Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 021: Bukti Dulu, Tangis Nanti
Nadia menelepon saat Sari sedang menimbang lengkeng di kios.
Sari hampir tidak mendengar dering pertama karena Ayu sedang berdebat dengan kurir soal alamat pelanggan yang salah. Dering kedua masuk ketika Sari menulis angka di buku stok. Dering ketiga membuat dadanya tidak enak.
Nama Nadia menyala di layar.
"Ma."
Satu kata itu cukup.
Sari meletakkan pulpen. "Kamu di mana?"
Di seberang terdengar suara keran, pintu bilik toilet, dan napas yang dipaksa pelan.
"Rumah sakit."
"Toilet?"
"Iya."
"Kunci pintunya."
Ada jeda. Lalu bunyi kunci diputar.
"Sudah."
Sari menutup buku stok. "Sekarang bicara."
Nadia menarik napas, tetapi yang keluar justru isak. "Tas itu benar hilang, Ma. Bukan cuma tas. Kotak perhiasanku kosong. Gelang yang dari Mama, cincin seserahan, kalung yang kubeli waktu jaga malam pertama... semua tidak ada."
Sari tidak langsung marah. Marahnya ada, panas dan cepat, tetapi ia menahannya seperti menahan minyak agar tidak tumpah ke kompor.
"Dimas tahu?"
"Dia bilang nanti dijelaskan."
"Bu Marni?"
"Dia bilang barang menantu itu barang keluarga. Katanya aku jangan hitung-hitungan kalau mau rumah tangga adem."
Ayu yang berdiri di dekat kasir melihat wajah Sari berubah. Gadis itu langsung mengambil buku stok dari meja dan memberi isyarat bahwa kios bisa ia pegang.
Sari masuk ke ruang belakang, menutup pintu.
"Nadia, dengar Ibu baik-baik. Kamu boleh menangis, tapi jangan menangis di depan mereka dulu."
"Aku capek, Ma."
"Ibu tahu."
"Aku malu. Aku dokter, tapi rumahku sendiri seperti..."
"Jangan hina dirimu untuk dosa orang lain."
Nadia terdiam.
Sari menurunkan suara. "Sekarang buka catatan. Kalau tidak bisa menulis, rekam suara Ibu."
"Ma..."
"Na, bukti dulu. Tangis nanti."
Kalimat itu terdengar kejam bahkan di telinga Sari sendiri. Namun ia tahu air mata tanpa bukti hanya akan dipelintir menjadi drama perempuan. Ia pernah hidup cukup lama di rumah yang menjadikan tangis istri sebagai lelucon setelah tamu pulang.
Di seberang, Nadia mengatur napas. "Aku rekam."
"Bagus. Pertama, foto kotak perhiasan kosong. Jangan rapikan. Jangan pindahkan."
"Aku sudah foto semalam."
"Kirim ke email pribadimu. Kirim ke email Ibu. Simpan di drive."
"Sudah sebagian."
"Lengkapi. Kedua, ambil screenshot mutasi rekening bersama tiga bulan terakhir."
Nadia menangis lagi. "Ada transfer ke Bu Marni, Ma. Banyak. Dimas bilang buat kebutuhan rumah. Tapi aku tidak pernah tahu."
"Screenshot."
"Aku merasa bodoh sekali."
"Bodoh itu kalau setelah tahu kamu masih sengaja membutakan diri. Hari ini kamu baru membuka mata."
Di luar toilet, seseorang mengetuk. "Dok Nadia? Pasien bed dua sudah menunggu."
Nadia menutup mikrofon sebentar. Suaranya berubah profesional ketika menjawab, "Sebentar, saya segera keluar."
Sari menunggu. Ia membayangkan putrinya berdiri di toilet rumah sakit, memakai jas dokter, menjaga pasien orang lain sementara hidupnya sendiri seperti sedang dibongkar.
Nadia kembali ke telepon. "Aku harus kerja."
"Selesaikan shift. Jangan pulang ke rumah Dimas malam ini."
"Kalau dia tanya?"
"Bilang kamu lelah dan tidur di tempat Ibu."
"Dia pasti marah."
"Biarkan. Marahnya dia bukan perintah."
Nadia tertawa pendek, pecah di tengah. "Mama sekarang galak sekali."
"Ibu terlambat galak. Kamu jangan ikut terlambat."
Jeda itu panjang. Ketika Nadia bicara lagi, suaranya lebih kecil.
"Ma, kalau aku belum siap cerai?"
Sari memejamkan mata.
Dulu, jika Nadia bertanya seperti itu, ia mungkin langsung berkata tinggalkan saja laki-laki itu. Sekarang ia tahu keputusan yang diambil karena didorong orang lain sering membuat perempuan kembali saat rasa sepi datang. Nadia harus melihat jalan keluarnya sendiri.
"Ibu tidak menyuruh kamu cerai hari ini."
"Tapi Mama ingin aku pergi."
"Ibu ingin kamu punya pintu. Kamu mau keluar atau tetap di dalam, itu nanti. Tapi jangan biarkan orang lain menyembunyikan kuncinya."
Nadia tidak menjawab. Hanya napasnya yang terdengar.
"Ketiga," lanjut Sari, "semua chat dari Dimas dan Bu Marni jangan dihapus. Kalau mereka bicara langsung, rekam. Kalau mereka menyuruh kamu pulang sendiri, jangan mau. Kalau mereka minta bertemu, pilih tempat umum."
"Aku takut mereka bilang aku durhaka."
"Durhaka bukan bukti hukum."
Nadia tercekat. Mungkin karena kalimat itu sederhana. Mungkin karena selama ini kata durhaka terlalu sering dipakai Bu Marni seperti palu.
"Ma."
"Ya?"
"Mama dulu kenapa bisa bertahan lama?"
Pertanyaan itu mengenai tulang yang belum sembuh.
Sari melihat tangannya sendiri. Ada bekas tanah di kuku karena pagi tadi ia dari kebun. Tangan yang sama dulu memasak untuk Hendra, mencuci pakaian anak-anak, menghitung utang pabrik, dan tetap dianggap tidak melakukan apa-apa.
"Karena Ibu dulu mengira bertahan adalah bukti cinta," katanya pelan. "Ternyata kadang bertahan hanya bukti kita belum punya tempat pergi."
Di seberang, Nadia menangis tanpa suara.
"Kamu punya tempat pergi," kata Sari. "Datang ke kontrakan Ibu setelah shift."
"Aku bawa apa?"
"Dokumen pribadi. STR, ijazah, buku tabungan, kartu asuransi, surat nikah kalau bisa diambil aman. Kalau tidak aman, tinggalkan dulu."
"Pakaian?"
"Dua set cukup. Jangan sibuk membawa lemari saat rumah sedang terbakar."
Nadia mengeluarkan suara seperti tertawa, tetapi airnya masih ada.
"Ma, aku harus keluar sekarang."
"Satu lagi."
"Apa?"
"Kamu tidak sendirian."
Kali ini Nadia benar-benar diam. Sari hampir mengira sambungan putus.
Lalu suara putrinya datang, sangat pelan.
"Aku butuh dengar itu."
Telepon berakhir.
Sari keluar dari ruang belakang. Ayu sudah menutup satu transaksi dan menempelkan catatan pesanan di kotak.
"Bu?"
"Malam ini tutup lebih cepat setengah jam."
"Nadia kenapa?"
Sari mengambil buku stok. "Anakku sedang belajar berhenti minta izin untuk disakiti."
Ayu tidak bertanya lagi.
Malamnya Nadia datang dengan tas kerja, map lusuh, dan wajah yang terlihat seperti belum tidur tiga hari. Sari tidak memeluknya di pintu. Bukan karena tidak ingin, tetapi karena ia melihat Nadia sedang menahan diri dengan susah payah. Jika dipeluk terlalu cepat, mungkin anak itu roboh sebelum sempat makan.
"Mandi," kata Sari.
"Ma, aku mau tunjukkan bukti."
"Mandi dulu. Bukti tidak lari. Badan kamu bisa pingsan."
Nadia menurut.
Setelah mandi, ia duduk di lantai kontrakan memakai kaus lama Sari. Di meja kecil ada nasi hangat, telur dadar, sambal, dan teh manis. Ia makan tiga suap seperti anak kecil yang sedang diawasi. Suap keempat datang sendiri.
Baru setelah itu Sari membuka laptop.
Mereka membuat folder bernama: Bukti Rumah Tangga Nadia.
Nadia menatap nama folder itu dan menutup wajah. "Rasanya seperti aku menyiapkan kematian pernikahanku."
"Bukan kematian. Pemeriksaan."
"Apa bedanya?"
"Kalau masih bisa diselamatkan, pemeriksaan menunjukkan obatnya. Kalau sudah busuk, pemeriksaan menunjukkan kenapa harus dibuang."
Nadia menatap ibunya. "Mama jadi kejam setelah cerai."
"Tidak. Ibu jadi jelas."
Mereka bekerja sampai lewat tengah malam. Screenshot mutasi diberi tanggal. Foto kotak kosong dipisah. Rekaman suara Bu Marni disalin. Bukti pembelian sofa, kulkas, mesin cuci, dan cat rumah dimasukkan. Nadia mengeluarkan agenda kecil berisi catatan lembur dan cicilan barang.
Sari membuka halaman demi halaman.
"Ini penting."
"Itu cuma catatan."
"Catatan adalah ingatan yang tidak bisa dipaksa lupa."
Nadia menyandarkan kepala ke dinding. "Kalau besok aku pulang, mereka pasti bilang aku dibakar Mama."
"Besok kamu tidak pulang untuk bertengkar. Kamu pulang untuk mengambil dokumen dan memberi batas."
"Kalau Dimas menahan?"
"Kita datang dengan saksi."
Ponsel Nadia menyala.
Dimas: Kamu di mana? Jangan libatkan ibumu. Ini urusan suami istri.
Nadia menatap layar. Tangannya bergerak ingin membalas.
Sari berkata, "Screenshot."
Nadia berhenti, lalu menekan tombol tangkap layar.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak meminta maaf.
"Besok jam lima aku ke rumah," katanya.
"Kirim pesan dulu. Biar mereka tidak bisa bilang kamu datang diam-diam."
Nadia mengangguk. Matanya merah, tapi tidak kosong lagi.
Di luar, hujan turun pelan di atap kontrakan. Di dalam, dua perempuan duduk di lantai dengan laptop murah, nasi dingin, dan folder bukti yang baru lahir.
Sari tahu ini belum kemenangan.
Tapi setidaknya, mulai malam itu, Nadia tidak lagi menangis tanpa senjata.
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
kog bs beda2 yah ??