Di Benua Aldabaron yang dipenuhi sihir, monster, dan teknologi Rune, seorang ronin muda bernama Ryosuke Tagawa kehilangan seluruh keluarganya akibat perang yang dipicu ambisi tersembunyi Empire Krusador. Dalam pengembaraannya, ia menemukan Tenkū Matō, pedang legendaris yang ditempa dari pecahan meteor dan menguasai sihir kegelapan. Bersama katana warisannya, Nichirin-gatana, yang memiliki sihir cahaya, Ryosuke menguasai gaya pedang Hyoho Niten Ichi-ryū. Ketika pasukan Krusador menginvasi Kepulauan Great Sea dengan senjata mengerikan Beast Crust Rune Cannon, Ryosuke harus menentukan pilihan: tetap menjadi pengembara yang menghindari perang, atau bangkit melindungi mereka yang tidak mampu melawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 — Serangan Pertama
Fajar baru saja menyingsing ketika suara lonceng jaga kembali menggema dari atas menara pengawas. Suara itu memecah keheningan pagi yang bahkan belum sempat memberi kesempatan para pengungsi menikmati istirahat setelah perjalanan panjang mereka.
"Tanda bahaya!"
"Semua ke posisi!"
Dalam sekejap, halaman barak berubah menjadi lautan manusia yang bergerak ke segala arah. Para tentara bayaran mengambil senjata mereka, sementara para pengungsi segera diarahkan menuju bagian tengah markas yang telah disiapkan sebagai tempat perlindungan.
Alfaro Perez berdiri di depan gerbang utama.
Tatapannya lurus mengarah ke utara.
"Asal mereka?"
Lance yang baru turun dari menara menjawab singkat.
"Pasukan pelopor."
"Bukan pasukan utama."
"Jumlahnya sekitar dua ratus orang."
Alfaro mengangguk pelan.
"Mereka datang untuk menguji pertahanan kita."
Lance menambahkan dengan nada serius.
"Kalau mereka berhasil menembus barak, pasukan utama akan datang tanpa ragu."
Alfaro mengangkat pedangnya.
"Kalau begitu..."
"Jangan biarkan satu orang pun melewati gerbang."
Di sisi timur barak, Ryosuke telah berdiri bersama anggota Shugo Ryu.
Hector menggenggam kapak besarnya sambil memutar bahunya beberapa kali.
Melinda sudah berada di atas menara kayu kecil yang dibangun semalam, busurnya telah siap dengan anak panah yang tersusun rapi di sampingnya.
Amanda memegang tongkat kayunya erat-erat.
Hana berdiri beberapa langkah di belakang mereka, membawa tas berisi perlengkapan penyembuhan.
Ryosuke memandang rekan-rekannya.
"Seperti biasa."
"Kita saling menutupi."
Tidak ada jawaban panjang.
Mereka sudah memahami tugas masing-masing.
Dari kejauhan, suara derap kaki kuda mulai terdengar.
Debu perlahan membumbung di balik perbukitan.
Sesaat kemudian, barisan pertama pasukan Empire Krusador mulai terlihat.
Mereka mengenakan zirah hitam dengan lambang singa emas di dada.
Di tangan mereka tergenggam tombak, pedang, dan perisai.
Salah seorang perwira maju beberapa langkah.
Ia memandang barak dengan senyum meremehkan.
"Atas nama Empire Krusador!"
"Kalian diperintahkan menyerahkan markas ini!"
"Tentara bayaran yang melawan akan dianggap musuh kekaisaran!"
Tidak ada jawaban.
Yang terdengar hanya suara angin yang berembus melewati pagar kayu.
Perwira itu mendengus pelan.
"Kalau begitu..."
"Serang!"
Puluhan prajurit langsung berlari menuju gerbang.
"Hector!" teriak Ryosuke.
Hector melangkah maju.
Kapaknya menghantam tanah dengan keras.
Dentuman itu membuat beberapa prajurit di barisan depan kehilangan keseimbangan sesaat.
"Itu cukup."
Ryosuke bergerak.
Dua bilah pedangnya berkilat cepat.
Ia tidak menggunakan Tenkū Matō.
Pedang itu masih ter-sarung di pinggang kirinya.
Hari ini Nichirin-gatana menjadi senjata utamanya.
Benturan pertama pun terjadi.
Suara logam memenuhi udara.
Ryosuke menghindari tebasan lawan dengan langkah ringan sebelum memukul gagang pedangnya ke dada seorang prajurit hingga terpental.
Di sisi lain, Hector menghadang tiga prajurit sekaligus.
Kapaknya berayun lebar.
Satu hentakan mampu mematahkan formasi lawan.
"Jangan beri mereka celah!" teriaknya.
Di atas menara, Melinda menarik tali busurnya.
Anak panah pertama melesat.
Seorang pemanah Krusador roboh sebelum sempat membidik.
"Sebelah kiri!" teriaknya.
"Dua puluh orang mendekat!"
Amanda segera mengangkat tongkatnya.
Beberapa bola api melesat ke depan pagar, memaksa pasukan Krusador berhenti sesaat agar formasi mereka tidak berantakan.
Kesempatan itu dimanfaatkan Ryosuke.
"Majuuu!"
Shugo Ryu bergerak serempak.
Mereka menghantam barisan depan sebelum pasukan Krusador sempat menyusun kembali formasi.
Di gerbang utama, Alfaro bertarung berdampingan dengan Lance.
Gerakan mereka jauh berbeda.
Alfaro bertarung agresif.
Setiap tebasannya mendorong lawan mundur beberapa langkah.
Sebaliknya, Lance bertarung tenang.
Tidak ada gerakan yang sia-sia.
Satu serangan.
Satu lawan tumbang.
"Kanan!" teriak Lance.
Alfaro langsung berputar.
Pedangnya menghantam tombak yang hampir mengenai seorang tentara bayaran muda.
"Fokus!"
"Jangan biarkan mereka memecah pertahanan!"
Para tentara bayaran segera kembali merapat.
Formasi mereka tetap utuh.
Di belakang barisan, Hana terus bergerak dari satu prajurit ke prajurit lain.
Luka-luka ringan segera ditanganinya agar mereka bisa kembali bertempur.
Di sekelilingnya, para pengungsi hanya mampu memandang dengan wajah pucat.
Beberapa anak kecil menutup telinga mereka.
Suara benturan senjata membuat mereka menangis ketakutan.
Pertempuran berlangsung hampir setengah jam.
Sedikit demi sedikit pasukan pelopor mulai terdesak.
Perwira Krusador memandang keadaan dengan wajah kesal.
"Mustahil..."
"Barak tentara bayaran ini seharusnya tidak sekuat ini."
Ia menggertakkan giginya.
Kemudian mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
"Seluruh pasukan!"
"Terobos gerbang!"
Puluhan prajurit yang masih tersisa kembali menyerbu tanpa memedulikan korban mereka sendiri.
Ryosuke menarik napas panjang.
Tatapannya semakin tajam.
"Shugo Ryu!"
"Bertahan!"
Mendengar aba-aba Ryosuke, seluruh anggota Shugo Ryu segera mempersempit formasi mereka. Hector berdiri paling depan bagaikan dinding baja yang tidak tergoyahkan. Setiap prajurit Krusador yang mencoba menerobos langsung disambut ayunan kapaknya yang berat. Tubuh besarnya beberapa kali menerima benturan perisai maupun tombak, tetapi ia tetap bertahan di tempat, memaksa musuh berhenti sebelum mencapai gerbang.
"Jangan biarkan mereka melewati Hector!" teriak Ryosuke.
Melinda segera mengubah sasarannya. Anak panahnya kini tidak lagi membidik prajurit biasa, melainkan mereka yang berusaha mengepung Hector dari kedua sisi. Satu demi satu pemanah Krusador jatuh dari posisi mereka, membuat tekanan terhadap garis depan mulai berkurang.
Amanda mengangkat tongkatnya. Kobaran api menyambar tanah di depan pasukan musuh, menciptakan dinding api yang memecah barisan mereka menjadi dua. Prajurit-prajurit Krusador terpaksa melompat mundur agar tidak tersambar kobaran tersebut.
"Ryosuke! Sekarang!" serunya.
Tanpa membuang kesempatan, Ryosuke melesat maju. Nichirin-gatana berkelebat cepat membentuk lengkungan cahaya keperakan. Tebasannya tidak liar, melainkan presisi, melumpuhkan senjata lawan sebelum menjatuhkan mereka satu per satu. Gerakannya mengalir tanpa jeda, hasil latihan panjang Hyoho Niten Ichi-ryū yang telah menjadi bagian dari dirinya.
Perwira Krusador yang memimpin serangan mulai menyadari keadaan berbalik.
"Mundur!"
Namun perintah itu terlambat.
Alfaro memimpin para tentara bayaran menyerbu keluar gerbang. Serangan balasan yang tiba-tiba membuat pasukan pelopor kehilangan keseimbangan. Dalam waktu singkat, mereka dipukul mundur hingga melewati batas hutan kecil di depan barak.
Beberapa prajurit Krusador yang masih mampu berdiri segera melarikan diri mengikuti perwiranya.
Suara benturan senjata perlahan menghilang.
Kesunyian kembali menyelimuti medan.
Tidak ada sorak kemenangan.
Semua orang hanya menarik napas panjang.
Seorang tentara bayaran terduduk kelelahan sambil memegangi lengannya yang terluka.
Yang lain membantu mengangkat rekan-rekan yang tidak mampu berdiri.
Hana segera berkeliling memeriksa para korban. Wajahnya dipenuhi rasa lega ketika mengetahui tidak ada anggota Shugo Ryu yang mengalami luka berat.
"Kita berhasil menahan mereka," ucap Hector sambil mengusap keringat di dahinya.
"Untuk sementara," jawab Lance.
Semua spontan menoleh.
Tatapan Lance masih tertuju ke arah utara.
"Terlalu mudah."
Alfaro mengernyit.
"Maksudmu?"
"Mereka hanya menguji pertahanan kita."
"Mereka bahkan tidak memaksa menerobos setelah gagal."
Keheningan kembali menyelimuti halaman barak.
Ucapan Lance membuat kemenangan kecil itu terasa hambar.
Ryosuke mengikuti arah pandang Lance.
Perasaannya tiba-tiba menjadi tidak tenang.
Seolah ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang menunggu di balik perbukitan.
Menjelang sore, para pengintai kembali dikirim menyusuri jalan utama.
Sementara itu, pagar-pagar yang rusak segera diperbaiki. Anak-anak panah dikumpulkan kembali. Senjata dibersihkan. Tidak seorang pun berani menganggap pertempuran telah berakhir.
Matahari mulai condong ke barat.
Tiba-tiba...
Melinda yang kembali berjaga di atas menara membeku.
Matanya membelalak.
Di kejauhan, jauh melampaui hutan yang tadi menjadi medan pertempuran, terlihat puluhan titik hitam bergerak perlahan.
Bukan pasukan berkuda.
Bukan infanteri.
Melainkan kereta-kereta perang berukuran besar yang ditarik monster penarik berbadan kekar.
Debu yang mereka timbulkan membentuk garis panjang hingga ke cakrawala.
"Lance..." gumam Melinda pelan.
Lance segera naik ke menara.
Begitu melihat pemandangan itu, wajahnya langsung kehilangan warna.
"Mustahil..."
Alfaro ikut memanjat menara.
Beberapa detik kemudian ia terdiam.
Di antara barisan panjang pasukan Krusador, tampak beberapa meriam raksasa dengan laras hitam mengilap. Permukaan logamnya dipenuhi ukiran Rune yang memancarkan cahaya redup, sementara beberapa penyihir kekaisaran sibuk mengelilinginya.
Lance mengepalkan tangan.
"Beast Crush Rune Cannon..."
Suara itu keluar hampir seperti bisikan.
Ryosuke ikut memandang ke kejauhan.
Meski jaraknya masih sangat jauh, entah mengapa jantungnya berdegup semakin cepat.
Angin sore bertiup pelan melewati gagang Tenkū Matō yang tergantung di pinggang kirinya.
Untuk sesaat...
Ia merasa pedang itu bergetar sangat pelan.
Hanya sesaat.
Lalu kembali diam.
Di kejauhan, pasukan utama Empire Krusador terus bergerak mendekati barak bagaikan lautan hitam yang tidak bertepi.
Dan semua orang yang berdiri di atas menara memahami satu kenyataan yang sama.
Pertempuran yang baru saja mereka menangkan...
Hanyalah pembuka.
Serangan sesungguhnya baru akan dimulai.
..._BERSAMBUNG _...
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉