Arumi mengalami hal buruk dalam hidupnya, ia disiksa keji oleh saudara tirinya. keluarga bahkan anak yang masih dalam kandungannya pun dibunuhnya. Siksaan terus saja didapatinya sampai ia meninggal.
Sebelum napasnya benar-benar menghilang, Arumi berdoa kepada yang maha kuasa, ia ingin menuntut balas kepada Elisa adik tirinya sampai ke keturunannya.
Keajaiban datang, cahaya putih membawa Arumi ke dalam kehidupan yang baru. mampukah Arumi membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budy alifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31
Rutinitas Arumi masih sama yaitu pergi
ke sekolah, dia sudah mulai bosan dengan tubuhnya yang gendut. Dia sudah tidak sabar untuk membuat semsua teman-temannya tercengang dengan perubahan dirinya.
“Ah, tapi aku belum bertemu dengan orang yang mencintai gue dengan tulus. Apakah Agam tidak ada di duniaku yang sekarang.” Gumamnya sembari memasukan kotak pil pemberian dari dokternya.
Arumi masiih saja menunggu sesosok Agam yang dulu mencintainya, dia menginginkan Agam ada di kehidupannya yang kedua
ini. Dan berharap Agam akan selalu menjadi Agam yang dulu. Baik, bijaksana dan sangat menyayanginya.
“Hey..hey.. pagi-pagi sudah melamun
saja. Ada apa? Apakah terjadi sesuatu semalam?” tanya Cantika dengan tangan kanan merangkul pundak Arumi.
“Tidak ada yang terjadi, ya biasa hanya
mendengar ocehan dari Fadli saja.”
“Arumi, apa lo benar-benar mencintai Fadli? Kalau gue lihat kamu sama sekali tidak ada perasaan apapun sama dia.” Cantika merasa kalau Arumi biasa saja terhadap Fadli.
“Pagi Arumi.” Maura berdiri di tengah-tengah antara Arumi dan Cantika. Dia mendorong Cantika sedikit jauh.
“Apaan sih lo Maura, nabrak-nabrak
nggak lihat apa ada orang.” Omel Cantika sembari berjalan mendekat lagi. Namun Maura bertahan agar dia bisa dekat dengan Arumi.
“Lo kenapa?” tanya Arumi dengan
menarik tangan Maura hingga berpindah di sebelah kirinya hingga Arumi berada ditengah-tengah.
“Arumi, gue mau minta maaf sama lo. Karena dulu sudah berlaku jahat sama lo.” Kata Maura.
Dia memegang tangan Arumi, berharap dia bisa mendapatkan maaf dan bisa berteman dengan Arumi.
Arumi melepaskan tangannya cepat, dia tahu tujuan Maura meminta maaf sehingga tidak memperdulikannya.
“Sebagai permintamaafan gue sama lo, bagaimana kalau gue traktir makan di kantin.” Maura berusaha keras untuk bersikap baik kepada Arumi.
“Terima kasih Maura, tapi gue sama
Cantika sudah sarapa pagi ini. gue sama Cantika pergi dulu.” Arumi menarik tangan Cantika dan bergegas meninggalkan Maura
“Ash, sial!” umpat Maura karena gagal
mendapaktan simpati dari Arumi. Dia tidak seberuntung Cantika yang mendekati Arumi langsung bisa berteman baik.
Dan yang lebih tepatnya foto yang tidak senonoh itu pasti sudah di hapus dari ponsel Arumi.
“Arumi, gimana kalau nanti kita nongkrong dulu?” ajak Rudi.
“Iya, kita belum pernah loh jalan bareng
selama kita berteman.” Kata Cantika.
“Boleh, tapi gimana kalau nanti malam.
Gue ada les hari ini.”
“Ok, nggak masalah nanti malam gue
jemput kalian. Jam tujuh tepat kalian harus sudah siapa.” Kata Rudi.
“Ok..ok.”
...----------------...
“Arumi.”
Arumi menoleh, dia mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil. Arumi heran kenapa Dona menghampiri Arumi di sekolahan padahal mereka masih satu rumah.
“Bisa kita ngobrol sebentar?”
“Kita bukanya bisa ngobrol di rumah
kenapa ibu kesini?” tanya Arumi.
“Karena ibu hanya ingin ngobrol berdua
saja sama kamu.” Dona memegang tangan Arumi.
“Arumi, ibu selama ini salah sama kamu karena hanya memanjakan Elisa. Tapi kamu harus tahu ibu juga sayang sama kamu. Ibu tidak pernah menganggap kamu itu anak tiri ibu. Ibu merawat kamu selayaknya anak kandung Ibu sendiri. Ibu tidak pernah menginginkan timbal balik apapun
dari kasih sayang ibu.”
Arumi terdiam, pengakuan dari Dona kali ini mungkin terasa tulus dari hati paling dalam hanya saja terasa sangat hina.
“Arumi, Ibu tidak mau cerai dengan ayah kamu. Ibu menyayangi keluarga kita ini. Bisakah kamu bujuk ayah kamu. Ibu tahu, hanya kamu yang bisa membujuk ayah.” Dona memohon kepada Arumi.
“Maaf Buk, Arumi tidak bisa. Semua itu
keputusan ayah. Arumi tidak bisa berbuat apa-apa. Arumi pulang dulu.” Arumi melepaskan tangan Dona dan langsung masuk ke dalam mobi.
Dia menyandarkan tubuhnya, ia sedih
karena akan kehilangan kasih sayang kedua kalinya dari seorang ibu. Dia tahu meskipun ibu tirinya dulu sering membentak dan membedakan dirinya.
Namun tak bisa dipungkiri ada sedikit cinta dari hatinya. Namun luka tetaplah luka yang susah sembuh dengan begitu saja.
“Non Arumi, pasti sangat sedih kan?”
Tanya Karno supir pribadnya.
“Tidak.” Arumi menghapus air
matanya yang mulai membasai pipi.
“Dulu orang tua bapak juga bercerai, di
karenakan faktor ekonomi yang lemah. Ibu lebih memilih pria kaya dan meninggalkan kami.”
“Lalu?”
“Ayah saya awalnya mempertahankan
hubungan ini, namun semakin lama semakin menyiksa kami dan akhirnya ayah saya melepaskannya. Non, perceraian itu tidak bagus. Tapi mempertahankan hubungan yang sudah tidak sehat juga tidak baik untuk kedepannya. Maaf Non kalau bapak
lancang menasehati Non Arumi. Tapi bapak tidak bisa melihat Non Arumi sedih terus.” Pak Karno menasehati Arumi.
“Tidak apa-apa Pak, sebenarnya Arumi
hanya kangen sama ibu kandung Arumi. Selama ini memang Ibu Dona menyayangi Arumi seperti yang bapak lihat, tapi ayah yang berperan penuh menjadi ibu untuk Arumi bukan Ibu Dona.” Jelas Arumi.
“Benar Non. Nyonya memang memiliki peran dalam hidup Non Arumi, tapi dia juga memiliki tujuan lain.” Kata Pak Karno.
Dia juga tahu bagaimana sifat majikannya itu. “Apa Non mau ke makam Nyonya?” tanya Pak Karno.
“Iya Pak, aku mau kesana.”
Arumi sangat merindukan ibu kandungnya, yang hanya dia bisa lihat fotonya saja. Dia selalu berharap bisa bertemu walaupun sekali namun di kehidupan barunya pun dia juga tidak bisa bertemu.
“Pak, bolehkan Bapak bercerita bagaimana ibu Arumi?” Pinta Arumi.
“Boleh Non, bapak akan ceritakan secara detail agar rindu Non Arumi sedikit berkurang.” Pak Karno menoleh sebentar kearah Arumi lalu kembali fokus mengemudi.
“Nyonya itu persis seperti Non Arumi.
Baik,cantik dan juga sangat penyayang. Cita-citanya sangat mulia, ingin mendirikan rumah sakit gratis untuk orang-orang yang tidak mampu. Hanya saja sebelum itu terwujud nyonya sudah meninggal karena sakit.” Cerita Pak Karno dengan nada sedih.
Dia juga sangat kehilangan majikan yang sangat baik, karena semenjak Danu menikahi Dona dia sering kena omel dan banyak hal yang berubah.
“Sangat berbeda dengan Nyonya Dona.” Katanya lagi. Arumi hanya mengangguk-angguk, dia paham apa yang di rasakan Pak Karno.
“Makasih Pak. Arumi turun dulu ya.” Ujar Arumi sembari membuka pintu mobilnya setelah Pak Karno memparkirkan mobilnya.
“Iya Non.”
..lanjut lgi ya thor