Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.
Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."
Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.
Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.
Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.
Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.
Empat tahun kemudian, badai datang lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23
Kunci Lama
Pintu loteng yang terkunci membuat Erlyn lebih sering melihat ke atas.
Saat turun sarapan, ia melihat tangga kecil di ujung koridor. Saat pulang sekolah, ia mendengar apakah ada langkah dari atas. Saat malam les selesai, ia sengaja berjalan lebih lambat melewati lantai dua, hanya untuk memastikan apakah ada cahaya tipis di bawah pintu.
Chisen tentu saja menyadarinya.
"Lehermu sakit?" tanyanya suatu malam ketika Erlyn menatap ke arah tangga loteng terlalu lama.
Erlyn langsung melihat buku. "Tidak."
"Kupikir karena sering lihat atas."
"Aku cuma melihat langit-langit."
"Langit-langitnya di sana sejak rumah ini dibangun."
"Koh punya komentar untuk semua hal?"
"Untuk hal mencurigakan, iya."
Ia tidak menyinggung loteng. Tidak juga membuka pintu lebih sering. Justru sejak malam percakapan tentang London, Chisen semakin rapi mengunci ruang itu. Kadang Erlyn mendengar kunci diputar bahkan saat ia hanya lewat di koridor.
Seolah Chisen sedang berbicara dengannya memakai logam.
Jangan masuk.
Suatu Sabtu pagi, Jing meminta Erlyn membantunya merapikan lemari penyimpanan di ruang bawah tangga. Rumah kolonial itu punya terlalu banyak laci dan kotak tua. Ada taplak meja Imlek, lilin Natal yang belum dipakai, bingkai foto kosong, kabel yang tidak diketahui pasangannya, dan beberapa kotak kayu kecil berisi kunci.
"Kenapa kuncinya banyak sekali?" tanya Erlyn.
Jing mengeluarkan satu ikat kunci berkarat. "Rumah tua. Setiap pintu punya sejarah sendiri."
"Atau pemiliknya pelupa."
"Bisa juga."
Mereka tertawa. Jing memisahkan kunci yang masih dipakai dan yang tidak jelas asalnya. Erlyn bertugas menempelkan label kertas kecil. Pintu gudang. Lemari linen. Pagar samping. Kabinet kaca.
Lalu ia menemukan satu kunci yang berbeda.
Bentuknya panjang, lebih tua dari yang lain, warnanya gelap, ujungnya bergerigi halus. Tidak ada label. Di kepalanya terikat benang merah yang sudah kusam.
"Ma, ini kunci apa?"
Jing menoleh. "Mana?"
Erlyn menyerahkannya.
Jing mengamati sebentar, lalu mengerutkan kening. "Mama tidak tahu. Mungkin kunci pintu lama. Rumah ini sudah beberapa kali ganti kunci."
"Loteng juga?"
Pertanyaan itu keluar terlalu cepat.
Jing mengangkat mata.
Erlyn pura-pura sibuk mengambil label. "Maksudku, rumah tua begitu."
Jing tidak langsung menjawab. "Mungkin. Dulu sebelum Chisen memakai loteng sebagai ruang kerja, tempat itu hanya gudang."
"Oh."
Jing meletakkan kunci itu di tumpukan tidak jelas. "Nanti tanya Om Changli."
Namun sampai siang, Om Changli belum pulang. Chisen pergi ke SPI untuk kegiatan portofolio. Rumah terasa lebih kosong dari biasanya. Jing menerima telepon panjang dari kerabat di Belitung dan masuk ke kamar.
Kunci tua itu masih ada di meja ruang bawah tangga.
Erlyn berdiri di depannya hampir satu menit.
Ia tahu ini salah.
Tidak ada pembenaran yang cukup baik untuk mengambil kunci orang lain dan mencoba pintu ruang pribadi. Apalagi setelah Chisen jelas-jelas menutup pintu itu dari dalam. Tetapi rasa ingin tahunya sudah tumbuh terlalu lama, disiram oleh London, kanvas, King of Cups, daun bawang, dan suara kunci yang setiap malam seolah mengejeknya.
Ia hanya akan mencoba.
Kalau tidak cocok, selesai.
Kalau cocok...
Erlyn tidak menyelesaikan pikiran itu.
Di kepalanya, loteng sudah berubah menjadi kumpulan gambar yang tidak pernah ia lihat utuh. Kanvas besar menghadap jendela. Meja penuh cat. Mungkin foto dari London. Mungkin katalog pameran yang disembunyikan. Mungkin lukisan yang membuat Juwanto berhenti bicara dan Chuan menatap Chisen seperti sedang menjaga luka lama.
Mungkin tidak ada apa-apa.
Mungkin hanya ruangan berantakan yang Chisen tidak ingin orang lain sentuh karena ia terlalu perfeksionis.
Tetapi kalau memang hanya itu, kenapa setiap kali topik tersebut muncul, wajah semua orang berubah?
Pertanyaan itu mendorongnya lebih kuat daripada rasa bersalah.
Ujung jarinya terasa dingin, tetapi dadanya justru panas seperti habis berlari jauh.
Ia mengusap telapak tangan ke rok.
Sekali lagi.
Pelan.
Ia mengambil kunci tua tersebut dan menggenggamnya di telapak tangan.
Tangga menuju lantai dua terasa lebih panjang. Setiap anak tangga mengeluarkan bunyi kecil, padahal ia sudah berusaha melangkah pelan. Koridor kosong. Dari kamar Jing terdengar suara Mama masih berbicara di telepon. Dari luar, suara burung dan kendaraan jauh terdengar samar.
Di depan tangga kecil menuju loteng, Erlyn berhenti.
Ia menatap ke bawah sekali lagi.
Tidak ada siapa pun.
"Cuma coba," bisiknya pada diri sendiri.
Pintu loteng tampak sama seperti biasa. Kayu tua, gagang kuningan, celah tipis di bawahnya. Hari ini tidak ada cahaya. Tidak ada suara kuas. Tidak ada Chisen.
Erlyn memasukkan kunci ke lubang.
Tidak masuk.
Ia menarik napas, mengubah sudutnya sedikit, mencoba lagi.
Kali ini kunci masuk setengah.
Jantungnya langsung memukul tulang rusuk.
Ia memutar.
Tidak bergerak.
Erlyn menggigit bibir, mencoba lebih pelan. Kunci tua itu tersangkut, dingin di jarinya. Ia takut patah. Takut pintu tiba-tiba terbuka. Takut Chisen pulang dan berdiri di belakangnya.
Takut semua kemungkinan sekaligus.
Ia mencoba sekali lagi.
Klik kecil terdengar.
Bukan suara pintu terbuka.
Suara kunci yang menolak.
Erlyn menarik kunci itu keluar dengan cepat. Telapak tangannya basah. Pintu loteng tetap tertutup, kokoh, seolah sejak awal tahu bahwa ia tidak akan semudah itu dikalahkan.
Di bawah, suara pintu utama terbuka.
Erlyn membeku.
Langkah kaki terdengar dari ruang depan.
Chisen pulang.