Helena berjuang untuk mendapat hati Edgar, tetangganya. Mencuri perhatian saat pria itu menjadi dosen tamu di kampus, bertingkah lucu saat weekend, atau mencoba melakukan segala cara agar bisa berbicara dengan pria itu.
Apakah Edgar akan luluh?,
Tapi, kenyataan pahit harus diterima Helena. Saat mengetahui bahwa Edgar adalah mantan ibunya.
Bagaimanakah Helena menata Hati saat merelakan Edgar menikahi ibunya.
Helena memilih kuliah di luar negeri, sampai suatu saat kembali...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sweet and dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Gina menyesap kopi, menikmati kopi yang telah di mix dengan krim kocok. Lalu, perhatiannya tertuju pada Sandra.
"Jujur dech Sandra, kamu masih berhubungan sama Alex? " tanya
Lama Sandra terdiam. Sandra begitu ingat bagaimana Bram Xavier meninggalkannya setelah mengetahui perselingkuhan dirinya dan Alex. Hal tergila yang pernah dia lakukan.
Mereka tak memiliki hubungan layaknya kekasih, hanya teman diranjang. Ketika Sandra stres maka orang yang akan ia temui adalah Alex.
Flashback On
Saat kuliah, Sandra menjalin hubungan kekasih dengan Edgar. Lalu berpisah karena atas wasiat dari kakaknya di saat masa kritisnya, untuk menikah dengan Bram Xavier
Elena, kakak Sandra telah melakukan pengobatan jantung. Suatu ketika perlu melakukan tindakan operasi, selama itu Helena dititipkan pada Sandra untuk menjaganya.
Elena harus menjalani operasi segera. Setelah melewati operasi yang memerlukan waktu sekitar 5 sampai 6 jam itu, Elena ditempatkan di ICU.
Ia berada di sana 1-2 hari untuk pemantauan ketat fungsi organ vitalnya secara intensif oleh dokter dan perawat.
Bram Xavier, Sandra, orang tua Sandra, Helena dan Edgar berada di sana tapi diluar ruangan. Untuk besuk hanya boleh dua orang di waktu siang pukul 11.00-13.00, diwaktu sore 17.00-19.00. Bukan apa-apa hal itu ditujukan agar pasien punya banyak waktu istirahat agar segera pulih.
Ruangan itu begituu dingin, sampai membuat bibir sedikit membiru. Untungnya saat itu Sandra menggunakan lipstik, dia juga membawakan lipbalm untuk kakaknya. Sedang Bram melipat kedua tangan nya ke depan, padahal sudah menggunakan jacket yang cukup tebal.
Saat itu masih pukul 17.15, mereka berdua masuk setelah mendapat pesan melalui seorang perawat yang baru saja melakukan pergantian infus pada Elena.
Ruangan ICU VIP (Intensive Care Unit),di rumah sakit besar di kota itu. Fasilitasnya cukup eksklusif, terdapat tempat tidur pasien yang nyaman, Alat medis canggih, kamar mandi dan sofa empuk untuk keluarga pasien.
Sandra dan Bram menghampiri Elena yang begitu pucat.
"Kak, ini dibawain lipbalm" ucap Sandra tersenyum kearah kakaknya.
"thanks dek, kenapa pink.. kan merah lebih sexy" balas Elena sedikit centil
"Emang ya kakakku ini, udah sakit masih aja centil" ucap Sandra mengerucut kan bibir.
Lalu mereka sedikit tertawa, Bram Xavier lega melihat Elena dapat kembali ceria.
"Helena cerewet gak hari ini? " tanya Sandra menoleh pada Bram Xavier
"Kakak jangan khawatir, Helena kalau sama Sandra selalu nurut" jawab Sandra begitu cepat nya
"Ya, Helena jadi anak yang penurut. Dia menanyakanmu. Segeralah sembuh, Helena bilang rindu masakan bunda katanya" Ucap Bram
"Tolong jaga Helena ya.. Sandra, dia begitu patuh kalau sama kamu" pinta Elena berusaha menahan air mata, sedang hidungnya. sudah memerah.
"Menangis saja kak, jangan ditahan" ucap Sandra membuat air mata Elena langsung luruh.
Sungguh sudah lama ia mendapatkan sakit jantung, dan selalu optimis dengan pengobatan. Tapi, kali ini berbeda. Seolah ada firasat yang mengatakan bahwa di pojok tempat tidur sudah ada malaikat mau sedang menunggu dengan pakaian dinasnya berjubah hitam bertutup kepala serta tongkat celurit panjang.
Terdengar suara sesegukan Elena, setelah beberapa waktu melepas rasa yang ia tahan. Kekhawatiran yang tak berujung. Dia sudah berusaha kuat untuk Helena, Bram Xavier, dan keluarganya. Tapi kali ini, ia ingin berbagi keresahannya, kekhawatiran nya.
"My dear husband, " itulah panggilan manis dari Elena yang ia sematkan pada suami nya itu.
Bagaiman Bram Xavier tak sedih melihat wanita yang begitu manis yang telah memperjuangkan cintanya pada Bram harus berada dalam kondisi sekarat.
"It's okay, aku nangis buat ngehilangin resah aku" Elena bisa melihat Bram Xavier, wajah pria itu kaku.
Begitu paham Elena bahwa pria itu sekarang sedang terpukul, walau ekspresinya berusaha ia tahan.
"Kurasa, waktu ku tak lama lagi" ucap Elena tersenyum
"Kenapa kakak bilang begitu" ucap Sandra marah.
"kakak akan sembuh, aku akan melobi Tuhan untuk memanjang kan umur kakak" jawab Sandra asal
"Itu artinya kamu harus meninggal dulu, kan orang meninggal bisa nemuin Tuhan" jelas Elena tersenyum
"Tolong dengarkan kakak,.. Dear.. " Elena meminta mereka mendekat
"Helena sudah punya pawang, yaitu. Sandra"
"Orang yang bisa lindungi Helena itu cuma kamu Dear" lanjut Elena mengusap jari Bram Xavier
"Aku mohon, menikahlah kalian. Jagalah Helena dengan baik. Cuma kamu Sandra yang kakak percaya. Sandra, mba tahu kamu sama Edgar serius. Tapi kakak nggak punya orang yang paling kakak percaya selain kamu" Ucap Elena dengan air mata yang luruh begitu deras.
"Kak.. aku..." jawab Sandra lalu Bram menghentikan kalimat gadis itu
"Iya, saya akan melakukannya. Nanti ketika Sandra siap. Dan itu tak akan terjadi, sebab kamu akan baik-baik saja" jelas Bram Xavier. Lalu keluar dari ruang an itu dengan wajah memerah.
Keluarga mereka yang berada diluar melihat kondisi Bram Xavier yang baru saja keluar dari ruang ICU VIP, prihatin akan kesedihan seorang suami yang menyaksikan istri yang terbaring lemah tak berdaya.
"Saya cari makan malam dulu, Edgar boleh temani saya" Mereka berdua menggunakan mobil, Edgar yang menyetir.
Bram Xavier saat ini terlihat kalut,
"Saya turut prihatin sama kondisi kak Elena" ucap Edgar di mobil.
"terimakasih" jawab Bram sekenanya.
"Maaf.. " ucap Bram Xavier. Dia teringat bagaimana permintaan istrinya begitu menghantam keras hati, pikiran dan tubuhnya.
"tidak masalah, saya tidak merasa direpotkan kan" Edgar pikir Bram Xavier meminta maaf karena memintanya. untuk menyetir.
Mereka tiba di restaurant, memesan beberapa makanan untuk dibawa ke rumah sakit. Saat mereka berada di restoran menunggu makanan yang mereka pesan jadi. Mereka mengobrol
"Edgar, kamu sama Sandra gimana? " tanya Bram Xavier, membuka obrolan.
Bram Xavier ingin memastikan hubungan mereka sejauh apa. Edgar pun tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti ini dari seorang Bram Xavier. Biasanya mereka akan tukar pikiran soal bisnis, tentang penulisan sastra.
"Kakak tenang aja, saya nggak main-main dengan hubungan kita. Saya dan Sandra juga berencana akan ke Belanda untuk nemuin orang tuaku. Tapi setelah kak Helena sembuh dulu" Jawab Edgar
"Good luck" ucap Bram Xavier.
"Kondisi kak Elena tadi gimana kak" tanya Edgar
Pria itu belum menjenguk Elena, sebab baru sempat hari ini.
"Dia lebih baik" jawab Bram Xavier terdengar seperti bualan bagi Edgar, melihat sekilas pada ekspresi Bram dan informasi dari keluarga.
"Semoga jadi lebih baik" ucap Edgar.
Mereka memesan kopi dan cemilan sambil menunggu. Edgar menyesap kopi yang terasa hambar sedangkan Bram membiarkan kopi itu perlahan dingin tanpa menyentuhnya sama sekali.
Pesanan mereka selesai, Mereka kembali ke rumah sakit. Seluruh keluarga menatap Iba kearah mereka berdua. Edgar tak bisa mencerna, padahal yang istrinya sedang sakit adalah Bram. Kenapa dirinya juga ditatap Iba
di rumah sakitt saat kepergian mereka, Elena memberitahukan kedua orang tuanya. Mereka meng-iyakan permintaan wanita itu. Sandra terpukul dan izin pamit pulang ke rumah membawa Helenna dengan alasan Helena mengantuk.
Edgar tak jadi menjenguk Elena, ia langsung izin pulang sebab disana Sandra tak ada. Gadis itu tak memberikan kabar, mungkin dia lupa. Begitu lah pikir Edgar.
Flashback off
🤭
Bintang lima untuk mu. Semangat