Jika kita tidak pernah mencobanya makan dari mana kita akan tahu hasil akhir sebuah perjuangan? Rania memilih mundur ketika ia bukan menjadi pilihan satu satunya bagi seseorang. Trauma masa lalu Nia sapaan akrabnya yang ditinggal menikah sang kekasih dengan sahabat sendiri menyisakan trauma untuk jatuh cinta lagi. Kini ia dihadapkan dia pilihan, bersama tambatan hati atau merubah takdir cintanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wisuda
Galih tiba di rumah setelah diberi kabar oleh bu Helena. Mendengar kedatangannya Rania keluar kamar untuk menyambutnya.
Rania mengambil tas kerja Galih juga jasnya. Galih mengecup kening Rania.
"Kamu sudah makan? "
Tanya Galih, mereka duduk di sofa ruang tamu.
"Belum, bagaimana kalau aku masak untuk mas makan? "
Galih mengelus pipi Rania. Bahkan dia tidak mengeluh sedikitpun mengenai kejadian buket bunga.
"Kita makan diluar saja, kamu pasti bosan di rumah terus."
Ajakan Galih tentu menghasilkan sebuah senyum mengembang Rania.
"Terima kasih mas Gall, kalau begitu aku ganti baju dulu."
Galih senang melihat Rania kembali ceria seperti dulu.
Memang terlalu berlebihan Galih mengurung Rania di rumahnya padahal Rania masih memiliki beberapa kegiatan diluar. Ia lakukan semata hanya untuk melindungi Rania. Terlalu banyak musuh yang ingin menghancurkan kehidupan Galih. Mulai dari pesaing bisnis, mantan pacaranya yang tak terhitung, bahkan Zayn.
Rania bahkan sering mendapat ancaman dari beberapa mantan pacar Galih berisi ancaman. Ada yang bilang mereka di perkosa Galih, hamil anak Galih, dan mengancam akan menyingkirkan Rania jika tidak membatalkan pernikahan mereka.
Mama Ami merasa malu pada Rania, hidup Rania jadi terkekang akibat ulah anaknya. Belum sah menikah saja sudah banyak masalah menimpa mereka.
Dan di sebuah restoran makanan Korea, Rania dan Galih memilih barbeque set sebagai menu makan malam mereka. Rania begitu bersemangat memanggang daging dan beberapa olahan seafood lainnya seperti gurita, udang, cumi dan sosis. Ternyata sangat mudah membahagiakan perempuan yang sudah memangkas rambutnya menjadi pendek.
Keputusan berat Rania ambil setelah meminta izin pada Galih. Ia ingin membuang kenangan buruk rambutnya yang pernah disentuh Zayn.
"Hem,,, ini enak sekali mas." Rania memasukan daging sapi ke dalam mulutnya menggunakan sumpit.
"Makan yang banyak sayang."
Galih mengambil potongan daging menaruhnya ke mangkuk nasi Rania.
"Mas habis ini aku ingin membeli kebaya untuk wisuda minggu depan."
Mengingat wisuda Galih bahkan belum memberi Rania hadiah apapun. Ia malah kalah cepat oleh Zayn yang sudah mengirim bunga untuk Rania.
"Iya Rania, kamu boleh membeli apapun yang kamu mau."
Di mall terbesar di kota itu, Rania dan Galih bergandengan tangan menyusuri setiap toko yang menjual koleksi kebaya maupun gaun. Rania tiba tiba ingin membeli ice cream yang harganya cukup fantastis untuk satu cone nya saja mencapai ratusan ribu.
"Kamu mau? " Tanya Galih, melihat Rania terus menatap stand ice cream.
"Mau mas." Rania mengangguk cepat tak sabar.
Setelah menerima ice cream tiga rasa Rania mulai menjilati nya dengan riang.
Mendadak Galih tidak tahan melihatnya, rasanya Galih ingin mengecap bibir mungil calon istrinya. Saking asiknya bibir Rania sedikit belepotan oleh ice cream. Jari Galih bergerak mengusap membersihkannya.
"Maaf, bibirmu kotor."
Tak ingin Rania panik, Galih mengalihkan pandangannya.
Ia harus bersabar, mereka akan menikah setengah bulan lagi. Setelah itu Galih bebas menjamahnya.
"Galih? "
Seorang perempuan menepuk punggung Galih. Rania ikut menoleh demi mengetahui siapa yang menyapa Galih.
"Rosi? "
Keterkejutan Galih nampak jelas dimata Rania. Kali ini siapa lagi perempuan dari masa lalu Galih?
"Kamu apa kabar Gall? "
Tanya Rosi perempuan seumuran Galih itu memeluknya tanpa sungkan meski ada Rania.
"Rania, ini Rosi anaknya bibi Jihan. Dia mungkin baru pulang dari studinya di Jogja."
Galih segera melepaskan tangan Rosi.
"Rosi ini Rania calon istriku, kami akan menikah dua minggu lagi."
Galih merangkul pinggang Rania memperkenalkan nya pada Rosi.
"Hai,,, "
Rosi mengajak Rania bersalaman, Rania tersenyum mengulurkan tangannya.
"Kalau begitu kami pamit dulu."
Merasa cukup Galih mengajak Rania pulang meninggalkan Rosi.
Di dalam perjalanan Rania dan Galih masih saling terdiam. Pikiran mereka entah sedang berada dimana. Galih beberapa kali tertangkap mengusap wajahnya gusar.
"Dia siapa mas? " Meski ragu Rania akhirnya menanyakan soal Rosi.
"Calon istri mas Gilang, rencananya mereka akan menikah sebulan lagi sebelum mas Gilang pergi."
"Lalu kenapa kamu khawatir mas, apa ada masalah? "
Bukankah artinya Rosi tidak ada hubungannya dengan Galih.
"Entah lah, perasaanku tidak enak. Yang pasti dia akan meminta tinggal dirumah kita."
Rosi merupakan anak dari bibi Jihan, mereka tidak memiliki saudara lain selain mama Ami. Bahkan rumah sudah dijual bibi Jihan untuk menyekolahkan Rosi.
"Apa kamu takut tergoda oleh Rosi? "
Pertanyaan itu meluncur dari mulut Rania seolah sudah tertahan sejak tadi.
"Tidak, karena aku hanya menginginkan kamu. Aku khawatir dia akan mengganggu kamu saat aku bekerja."
Baginya kesehatan Rania jauh lebih penting dari apapun.
"Ada mama, bu Helena dan Sam disampingku. Mas tidak perlu khawatir lagi."
Rania melayangkan senyum manisnya menatap Galih.
***
Tak terasa hari yang dinanti akhirnya tiba. Sejak pagi Rania sudah sibuk merias wajahnya. Hari ini ia akan di wisuda dan tepat satu minggu lagi mereka akan menikah. Rania begitu cantik mengenakan kutu baru berwarna maroon dengan bawahan kain senada.
"Anak mama cantik sekali."
Mama Ami dan Galih sudah menunggu di ruang tamu untuk mengantar Rania ke acara wisuda.
"Terima kasih ma mama sudah mau menemani Rania, padahal mama masih sibuk."
Karena keluarga Rania akan datang sehari sebelum pernikahan, alhasil mama Ami akan menggantikan posisi orang tuanya. Tentu di temani Galih.
"Mama senang bisa dampingi kamu sayang."
Tak ingin terlambat mereka segera pergi menuju kampus Airlangga.
Keramaian tidak bisa dihindari lagi disana. Satu angkatan yang akan di wisuda membawa keluarga masing masing. Bahkan teman teman juga hadir untuk ikut merayakan kebahagiaan.
Tamu undangan kehormatan bahkan sejak tadi silih datang dan mencuri perhatian mereka.
Kedatangan Rania sudah ditunggu oleh ketiga sahabatnya, DanSan juga Stefi. Mereka membawa buket bunga dan buket boneka lucu sekali.
"Terima kasih sudah mau datang, ini lucu aku suka."
Rania memeluk buket bunga pemberian Stefani, satu tangannya memegang buket bunga mawar dari pasangan DanSan.
"Congrats baby, we love you."
Sania bergantian dengan Stefani memeluk Rania.
Mengingat kapasitas aula kampus Airlangga, keluarga pendamping dibatas maksimal dua orang. Jangan tanyakan teman teman Rania jelas mereka merupakan tamu kehormatan yang sengaja Mario undang. Selain itu pihak kampus juga mengundang beberapa tokoh penting.
Rania mendapat kursi paling depan diantara mahasiswi lainnya. Sementara mama Ami bergabung dengan teman temannya. Mata Rania berbinar ketika Galih duduk di sofa tamu kehormatan. Ternyata Galih akan memberi pidato singkat sesuai susunan acara yang ada di tangan Rania.
"Kita akan sambut kedatangan alumni kebanggaan kami sekaligus pemegang saham tertinggi kampus Airlangga. Waktu dan tempat kami persilahkan pada Tuan Zayn Arista. "
Tepuk tangan meriah menggema menyambut kehadiran Zayn, pelukis yang tengah naik daun berkat karya karyanya.
Rania dan Stefani sama sama terkejut di tempat terpisah. Seperti mereka ketahui pak Wijaya lah pemegang saham tertinggi sebelumnya disusul Mario. Namun tak terlihat keterkejutan di wajahnya maupun Galih. Seolah mereka memang mengetahui nua. Rania menebak jika Zayn sudah memeras pak Wijaya demi mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Terima kasih saya ucapkan pertama untuk calon dosen kita yaitu Romario Sastra Wijaya beserta ayahanda tercinta nya. Berkat mereka saya bisa berdiri disini. Pesan saya untuk kalian yang baru lulus, kehidupan kalian baru saja dimulai raihlah cita cita kalian setinggi langit. Dan paling istimewa, selamat atas keberhasilannya Rania Adnan."
Semua mata tertuju pada Rania karena namanya disebut seorang Zayn.
Galih mengepalkan tangannya tak sabar ingin menghajar Zayn. Lagi lagi dia mengusik Rania. Dan prosesi penerimaan sertifikat kelulusan sekaligus pemindahan tali toga tiba. Rektor yang tak lain papanya Jef memanggil mahasiswa dengan nilai IPK tertinggi yaitu tiga koma sembilan di capai oleh Rania.
Rania maju ke atas panggung dengan perasaan bangga juga terharu. Ia sama sekali tidak menyangka bisa kuliah hingga mendapatkan nilai memuaskan. Predikat cumlaude ia raih dengan begitu banyak pengorbanan waktu dan tenaga.
"Selamat sayang... "
Galih mengecup pipi Rania di depan ratusan pasang mata. Riuh tepuk tangan dan siulan menjadi saksi betapa romantisnya Galih. Ia bertugas memberi piala penghargaan. Sementara Zayn bersiap untuk bersalaman dengan Rania.
Rania tidak menyahut uluran tangan Zayn, ia hanya mengambil secara cepat sertifikat miliknya lalu bergeser ke hadapan rektor untuk memindahkan tali toga dari kiri ke kanan.
Baru kali ini Zayn merasa dipermalukan oleh perempuan apa lagi di depan khalayak ramai. Suatu saat nanti Zayn akan membalas perlakuan Rania. Matanya menatap tajam Rania meski ia sudah berdiri di sampingnya untuk berfoto bersama. Di belakang tangan Zayn mencoba merangkul pinggang Rania namun dengan cepat Rania menahannya.
Begitu hina kah Zayn dimata Rania sehingga ia merasa jijik padanya? Jangankan bersalaman Rania bahkan membuang bunga pemberiannya didepan mata kepala Zayn. Zayn tahu jika perempuan itu akan menikah, tapi menurut pantauannya Rania berteman baik dengan beberapa pria di sekeliling Galih.
Ketika hendak turun Zayn sengaja menyandung kaki Rania hingga hampir terjatuh namun dengan sigap Zayn menahan tangannya. Dengan cepat Rania melepaskan diri dari cengkraman Zayn. Galih yang melihat itu langsung emosi namun Mario menahan dadanya, meminta untuk bersabar.
"Kita balas di luar, tidak di sini Gall." Bisik Mario.
Seluruh rangkaian acara telah rampung, kini mereka bebas dengan kegiatan selanjutnya. Rania mengajak calon suami, mama mertua dan para temannya untuk berfoto.
"Terima kasih semuanya, aku sayang kalian." Ucap Rania, Keempat perempuan tangguh itu berpelukan merayakan kebahagiaan orang tersayang.
"Rania ajak yang lain makan di rumah kita, bu Helena sudah menyiapkan jamuan untuk kalian semua."
Tanpa berpikir lama mereka menerima ajakan tante Ami, perut mereka kebetulan sudah keroncongan.
Di taman dekat kolam renang rumah Mama Ami, berlangsung acara makan makan sederhana sebagai ucapan rasa syukur Rania sudah wisuda. Galih sejak tadi merangkul Rania tanpa berniat melepaskannya walau sedetik.
"Wah sebentar lagi Rania akan di unboxing Galih nih... "
Celetuk Dani diikuti tatapan menggoda pada kedua calon mempelai.
"Yee emangnya Rania paketan sopi cod. Enak aja." Sania menyikut lengan Dani merasa lawakannya receh.
"Haha bisa aja loe Dan, cepat susul gue biar loe gak ngiler." Galih membalas meledek Dani.
"Yah gue mah harus nunggu pawang dulu baru bisa nikah." Dani menyindir Mario, sejujurnya dia juga ingin segera melamar Sania. Namun ia merasa tidak enak pada Mario yang pertunangannya batal dengan Stefani.
"Sabar ya San, setelah mereka baru gue yang duluan nyusul." Tanpa mereka duga sudah ada cincin di jari manis Stefani. Rania menganga tak percaya bahkan ia memeriksa tangan Stefani berkali kali.
"Curang ah Stefi, sama kita kok main rahasia rahasiaan." Sania menyenggol pinggang Stefani hingga perempuan itu berakhir dalam dekapan Mario.
Tangan Mario yang menahan Stefani pun tak luput dari sorotan mata elang Dani. "Tunggu, kalian lihat cincin mereka couple."
Lantas semuanya melirik kearah Mario dan Stefani.
"Wah selamat ya,,, jadi judulnya cinta lama belum kelar nih." Rania orang paling bahagia mendengar mereka kembali bersama. Seolah beban di pundaknya berkurang satu. Stefi berhamburan memeluk Rania.
"Hem so sweet... " Sania sampai menitikan air mata, tak ada yang lebih indah dari persahabatan yang erat dan saling melindungi.
Merasa kekenyangan mereka telaten membantu merapikan piring kotor untuk meringankan beban asisten tuan rumah. Mario tak sengaja bersama Rania merapikan meja prasmanan. Sementara yang lain menaruh piring kotor ke dapur.
"Aku minta maaf atas semua kesalahanku, terutama mama yang sudah menamparmu. Aku sadar jika kita tidak bisa memaksakan takdir sesuai dengan keinginan kita."
Mungkin ini kesempatan terakhir Mario bisa meminta maaf secara langsung pada Rania.
"Yang lalu biarlah berlalu, sekarang kita hanya perlu fokus menata masa depan. Aku ikut senang melihat kalian bisa bersama lagi. Seumur hidup Stefi hanya ada bapak seorang."
"Ehem,,, kalian sedang apa di belakang ku?" Galih menghampiri dengan pakaian santai yang baru ia ganti tadi.
"Hanya reuni kecil antara mantan." Mario sengaja memancing Galih.
"Ayolah mas, mana ada orang selingkuh terang terangan di depan kekasihnya." Rania memutar bola matanya kesal, ia lalu membawa peralatan kotor masuk kedalam meninggalkan mereka berdua.
"Gue titip Stefani Yo, jangan sampai loe sakiti hatinya atau loe tidak akan selamat di tangan gue." Ancam Galih.
"Jangan khawatir, gue akan berusaha membahagiakan dia." Janji Mario pada Galih.
"Soal saham Airlangga... " Pertanyaan Galih menggantung tidak mau menyinggung perasaan Mario.
"Biasalah Zayn meras bokap gue dengan ancaman akan menyebarkan berita soal Zahra." Mario menghela nafas kasar mengingat pertemuannya dengan Zayn di kantor.
"Dia memang gila, menggunakan kematian adiknya sendiri untuk mendapat keuntungan." Galih berdecak kesal pada Zayn.
"Hati hati, sepertinya dia mengincar Rania."
Mario kembali meminta Galih waspada terhadap pergerakan Zayn.
"Gue selalu kecolongan, gue pinjam pasukan loe buat jaga di pernikahan kami."
"AS your order Gall."
Jawab Mario santai mengabulkan permintaan sahabatnya.