Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?
layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.
Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....
Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
"Oke, kalau kamu nggak percaya sama Abang. Abang sudah pernah cerita kan, Abang juga pernah merasakan sakitnya di khianati. Bukan hal mudah buat Abang membawa kamu sampai di titik sekarang. Bodoh sekali kalau apa yang sudah Abang inginkan bisa Abang dapat, terus Abang sia-siakan begitu saja." jelas lelaki itu.
"Terus, gimana ceritanya bisa ada foto seperti itu?" tanyaku.
"Waktu Abang kunjungan, awalnya ada Cik Lina. Ibunya cewek yang ada di foto itu. Kamu pasti pernah dengar kan kalau Cik Lina sempat berniat menjodohkan Abang sama anaknya. Ya cewek itu yang mau dia jodohkan sama Abang, tapi Abang dari awal kenal sama kamu itu udah niat dan harus bisa Khitbah kamu, Yang. Jadi Abang nggak pernah respon. Kemarin dia tiba-tiba datang ke apotik. Terus, ya kejadiannya kayak di sinetron ikan terbang, atau seperti di novel online yang sering kamu baca itu. Dia hampir jatuh di dekat Abang, ya reflek dong Abang tolongin. Tahu gitu Abang biarin aja dia nyungsep di lantai."
"Terus, kenapa bisa ada foto ini! Itu pasti dia memang sengaja, Yang. Abang cuma heran aja, darimana dia dapat kontak ponsel kamu. Kalau nomor yang kirim WA, Abang yakin itu nomer si uler keket, anaknya Cik Lina."
"Coba sekarang Abang telpon pakai nomer Abang." ucap lelaki itu kalau mengambil ponsel yang biasa dia gunakan untuk kontak dengan pelanggannya. Sedangkan untuk keluarga dan usaha pribadinya, dia ada ponsel sendiri.
Bang Rengga mencoba menghubungi nomer pengirim foto itu menggunakan ponsel nya. Terdengar nada sambung karena Bang Rengga sengaja menekankan tombol loudspeaker di ponselnya. Hingga beberapa kali dering, panggilan itupun tersambung.
"Iya, malam Abang. Ada yang bisa Vivian bantu?" tanya perempuan di seberang sambungan telepon padahal Bang Rengga belum mengucapkan sepatah kata apapun.
Dari situ aku sedikit menilai, jika memang wanita itu sedang berusaha mendapatkan perhatian lebih dari Bang Rengga.
"Malam, Vi. Lagi ngapain?"
"Lagi mikirin Abang." jawab suara di seberang sana lalu terdengar suara tawa.
Sedangkan Bang Rengga di sini malah bergidik ngeri, sambil tangannya mengisyaratkan agar aku pindah duduk di sampingnya. Tanpa banyak kata, akupun pindah yang tadinya berhadapan sekarang aku sudah duduk di samping nya.
"Kamu bisa aja, Vi. Mikirin apa memangnya?"
"Kangen sama Abang, kapan ke sini lagi? Atau, aku aja yang main ke tempat Abang?" tanya perempuan itu to the point.
"Nggak perlu. Dan saya rasa tadi adalah kunjungan terakhir saya ke sana. Saya tidak suka dengan sikap kamu yang lancang dan juga licik. Kamu pikir saya tidak tahu, kamu berusaha merusak hubungan saya dengan calon istri saya. Kamu sudah mengirimkan foto penuh trik, receh!"
"Apa maksud Abang?" tanya perempuan bernama Vivian itu.
"Entah siapa yang kamu ajak bekerja sama, hingga kamu bisa menghasilkan sebuah foto dengan angle seolah-olah saya sedang bermesraan dengan kamu. Padahalkan di ruangan itu tidak hanya ada saya. Ada beberapa orang yang bisa saya jadikan saksi kalau kamu lupa dengan kejadian yang sebenarnya."
"Apa maksud Abang kunjungan terakhir tadi? Abang nggak takut omset turun, karena nggak dapat orderan dari Mama? Sekali order lumayan lho, Bang." ucap perempuan itu jumawa.
"Asal kamu tahu, meskipun saya tidak dapat orderan dari Mama kamu, saya masih bisa hidup enak. Cukup sekali ini kamu lancang mengirim fitnah, jangan sampai kamu ulangi lagi." ucap Bang Rengga.
"Tapi aku sayang sama kamu, Bang. Sejak pertama ketemu sama Abang, aku udah suka sama Abang. Apa sih kurang ku dibandingkan dengan calon istri Abang yang nggak seberapa itu?"
"Jaga mulut kamu! Jangan pernah melewati batasan kamu. Asal kamu tahu, dia perempuan yang sangat baik, perempuan mandiri yang tangguh, yang nggak menye-menye dan manja seperti kamu. Dia calon ibu yang baik untuk anak-anak saya nantinya."
"Aku juga bisa, Bang. Aku bisa jadi seperti perempuan itu."
"Oya? Maaf, bukan maksudku merendahkan. Memangnya, kamu bisa apa selain shopping dan clubbing?" tanya Abang Rengga.
"Maaf, Vi. Soal hati itu tidak bisa dipaksakan. Saya cuma bisa berdoa, semoga suatu saat kamu bertemu dengan lelaki yang lebih baik dari saya. Sudah, cukup ya. Jangan mempermalukan diri kamu sendiri lebih jauh lagi. Assalamu'alaikum." ucap Bang Rengga lalu mengakhiri percakapan mereka.
Bang Rengga menatap lekat padaku, dia raih kepalaku lalu dia rebahkan di bahunya. Sekilas dia mencium pucuk kepalaku yang tertutup pashmina.
"Maafin Abang ya, sudah buat kamu khawatir seharian ini." ucapnya.
"Jangan pernah kecewain aku ya, Bang." pintaku sambil memeluk pinggang lelaki itu.
"Iya, sayang. Insya Allah, Abang akan selalu menjaga kepercayaan yang sudah kamu berikan sama Abang.
Aku hanya mengangguk. Dalam hati aku berdoa, semoga semua berjalan lancar. Dan Bang Rengga memang jodoh yang sudah disiapkan untukku. Lelah rasanya jika harus mengalami kecewa dan sakit untuk kesekian kalinya. Apalagi tinggal selangkah lagi kami akan menikah. Aku hanya bisa selalu berdoa, meminta di sepertiga malam agar selalu di berikan kelancaran dan yang terbaik di antara yang paling baik untuk kita berdua.
"Yang, kamu demam? Badan kamu kok panas?" tanya Bang Rengga. "Kamu istirahat di dalam aja, ya. Ayo, Abang anterin. Minum obat dulu ya," ucapnya sambil meraih waistbag yang dia letakkan di samping nya.
Lelaki itu mengambil obat demam yang ada di tas nya. Lalu meraih air mineral yang ada di depannya, kemudian menyerahkan obat dan air mineral yang sudah di buka segelnya padaku.
Kulepaskan pelukanku, aku segera meminum obat yang disiapkan Bang Rengga. Memang dari tadi sore badanku sudah berasa tidak enak.
"Ya udah, yuk Abang antar ke kamar kamu. Habis itu Abang langsung pulang ya." ucap lelaki itu.
Aku hanya menganggukkan kepalaku saja. Kemudian berdiri. Baru juga beberapa langkah, pandangan ku berasal gelap dan berputar, kemudian aku merasa tidak dapat lagi menopang berat badanku. Aku merasa ada yang menangkap tubuhku sesaat sebelum terjatuh.
"Yang," panggil Bang Rengga sambil menepuk pipiku.
"Rani, kenapa Bang?" tanya Bapak.
"Barusan agak demam, Pak. Mau saya antar ke dalam. Baru beberapa langkah sudah mau jatuh."
"Kecapekan kayaknya, Bang. Minta tolong di angkat ke kamarnya ya. Pulang malam terus dia dari kemarin." ucap Bapak.
"Njeh, Pak." jawab Bang Rengga. "Yang, maaf ya. Aku gendong aja, apa masih mau jalan? Biar Abang bantu."
"Pusing banget, Bang." ucapku lirih.
"Iya, panas kamu tinggi kayaknya, Yang. Udah, Abang gendong aja ya. Maaf, ya." ucap lelaki itu lagi.
Aku hanya mengangguk. Tidak lama, lelaki itu sudah sampai di kamar. Pintu kamar yang dibukakan oleh Ibu, membuat Bang Rengga tidak kesulitan membawa ku masuk. Lelaki itu menidurkan ku pelan-pelan di atas kasur.
"Istirahat ya, Yang. Abang jagain di sini. Abang nggak tenang kalau pulang. Kamu pasti kepikiran foto itu ya. Udah capek fisik, masih ditambah foto itu. Maafin Abang ya." ucap lelaki itu sambil menggenggam jemari tanganku.
Sedangkan Bang Rengga sudah duduk lesehan di samping kasur beralaskan karpet tebal berbulu karena aku memang tidak suka memakai ranjang yang tinggi.
Ibu datang sambil membawa kompresan kepala yang selalu aku sediakan di dalam lemari pendingin.
"Ibu, maaf. Boleh saya ijin nginap di sini jagain Rani? Saya nggak tenang, Bu. Kalau pulang."
Ibu menghela nafas, kemudian melihat ke arah Bapak.
"Boleh, tapi pintunya jangan di tutup ya, Bang. Bapak nitip Rani. Tolong jaga kepercayaan Bapak."
"Njeh, Pak." jawab Bang Rengga. Kemudian Bapak dan Ibu keluar dari kamarku.
"Istirahat ya, Yang. Abang jagain kamu. Abang nggak pulang."
Aku hanya mengangguk, aku merasakan genggaman tangan Bang Rengga semakin erat. Hingga akhirnya kami terlelap dan terbuai mimpi.
*****
Saat tarhim mulai berkumandang dari musholla yang ada tidak jauh dari rumah, aku mulai terbangun. Kulihat Bang Rengga tidur sambil duduk bersandar pada boneka Teddy bear besar pemberiannya tempo hari.
Terlihat gurat lelah di wajah tampannya yang terlelap. Tangannya menggenggam jemariku mesti tidak se erat semalam.
Pelan-pelan ku goyangkan jemarinya yang menggenggam jemariku, sambil kupanggil namanya.
"Bang, Abang bangun. Udah mau subuh."
Lelaki itu mengerjapkan matanya. Sesaat setelah matanya terbuka, dia memegang keningku. "Udah nggak sepanas semalam. Kamu ijin aja dulu ya. Nggak udah kerja dulu."
"Nggak bisa lah, Bang. Kalau aku ijin, kacau kantor nanti. Pak Wandi lagi chek up baru balik jumat nanti." jawabku sambil bersandar di dinding.
"Aku kirain Abang pulang semalam. Pasti capek dari luar kota langsung kesini, habis itu istirahat nya nggak nyaman pula."
"Apaan sih, Yang. Pulang pun Abang pasti kepikiran sama kamu. Jangan terlalu di forsir ya. Kalau capek istirahat, sayang sama badan. Kamu yang tahu batas mana tubuh kamu kuat dibawa aktivitas. Oke!"
Aku mengangguk, apa yang Bang Rengga katakan memang benar. "Abang atau aku dulu yang mandi?" tanyaku.
"Mandi barengan aja gimana?" tanyanya sambil memainkan alisnya naik turun.
"Emang ya, di kasih hati minta jantung. Sabar ya, Sayang. Nanti lah kalau udah halal." jawabku.
"Abang pegang omongan kamu, Yang. Bakal Abang tagih nanti. Awas aja sampai ingkar." ucap Bang Rengga.
"Udah sana, buruan. Gantian bersih-bersihnya."
Cup
"Buat DP," ucap lelaki itu setelah mengecup keningku.
"Abaaaaang.... " ucapku tertahan sambil melotot.
"Nggak usah melotot, bikin Abang jadi pengen..."
"Buruan bersih-bersih, Bang!"
"Iya... Iya... sayangku." jawabnya sambil bangun dan berlalu ke kamar mandi.
Akupun ikut bangun lalu gegas ke dapur. Sekedar memasak air untuk membuat kopi buat Bang Rengga. Sambil membuat nasi goreng untuk sarapan, jadi setelah Bang Rengga selesai bersih-bersih, sholat. Sarapan sudah siap.