NovelToon NovelToon
Nana Si Pelindung Tuan Terbuang

Nana Si Pelindung Tuan Terbuang

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.

Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.

Tapi Nana tahu yang sebenarnya.

Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.

Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.

*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30

Tangga servis itu lebih sempit dari yang Nana bayangkan.

Dindingnya lembap. Bau deterjen dari laundry bercampur dengan debu lama dan hawa logam dari bawah tanah. Lampu darurat biru membuat tangan Nana tampak pucat saat ia meraba pegangan tangga. Di belakangnya, langkah Steven nyaris tidak bersuara.

Di earpiece, suara Irwan terdengar rendah. "Dua orang masih di ruang arsip bawah. Satu di terminal, satu di pintu. Kamera lorong mati tiga puluh detik lalu."

"Mereka potong kamera sendiri?" bisik Nana.

"Tidak," jawab Steven sebelum Irwan. "Mereka menunggu kamera mati dari sistem."

Nana menoleh sedikit.

Steven menatap tangga di bawah, bukan dirinya. "Berarti mereka punya jadwal gangguan. Bukan pencuri biasa."

Irwan berkata, "Tuan Steven benar. Mereka masuk saat kamera berputar ke mode restart."

Nana menelan ludah. Ia tiba-tiba mengerti mengapa Steven selalu marah saat orang menyebut kebetulan. Di rumah ini, kebetulan sering datang membawa pisau.

Mereka sampai di belokan terakhir. Di depan ada pintu besi kecil dengan lampu indikator merah.

"Kartu," kata Steven.

Nana mengeluarkan kartu hitam tanpa nama. Tangannya sedikit gemetar. Steven melihat, tapi tidak mengambil alih.

"Tempel. Tunggu bunyi kedua. Bukan pertama."

Nana menempelkan kartu.

Bip.

Ia hampir menarik pintu.

Tangan Steven menahan pergelangannya, ringan tapi tegas.

Bip kedua terdengar.

Kunci terbuka.

"Sekarang," katanya.

Mereka masuk ke koridor bawah. Ruangan itu berbeda dari ruang Tim Lilin yang pernah Nana lihat. Lebih tua, lebih sempit, dipenuhi rak arsip logam dan kotak dokumen. Di ujung, cahaya putih dari ruang server kecil berkedip. Ada suara kipas mesin, cepat dan kering.

Lalu ada suara laki-laki.

"Cepat. Salin folder mentahnya."

Suara lain menjawab, "Tiga menit."

Nana membeku.

Steven mengangkat dua jari, memberi tanda diam. Ia menunjuk rak sempit di kanan, lalu ke bawah meja panjang dekat pintu arsip. Nana mengerti sebagian. Ia harus bergerak lewat sisi yang tidak terlihat.

"Nana," suara Irwan masuk, "terminal utama ada di belakang rak kedua. Drive yang mereka pakai kemungkinan hitam, ukuran kecil. Kalau drive itu tercabut sebelum proses selesai, data mereka rusak. Tapi jangan sentuh terminal."

"Kenapa?"

"Ada sistem jebakan. Kalau salah sentuh, log kita juga ikut terkunci."

Steven berbisik, "Ambil drive-nya. Bukan komputer."

Nana menatap celah antara rak dan dinding. Sempit. Untuk orang dewasa, hampir mustahil. Untuk tubuhnya yang terbiasa menyelinap di pasar, cukup.

Ia merunduk.

Jaket Steven terlalu besar, hampir tersangkut. Nana menggulung ujungnya dan menahan napas. Debu menggelitik hidungnya. Dari celah rak, ia melihat sepatu seseorang di dekat terminal. Sepatu hitam, sol bersih, bukan sepatu staf rumah. Orang itu mengetuk meja dengan pola gelisah.

Steven melangkah keluar dari balik dinding.

"Kalian memilih rumah yang salah untuk lembur."

Kedua penyusup itu tersentak.

Yang di pintu langsung mengangkat alat kecil seperti tongkat listrik. Yang di terminal memutar badan, tangannya masih dekat laptop dan drive hitam.

"Steven Sie," kata orang di pintu. "Katanya kau dikurung di atas."

"Banyak orang terlalu percaya rumor."

Nana merayap pelan di bawah meja. Jantungnya memukul tulang rusuk.

Orang di terminal berkata, "Mundur. Kalau kau mendekat, log ini terkunci."

Steven berhenti. "Kau bahkan tidak tahu log mana yang kau salin."

"Cukup tahu yang dibutuhkan untuk membuatmu habis."

"Kalau begitu majikanmu pelit. Dia memberimu separuh peta."

Nana melihat drive hitam itu. Menancap di sisi laptop kecil, bukan terminal utama. Kabel tipis menghubungkan laptop ke port bawah meja. Jaraknya satu lengan.

Ia mengulurkan tangan.

Terlalu jauh.

Steven melihatnya dari sudut mata, tapi wajahnya tetap menghadap penyusup.

"Irwan," katanya keras, seolah tidak peduli mereka mendengar, "jangan hapus log kontakku."

Nana nyaris berhenti.

Di earpiece, suara Irwan tercekat. "Tuan Steven?"

"Simpan utuh. Semua. Termasuk bagian yang membuatku terlihat buruk."

Penyusup di pintu tertawa. "Berani sekali."

Steven menatapnya. "Kalau aku menghapus bagian buruk, kalian menang. Kalian tinggal bilang aku membersihkan jejak."

Nana merasakan sesuatu di dadanya berubah.

Itulah jawabannya.

Bukan penjelasan manis. Bukan pembelaan. Steven memilih meninggalkan bagian yang bisa melukainya, karena tanpa bagian itu, kebenaran bisa lagi dipotong menjadi pisau.

Pak Shen pernah berkata, jangan jawab dengan hati dulu.

Namun saat itu, hati Nana justru menjadi sangat tenang.

Ia melepas kartu akses dari sakunya dan mengaitkannya ke ujung kabel seperti kait kecil. Sekali. Gagal. Dua kali. Kabel bergerak sedikit. Penyusup di terminal menoleh.

Nana menahan napas.

Steven maju setengah langkah. "Hei."

Tongkat listrik di tangan penyusup pintu menyala biru. "Jangan bergerak."

"Aku hanya ingin melihat wajah orang yang dibayar murah untuk pekerjaan mahal."

Penyusup itu marah. Ia maju.

Itu cukup.

Nana menarik kabel dengan kartu akses. Drive hitam terlepas dari laptop dan jatuh ke lantai tanpa suara besar karena tertahan ujung jaket Steven yang ia gulung tadi.

"Drive lepas," bisik Nana.

Steven langsung bergerak.

Semuanya terjadi cepat.

Ia menendang kaki kursi ke arah penyusup terminal, membuat pria itu jatuh membentur rak. Penyusup pintu mengayunkan tongkat listrik. Steven menghindar, tapi ujungnya mengenai lengan kirinya. Bau panas tipis menyentuh udara. Steven tidak bersuara. Ia memutar pergelangan lawan, membenturkan tongkat ke rak sampai alat itu jatuh.

"Nana, kanan!" teriak Irwan di earpiece.

Nana berguling keluar dari bawah meja tepat saat penyusup terminal meraih drive hitam di lantai. Ia lebih dekat. Tangannya lebih cepat. Jari-jarinya menutup drive itu dan ia menyelipkannya ke dalam saku jaket.

Pria itu menyambar lengannya.

Rasa sakit menjalar sampai bahu.

Nana menggigit bibir, lalu melakukan hal yang ia pelajari di jalan: bukan menarik mundur, tapi maju setengah langkah ke arah tangan lawan, membuat cengkeramannya kehilangan sudut. Siku Nana menghantam perutnya. Bukan keras, tapi cukup membuat pria itu terkejut.

Steven sudah ada di sana.

Ia menarik pria itu menjauh dari Nana dan membenturkannya ke sisi rak. Dalam detik berikutnya, pintu koridor terbuka. Dua anggota Tim Lilin masuk dari arah belakang, disusul Irwan dengan pistol kejut di tangan.

"Tiarap," kata Irwan.

Kedua penyusup akhirnya jatuh ke lantai, tangan diborgol plastik.

Nana berdiri dengan napas putus-putus. Lengannya sakit. Lututnya berdebu. Di sakunya, drive hitam terasa kecil sekali untuk sesuatu yang hampir membuat seluruh rumah runtuh.

Steven menoleh kepadanya. "Kau terluka?"

"Kau dulu."

Lengan kiri Steven terkena bekas merah. Ia melihatnya seperti melihat noda di baju.

"Tidak penting."

"Itu kalimat bodoh."

Irwan mengambil drive dari Nana dengan sarung tangan kecil. "Drive aman."

Dari terminal, salah satu anggota Tim Lilin berseru, "Log mentah masih utuh. Ada percobaan salin, tapi tidak selesai. Sistem jebakan tidak aktif."

Irwan melihat Steven. "Instruksi penyimpanan utuh?"

"Simpan semuanya," kata Steven.

"Termasuk kontak Wan?"

"Termasuk semua yang membuatku tampak bersalah."

Ruangan menjadi diam.

Nana menatapnya. Di bawah cahaya putih server, wajah Steven terlihat lelah, pucat, dan keras. Bukan wajah orang yang tidak punya salah. Bukan juga wajah orang yang ingin dibebaskan dengan kebohongan. Ia tampak seperti seseorang yang memilih berdiri di tempat paling mudah ditembak karena dari sana ia bisa menjaga pintu tetap terbuka.

Irwan mengangguk. "Baik."

Nana mengeluarkan napas yang tidak sadar ia tahan.

Di earpiece, suara Tamara masuk dari atas, tipis tapi jelas. "Status?"

Irwan menjawab, "Penyusup diamankan. Log mentah selamat. Nana mengambil drive."

Ada suara Stella menangis di kejauhan. Lusia menyebut nama Tuhan pelan. William tidak bersuara.

Steven memandang Nana. "Kau seharusnya menunggu aba-aba."

"Aku menunggu kesempatan."

"Itu bukan hal yang sama."

"Malam ini iya."

Untuk pertama kalinya sejak file itu muncul, Steven hampir tersenyum. Hanya garis tipis. Lalu hilang.

Irwan berjalan mendekat dan menyerahkan earpiece cadangan yang lebih kecil kepada Nana. "Pakai ini mulai besok. Yang tadi terlalu besar untuk telingamu."

Nana menatap benda itu. "Mulai besok?"

"Kau pikir setelah masuk operasi, kau bisa keluar begitu saja?"

Nana menatap Steven. Steven tidak menjawab untuknya.

Ia menatap earpiece kecil itu, lalu menerima.

"Baik."

Irwan mengangguk. Tidak ada upacara. Tidak ada tepuk tangan. Hanya drive hitam di kantong bukti, dua penyusup di lantai, lengan Steven yang mulai memerah, dan sebuah earpiece kecil di telapak tangan Nana.

Namun bagi Nana, itu lebih nyata daripada semua janji.

Saat mereka naik kembali, ruang tengah sudah berubah. William berdiri di dekat pintu, wajahnya masih kaku. Tamara memeluk Stella yang menangis diam-diam. Lusia duduk dengan mata basah, tapi tidak berkata apa pun. Albert di layar menatap mereka dengan ekspresi lega yang terlalu rapi.

Irwan melaporkan singkat. "Serangan gagal. Data mentah lengkap. Kita punya drive lawan."

William menatap Steven. "Ini belum menjawab file bocor."

Steven mengangguk. "Belum."

"Tapi malam ini kau menyelamatkan datanya," kata Tamara pelan.

Steven tidak menerima pujian itu. "Nana yang mengambil drive."

Semua mata beralih kepada Nana.

Stella langsung memeluknya lagi, lebih erat daripada tadi. "Kau bilang pulang dengan bukti."

Nana membiarkan dirinya dipeluk. Tubuhnya baru sadar bahwa ia gemetar.

"Aku pulang," katanya.

Di belakang Stella, Nana melihat Steven mundur selangkah ke bayangan lorong. Ia tidak ikut masuk ke lingkaran keluarga. Ia berdiri di tempat gelap, memegang lengan kirinya yang terluka, menatap earpiece kecil di tangan Nana.

Nana ingin mengatakan sesuatu. Terima kasih. Maaf. Aku belum tahu apakah aku percaya, tapi malam ini aku melihat.

Namun Stella memeluknya terlalu erat, dan orang-orang mulai bergerak. Irwan membawa penyusup pergi. Tamara memeriksa telepon. William memberi perintah pendek. Rumah besar kembali bernapas, meski napasnya belum stabil.

Nana berjalan mengikuti Stella menuju tangga, punggungnya masih terasa panas oleh tatapan yang tidak ia lihat.

Di lorong gelap, Steven menatap punggung Nana yang menjauh.

"Maaf," bisiknya, "sudah menarikmu masuk ke dunia ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!