menenangkan batin. "Mbah Wiro sengaja memancing mereka ke arah celah Goa Langse agar surat-surat penting seperti ini tidak jatuh ke tangan pasukan Gagak Hitam. Beliau beneran orang tua yang sangat cerdik."

"Dan untungnya mereka terburu-buru membakar pondok ini hingga meluputkan potongan surat berharga ini di bawah tiang jati," timpal Sekar, rasa gusar dan ketus yang sempat membakar hatinya akibat urusan Mirah tadi kini sepenuhnya menguap, digantikan oleh kewaspadaan tinggi sebagai seorang rekan perjalanan yang setia. "Sekarang kita tidak punya alasan untuk menunda lagi, Erlang. Kita harus segera bergerak ke timur laut menuju Goa Langse sebelum pasukan bayaran itu menyadari kelalaian mereka dan kembali ke sini."

"Siap, Nimas Sekar! Mari kita berangkat," jawab Erlang semangat.

Ia memungut kembali pikulan bambu tuanya, menyampirkannya ke pundak kanan dengan gerakan yang sangat luwes dan tak berbeban. Langkah kaki Erlang yang menggunakan dasar Langkah Bambu Gurun kembali bergerak beriringan di samping Sekar Arum, meninggalkan pelataran ceruk rumah Mbah Wiro yang telah sunyi menyisakan puing arang hitam.

Matahari sore mulai condong ke barat saat kedua pemuda-pemudi itu menapakkan kaki mereka keluar dari area pantai Parangtritis, berjalan mantap menyusuri jalur perbukitan kapur purba yang gersang dan sepi. Penemuan potongan surat misterius bersegel resmi Kerajaan Jenggala itu tidak membuat nyali Erlang ciut, sebaliknya, hal itu justru kian mengobarkan semangatnya untuk menuntaskan amanah mendiang Pamannya dan menguak tabir kegelapan yang menyelimuti pembunuh orang tuanya di tanah selatan yang sarat akan misteri ini.

1
anggita
novel laga lokal yg cukup menghibur 👌
anggita
nama jurus yg sederhana namun tetap keren👌👍
Rokok Remik
sampai bab ini ceritanya bagus.
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!