Tiga tahun jadi sampah!
Itulah yang dialami Arya Langit setelah meridiannya hancur. Dari jenius nomor satu Perguruan Langit Biru, dia jatuh jadi pecundang yang bahkan tidak bisa mengangkat pedang.
Di hari pertunangannya, tunangannya sendiri Kezia Adinegara membatalkan pernikahan di depan seluruh tetua demi pria lain dan memberinya 100 Batu Roh sebagai uang hinaan.
Tepat saat tamparan itu mendarat di wajahnya, Sistem Takdir Harem Kaisar Abadi bangkit!
Mata Takdir aktif. Arya bisa melihat masa depan tragis setiap wanita dengan Takdir Kaisar.
Sekar Embun, Bidadari Pedang nomor satu yang dingin seperti es, akan lumpuh total dalam 7 hari dan mati kedinginan di lembah terpencil.
Luna Maheswari, Ratu Iblis yang mempesona, akan menjadi kuali kultivasi dan meledak mati.
Kirana Lestari, Putri Kerajaan yang manja, akan diracun pada malam pernikahannya.
Satu-satunya cara menyelamatkan mereka adalah menjadikan mereka istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Ritual Penyatuan Tiga Jiwa
Jalan cahaya bintang tidak membawa mereka kembali ke tepi Kolam Teratai Suci tempat sepuluh murid teratas sedang berkultivasi.
Jalan itu membawa mereka naik, menembus lapisan kristal putih yang menjadi lantai ruangan makam, dan muncul tepat di tengah-tengah Kolam Teratai Suci itu sendiri.
Begitu cahaya itu memudar, Arya, Sekar, dan Luna mendapati diri mereka berdiri di atas permukaan air.
Tidak, bukan berdiri di atas air. Berdiri di atas sebuah altar.
Altar itu melayang tepat satu jengkal di atas permukaan air Kolam Teratai Suci. Bentuknya bundar, diameter sepuluh meter, terbuat dari tiga jenis batu yang berbeda yang saling melilit seperti naga. Satu sisi terbuat dari es abadi biru bening yang memancarkan hawa dingin yang menenangkan jiwa, satu sisi terbuat dari giok teratai putih keemasan yang memancarkan kehangatan suci yang memurnikan, dan satu sisi terbuat dari kristal naga emas yang memancarkan wibawa agung yang melindungi.
Di tengah altar, ada tiga lingkaran kecil yang saling terhubung membentuk segitiga, setiap lingkaran memancarkan cahaya yang sesuai dengan batu di sisinya. Dan di tengah segitiga itu, ada sebuah cekungan berbentuk teratai yang masih kosong.
Begitu mereka bertiga muncul di atas altar itu, seluruh Kolam Teratai Suci yang luasnya seratus meter persegi itu bereaksi.
Ribuan bunga teratai putih dan emas yang tadinya mekar dengan tenang di permukaan kolam, tiba-tiba semuanya menutup kelopaknya dan kemudian mekar kembali secara bersamaan, menghadap ke arah altar di tengah. Cahaya putih keemasan dari ribuan bunga itu naik ke langit dan membentuk sebuah kubah cahaya raksasa yang menyelimuti seluruh kolam, mengisolasi altar di tengah dari dunia luar.
Dari tepi kolam, delapan murid teratas yang sedang berkultivasi, Pemimpin Perguruan, dan Ratu Teratai Suci yang baru saja keluar dari jalan bintang itu hanya bisa melihat kubah cahaya itu dari luar, tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam altar.
Di dalam kubah cahaya, hanya ada mereka bertiga dan keheningan yang suci.
Arya berdiri di lingkaran emas, Sekar di lingkaran biru es, Luna di lingkaran putih keemasan. Mereka bertiga saling berhadapan membentuk segitiga, jarak di antara mereka hanya dua langkah.
Cahaya dari altar di bawah kaki mereka perlahan naik dan menyelimuti tubuh mereka, membuat jubah dan gaun mereka berkibar pelan meskipun tidak ada angin.
Sistem di kepala Arya berbunyi dengan nada yang sangat khidmat, tidak ada lagi nada jahil atau bangga, hanya ada nada serius.
[DING! Altar Tiga Jiwa aktif!]
[Ritual Penyatuan Tiga Jiwa akan dimulai. Peringatan: Ritual ini bukan ritual kultivasi biasa. Ritual ini akan membuka Segel Ingatan Terdalam dari setiap peserta. Semua luka, semua ketakutan, semua rahasia yang bahkan tidak berani diakui kepada diri sendiri akan terlihat oleh dua orang lainnya. Jika ada satu hati yang menolak atau menutup diri, ritual akan gagal dan ketiga jiwa akan terluka parah.]
[Kultivasi Ganda Sejati bukanlah tentang tubuh, tapi tentang keberanian untuk menjadi telanjang di depan jiwa lain.]
Arya membaca peringatan itu dan menatap kedua istrinya.
Sekar Embun yang biasanya dingin seperti gunung es itu kini terlihat sangat gugup. Tangan halusnya yang biasa memegang pedang dengan mantap tanpa gemetar sedikit pun, kini mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Sebagai istri pertama, dia selalu merasa harus menjadi yang paling kuat, yang paling bisa diandalkan, yang tidak boleh menunjukkan kelemahan.
Luna Maheswari bahkan lebih gugup. Wajahnya yang baru saja mendapatkan kepercayaan diri setelah mencapai 100%, kini pucat kembali. Sebagai Putri Suci, dia dididik sejak kecil untuk tidak pernah menunjukkan emosi, untuk selalu menjadi simbol kesucian yang sempurna. Membuka luka terdalamnya di depan orang lain adalah hal yang paling dia takuti.
Arya mengerti ketakutan itu. Karena dia sendiri juga takut.
Dia takut mereka melihat ingatannya sebagai sampah tiga tahun yang lalu, saat dia berlutut di Balai Utama memohon agar pertunangannya dengan Kezia tidak dibatalkan, saat dia dihina dan diludahi di depan semua orang. Dia takut mereka melihat betapa pengecutnya dia dulu.
Tapi dia tahu, jika dia tidak membuka diri duluan, kedua istrinya tidak akan pernah berani.
Arya menarik napas dalam-dalam, lalu melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Dia berlutut di dalam lingkarannya sendiri, duduk bersila, dan menutup matanya.
"Sekar, Luna, tutup mata kalian dan pegang tanganku."
Sekar dan Luna saling pandang, lalu mengikuti Arya. Mereka berdua juga duduk bersila di lingkaran masing-masing dan mengulurkan tangan mereka.
Tiga tangan bertemu di tengah segitiga, di atas cekungan teratai yang kosong. Tangan Arya yang besar dan hangat menggenggam tangan Sekar yang dingin dan halus, dan tangan Luna yang kecil dan sedikit gemetar.
Begitu tiga tangan itu bersentuhan, cahaya dari altar langsung meledak.
BOOM!
Bukan ledakan yang menghancurkan, tapi ledakan cahaya yang lembut yang langsung menyedot kesadaran mereka bertiga ke dalam ruang jiwa yang sama.
Ruang itu gelap gulita pada awalnya. Lalu, satu per satu, kenangan mulai muncul seperti bintang yang menyala di langit malam.
Kenangan pertama yang muncul adalah milik Arya.
Bukan kenangan gagah saat dia menghancurkan Pedang Darah Iblis dengan dua tinju atau saat dia menghancurkan Jantung Leluhur Darah Hitam. Tapi kenangan paling memalukan dalam hidupnya.
Halaman Balai Utama Perguruan Langit Biru, tiga tahun lalu.
Seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun dengan jubah lusuh dan wajah penuh lumpur berlutut di depan seorang gadis cantik bergaun ungu yang menatapnya dengan jijik. Di sekelilingnya, ratusan murid menertawakannya, meludahinya.
"Kezia, kumohon, jangan batalkan pertunangan ini, kumohon, keluargaku... keluargaku sudah tidak punya apa-apa lagi, hanya pertunangan ini yang bisa membuat ibuku bertahan hidup..."
Gadis bergaun ungu itu menampar wajah anak laki-laki itu dengan keras dan berkata, "Sampah sepertimu tidak pantas memanggil namaku! Pergi jadi tukang sapu!"
Anak laki-laki itu tergeletak di lantai dengan pipi berdarah, menatap punggung gadis itu yang pergi tanpa menoleh.
Rasa malu, rasa tidak berdaya, rasa benci pada diri sendiri yang begitu pekat hingga membuat jiwa sesak.
Sekar dan Luna yang melihat kenangan itu dari sudut pandang Arya sendiri — merasakan lututnya yang sakit karena berlutut terlalu lama, merasakan perihnya tamparan itu, merasakan dinginnya ludah orang-orang di wajahnya — tanpa sadar air mata mereka mengalir.
Selama ini mereka melihat Arya sebagai pahlawan yang tak terkalahkan, yang selalu tersenyum percaya diri. Mereka tidak pernah tahu bahwa di balik senyum itu ada luka yang begitu dalam dan begitu lama.
Sekar terisak pelan. "Arya... bodoh... kenapa kamu tidak pernah cerita..."
Luna menggenggam tangan Arya lebih erat, air matanya menetes ke genggaman tangan mereka.
Arya di dalam ruang jiwa itu tidak bisa menjawab, karena giliran kenangan Sekar yang muncul.
Kenangan Sekar adalah sebuah ruangan es yang sangat dingin dan sangat sunyi. Seorang gadis kecil berusia delapan tahun duduk sendirian di tengah ruangan es itu, tubuhnya menggigil, bibirnya membiru, meridiannya terasa seperti ditusuk ribuan jarum es setiap detik.
Di luar ruangan, terdengar suara tawa anak-anak lain yang sedang bermain.
Gadis kecil itu ingin keluar, tapi pintu es itu terkunci dari luar. Suara ibunya terdengar dari luar pintu, dingin dan penuh keputusasaan, "Sekar, maafkan ibu... Tubuh Meridian Embun Beku mu mengamuk lagi... Kamu harus di dalam sini sampai rasa sakitnya hilang... Jangan benci ibu..."
Gadis kecil itu meringkuk sendirian di tengah ruangan es itu selama tiga hari tiga malam, tanpa makanan, tanpa kehangatan, hanya ditemani rasa sakit yang tidak pernah berhenti. Dia memeluk lututnya dan berbisik pada dirinya sendiri dengan suara yang hampir tidak terdengar, "Aku tidak mau menjadi monster... aku tidak mau sendirian..."
Dua puluh dua tahun kesepian. Dua puluh dua tahun menahan rasa sakit sendirian di Puncak Embun yang dingin, dijuluki Bidadari Pedang Embun yang dingin dan tidak berperasaan, padahal sebenarnya dia hanya takut jika dia terlalu dekat dengan orang lain, es di tubuhnya akan melukai mereka.
Arya yang merasakan dinginnya ruangan es itu dari sudut pandang Sekar, merasakan betapa sakitnya meridian yang ditusuk jarum es itu, merasakan betapa sunyinya tiga hari sendirian itu, hatinya terasa seperti diremas dengan keras.
Selama ini dia mengira Sekar dingin karena dia kuat. Ternyata dia dingin karena dia terlalu lama sendirian.
Terakhir, giliran kenangan Luna.
Kenangan Luna adalah sebuah istana putih yang sangat megah dan sangat indah, tapi juga sangat sepi. Seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun dengan gaun putih suci yang indah duduk di atas singgasana kecil yang terlalu besar untuknya. Di depannya, ratusan tetua Istana Teratai Suci berlutut dan berkata dengan suara yang penuh harapan, "Putri Suci, Anda adalah harapan terakhir Istana Teratai Suci, Anda harus suci, Anda harus sempurna, Anda tidak boleh memiliki perasaan pribadi, Anda tidak boleh menangis, tidak boleh marah, tidak boleh mencintai siapa pun selain teratai suci."
Gadis kecil itu mengangguk dengan patuh. Dia menghapus air matanya yang ingin keluar karena rindu pada ibunya yang sedang pergi bertugas. Dia tersenyum dengan senyum sempurna yang sudah dilatih selama berbulan-bulan.
Malamnya, saat semua orang sudah tidur, gadis kecil itu diam-diam turun dari singgasana dan duduk di sudut ruangan, memeluk sebuah boneka kain lusuh yang dibelikan ibunya dulu, dan menangis tanpa suara agar tidak ada yang mendengar. Karena Putri Suci tidak boleh menangis.
Sepuluh tahun, dua puluh tahun, menjadi simbol kesucian yang sempurna, tapi tidak pernah boleh menjadi diri sendiri. Tidak pernah boleh mengatakan "aku takut" atau "aku ingin".
Luna yang melihat kenangannya sendiri diputar kembali, yang selama ini dia kubur dalam-dalam karena dia pikir itu adalah kelemahan yang memalukan, kini menangis dengan keras di dalam ruang jiwa itu, tidak lagi menahan diri.
"Aku... aku hanya ingin menjadi Luna... bukan Putri Suci... aku ingin... aku ingin bisa marah... bisa cemburu... bisa manja..."
Tiga luka terdalam, tiga ketakutan terbesar, tiga jiwa yang selama ini menutup diri dengan topeng kekuatan, kesempurnaan, dan ketidakpedulian, kini terbuka sepenuhnya di depan satu sama lain tanpa ada yang ditutupi.
Tidak ada yang menghakimi. Tidak ada yang menertawakan.
Yang ada hanyalah rasa sakit yang dibagi, dan kehangatan yang mengalir dari genggaman tangan yang masih saling menggenggam erat di tengah segitiga.
Arya adalah yang pertama bergerak di dalam ruang jiwa itu. Dia berjalan mendekati sosok kecil Sekar yang masih meringkuk kedinginan di tengah ruangan es itu dan memeluknya dengan erat, membiarkan es di tubuh Sekar membekukan jubahnya, tapi tidak melepaskannya.
"Kamu tidak sendirian lagi, Sekar. Mulai sekarang, jika dingin, peluk aku. Jika sakit, gigit aku. Jangan tahan sendirian lagi."
Sekar kecil yang dipeluk itu perlahan berhenti menggigil dan menghilang menjadi cahaya biru es yang masuk ke dalam dada Arya.
Luna juga berjalan mendekati sosok kecil Luna yang masih menangis di sudut istana sepi itu dan memeluknya, tapi dia tidak sendirian, Sekar yang sudah menjadi cahaya juga ikut memeluk sosok kecil Luna itu.
"Kamu boleh menangis, Luna. Di depan kami, kamu tidak perlu menjadi Putri Suci yang sempurna. Kamu hanya perlu menjadi Luna yang manja dan cengeng, tidak apa-apa."
Sosok kecil Luna yang dipeluk oleh dua cahaya itu perlahan berhenti menangis dan tersenyum untuk pertama kalinya dengan senyum yang tulus, bukan senyum sempurna yang dilatih, lalu menghilang menjadi cahaya putih keemasan yang masuk ke dalam dada Arya dan Sekar.
Terakhir, giliran Sekar dan Luna yang berjalan mendekati sosok Arya kecil yang masih tergeletak di lantai Balai Utama dengan pipi berdarah itu. Mereka berdua berlutut di sampingnya dan menghapus darah dan ludah di wajahnya dengan tangan mereka yang lembut.
"Kamu bukan sampah, Arya. Kamu adalah orang paling berani yang pernah kami kenal. Karena kamu pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi yang paling lemah, makanya kamu tidak pernah menolak untuk membantu orang lemah."
Sosok Arya kecil itu mendongak, menatap dua bidadari yang menghapus air matanya, dan tersenyum, lalu menghilang menjadi cahaya emas yang masuk ke dalam dada Sekar dan Luna.
Tiga cahaya, emas, biru es, dan putih keemasan, akhirnya berputar dan menyatu di tengah ruang jiwa itu, di tempat genggaman tangan mereka, membentuk sebuah teratai kecil dengan tiga warna yang mekar dengan indah.
Di dunia nyata, di atas Altar Tiga Jiwa di tengah Kolam Teratai Suci, kubah cahaya yang menyelimuti kolam itu tiba-tiba bersinar dengan terang yang sepuluh kali lipat lebih terang dari sebelumnya.
Cahaya tiga warna melesat naik ke langit dan turun ke bawah, menembus lantai kristal, menembus sungai cahaya, dan masuk kembali ke dalam ruangan makam di bawah.
Di dalam ruangan makam, Leluhur Naga Langit yang sudah menunggu dengan mata yang hampir tertutup tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar karena merasakan tiga jiwa yang akhirnya benar-benar menyatu tanpa keraguan sedikit pun.
"Akhirnya... Ritual Penyatuan Tiga Jiwa... berhasil..."
Di atas altar makamnya, pedang darah hitam yang tertancap di dadanya selama seribu tahun mulai bergetar dengan keras dan mengeluarkan jeritan yang mengerikan, seolah tahu bahwa ajalnya akan segera tiba.
Tiga cahaya dari atas — emas, biru, dan putih — turun dan menyelimuti pedang.
Waktunya untuk mencabut pedang itu telah tiba.