Keiko Hartono punya rahasia.
Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.
Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.
Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.
Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.
Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.
Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.
"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."
Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15 - Interlude: Diary Keiko
Malam setelah Yuan Yuan mendapatkan nama, Keiko membuka laci paling bawah meja belajarnya.
Di sana ada sebuah buku diary bersampul ungu muda. Sudutnya sudah sedikit kusut karena sering dibuka, tetapi kuncinya masih terpasang rapi. Bu Tuti tahu buku itu ada. Kak Sari juga tahu. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang pernah membukanya tanpa izin.
Keiko meletakkan buku itu di atas meja.
Untuk beberapa saat, dia hanya menatap sampulnya.
Di luar kamar, rumah sudah sunyi. Papa dan Mama tidak ada. Bu Tuti tertidur di kamar belakang setelah memastikan obat malamnya diminum. Ponsel Keiko masih menyala di samping lampu meja, menampilkan pesan terakhir dari Kelvin.
**Kelvin**: Yuan Yuan tidur.
Keiko membalas dengan satu stiker kucing kecil, lalu membuka diary.
Halaman-halaman awal masih terasa seperti milik orang lain.
Orang yang belum bertemu Kelvin.
Orang yang belum tahu bahwa satu batang kembang api kecil bisa membuat gelap tidak terlalu menakutkan.
Orang yang baru saja diberi hitungan mundur.
*8 April 2022*
*Hari ini dokter menyebut kata itu dengan sangat pelan, seolah kalau diucapkan pelan, sakitnya juga akan pelan.*
*Kanker lambung. Stadium akhir.*
*Aku melihat bibir dokter bergerak, tapi beberapa kalimat setelah itu seperti tenggelam. Mama memegang tasnya terlalu kuat. Papa bertanya soal rumah sakit lain, dokter lain, kemungkinan lain. Tidak ada yang bertanya apakah aku takut.*
*Dokter bilang paling lama tiga tahun.*
*Paling lama.*
*Ternyata umur juga bisa diberi batas seperti garansi barang.*
*Malamnya, mereka pulang ke rumah. Aku pikir mereka akan masuk ke kamarku. Aku sudah menyiapkan wajah yang baik-baik saja, supaya Mama tidak menangis dan Papa tidak marah.*
*Tapi mereka berhenti di depan pintu.*
*"Dari keluargamu ada riwayat, Lilian?"*
*"Kenapa jadi keluargaku? Kamu pikir keluarga Hartono semuanya sehat?"*
*"Aku hanya bertanya."*
*"Kamu selalu begitu. Seolah ini salahku."*
*Aku duduk di balik pintu dengan selimut sampai dagu. Aku ingin membuka pintu dan bilang, aku masih di sini. Yang sakit aku. Yang akan mati mungkin aku. Kenapa kalian bertengkar tentang siapa yang salah?*
*Tapi aku tidak membuka pintu.*
*Bu Tuti yang masuk setelah mereka pergi. Dia membawa bubur sangat halus dan air hangat. Tangannya gemetar saat menyentuh dahiku, tetapi dia tersenyum.*
*"Makan dulu, Nduk. Keiko bangun nggak boleh nggak ada makan."*
*Aku cuma makan tiga suap.*
*Bu Tuti bilang tidak apa-apa. Tiga suap juga makanan. Tiga suap juga usaha.*
*Aku menangis setelah dia keluar.*
*Tidak bersuara. Kalau bersuara, Bu Tuti pasti kembali.*
Keiko berhenti membaca.
Tangannya bergerak ke halaman berikutnya. Di sana, tinta lama sedikit luntur di beberapa bagian, bekas air mata yang dulu tidak sempat dia keringkan.
*19 April 2022*
*Kak Sari datang hari ini.*
*Dia membawa kopi untuk dirinya sendiri, susu hangat untukku, dan tiga majalah fotografi karena katanya kamar rumah sakit terlalu jelek untuk dilihat terus.*
*"Kei-kei, lu boleh nangis," katanya.*
*Aku bilang, kalau aku menangis, Bu Tuti sedih.*
*Kak Sari menjawab, "Kalau lu nggak nangis, gue yang marah."*
*Akhirnya aku menangis sedikit.*
*Tidak banyak. Cuma sampai bahu bajunya basah.*
*Kak Sari tidak menyuruhku berhenti.*
*Dia hanya memelukku dan bilang, "Kita marah bareng, ya. Jangan sendirian."*
Keiko menutup mata sebentar.
Dia masih ingat hari itu. Aroma kopi hitam. Jaket Sari yang terlalu mahal untuk dipakai duduk di lantai rumah sakit. Suara Kak Sari yang dibuat galak padahal matanya merah.
Halaman berikutnya lebih sulit dibaca.
Keiko tahu isinya bahkan sebelum melihat tanggal.
*3 Mei 2022*
*Hari ini semuanya sakit.*
*Perutku sakit. Punggungku sakit. Mulutku pahit. Kepala rasanya penuh kapas basah. Aku muntah sampai tidak ada yang keluar lagi, tapi tubuhku tetap memaksa.*
*Bu Tuti menangis di dapur. Dia pikir aku tidak dengar.*
*Mama mengirim pesan: "Mama ada acara yayasan. Minum obat tepat waktu."*
*Papa transfer uang dan menulis: "Kalau butuh apa-apa, bilang."*
*Aku butuh mereka bertanya apakah aku ingin dipeluk.*
*Aku butuh satu hari tanpa hasil lab.*
*Aku butuh tubuhku berhenti menjadi musuhku sendiri.*
*Tapi kebutuhan seperti itu tidak bisa dibeli dengan transfer.*
*Sore tadi gelas di meja jatuh dan pecah. Aku memungut pecahannya satu per satu. Ada satu pecahan kecil yang sangat bening. Kalau kena cahaya, ia terlihat seperti es.*
*Aku memegangnya terlalu lama.*
*Untuk beberapa detik, aku berpikir, kalau semuanya berhenti sekarang, mungkin tidak sakit lagi.*
Keiko menarik napas.
Jari-jarinya berhenti di tepi halaman.
Bagian itu masih membuat dadanya dingin.
*Lalu Bu Tuti masuk.*
*Dia melihat tanganku. Dia melihat pecahan kaca itu. Tapi dia tidak berteriak. Dia tidak merebutnya. Dia hanya berdiri di pintu sambil membawa mangkuk bubur.*
*"Nduk," katanya, "Bu Tuti bikin bubur terlalu banyak. Kalau kamu nggak makan, nanti Bu Tuti harus makan semuanya sendiri. Bisa bosan."*
*Aku bilang aku tidak lapar.*
*Bu Tuti mengangguk. Dia duduk di lantai, jauh dariku, lalu mulai bercerita tentang tetangga lama yang pernah salah memasukkan garam ke teh. Ceritanya tidak lucu, tapi dia terus bicara. Lima menit. Sepuluh menit. Mungkin satu jam.*
*Tanganku akhirnya lelah.*
*Pecahan kaca itu jatuh ke lantai.*
*Bu Tuti masih tidak mendekat cepat-cepat. Dia hanya berkata, "Yo wis. Sekarang buburnya jangan kalah sama kaca."*
*Aku tertawa sedikit.*
*Lalu menangis banyak.*
*Malamnya Kak Sari menelepon. Entah Bu Tuti bilang apa padanya. Kak Sari tidak bertanya tentang kaca. Dia cuma bilang, "Kei-kei, kalau dunia terlalu brengsek hari ini, tunggu sampai besok. Besok kita maki-maki lagi."*
*Aku tahu mereka takut.*
*Aku juga takut.*
*Tapi Bu Tuti masih memasak. Kak Sari masih menelepon. Mereka masih menungguku bangun besok pagi.*
*Aku tidak bisa membuat mereka sedih seperti itu.*
Keiko menutup diary pelan.
Di layar ponsel, Kelvin mengirim foto Yuan Yuan yang tidur di lipatan jaket hitam. Kucing kecil itu tampak seperti gumpalan malam yang akhirnya menemukan tempat hangat.
Keiko menyentuh layar dengan ujung jari.
Dulu, dia bertahan karena Bu Tuti dan Kak Sari.
Sekarang, tanpa dia sadari, daftar itu mulai bertambah.
Di halaman kosong berikutnya, Keiko mengambil pulpen ungu muda dan menulis satu kalimat baru.
*Aku bertemu seseorang yang menyalakan cahaya kecil di kelas yang gelap.*