terjadi kesalahan cerita, cerita akan di mulai dengan cerita baru. cerita ini tiba-tiba terjadi kesalahan yang tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Cinta untuk Nona Muda"
Koridor lantai dua sepi. Ren Arisugawa berjalan sendirian, langkahnya yang biasanya teratur kini sedikit lebih lambat dari biasanya. Earphone di telinganya memutar lagu instrumental—sesuatu yang lembut, dengan piano dan string. Sesuatu yang bisa dia dengarkan tanpa harus berpikir.
Hari ini melelahkan. Rapat OSIS berlangsung lebih lama dari jadwal. Dan dalam beberapa jam lagi, dia harus pulang ke rumah. Menghadapi ayahnya. Mendengarkan ceramah yang sama. Menerima tuntutan yang sama.
Dia ingin memperlambat waktu.
Saat itulah dia mendengarnya.
Suara. Bukan dari earphone-nya. Tapi dari suatu tempat di depan. Ren mengerutkan kening dan melepas satu earphone.
Suara itu... gitar. Seseorang sedang bermain gitar. Tapi bukan itu yang membuat langkahnya berhenti.
Itu suaranya.
Suara perempuan yang bernyanyi. Merdu. Lembut. Mengalun seperti air yang menenangkan. Setiap nadanya tepat, setiap getarannya menyentuh sesuatu di dalam dada yang bahkan Ren sendiri tidak tahu ada.
Dia mulai berjalan lagi. Lebih pelan. Mengikuti suara itu.
Ruangan klub musik. Pintunya sedikit terbuka. Ren berdiri di ambang pintu, dan pemandangan yang dia lihat membuat napasnya tercekat sejenak.
Seorang gadis duduk di dekat jendela. Cahaya matahari senja menerobos kaca, menyelimuti tubuhnya dengan warna jingga keemasan. Kepang kembar hitamnya bergerak sedikit saat dia memainkan gitar. Jemarinya menari di atas senar dengan gerakan yang pasti. Dan dari bibirnya, mengalir lagu yang tidak Ren kenal—tapi terasa familiar, seperti sesuatu yang pernah dia mimpikan.
Wajahnya tidak sepenuhnya terlihat. Hanya siluet dari samping. Kacamata tebal yang sedikit memantulkan cahaya senja. Pipi yang sedikit memerah karena konsentrasi. Dan suaranya... suaranya begitu jernih, begitu murni, sehingga untuk sesaat Ren lupa bahwa dia sedang berdiri di koridor sekolah.
Dia hanya berdiri di sana. Mendengarkan.
Lagu itu berakhir dengan petikan gitar yang perlahan memudar. Keheningan jatuh. Gadis itu menghela napas, tangannya masih di atas gitar.
Lalu dia menoleh.
Dan melihat Ren.
Wajahnya—yang tadinya tenang dan damai—berubah menjadi merah padam dalam sekejap. Matanya membulat di balik kacamata tebal. Mulutnya terbuka dan tertutup seperti ikan koi. "Ke-Ketua OSIS—?! Se-sejak kapan—"
Ren melangkah masuk, ekspresinya sudah kembali ke topeng datar yang biasa. "Suaramu cukup keras. Aku mendengarnya dari koridor."
"Ma-maaf! Aku tidak bermaksud—aku hanya—aku kira tidak ada orang—" Gadis itu—siapa namanya? Ren mencoba mengingat. Dia pernah melihatnya di suatu tempat. Kelas 2-C? Seorang kutu buku yang tidak pernah bicara?—meletakkan gitar dengan tangan gemetar.
"Tidak perlu minta maaf." Ren memasukkan tangannya ke saku. "Suaramu bagus."
Kata-kata itu keluar begitu saja, dan Ren sendiri sedikit terkejut. Dia tidak biasanya memuji orang.
Wajah gadis itu semakin merah. "Ti-tidak... itu hanya... iseng..."
"Kau anggota klub musik?"
"Ba-baru... aku... dari sesi B..."
Ren mengangguk. "Sudah hampir magrib. Kau sebaiknya pulang."
Gadis itu langsung berdiri, hampir menjatuhkan gitar dalam prosesnya. "I-iya! Aku pulang! Maaf mengganggu!"
Dia meraih tasnya, membungkuk dengan canggung, lalu setengah berlari keluar ruangan. Saat melewati Ren, dia tidak berani menatap matanya. Pipinya masih merah padam.
Ren menoleh, menatap punggungnya yang menghilang di ujung koridor.
Lucu, pikirnya. Dan itu mengejutkannya lagi, karena Ren Arisugawa tidak biasanya memikirkan hal-hal seperti itu.
Dia menggelengkan kepalanya pelan, lalu berbalik dan berjalan pulang. Tapi di sepanjang jalan, suara itu terus terngiang di kepalanya. Merdu. Menenangkan. Seperti sesuatu yang sudah lama dia cari tanpa dia sadari.
Sementara itu, di kamar sempitnya yang kusam, Lucy muncul dalam sekejap cahaya. Teleportasi singkat membawanya pulang sebelum siapa pun menyadari.
Lili sudah menunggu di atas tumpukan buku. "Bagaimana?"
Lucy meregangkan tubuhnya, lalu melepas kacamatanya. Senyumnya lebar—bukan senyum pemalu yang tadi dia tunjukkan pada Ren, tapi senyum seorang Dewi yang baru saja memenangkan babak pertama.
"Sukses," katanya.
"Dia tertarik?"
"Dia bilang suaraku bagus. Dan dia berdiri di sana sampai lagunya selesai." Lucy menjatuhkan dirinya ke kasur. "Itu lebih dari cukup untuk langkah pertama."
"Tapi kau tidak tinggal untuk melihat reaksinya lebih lama."
"Itu bagian dari rencana." Lucy menatap langit-langit kamarnya yang retak. "Aku bukan gadis yang percaya diri. Aku gadis pemalu yang kebetulan ketahuan bernyanyi. Jika aku tinggal, itu akan terlihat aneh. Tapi dengan melarikan diri... aku memberi kesan bahwa aku tidak berusaha menarik perhatiannya. Dan itu justru lebih menarik."
Lili mengangguk. "Cerdik."
"Aku belajar dari yang terbaik." Lucy terkekeh. "Diriku sendiri."
Dia menutup matanya, membayangkan ekspresi Ren saat dia menoleh. Topeng datar itu. Tapi di baliknya, Lucy bisa melihat—sedikit saja, sepersekian detik—ada sesuatu yang bergetar.
"Empat hari lagi," gumamnya. "Acara ulang tahun sekolah. Aku akan menyanyi lagi. Tapi kali ini... di depan semua orang."
"Dan Ren akan ada di sana."
"Tentu saja." Lucy membuka matanya. "Karena aku akan memastikan dia duduk di barisan depan."