NovelToon NovelToon
Mata Dewa: Dari Batu ke Tahta

Mata Dewa: Dari Batu ke Tahta

Status: tamat
Genre:Balas dendam. / Perubahan Hidup / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.

Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.

Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 014: Umpan untuk Penipu

"Kalau hanya cerita sakit hati, berkasnya tipis."

Perwira berkemeja biru muda itu tidak mengucapkannya dengan kasar. Justru karena nadanya datar, ruangan kecil di unit ekonomi terasa lebih sempit.

Di atas meja ada tiga map.

Map pertama berisi foto Keris Nagasasra sebelum hilang, map kedua memuat dokumen lelang saat benda itu muncul kembali, sedangkan map terakhir menyimpan catatan transfer, kuitansi Balai Pusaka, dan tangkapan layar rekening CV Pusaka Abadi.

Aipda Joko duduk di samping pintu. Ia tidak banyak bicara. Matanya lebih sering memperhatikan reaksi Bayu dan Rizal.

"Pak Karto menipu sahabat saya dengan cerita batu palsu dan hutang keluarga," kata Bayu. "Keris itu lalu muncul di jalur lelang. Kami sudah membeli kembali lewat prosedur resmi. Saya tidak meminta Bapak menangkap orang tanpa dasar. Saya meminta dibuatkan laporan dan arahan agar bukti berikutnya sah."

Rizal menggenggam map keluarga. Buku jarinya memutih.

Perwira itu membaca nama pada formulir.

"Iptu Damar. Unit ekonomi," ujar Aipda Joko memperkenalkan. "Beliau yang menangani pola penipuan jual beli barang bernilai."

Damar membuka foto Keris. "Kasus lama sulit. Waktu transaksi pertama tidak ada kontrak, tidak ada rekaman, tidak ada saksi netral. Tapi kalau orang yang sama masih melakukan modus serupa, kita bisa masuk dari perbuatan baru."

Hendra, yang sejak tadi menahan diri, akhirnya condong ke depan.

"Maksudnya dijebak, Pak?"

Damar menatapnya.

"Kami dilarang menjebak orang agar menciptakan kejahatan baru. Yang bisa dilakukan adalah operasi terkontrol. Kalau dia datang atas kemauan sendiri, menilai palsu padahal tahu barang asli, memaksa harga rendah, lalu mengarahkan perpindahan barang dengan identitas palsu, itu perbuatan yang bisa kami dokumentasikan."

Bayu mengangguk pelan.

"Saya jadi penjual."

"Mas Bayu terlalu dikenal di pasar setelah lelang," kata Damar. "Dia mungkin hati-hati."

"Pak Karto tidak mengenal wajah saya dengan baik. Waktu itu saya hanya orang miskin di pinggir lapak, membawa warangka kosong. Yang ia incar adalah desa, keluarga, dan orang yang kelihatan tidak paham harga."

Rizal menoleh. "Jangan pakai Nagasasra."

"Tidak."

Bayu mengeluarkan foto Keris latihan milik Pak Wiryo, benda tua biasa yang legal dipinjam untuk edukasi, sudah difoto dan dicatat nomor penerimaannya. Nilainya tidak besar, tetapi tampilannya cukup menggoda bagi penipu yang bermain pada ketidaktahuan pemilik.

"Pak Wiryo bersedia meminjamkan ini sebagai umpan, dengan berita acara pinjam pakai. Barangnya asli dan tidak terdaftar sebagai benda cagar budaya. Kalau Karto mengulang cerita bahwa nilainya hanya ratusan ribu dan harus segera dipindahkan, kita punya perbuatan baru."

Damar membaca catatan itu. Untuk pertama kali, wajahnya berubah.

"Kalian datang membawa data. Amarah kalian punya arah."

Bayu menjawab pendek. "Marah tidak bisa masuk BAP, Pak."

Dua hari berikutnya, Hendra bekerja lebih ramai daripada biasanya.

Ia tidak mengumumkan kabar. Ia hanya membiarkan satu cerita lewat dari mulut ke mulut: ada anak muda Pacitan membawa Keris warisan kakeknya, butuh uang cepat untuk biaya tanah, belum tahu harga, dan bertanya ke lapak-lapak kecil di sekitar Kembang Jepun.

Rizal menyiapkan kronologi, identitas saksi, dan daftar pertanyaan. Aipda Joko mengurus koordinasi lapangan. Damar memilih warung tua di dekat Balai Pusaka sebagai tempat temu. Di dua titik, kamera kecil milik kepolisian dipasang dengan izin pemilik. Ponsel Bayu disetel merekam audio, tetapi tidak menjadi satu-satunya alat bukti.

Pada siang hari ke-15, Pak Karto datang.

Ia memakai topi lusuh dan kemeja kotak-kotak. Langkahnya lebih hati-hati daripada saat menipu Rizal dulu, tetapi senyumnya sama.

"Mas yang dari Pacitan?"

Bayu duduk di bangku plastik, membawa tas kain sederhana.

"Iya, Pak. Saya disuruh tanya harga. Keluarga butuh uang."

Mata Karto turun ke tas. Ia duduk tanpa diminta.

"Barang keluarga begini kadang bikin repot. Banyak yang mengira mahal, padahal cuma kenangan."

Bayu membuka kain pembungkus. Keris itu terbaring di atas meja, pamornya tenang di bawah cahaya warung.

Mata Dewa menyala tipis.

Bayu tidak perlu melihat terlalu lama. Ia sudah tahu barang itu sesuai catatan Pak Wiryo. Kini ia memperhatikan pola bicara Karto dan mengabaikan nilai barang.

Karto mencondongkan tubuh. Jari-jarinya tidak menyentuh bilah, hanya mengikuti garis warangka.

"Ini tua?"

"Kakek bilang tua."

"Kakek orang desa sering begitu. Maaf ya, Mas. Banyak Keris dibuat tua supaya anak cucu merasa punya warisan."

Hendra duduk di meja lain sambil pura-pura mengaduk kopi. Bahunya tegang.

"Jadi palsu, Pak?" tanya Bayu dengan suara ragu.

Karto menghela napas seperti orang yang iba.

"Sebagian asli, tapi nilai pasarnya rendah. Pamor begini kasar. Ganja-nya juga tidak istimewa. Kalau dibawa ke orang besar, nanti Mas malah keluar biaya."

"Berapa?"

"Saya bantu ambil. Dua juta."

Bayu menunduk. "Dua juta?"

"Kalau Mas perlu uang cepat, saya bisa tambah jadi tiga. Tapi jangan banyak cerita. Barang begini kalau masuk kantor atau ahli, bisa ditahan. Nanti Mas tidak dapat apa-apa."

Kalimat itu membuat Rizal, yang duduk di mobil seberang bersama Aipda Joko, menutup mata sebentar.

Ia pernah mendengar nada yang sama.

Bayu memainkan peran orang bingung.

"Teman saya bilang mungkin puluhan juta."

Karto tertawa kecil.

"Teman Mas mau menipu Mas. Saya sudah tiga puluh tahun lihat barang. Kalau mau aman, sekarang saja. Saya transfer ke rekening pribadi. Nanti kuitansi tidak usah pakai nama asli, biar tidak ribet."

Damar, dari van parkir, memberi isyarat lewat pesan singkat.

Lanjutkan sampai ajakan pindah tangan.

Bayu menatap Keris itu. "Kalau saya setuju, barang dibawa ke mana?"

"Ada kolektor."

"Namanya?"

Senyum Karto menipis. "Mas mau uang atau mau kuliah hukum?"

"Saya hanya takut kalau barang keluarga hilang."

Karto menurunkan suara.

"Dengar. Barang seperti ini masuk dulu ke Pak Herman. Nanti kalau bagus, ada yang naik ke atas. Kadang masuk Bengkel, kadang langsung keluar kota. Mas tidak perlu tahu. Yang penting uang masuk."

Hendra berhenti mengaduk kopi.

Bayu menyimpan napasnya.

"Bengkel?"

"Tempat orang pintar kerja. Ada yang asli dijual lagi, ada yang dibuat pasangannya. Pembeli kaya tidak bisa bedakan. Sudah, jangan tanya."

Pak Karto mengeluarkan amplop dan ponsel. "Tiga juta. Sekarang. Serahkan barang."

Saat tangannya menyentuh kain pembungkus, Damar berdiri dari meja belakang.

"Pak Karto."

Warna wajah Karto hilang.

Dua anggota berpakaian biasa bergerak dari pintu warung. Aipda Joko masuk bersama Rizal, membawa map dan surat tugas. Tidak ada teriakan. Tidak ada tangan dipelintir untuk tontonan. Hanya instruksi pendek, pengamanan barang, pemeriksaan amplop, dan ponsel yang segera dimasukkan ke kantong bukti.

"Ini salah paham," kata Karto cepat. "Saya cuma membantu."

Damar menunjukkan identitas.

"Bantuan Bapak direkam dari awal. Saudara akan kami bawa untuk dimintai keterangan terkait dugaan penipuan dan jaringan penadahan barang bernilai."

Karto melihat Bayu.

"Kamu?"

Bayu berdiri. Suaranya rendah.

"Keris Rizal masih ingat Bapak."

Rizal melangkah maju. Untuk sesaat, semua kemarahannya seperti akan tumpah. Tetapi ia berhenti di samping meja, menatap pria yang pernah membuat keluarganya malu dan diam.

"Dulu Bapak bilang keluarga saya bodoh karena percaya pada warisan sendiri," katanya. "Hari ini saya percaya pada berkas."

Pak Karto menunduk.

Di kantor polisi, sore itu berubah menjadi deretan pertanyaan. Karto tidak langsung membuka semua rahasia. Ia mengelak, mengaku kurir, menyebut dirinya hanya perantara. Tetapi ketika Damar menaruh foto Balai Pusaka, kuitansi CV Pusaka Abadi, dan potongan ucapannya tentang Bengkel, suaranya mulai pecah.

"Saya setor ke Herman," katanya akhirnya. "Orang di atas tidak saya kenal. Mereka hanya memberi daftar jenis barang: keris, patung, naskah, dan keramik. Barang asli dibeli murah; yang sulit dijual langsung akan difoto, ditiru, lalu diputar lagi."

"Bengkel di mana?"

Karto menggeleng keras. "Saya tidak pernah masuk. Saya cuma antar ke titik. Kadang gudang, kadang mobil. Kalau tanya lebih, saya tidak dapat kerja lagi."

Damar tidak memaksa jawaban yang belum ada. Ia menyuruh penyidik mengetik, meminta Karto membaca ulang, lalu menandatangani berita acara.

Untuk berkas Rizal, laporan lama dibuka sebagai perkara tersendiri. Statusnya belum selesai. Jaksa belum menyatakan apa pun. Tetapi hari itu, untuk pertama kalinya, nama Pak Karto masuk ke dokumen resmi bersama Keris Nagasasra, CV Pusaka Abadi, dan Herman Susilo.

Bayu juga menandatangani keterangan sebagai saksi yang memiliki kompetensi penilaian awal barang antik. Status ahli negara belum ia miliki.

Tetapi pintu itu terbuka.

Menjelang malam, Hendra mendapat pesan dari kenalannya di Balai Pusaka.

Toko Herman tutup mendadak.

Papan kecil CV Pusaka Abadi diturunkan. Etalase ditutup kain. Dua orang mengangkut kardus lewat pintu belakang sebelum magrib.

Rizal membaca pesan itu dan tertawa tanpa suara.

"Dia takut."

"Dia waspada," jawab Bayu. "Takut membuat orang berlari. Waspada membuat orang menghapus jejak."

Damar menutup map di depan mereka.

"Mulai besok, jangan bergerak sendiri. Kalau Herman benar bagian dari pola ini, dia bukan pedagang biasa."

Bayu menatap kata yang baru saja ditulis pada catatan polisi.

Bengkel.

Satu kata pendek. Tetapi di belakangnya ada barang asli yang dicuri murah, salinan yang dijual mahal, keluarga yang dipermalukan, dan pasar yang perlahan diracuni.

Damar mengetuk map itu dengan ujung pena.

"Kasus ini lebih dalam dari yang kamu kira, Mas. Barang seperti ini... sudah lima tahun kami lihat polanya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!