Ketika langit malam berkedip dan suara mekanis yang dingin bergema di benak miliaran manusia, Bumi tidak lagi sama. Kiamat tidak datang membawa api dari neraka atau wabah mematikan, melainkan sebuah layar biru transparan yang melayang di udara.
Era damai telah dihancurkan oleh "Sistem". Manusia secara paksa ditarik ke dalam arena kelangsungan hidup semesta, di mana monster bermunculan dari bayang-bayang dan hukum rimba menjadi satu-satunya aturan. Beradaptasi, berevolusi, atau mati.
Yudha, seorang mekanik penyendiri yang lebih nyaman berbicara dengan mesin daripada manusia, secara tidak sengaja meretas anomali sesaat sebelum kiamat dimulai. Berkat sebuah kubus hitam misterius yang ia temukan di pasar loak, Sistem salah mengidentifikasinya dan memberikannya kelas yang belum pernah tercatat dalam sejarah integrasi: Mekanik Kosmik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Langit yang Terkoyak dan Takhta Darah
Udara di atas aspal jalan raya berdesir kencang. Dua sosok melesat di udara, saling menyongsong dengan niat membunuh yang murni.
Dirgantara, penguasa Serikat Langit Putih, mengertakkan gigi. Amarah telah menenggelamkan kewarasannya. Melihat Yudha berani menantangnya di udara—medan pertempuran yang menjadi keahlian mutlak kemampuannya—membuat harga dirinya tersinggung.
"Mati kau, keparat!" raung Dirgantara.
Ia memutar kedua tangannya. Udara di sekitarnya termampatkan hingga menciptakan distorsi visual. Dalam sekejap, puluhan bilah angin berwarna hijau pucat yang setajam silet raksasa melesat ke arah Yudha.
[Kemampuan Aktif: Bilah Angin Pemotong Tulang (Tingkat 6)]
Bilah-bilah angin itu mampu mengiris baja ringan layaknya memotong mentega. Dirgantara yakin, tubuh manusia biasa, sekuat apa pun atributnya, akan terpotong menjadi dadu berdarah.
Namun, Yudha tidak menghindar.
Di udara, tanpa pijakan, Yudha merentangkan kedua tangannya. Saat rentetan bilah angin itu menghantam dadanya, suara logam bergesekan yang sangat nyaring memekakkan telinga.
TRANG! TRANG! TRANG!
Bunga api memercik di udara. Rompi Zirah Tulang Putih yang tersembunyi di balik jubah Yudha menahan seluruh serangan mematikan itu tanpa menyisakan satu pun goresan yang berarti. Kain jubahnya terkoyak, memperlihatkan zirah putih mengerikan yang dirajut dari tulang sang Algojo.
"Zirah apa itu?!" mata Dirgantara terbelalak tidak percaya. Anginnya bahkan tidak bisa menembus kulit lawannya.
Belum sempat Dirgantara memproses keterkejutannya, Yudha telah berada kurang dari tiga meter di depannya. Tangan kanan pemuda itu—Lengan Baja Pelebur—menyala dengan suhu putih kebiruan yang mengerikan.
Panas ekstrem itu mengacaukan tekanan udara di sekitar Dirgantara, membuat pusaran angin yang menopang tubuh pria berbaju putih itu hancur berantakan. Dirgantara kehilangan kendali terbangnya.
"Anginmu terlalu lemah untuk mendinginkan tungkuku," bisik Yudha tepat di depan wajah Dirgantara. Suaranya terdengar jelas melampaui deru badai.
Yudha mengayunkan lengan mekanisnya, bukan untuk meninju, melainkan mencengkeram.
Tangan baja bersuhu ratusan derajat itu mencengkeram wajah Dirgantara. Bau daging gosong dan jeritan melengking seketika meledak di udara. Dirgantara meronta, memukul lengan Yudha dengan kepalan tangan berlapis angin, namun Atribut Kekuatan Yudha yang mencapai 22 titik membuat cengkeraman itu tak tergoyahkan layaknya catok mesin.
Menggunakan momentum jatuhnya, Yudha menukik tajam, membawa tubuh Dirgantara meluncur lurus ke arah aspal jalan raya.
Sementara itu, di darat, pembantaian yang tak kalah brutal sedang terjadi.
Seratus lebih pasukan Serikat Langit Putih yang tadinya mengira mereka akan menyerbu dengan mudah, kini mendapati diri mereka terjebak dalam pusaran neraka. Efek Benteng Penekan membuat senjata mereka terasa dua kali lebih berat, sementara tiga iblis dari Tatanan Besi Hitam menari di tengah-tengah mereka.
Lin Chen bergerak layaknya hantu kelaparan. Pemahamannya tentang aliran Qi murni membuatnya tidak perlu lagi membuang tenaga untuk bergerak lincah. Setiap kali sepasang pedang lengkung abunya berkelebat, satu kepala atau lengan pasukan musuh melayang di udara. Ia tidak meninggalkan suara, hanya jejak darah.
Di sisi lain, Lin Tian adalah perwujudan gunung yang mengamuk. Tombak Penembus Tulangnya dialiri Qi padat hingga memancarkan aura putih. Setiap tusukannya tidak hanya menembus tubuh target, tapi gelombang energi dari ujung tombak itu meledakkan organ dalam musuh di belakangnya. Sekali sapuan, tiga orang terlempar dengan dada hancur.
"Hahaha! Maju kalian semua! Beri makan gadaku!" raung Bara, Gada Kejutnya memuntahkan kilat biru setiap kali menghantam tanah, melumpuhkan puluhan pasukan Langit Putih yang mencoba mengepungnya.
Moral pasukan musuh telah hancur. Mereka bukan lagi pasukan militer, melainkan domba-domba yang sedang digiring ke tempat pemotongan.
Tiba-tiba, sebuah bayangan hitam meluncur dari langit dengan kecepatan meteor, menghantam tepat di tengah-tengah kerumunan pasukan Langit Putih.
BAMMMM!!
Ledakan dampak yang luar biasa mengguncang aspal, menciptakan kawah selebar tiga meter dan melemparkan belasan orang di sekitarnya. Asap debu dan puing-puing aspal beterbangan.
Pertarungan di darat terhenti seketika. Lin Tian, Lin Chen, dan Bara mundur beberapa langkah, menatap ke arah pusat kawah dengan penuh antisipasi. Sisa pasukan Langit Putih menahan napas, berharap ketua mereka yang agung berhasil memenangkan bentrokan di udara.
Debu perlahan tersibak oleh embusan angin panas.
Di tengah kawah tersebut, Yudha berdiri tegak, tak tergores sedikit pun. Tangan mekanisnya masih tertanam di tanah, mencengkeram kepala seseorang yang kini telah hangus dan tak bisa dikenali.
Tubuh Dirgantara terkapar kaku di bawah lutut Yudha. Seluruh tulang di tubuhnya hancur akibat benturan dengan aspal dan tekanan mematikan dari tangan sang Mekanik Anomali. Pemimpin fraksi yang paling ditakuti di wilayah itu mati tanpa sempat mengeluarkan kata-kata terakhir.
Keheningan mutlak menyelimuti medan perang. Suara rintik gerimis mulai turun, mendinginkan aspal yang memanas, seolah langit sendiri sedang membersihkan sisa-sisa kesombongan.
Di hadapan semua makhluk yang memiliki Sistem di wilayah tersebut, sebuah suara mekanis tanpa emosi bergema dengan sangat keras.
[PENGUMUMAN REGIONAL SEKTOR 7]
[Entitas 'Dirgantara' (Tingkat 6 - Peringkat 1) telah tewas terbunuh.]
[Papan Peringkat Individu Diperbarui.]
[Peringkat 1 Baru: Yudha (Tingkat 6 - Tatanan Besi Hitam)]
[Pencapaian Khusus: Pembunuh Raja]
[Anda mendapatkan 'Peti Harta Karun Fraksi Runtuh' dan +2000 Poin Pengalaman.]
[Tingkat 6 -> Tingkat 7]
[Anda mendapatkan 5 Poin Atribut Bebas.]
Yudha melepaskan cengkeramannya. Ia berdiri secara perlahan, mengibas sisa darah dan jelaga dari jubahnya yang robek. Ia mengedarkan pandangan dinginnya ke arah sisa delapan puluh anggota Serikat Langit Putih yang masih hidup.
Senjata berjatuhan dari tangan mereka. Suara dentingan logam menyentuh aspal terdengar susul-menyusul. Satu per satu, tanpa ada yang memberi komando, lutut-lutut gemetar itu mencium tanah. Mereka bersujud dalam ketakutan yang tak terlukiskan, wajah mereka pucat pasi menatap iblis yang baru saja menobatkan dirinya sebagai penguasa absolut.
"Ketua kami... telah mati..." isak salah satu komandan mereka yang tersisa. "Kami menyerah. Tolong... biarkan kami hidup."
Yudha tidak tersenyum. Matanya menatap mereka seperti memandang bahan baku mentah.
"Lin Tian," panggil Yudha datar.
"Siap, Ketua!" Lin Tian segera melangkah maju, tombaknya masih meneteskan darah musuh.
"Lucuti semua senjata mereka dan lepaskan atribut Sistem yang mereka kenakan," perintah Yudha, suaranya menggema di jalanan yang sunyi. "Ikat mereka. Mulai hari ini, mereka adalah budak penambang untuk Tatanan Besi Hitam. Mereka tidak akan mendapatkan jatah makan selain sisa-sisa, dan siapa pun yang mencoba memberontak, jadikan mereka umpan di luar barikade."
"Dimengerti, Ketua!" jawab Lin Tian tegas, segera memberi isyarat pada Lin Chen dan Bara untuk mulai meringkus para tahanan.
Yudha memutar tubuhnya, berjalan kembali ke arah gerbang raksasa Tatanan Besi Hitam yang terbuka lebar untuk menyambut rajanya.
Di tangannya, sebuah antarmuka Sistem berkedip pelan, menampilkan Peti Harta Karun Fraksi Runtuh yang bercahaya keemasan.