Zaman sekarang mau dijodoh-jodohkan, siapa yang mau?. Bram, sepupu Byakta Aryasatya berusaha menjodohkan sepupunya itu dengan sepupu istrinya. Tahu sendiri keluarga dari sebelah Bella, istri Bram banyak yang alumni pondok pesantren bahkan ada yang memiliki pondok pesantren. Sementara pemahaman Bella sendiri standar saja meskipun dia menutup aurat juga. Byakta menolak tawaran Bram.
Di hari pertama, Byakta masuk kerja karena menggantikan posisi Manajer Keuangan yang resign, dia dikejutkan oleh ruangan divisi keuangan yang ramai bak pasar. Banyak karyawan perempuan sedang sibuk memilih-milih barang.
Zeevana yang punya lapak langsung dipanggil Byakta keruangannya. Gadis itu dilarang buka lapak di dalam kantor. Zeevana sangat kesal dengan Byakta padahal dia tidak mengganggu jam kerja. Byakta saja yang datangnya kepagian. Sejak hari itu Zeevana bersikap tidak bersahabat dengan atasannya itu.
Ternyata Zeevana adalah sepupu Bella. Bella juga akan menjodohkan Zeevana dengan sepupu suaminya.
Akankah Zeevana menerima perjodohan dari sepupunya ?
Impian Zeevana yang ingin memiliki suami yang bisa menjadi imamnya dunia akhirat akankah terwujud ?
Sementara Byakta yang sudah mengetahui dengan siapa dia akan dijodohkan, jadi berpikir ulang untuk mencoba mengenal Zeevana lebih dekat dengan caranya sendiri.
Bagaimana kelanjutan ceritanya...
Yuk lanjut baca aja 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rabiha Adzra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31 Terungkap
Byakta bekerja kembali setelah yakin kondisi Zeevana sudah sehat, namun dia belum mengizinkan istrinya untuk beraktivitas kembali di kantor.
Byakta penasaran dengan hasil penyelidikan. Siapa sebenarnya pelaku utama yang sudah mengurung Zeevana di gudang?.
"Bay, bagaimana hasilnya?," tanya Byakta tidak sabar kepada Bayu, sekretarisnya.
"Office Boy yang menyampaikan pesan kepada Ibu sudah mengaku, siapa yang telah menyuruhnya. Begitu juga dengan laki-laki yang mengunci Ibu di gudang, Pak," jawab Bayu.
"Siapa?," tanya Byakta lagi.
"Bapak pasti terkejut jika tahu siapa pelakunya," jawab Bayu melihat Byakta dengan tatapan serius. Byakta menunggu Bayu menyebutkan siapa nama pelakunya.
"Orangnya adalah Manajer Humas kita, Pak," lanjut Bayu.
"Apa!!. Shindi?," teriak Byakta tidak percaya.
Bayu hanya mengangguk.
Byakta menggelengkan kepala tidak percaya. Kenapa Shindi begitu jahat dengan istrinya?. Apa karena dia telah menolak Shindi secara terang-terangan dengan mengembalikan semua kado pemberian dari wanita itu, lantas dia sakit hati dengan Byakta dengan cara mencelakakan Zeevana.
"Di mana dia?. Aku akan membuat perhitungan dengannya," tanya Byakta geram bercampur emosi.
"Sejak Office Boy itu ketahuan, Bu Shindi sudah pergi meninggalkan perusahaan. Ruangannya juga sudah bersih dari barang-barang miliknya. Saya juga dapat informasi bahwa dia sudah kabur ke luar negeri, Pak," jawab Bayu.
"Kurang ajar!!," umpat Byakta kesal sambil mengepalkan tangannya. Dia sungguh tidak menyangka bahwa Shindi bisa senekad itu.
💞💞💞
Grup Kredit Mania
Icha : "Bu Bos, apa kabarnya?."
Vania: "Iya nih, sejak jadi istri Bos besar grup jadi sepi."
Chika: "He-eh. Apa Bu Bos nggak mengkreditkan barang lagi, yah?."
Mike: "Woi, jam kerja ini. Kalian nggak ada kerjaan apa?."
Vemy: "Iya, nih. Bos kamu kabur ke mana, Cha?."
Icha: "Heboh, Bos kami kabur karena tersangka utama. Aku dengar Pak By marah besar waktu aku lewat ruangannya tadi."
Vera: "Wuih, seram dong. Apalagi kalau udah menyangkut masalah istri tercinta."
Intan: "Bu bos sudah sehat, kan?." (Baru nimbrung )
Anita: "Iya, Bu Bos sudah sehat, tapi Pak By belum mengizinkan Bu Bos kerja lagi."
Vania: "Terus bagaimana kalau kita mau bayar utang?."
Mike: "Titip Pak Bos saja."
Chika: "Betul juga."
Zeevana: "Pintar, Chika. Sekali-sekali CEO yang menagih utang bagaimana?."
(Baru buka ponsel dan anggota yang chatting sudah banyak)
Vemy: "Huaaa. Jangan Bu bos, kalau ada uang kita langsung titip saja. Jangan pakai menagih segala. Malu tahu!."
Vera: "Memangnya kamu bakalan lama nggak masuk, Zee?."
Zeevana: "Tergantung instruksi Bos. Kalau katanya belum boleh, ya bagaimana. Mba Nita tolong handel tugasku, ya."
Anita: "Asyiaap, Bu Bos!!."
Vania: "Mba Nita gaul amat, yak. Hahaha."
Zeevana: "Udah, kalian lanjut bekerja lagi. Lapak sementara off dulu. Kalau ada barang baru nanti di share di grup."
Mike: "Bubar gerak!!!."
Seketika grup kredit mania sunyi kembali. Zeevana tersenyum sambil menatap ponselnya.
'Apa benar dalang dibalik semua itu Bu Shindi. Ya Tuhan, aku tidak menyangka hatinya begitu jahat, sampai tega mencelakakan orang lain demi nafsunya. Jelas-jelas Mas By nggak suka lagi sama dia. Kok nggak bisa terima, sih,' gumam Zeevana heran.
Zeevana keluar dari kamarnya untuk menemui mama mertuanya. Rencananya dia mau berkunjung ke rumah Abah.
"Memangnya By sudah mengizinkan kamu, Zee?," tanya Dwina.
"Iya, Ma. Asalkan yang mengantar Pak Joni. Aku nggak boleh bawa mobil sendiri," jawab Zeevana.
"Oh, ya sudah. Kalau By sudah memberi izin, mama jadi tenang," ujar Dwina lega.
"Aku pergi dulu, Ma. Assalamualaikum," pamit Zeevana mencium punggung tangan mertuanya.
"Pak Joni!!. Tolong antarkan Zee ke rumah Abah, ya," teriak Dwina setelah membalas salam menantunya.
"Iya, Bu. Siap," balas Joni segera mengambil kunci mobil.
💞💞💞💞
Tiba di kediaman rumah Abah Sa'id, Zeevana disambut oleh uminya dengan senang.
"Abah di mana, Mi?," tanya Zeevana.
"Abah sedang ke pondok," jawab umi Fatimah.
"Umi dengar dari mertuamu, katanya kamu sudah hamil, Zee?," lanjut Umi Fatimah.
"Alhamdulillah, Mi," jawab Zeevana tersenyum sambil mengelus perutnya yang masih kelihatan rata.
"Jaga kesehatan dan makanan. Kerja juga jangan terlalu capek," pesan Umi Fatimah.
"Iya Umi, Sayang," peluk Zeevana. "Lho, ada Mba Zelva," ujar Zeevana kaget melihat kakaknya baru saja keluar dari dapur.
"Mbak kamu itu mengungsi di sini karena rumahnya sedang direnovasi," jelas Umi Fatimah.
"Bukannya Mba tinggal di pondok?," tanya Zeevana.
"Kami tidak lagi tinggal di pondok. Kasihan guru baru yang datang dari jauh harus ngekost. Suami Mba membeli rumah yang sudah jadi dan kebetulan ada di depan pondok, Zee," jawab Zelva.
"Oh, begitu," ujar Zeevana setelah mendengarkan penjelasan kakaknya.
"Zee, akhir pekan nanti ajak By ke pondok,ya. Kita mau panen ikan lele. Makasih banget lho, Byakta sudah menyumbang banyak untuk pembudidayaan lele di pondok," ujar Zelva sumringah.
"Mas By nggak pernah cerita soal itu, Mba," ucap Zeevana polos.
"Berarti kamu juga nggak tahu kalau dia sering ke pondok ikut pengajian?," tanya Zelva.
Zeevana hanya menggeleng. Ada rasa bahagia yang membuncah di dada Zeevana. Ternyata tanpa sepengetahuannya, Byakta belajar ilmu agama secara diam-diam.
"Zee, kamu menginap di sini?," sela umi Fatimah.
"Nggak, Mi. Nanti pulang kerja, Mas By bakalan langsung ke sini untuk menjemput ku,"
"Oh, begitu. Umi tinggal ke dapur dulu, ya," Umi Fatimah meninggalkan kedua anaknya yang masih asik bercerita.
"Zee, Byakta pernah bilang sama Bang Faruq kalau dia malu jadi menantu Abah karena minim ilmu agama. Dan juga malu sama kamu karena dia belum bisa menjadi imam yang kamu impikan," lanjut Zelva.
'Ya Allah, Mas By,' batin Zeevana. Dia benar-benar merasa terharu mendengarkan cerita dari Zelva tentang usaha suaminya untuk menjadi imam yang baik baginya.
"Kamu tahu nggak?," tanya Zelva menatap wajah adiknya.
"Apa, Mba?," sahut Zeevana.
"Kalau sebenarnya Abah yang meminta Byakta agar menikahi kamu gara-gara foto itu. Papa mertua kamu juga kaget, apa yang sudah anaknya lakukan sampai Abah meminta anaknya dinikahi Byakta," cerita Zelva.
"Ya Allah, Abah!!. Buat aku malu saja." Zeevana menepuk jidatnya sambil tersenyum malu.
"Itulah jodoh, Zee. Bang Faruq memang mau mengenalkan temannya, ustadz Ahmad kepada kamu. Tapi setelah diberitahu apa pekerjaan kamu, dia bilang kalau dia nggak mau punya istri seorang wanita karir. Padahal masalah itu kan bisa dikomunikasikan kalau sudah menikah nanti. Eh, keburu Abah sudah mengumumkan calon suami kamu. Jadi klop deh, ta'aruf dengan ustad Ahmad dibatalkan," ujar Zelva.
Zeevana sendiri tidak menyangka dia akan menikah dengan laki-laki yang menurutnya sangat menyebalkan. Namun siapa sangka, ternyata Byakta perlahan-lahan berubah untuk mewujudkan impian Zeevana memiliki seorang imam yang dia impikan selama ini.