NovelToon NovelToon
Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Lari Saat Hamil / One Night Stand / Anak Genius / Cinta Lansia / Mandul
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25

Ulang tahun Sabrina diadakan di sebuah lounge privat di lantai atas hotel yang sama.

Maya sempat bertanya kenapa Sabrina begitu sering memilih Hotel Mahardika, dan Raka menjawab singkat, "Karena dia ingin mengingatkanmu."

Jawaban itu membuat Maya berhenti bertanya.

Ia datang dengan dress longgar warna sampanye, dipadukan jilbab lembut. Raka memilihkan sepatu datar, bukan hak. Katanya lantai lounge licin dan Maya tidak boleh mengambil risiko. Maya tidak berdebat karena ia sendiri tidak ingin berakhir jatuh di depan Sabrina.

Begitu mereka masuk, musik pelan dan aroma parfum mahal menyambut.

Acara itu lebih pribadi daripada lelang amal, tapi tamunya tetap orang-orang yang punya nama. Anak pengusaha, sosialita, beberapa direktur muda, juga Dimas.

Maya berhenti ketika melihat anaknya berdiri di dekat bar.

Dimas memakai jas yang pernah dibelinya dengan uang pinjaman dari Maya bertahun-tahun lalu. Wajahnya tampak tegang. Saat mata mereka bertemu, ia menunduk sedikit, lalu cepat memalingkan wajah.

Raka melihat.

"Kamu tahu dia datang?"

"Tidak."

"Kita pulang?"

Maya menarik napas. "Tidak."

"Maya."

"Saya ingin tahu kenapa dia ada di sini."

Raka menatap Dimas dengan mata dingin. "Aku juga."

Sabrina datang membawa senyum cerah.

"Raka. Bu Maya. Terima kasih sudah datang."

Ia mencium pipi beberapa tamu lain sebelumnya, tapi kepada Maya ia hanya mengulurkan tangan. Maya menerimanya.

"Selamat ulang tahun."

"Terima kasih. Aku senang Ibu tidak kapok datang ke acara kami."

"Saya juga belajar tidak mudah kapok."

Sabrina tersenyum tipis.

Matanya berpindah ke Raka. "Aku menyiapkan meja khusus. Dimas juga di sini. Aku pikir bagus kalau keluarga bisa berdamai."

Maya menatapnya.

Jadi itu permainannya.

Raka berkata dingin, "Keluarga kami bukan panggung ulang tahunmu."

Sabrina tertawa ringan. "Jangan tegang. Aku hanya ingin membantu. Dimas tampak sangat menyesal."

Dimas mendekat setelah mendengar namanya.

"Bu."

Maya menatapnya. "Kenapa kamu di sini?"

Dimas melirik Sabrina. "Mbak Sabrina mengundangku. Dia bilang mungkin aku bisa bicara baik-baik dengan Ibu."

Raka menatap Sabrina. "Kamu mulai memakai anaknya sekarang?"

Sabrina mengangkat kedua tangan. "Aku hanya mempertemukan keluarga. Kenapa semua niat baikku selalu dicurigai?"

"Karena kamu tidak punya niat baik."

Beberapa tamu melirik.

Sabrina menahan malu dengan senyum.

Maya menyentuh lengan Raka. "Biarkan saya bicara."

Raka menatapnya, lalu diam.

Maya menoleh ke Dimas.

"Bicara."

Dimas tampak tidak siap karena diberi kesempatan langsung.

"Aku... aku tahu aku salah."

Maya menunggu.

"Aku tertekan. Keluarga Vina menuntut banyak. Aku merasa kalau proyek itu gagal, hidupku selesai."

"Lalu kamu memilih mengorbankan Ibu."

Dimas menunduk.

"Aku tidak berpikir sejauh itu."

"Itulah masalahnya."

Sabrina menyela lembut, "Bu Maya, kadang anak membuat kesalahan karena panik. Sebagai ibu, mungkin—"

"Sabrina," potong Maya, "kalau kamu ingin menjadi penengah, jangan mengajari saya menjadi ibu."

Sabrina membeku.

Beberapa tamu yang mendengar langsung diam.

Dimas mengangkat wajah. "Bu, aku tidak minta Ibu langsung memaafkan. Aku hanya minta jangan putus hubungan."

Maya menatap anaknya lama.

Ia melihat anak kecil yang dulu demam dan memanggilnya. Ia juga melihat laki-laki dewasa yang menyeretnya ke Pak Burhan. Dua wajah itu bertumpuk, membuat hatinya sakit.

"Hubungan ibu dan anak tidak putus hanya karena Ibu berhenti memberi uang," katanya pelan.

Dimas memerah.

"Tapi kalau kamu ingin hubungan itu tersisa, berhenti datang dengan kepentingan orang lain. Hari ini kamu datang karena Sabrina mengundang. Besok siapa lagi yang akan kamu bawa?"

Dimas tidak menjawab.

Sabrina mengambil gelas dari pelayan yang lewat.

"Baiklah. Kita jangan membuat suasana sedih. Bu Maya, jus jeruk? Tanpa alkohol, tentu. Aku tahu kondisi Ibu."

Maya melihat gelas itu.

Raka langsung berkata, "Tidak."

Sabrina tersenyum. "Raka, ini hanya jus. Aku memesannya khusus."

"Justru karena kamu yang pesan."

Sabrina tersinggung. "Kamu mempermalukanku di depan tamuku."

Maya melihat sekitar. Orang-orang mulai memperhatikan. Jika ia menolak terlalu keras, Sabrina akan memakai itu sebagai bukti bahwa Maya tidak tahu sopan santun.

Ia mengambil gelas dari tangan Sabrina.

Raka menegang.

Maya berkata, "Saya hanya akan minum setelah pelayan mengambil gelas baru dari bar terbuka. Bukan yang sudah di tangan siapa pun."

Senyum Sabrina hilang.

Raka menatap Maya.

Ada kilatan puas di matanya.

Maya menyerahkan gelas itu kembali kepada pelayan.

"Tolong ganti."

Pelayan tampak gugup, lalu pergi.

Sabrina tertawa pelan. "Bu Maya semakin hati-hati."

"Saya belajar dari pengalaman di hotel."

Kalimat itu membuat suasana membeku sesaat.

Sabrina tidak punya jawaban.

Namun rencana malam itu tidak berhenti di sana.

Setelah acara tiup lilin, Maya mulai merasa lelah. Ia meminta izin ke toilet. Raka hendak menemani sampai lorong, tapi Sabrina memanggilnya dengan beberapa investor yang baru datang.

"Aku hanya ke toilet," kata Maya.

Raka menatap Wati yang ikut sebagai pendamping.

"Jangan tinggalkan dia."

Wati mengangguk cepat.

Di toilet, Maya membasuh tangan. Wati berdiri di luar bilik. Semuanya tampak aman sampai seorang perempuan muda berseragam hotel masuk tergesa.

"Bu Maya?"

Maya menoleh.

"Iya?"

"Maaf, Bu. Pak Raka meminta Ibu ke ruang istirahat VIP sebentar. Katanya dokter menelepon dan sinyal di lounge kurang bagus."

Wati langsung curiga. "Pak Raka tidak menghubungi saya."

Perempuan itu tampak gugup. "Saya hanya disuruh asisten acara, Bu."

Maya menatapnya.

Tubuhnya tiba-tiba mengingat malam di suite. Staf hotel. Perintah mendadak. Ruang VIP.

"Siapa nama asisten acara itu?"

Perempuan itu ragu sepersekian detik.

Cukup.

Maya mundur.

"Mbak Wati, telepon Bima."

Perempuan itu panik dan berbalik hendak keluar, tapi Wati lebih cepat menahan pintu. Namun dari luar, dua pria berpakaian staf masuk mendorong pintu kuat. Wati terjatuh ke samping.

"Bu Maya, lari!" teriak Wati.

Maya berusaha mundur, tapi salah satu pria sudah memegang lengannya.

Ia ingin berteriak. Tangan lain menutup mulutnya dengan saputangan berbau tajam.

Pandangannya berputar.

Jantungnya memukul keras.

Tidak.

Tidak lagi.

Sebelum kesadarannya benar-benar kabur, ia mendengar suara Raka dari lorong.

"Maya!"

Pegangan di tubuhnya terlepas.

Saputangan jatuh ke lantai.

Raka menerobos masuk dengan wajah yang belum pernah Maya lihat sebelumnya.

Murni murka.

Pria yang memegang Maya belum sempat lari. Raka menghantamnya ke dinding dengan satu gerakan. Suara benturan keras membuat perempuan staf palsu menjerit.

Bima dan petugas keamanan masuk beberapa detik kemudian.

Maya merosot ke lantai.

Raka langsung menangkapnya.

"Maya. Lihat aku."

Maya berusaha membuka mata. "Jangan... kamar VIP..."

"Tidak. Kamu aman."

Napasnya kacau. Tubuhnya gemetar hebat.

Raka menggendongnya keluar dari toilet di depan semua tamu yang sudah berkumpul karena keributan.

Sabrina berdiri di tengah kerumunan, wajahnya pucat.

Raka berhenti di depannya.

Matanya seperti es.

"Kalau ini ada hubungannya denganmu," katanya pelan, "ulang tahunmu akan berakhir di kantor polisi."

Sabrina membuka mulut, tapi tidak ada suara.

Maya mencengkeram kemeja Raka.

"Mas Raka..."

Ia menunduk.

"Aku di sini."

Maya menutup mata.

Kali ini, sebelum gelap mengambil kesadarannya, ia tahu ia tidak jatuh sendirian.

1
naira
lanjutkan thor
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍
naira
cerita nya bagus,tapi kenapa bisa sepi pembaca yaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!