Altair seorang eksekutor miskin di rumah Andrea's. Motifnya untuk balas dendam kepada kepala keluarga itu karena sudah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya. Tapi dia malah jatuh cinta kepada anak kesayangan keluarga itu membuatnya dijebak dan mati di tangan mereka.
Dia di beri kesempatan kedua untuk tidak menjadi bodoh dan jatuh cinta. Di kehidupan ini dia menuntaskan dendamnya. Dan siapa sangka dia malah berhubungan dengan anak angkat keluarga itu, Aquilla.
Akankah dendamnya terbalaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 : Persahabatan lama bersemi kembali
Sore itu rasanya gerah luar biasa. Panasnya menusuk kulit dan bikin sesak. Tapi di halaman rumah sederhana milik Altair, suasana terasa lebih tenang—hanya diisi derik jangkrik dan gesekan daun mangga yang tertiup angin.
Di atas rumput yang agak menguning, Aquilla berdiri terengah-engah. Ia cuma memakai tanktop tali spageti hitam polos dan jeans biru yang sudah berdebu. Bahunya berkeringat, rambutnya diikat ekor kuda tinggi dengan beberapa helai menempel di wajahnya yang merona lelah.
Di hadapannya, Altair berdiri tegap. Berbeda dari Aquilla yang berantakan, Altair tampak tenang dengan singlet dan jeans hitamnya. Rambutnya yang sedikit berantakan jatuh menutup dahi, bikin tatapannya kelihatan lebih tajam.
Tidak ada tawa atau saling ejek seperti biasanya. Hari ini, Altair seratus persen serius.
"Bangkit," kata Altair singkat. Nada suaranya dingin, tak ada kelembutan sama sekali.
Aquilla meringis. Ia menopang diri dengan tangan lalu berdiri pelan-pelan. Lututnya masih ngilu karena baru saja jatuh untuk ketiga kalinya.
"Lo nyuruh gue bangun, tapi lo yang bikin gue jatuh terus," keluh Aquilla, napasnya masih terengah. "Gue capek, Al."
"Gue tahu," balas Altair tanpa bergeser sedikit pun. "Tapi di dunia nyata, preman nggak bakal nanya lo capek atau enggak sebelum mukul."
Aquilla menghela napas panjang sambil mengepalkan tangan. "Terus gue harus gimana? Gue nggak sekuat lo."
"Lo nggak butuh otot," potong Altair seraya maju selangkah. "Lo cuma butuh tenang dan berani lawan." Ia memasang posisi bertahan. "Sekali lagi. Sekarang lo yang nyerang duluan. Gue nggak bakal nahan."
"Bohong," gumam Aquilla berusaha bercanda, meski gagal. "Nanti gue jatuh lagi."
"Jatuh itu biasa," sahut Altair datar. "Yang bahaya kalau lo jatuh dan milih buat nggak bangun lagi."
Kata-kata itu menohok Aquilla lebih keras dibanding dorongan fisik Altair. Ia menatap mata cowok itu lama, tak ada ejekan di sana, hanya ketegasan yang menyembunyikan kepedulian.
Aquilla mengangguk pelan. Ia mengambil posisi: kaki dibuka, lutut ditekuk, tangan bersiap di depan wajah.
"Bagus," bisik Altair tipis.
Keduanya saling tatap di atas rumput yang terinjak. Angin sore berembus pelan.
"Maju," perintah Altair.
Aquilla maju dan mencoba mendorong bahu Altair. Tapi tenaganya kalah jauh. Dengan mudah Altair mengelak, memutar tubuh Aquilla, lalu membuatnya kembali tersungkur di atas rumput.
"Ah!" Aquilla meringis kesakitan.
Ia menatap Altair dengan kesal. "Katanya nggak bakal nahan!"
"Gue emang nggak nahan," jawab Altair santai sambil mengulurkan tangan. "Gue cuma nggak mau ngasih lo kemenangan gampang."
Aquilla sempat ragu, tapi akhirnya menyambut tangan itu. Dengan satu tarikan kuat, Altair menariknya berdiri.
"Sekali lagi," tegas Altair. "Kali ini kalau lo jatuh, bangun sendiri. Gue nggak bakal bantuin."
Aquilla menyapu keringat di dahinya, menarik napas dalam-dalam, lalu kembali menyerang. Kali ini gerakannya lebih cepat dan berani. Ia mendorong lalu mencoba menyapu kaki Altair. Altair sempat terhuyung, tapi masih bisa menguasai diri. Ia dengan cepat menangkap pergelangan tangan Aquilla dan menariknya.
Deg.
Aquilla kembali jatuh terlentang. Punggungnya mendarat di rumput. Sakit.
Tapi kali ini ia tak menunda. Sambil menahan nyeri dan napas yang ngos-ngosan, Aquilla memaksakan diri untuk berdiri sendiri.
Altair memperhatikan setiap gerakannya. Tanpa senyum atau pujian berlebihan, ia hanya memberikan anggukan kecil.
"Bagus. Itu baru bener," kata Altair pelan.
Aquilla akhirnya tersenyum kecil, senyum lelah sekaligus puas.
Suara raungan mesin motor sport mendadak memecah senja. Sebuah motor hitam bercorak hijau neon berhenti tepat di depan gerbang, memunculkan dua tamu yang tak asing.
Steve menaikkan standar motornya, sementara Kinara turun dari boncengan dan melepas helm full-face-nya. Rambut cokelatnya terurai rapi, penampilannya elegan dengan parfum manis yang semerbak.
Latihan pun terhenti. Aquilla dan Altair menoleh. Altair menyapu keringat di lehernya lalu berjalan menghampiri Steve.
"Bray," sapa Altair.
"Bro," balas Steve. Mereka bertos khas cowok—singkat dan penuh pengertian.
Di sisi lain, Kinara dan Aquilla saling pandang. Suasana mendadak canggung dan berat. Kinara memperhatikan Aquilla dari atas ke bawah melihat tanktop basahnya, jeans kotor, dan keringat yang mengucur. Bibirnya tersenyum tipis, cenderung sinis.
"Apa lihat-lihat?" ketus Aquilla sambil menyilangkan tangan di dada.
"Penampilan lo turun drastis ya, Illa," ujar Kinara sambil menggeleng pelan. "Biasanya rapi, elegan, makeup on point. Sekarang... jauh banget."
Aquilla melotot, hendak membalas, tapi lidahnya mendadak kelu. Kalimat Kinara memang menohok karena benar adanya. Dia bukan lagi gadis kaya raya, melainkan cuma seorang kasir. Aquilla akhirnya hanya bisa mendengus keras.
Steve berusaha mencairkan suasana. "Sayang... katanya mau masak resep baru bareng Aquilla?"
Aquilla mengerutkan kening. Namanya mendadak dibawa-bawa.
"Eh iya, hampir lupa!" sahut Kinara. Wataknya langsung berubah manis saat mendekati Aquilla dan merangkul lengannya. "Yuk, La, kita masak bareng."
Aquilla membeku. "Masak? Gue nggak bisa, Ra. Lo salah ajak orang." Ia melempar pandangan ke arah Altair, meminta penjelasan. Tapi Altair cuma mengangkat bahu santai.
"Makanya belajar," paksanya halus tapi menekan. "Di sini nggak ada koki. Masa mau makan mie instan terus? Sekali-kali masak buat suami lo."
Steve dan Altair kompak mengangguk setuju. Tampaknya kedua cowok itu memang sudah merencanakan ini.
Tanpa menunggu persetujuan lagi, Kinara langsung menarik Aquilla masuk ke dalam rumah sambil membawa kantong belanjaan besar berisi bahan makanan. Aquilla sempat menoleh pasrah ke arah Altair, yang hanya dibalas anggukan kecil dari cowok itu: Gue tunggu masakan lo.
Pintu dapur pun tertutup.
Di halaman, tersisa Steve dan Altair yang bersandar di pagar bambu.
"Kayaknya sahabat lama bakal dekat lagi," gumam Altair pelan.
Steve menyalakan rokok dan memainkannya di jemari. "Pada dasarnya mereka emang nggak bisa dipisahin. Cuma keadaan aja yang maksa."
Altair mengangguk. Dulu Kinara dan Aquilla sangat dekat, sebelum Daniel melarang Aquilla berteman dengan Kinara hanya karena Kinara anak petani.
"Kinara sebenarnya pengin balik berteman, tapi takut Aquilla menolak. Walaupun dia tahu Aquilla dulu kepaksa mutusin hubungan mereka," lanjut Steve.
"Mungkin Kinara bisa bikin Aquilla pelan-pelan lupa sama keluarga itu," sahut Altair. "Beberapa kali gue lihat dia sering nangis pas tidur sambil nyebut nama mereka."
Steve menatap Altair serius. "Sekarang cuma lo yang dia punya, Al. Jangan tinggalin dia kayak mereka. Kalau lo belum bisa nganggap dia sebagai pasangan, anggap dia adik atau keluarga lo sendiri. Lagian, lo juga belum tahu kan kenapa di kehidupan pertama dia nyampe nangisin lo?"
"Gue cuma berharap itu sesuatu yang baik," jawab Altair pelan.