Bunga Lestari bukan siapa-siapa.
Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.
Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.
Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.
"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.
Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?
🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 011
Anindya Kartika
Untuk mendekati Hartono, Bunga harus memahami Baskara. Tetapi untuk memahami Baskara, ia harus mendekati pintu-pintu yang pria itu sendiri tidak mau buka.
Masalahnya, pintu yang tertutup justru membuat Bunga makin gatal ingin mengintip.
Selama dua hari setelah kunjungan ke ruang baca, ia beberapa kali memikirkan map PT Garuda Perkasa yang terkunci di laci Baskara. Tuan Misterius lebih parah. Ia mengulang detail yang sama seperti dosen mengulang soal ujian: warna map, posisi laci, gerakan tangan Baskara, reaksi wajahnya saat Kalimantan disebut.
"Kalau kamu terus mengulang, lacinya tidak akan terbuka sendiri," kata Bunga sambil merapikan blazer pinjaman.
"Pengamatan berulang mencegah kesalahan."
"Obsesi namanya."
"Strategi."
"Beda tipis."
Malam itu Melati mengajak Bunga ke networking dinner kecil yang diadakan salah satu rekan bisnis Keluarga Prawira. Bukan pesta besar, tetapi lebih berbahaya. Acara kecil berarti semua orang bisa saling mengamati dengan jelas. Tidak ada kerumunan untuk bersembunyi, tidak ada meja makanan panjang untuk dijadikan alasan.
Baskara datang terlambat, seperti biasa membawa suasana ruangan ikut menyesuaikan diri. Namun kali ini ia tidak datang sendiri.
Perempuan di sampingnya memakai setelan putih sederhana, rambutnya disanggul rendah, dan langkahnya tenang. Ia tidak terlihat berusaha menarik perhatian, tetapi perhatian datang sendiri. Saat ia tersenyum pada seorang direktur senior, pria itu langsung berdiri lebih tegak.
"Anindya Kartika," kata Tuan Misterius sebelum Bunga bertanya. "Eksekutif muda. Reputasinya sangat baik. Pintar, disiplin, dan punya jaringan yang bersih."
"Kamu terdengar menghormatinya."
"Karena data mendukung."
"Wah, pujian boros."
"Jangan cemburu pada orang yang memang kompeten."
Bunga hampir tersedak udara. "Aku tidak cemburu."
"Detak jantungmu naik."
"Itu karena aku lapar."
Baskara melihat mereka dan berjalan mendekat. Anindya ikut di sampingnya.
"Bunga," kata Baskara. "Kenalkan, Anindya Kartika."
Anindya mengulurkan tangan. "Panggil saja Anin."
Bunga menjabat tangannya. Jari Anindya hangat, genggamannya tegas tanpa memamerkan kekuatan.
"Bunga Lestari."
"Aku pernah dengar dari Melati." Anindya tersenyum. "Katanya kamu orang paling jujur yang dia temui bulan ini."
Bunga melirik Melati yang berdiri agak jauh dan pura-pura sibuk minum.
"Melati suka melebih-lebihkan."
"Kadang itu caranya menyayangi orang."
Jawaban itu membuat Bunga menilai ulang Anindya. Perempuan ini tidak hanya pintar. Ia juga memperhatikan orang.
Baskara menatap Bunga. "Anin baru kembali dari proyek di Surabaya. Dia banyak menangani program komunitas."
"Program komunitas yang benar-benar jalan atau yang bagus di proposal?" tanya Bunga sebelum sempat disaring.
Tuan Misterius diam seperti orang yang memilih tidak bertanggung jawab.
Anindya justru tertawa pelan. "Pertanyaan bagus. Dua-duanya pernah. Yang pertama membuat lelah, yang kedua membuat muak."
Bunga menyukai jawabannya. Itu masalah baru.
Mereka berbicara tentang program pendidikan, dana CSR, dan cara perusahaan memakai kata `komunitas` untuk terlihat baik. Tuan Misterius membisikkan istilah-istilah yang perlu Bunga pahami, tetapi beberapa kali Bunga menjawab dari pengalaman sendiri.
"Kalau bantuan datang hanya untuk foto, orang kampung tahu," katanya. "Mereka mungkin tetap tersenyum karena butuh, tapi mereka tahu."
Anindya menatapnya lebih serius. "Kamu pernah terlibat program seperti itu?"
"Pernah jadi penerima yang difoto."
Kejujuran itu keluar terlalu cepat. Bunga merasakan Tuan Misterius menegang.
Baskara memperhatikannya.
Anindya tidak mengejar dengan pertanyaan memojokkan. Ia hanya mengangguk pelan. "Kalau begitu kamu tahu sisi yang sering kami lewatkan."
Bunga menahan napas. Tidak ada penghinaan dalam kalimat itu.
Saat Anindya dipanggil seseorang, Baskara tetap berdiri di samping Bunga. Ia tidak langsung bicara. Diamnya terasa seperti alat ukur.
"Kamu tidak bertanya apa hubunganku dengan Anin," katanya akhirnya.
Bunga mengangkat alis. "Harus?"
"Biasanya orang bertanya."
"Biasanya orang juga pura-pura mengerti lukisan tumpahan kopi."
Baskara menatapnya, lalu senyum tipis muncul. "Kamu tidak penasaran?"
"Penasaran. Tapi kalau kamu mau cerita, kamu akan cerita. Kalau tidak, aku bertanya pun cuma bikin kamu menutup pintu."
Tuan Misterius berkata pelan, "Jawaban bagus."
Baskara memandang gelas di tangannya. "Anin teman lama. Rekan kerja. Kadang orang berharap lebih karena itu memudahkan narasi."
"Narasi keluarga?"
"Narasi bisnis."
"Lebih mahal."
"Jauh."
Di sisi ruangan, Ratih sedang melihat mereka. Bunga mulai terbiasa dengan tatapan itu. Yang tidak biasa adalah cara Baskara seolah sengaja menunggu reaksi Bunga setiap kali Anindya berbicara atau mendekat. Bukan dengan kasar. Hanya dengan pandangan singkat, cukup untuk membuat Tuan Misterius berkomentar.
"Dia menguji reaksimu."
"Aku tahu."
"Jangan tampak cemburu."
"Aku memang tidak cemburu."
"Kamu agak terganggu."
"Aku terganggu karena diuji, bukan karena Anin."
Ketika Anindya kembali membawa dua gelas air, Bunga mengambil satu dan berkata, "Mbak Anin, kalau nanti ada program komunitas yang tidak cuma buat foto, aku mau lihat."
Anindya tersenyum. "Serius?"
"Serius. Aku ingin tahu orang kaya bisa berguna seberapa jauh kalau tidak sedang dilihat kamera."
Beberapa tamu di dekat mereka terdiam mendengar kalimat itu. Terlalu langsung. Terlalu tajam.
Baskara menatap Bunga seperti seseorang yang baru melihat kartu berbeda di meja.
Anindya tidak tersinggung. "Kalau begitu ikut aku minggu depan. Ada kunjungan lapangan."
Bunga terkejut.
Tuan Misterius segera berkata, "Kesempatan jaringan. Terima."
"Saya ikut," kata Bunga.
Ratih yang sejak tadi berdiri tidak jauh tiba-tiba mendekat dengan senyum manis. "Kunjungan lapangan? Wah, Bunga berani sekali. Biasanya acara seperti itu melelahkan. Panas, banyak warga, kadang tidak sesuai bayangan orang kota."
Bunga menatapnya. "Berarti cocok. Saya tidak punya banyak bayangan orang kota."
Anindya melirik Ratih, lalu kembali pada Bunga. "Justru aku butuh orang yang tidak terlalu banyak membawa bayangan."
Senyum Ratih menegang setipis benang.
"Tentu," katanya. "Semoga Bunga betah."
"Kalau tidak betah, saya bilang," jawab Bunga. "Saya tidak pintar pura-pura betah."
Beberapa orang yang mendengar tertawa pelan, mengira itu candaan. Ratih ikut tertawa, tetapi matanya tidak ikut bergerak.
Tuan Misterius berkata, "Dia tidak suka kamu mendapat jalur baru."
"Bagus," jawab Bunga dalam hati. "Berarti jalurnya berguna."
Baskara memandang Anindya, lalu Bunga. Kali ini Bunga yakin, ini bukan hanya uji reaksi. Ia baru saja keluar dari perbandingan yang disiapkan untuknya dan memilih jalur sendiri.
Saat acara selesai, Baskara berjalan mengantar Bunga sampai pintu lobby.
"Kamu tidak seperti yang kuduga," katanya.
"Itu bagus atau buruk?"
"Belum tahu."
Bunga tersenyum. "Kalau sudah tahu, kabari saya."
Baskara hampir tersenyum lagi, tetapi Anindya memanggilnya dari belakang. Ia menoleh, lalu kembali pada Bunga.
"Hati-hati dengan Ratih," katanya pelan.
Bunga membeku sesaat.
Sebelum ia sempat bertanya, Baskara sudah berjalan kembali ke dalam ruangan, meninggalkan peringatan itu di antara suara pintu lobby yang menutup perlahan.
Peringatan itu terasa seperti pintu baru yang terkunci.