NovelToon NovelToon
The Doctor’S Darkest Obsession

The Doctor’S Darkest Obsession

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Gangster / Dokter / Tamat
Popularitas:14.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Satu malam tragis mengubah seluruh hidup Liana. Niat hati ingin menolong seorang pria yang tak berdaya tetapi lelaki itu menutup matanya dan mengambil kesucian liana sebagai satu-satunya jalan keluar. Trauma dan kalut, ia melarikan diri dan berharap takdir tidak akan pernah mempertemukan mereka lagi.
Namun, takdir punya rencana lain. Beberapa bulan kemudian, Liana melangkah ke rumah sakit dengan hati hancur untuk mengakhiri kehamilan yang tak diinginkannya. Di sana, Kenzo melihat wanita yang akan menolongnya malam itu.
Liana tidak tahu bahwa di balik jas putihnya, Kenzo adalah pemimpin geng motor yang disegani dan tak kenal ampun dan lelaki yang telah melakukannya dengannya. Mengetahui Liana mengandung darah dagingnya, Kenzo tidak akan membiarkan wanita itu pergi.
Perburuan pun dimulai—bukan hanya untuk mengklaim anaknya, tapi juga untuk memiliki Liana seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Kenzo mengabaikan semua jadwal rumah sakit dan janji temu pasiannya.

Tanpa memedulikan Jas putih dokternya yang masih melekat, ia langsung melompat ke dalam mobil dan melesat kembali ke markas di dekat hutan dengan kecepatan gila-gilaan, menerobos jalanan tanpa memedulikan keselamatan dirinya sendiri.

Begitu sampai di markas, ban mobilnya mencicit keras di atas tanah.

Kenzo langsung menghambur masuk. Namun, pemandangan di dalam markas seketika membuat dunianya runtuh.

Melihat kerusakan yang ada, barang-barang yang hancur, dan jejak masakan Liana yang berantakan, rahang Kenzo mengeras hingga urat-urat di leher dan dahinya menonjol mengerikan.

Tinju tangannya mengepal begitu kuat hingga sendi-sendinya memutih, menahan badai murka yang siap meledak.

"CARI ISTRIKU!! SEKARANG!!" raung Kenzo dengan suara baritonnya yang menggelegar, membuat seisi markas bergetar.

Tepat di saat kepanikan memuncak, William dan Mario baru saja tiba di markas.

Mereka berdua seketika terperangah melihat kekacauan yang terjadi, namun setelah mendengar perintah sang ketua, keduanya langsung bergerak cepat tanpa banyak tanya.

"Kami cari di sekitar sini, Bos!" seru William.

Mereka semua berpencar memeriksa setiap jengkal area markas yang hancur.

Saat memeriksa area koridor belakang yang menuju ke arah ruang bawah tanah, Mario dan William melihat ada sesuatu yang janggal.

Pintu lorong bawah tanah yang biasanya selalu terkunci rapi kini tampak sedikit renggang, dan mereka menangkap adanya gerakan serta suara gesekan aneh dari arah kolam bawah tanah yang gelap.

"BOS!! DI SINI, BOS!! DI BAWAH TANAH!!" teriak William lantang menembus keheningan lorong.

Kenzo yang mendengar teriakan itu langsung berlari kesetanan, menuruni anak tangga beton dengan napas memburu.

Di dalam ruang kolam bawah tanah yang pengap dan temaram, netra tajam Kenzo langsung menangkap sebuah karung goni besar yang tergeletak di sudut kolam berlumut.

Jantung Kenzo seakan berhenti berdetak. Ia melompat turun ke dalam kolam, langsung menerjang karung goni tersebut dan membukanya dengan gerakan gemetar penuh kepanikan.

Begitu ikatan karung terlepas, runtuh sudah pertahanan sang pimpinan geng Black Cobra.

"TIDAK!!! Liana, bangun!! Sayang, lihat aku!!" teriak Kenzo histeris.

Air matanya nyaris tumpah melihat kondisi istrinya yang dipenuhi luka memar kebiruan, wajah yang pucat pasi, dan tubuh yang sudah terkulai lemas tak berdaya.

William dengan sigap maju mendekat, dengan hati-hati melepaskan lakban hitam berlapis yang menyumbat mulut Liana.

Begitu sumbatan terlepas, tidak ada suara yang keluar dari bibir Liana yang membiru.

Tanpa membuang waktu, William langsung membopong tubuh mungil Liana yang terasa sangat dingin ke atas dadanya untuk segera dibawa keluar dari ruangan pengap itu.

Melihat kondisi Liana yang kritis, sisi monster di dalam diri Kenzo bangkit sepenuhnya.

Matanya merah menyala penuh kilat pembunuhan yang teramat pekat.

Ia berbalik, hendak melangkah pergi dengan aura kegelapan yang mengerikan.

"Aku harus membunuhnya!! Aku akan cincang siapa pun yang menyentuh istriku!! Geng Red Skull... Roy... mereka harus mati hari ini juga!!" teriak Kenzo murka, kehilangan akal sehatnya sebagai seorang dokter.

Mario yang melihat ketuanya sudah dikuasai iblis langsung pasang badan.

Ia mencengkeram kedua pundak Kenzo dengan kuat, berusaha menahan langkah pria itu.

"Bos, tenang dulu! Sadar, Bos!!" bentak Mario, mencoba mengembalikan kewarasan Kenzo.

"Kondisi Ibu Liana dan calon anakmu lebih penting sekarang! Balas dendam bisa urusan nanti, Bos!"

"Ayo ke rumah sakit sekarang, Bos! Jangan tunda lagi, nyawa mereka dalam bahaya!" timpal William yang sudah setengah berlari menggendong Liana menuju mobil.

Mendengar kata 'calon anak' dan melihat tubuh Liana yang kian melemas di gendongan William, detak jantung Kenzo tersentak.

Rasa panik sebagai seorang suami dan dokter akhirnya mengalahkan amarahnya.

Dengan napas yang masih memburu dan tangan yang bergetar hebat, Kenzo langsung berbalik dan berlari memimpin jalan menuju mobil, bersiap melakukan perjalanan hidup dan mati demi menyelamatkan istri dan calon anaknya.

Sesampainya di rumah sakit, Kenzo langsung membuka pintu mobil dengan kasar.

Tanpa memedulikan tatapan penuh tanya dari para staf medis dan pengunjung, ia merebut tubuh Liana dari gendongan William, membopong tubuh mungil istrinya yang tak berdaya itu dengan kedua tangannya sendiri, lalu berlari kencang menuju ruang penanganan darurat.

"Siapkan brankar! Cepat!" raung Kenzo dengan suara baritonnya yang menggelegar di sepanjang koridor rumah sakit.

Petugas medis segera mendorong brankar dengan cekatan.

Kenzo membaringkan tubuh Liana di atasnya dengan sangat hati-hati.

Tangan Kenzo yang bergetar hebat mulai memeriksa denyut nadi Liana, wajahnya pucat pasi tertutup kepanikan yang luar biasa.

Di depan pintu ruang tindakan, Dokter Sinta langsung menghadang langkahnya.

Ia melihat kondisi psikologis Kenzo yang sudah hancur berantakan.

"Kenzo, berhenti. Biar aku dan timku yang menangani Liana. Kamu, silakan tunggu di luar," ucap Dokter Sinta tegas, menahan dada Kenzo.

"Minggir, Sinta! Aku suaminya!! Dan aku dokter kandungannya! Aku yang paling tahu kondisinya!" bentak Kenzo dengan mata merah menyala, menolak mentah-mentah perintah itu.

Ia tidak akan membiarkan istrinya lepas dari pandangannya sedikit pun.

"Tapi kamu sedang tidak stabil untuk menangani istrimu sendiri, Kenzo! Logikamu sudah tertutup amarah! Tindakanmu bisa membahayakan Liana dan bayinya!" balas Dokter Sinta tak kalah lantang, mencoba menyadarkan pria itu.

Namun, Kenzo yang sudah dikuasai oleh ketakutan dan insting monsternya tetap bersikeras hendak menerobos masuk.

PLAKK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Kenzo.

Suara tamparan itu menggema di koridor yang mendadak senyap.

Mario berdiri di hadapan Kenzo dengan napas terengah-engah dan tangan yang masih melayang di udara.

Pria berbadan besar itu baru saja mendaratkan tamparan untuk menyentak kewarasan ketuanya.

Sebelum Kenzo sempat mengamuk, Mario langsung mencengkeram kerah jas putih Kenzo dengan kuat dan menariknya mundur menjauh dari pintu.

"SADAR, BOS!! Lihat Liana, istrimu!!" bentak Mario dengan suara bergetar namun penuh penekanan.

"Kalau Bos masuk dengan kondisi kesetanan seperti ini, Bos bukan menyelamatkannya, tapi bisa membunuhnya! Percayakan pada Dokter Sinta! Jangan biarkan ego Bos menghancurkan harapan terakhir Liana dan calon anakmu!"

Kenzo tertegun. Tamparan dan bentakan Mario seolah menyiramkan air es tepat di kepala Kenzo yang membara.

Ia menatap telapak tangannya sendiri yang bergetar hebat—tangan yang biasanya begitu tenang saat memegang pisau bedah, kini tidak lagi memiliki kestabilan itu.

Kenzo perlahan menoleh menatap pintu ruang tindakan yang mulai tertutup rapat, menyembunyikan Liana di dalam sana. .

Bahunya merosot turun, seluruh kekuatannya seolah lenyap seketika digantikan oleh rasa rapuh yang teramat dalam.

Di dalam ruang UGD, suasananya berubah menjadi medan pertempuran hidup dan mati yang sangat menegangkan.

Dokter Sinta memimpin tim medis dengan cekatan, namun keringat dingin mulai membasahi dahinya.

Monitor penunjuk detak jantung di samping brankar Liana terus berbunyi tidak stabil, memuntahkan grafik naik-turun yang semakin lama semakin melemah.

"Siapkan epinefrin! Naikkan dosis oksigen!" seru Dokter Sinta dengan suara bergetar namun tetap berusaha tegas.

Tangan para perawat bergerak cepat, memasang berbagai alat bantu medis ke tubuh Liana yang dipenuhi luka memar.

Tekanan darah Liana merosot tajam, dan indikator janin di rahimnya menunjukkan kondisi yang sangat kritis.

Dokter Sinta mengerahkan seluruh kemampuannya, melakukan kompresi dada demi menyelamatkan sahabat dari rekannya itu.

Sementara itu, ketegangan di luar ruang UGD terasa begitu pekat dan mencekam hingga udara seolah berhenti mengalir.

Kenzo duduk di lantai koridor dengan menyandarkan punggungnya ke dinding, kedua lututnya ditekuk dan tangannya menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi.

Jas putih dokternya kini tampak kusut. Di sebelahnya, Mario, William, dan Bunga berdiri mondar-mandir dengan wajah pucat pasi.

Tidak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara.

Setiap detik terasa seperti siksaan yang meremukkan dada.

Tepat di saat ketegangan mencapai puncaknya, dari dalam ruangan UGD, terdengar sebuah bunyi panjang yang paling ditakuti oleh setiap tenaga medis.

TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIT...

Garis di monitor berubah menjadi lurus sempurna. Detak jantung Liana berhenti total.

Pintu UGD perlahan terbuka. Dokter Sinta keluar dengan langkah kaki yang terasa teramat berat, wajahnya lesu penuh penyesalan.

Ia berjalan lambat menuju ke arah Kenzo yang langsung berdiri tegak seketika.

"Bagaimana, Sinta?!" tanya Kenzo dengan suara tercekat, menatap penuh harap.

Dokter Sinta tidak mampu menatap mata Kenzo. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam lalu menggelengkan kepalanya pelan.

"Maaf, Kenzo... Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi... Liana tidak bisa diselamatkan."

Mendengar kalimat sakral kematian itu, dunia Kenzo runtuh seada-adanya.

1
Muft Smoker
wah udh tamat aja kak ,, kirain nunggu little cobra gede dulu ,,
tp ttap makasih kak buat cerita ny ,, meski singkat Dan tdk bertele2 ,, tp suka ma alur ny ,, dtggu next ceritany yx kak ,,

sehat2 selalu kak ,,
Muft Smoker
astagaaaa ,, org lgi pda sibuk nangis ,, si bumil malah asik berenang😂😂😂😂😂
Bunga Andthea
huhuhu cepet bgt tamat nya kak,
my name is pho: 🥰🥰
Nantikan novel yang lainnya ya kak
terima kasih
total 1 replies
Bunga Andthea
huwaa kakak ny baik bgt hari ini triple up
Muft Smoker
lanjuuut kak
Arumi
psikopat 😭
Muft Smoker
duuuh deg2an iikh ,,
semoga kenzoo cepat sampai dan menyelamatkan Liana ,,
Bunga Andthea
dobel up kak
Muft Smoker
semoga ad keajaiban ,, sebelum bnr2 jauuun Liana bisa di selamatkan ,,
Bunga Andthea
up lgi kak
Bunga Andthea
dobel up dong kak
Muft Smoker
nah kan Rista akhirnya km menemukan sosok yg baik ,, meski ia salah satu anggota geng motor ,,
Muft Smoker
udh Rista jgn iri dg Liana Krn punya suami kyak kenzoo ,,
mario juga kyaknya gx kalah keren koq ,,
🍒WINA🍒
Kenzo dalam keadaan kena obat perangsang telah menodai liana, kasian nasibnya liana ingin menolong org yg terluka apes diperkosa...

liana sampai kehilangan kehormatannya sangat dijaganya, hancur hidup liana yg memperkosa tidak bertanggungjawab langsung kabur aja🤣🤣🤭
Bunga Andthea
lagi kak dobel up kak
Bunga Andthea
sedih bgt liat keadaan Liana,
sumpah kak Lo bikin deg degan
Muft Smoker
yaaa kak ,, masa pemeran utama meninggoy ,, 😱😱😱😱😱😱
Inarairlan 0811
Kania or Rista ka
my name is pho: Kania kak.
terima kasih koreksinya
total 1 replies
Bunga Andthea
ehh ehh tor jngan main" ya ini kenapa jdi gini liana nya
sri hastuti
lah kok spt itu thor, selamatkan liana thor, kl tdk bisa jd monster itu kenzo ,bisa diterjang semuanya , kenapa baru bahagia sebentar sdh spt ini 😡😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!