NovelToon NovelToon
Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:554
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

Kupikir menikah dengan pria yang kucintai adalah awal dari kehidupan yang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa musuh terbesarku justru tinggal serumah denganku.
Mertuaku menganggapku hanya menumpang hidup. Aku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, difitnah di depan tetangga, diperas secara materi, bahkan harga diriku diinjak setiap hari. Sementara suamiku... selalu memilih mengalah demi ibunya.
"Fitri, mengalah dulu ya. Mama cuma ingin yang terbaik."
Kalimat itu terus kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.
Hingga suatu hari, aku sadar. Seorang istri tidak seharusnya berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga.
Saat kesabaranku habis dan perceraian menjadi satu-satunya jalan, penyesalan justru datang kepada mereka yang selama ini menghancurkan hidupku.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.


ikuti untuk bab selanjutnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21. Air Mata Dinda

Sejak kejadian dompet hilang itu, suasana rumah menjadi jauh lebih tegang. Dinda lebih sering mengurung diri di kamar. Sedangkan Bu Mirna berkali-kali mengeluh bahwa anak perempuannya sedang mendapat cobaan besar.

Anehnya...

Tidak ada seorang pun yang benar-benar mencari dompet yang katanya hilang itu. Tidak ada laporan ke kampus. Tidak ada laporan ke kepolisian. Bahkan ATM yang katanya ikut hilang pun tidak segera diblokir. Semua itu membuatku semakin yakin... Ada kebohongan yang sedang ditutupi.

---

Malam harinya, aku sedang menyetrika pakaian Mas Viyan. Dari arah ruang tamu terdengar suara Bu Mirna.

"Yan."

"Iya, Ma."

"Kasihan adikmu. Tolong itu lah di bantu. Dia enggak bisa tidur dua malam gara-gara uang kuliahnya hilang." Ucap mertua.

Mas Viyan hanya mengangguk pelan. "Lalu sekarang bagaimana, Ma?"

"Kamu pinjam uang dulu." Suruh mertua.

"Aku benar-benar enggak punya, Ma." Ucap mertua.

"Kan ada motor."

Mas Viyan langsung menoleh. "Maksud Mama?"

"Gadaikan dulu itu." Suruh mertua tak masuk akal.

Aku menghentikan setrikaan. Motor itu... Satu-satunya kendaraan yang dipakai Mas Viyan bekerja.

"Kalau motor digadaikan, nanti aku berangkat kerja pakai apa?" Tanya mas Viyan.

"Naik angkot." Jawaban Bu Mirna terdengar begitu ringan.

"Ma...Itu motor bukan buat gaya. Itu buat kerja."

"Ya terus? Masa adikmu harus berhenti kuliah?" Paksa mertua lagi pada suamiku.

Mas Viyan mengusap wajahnya. Aku tahu... Suamiku sedang berada di posisi yang sulit.

Aku keluar dari kamar membawa segelas teh hangat.

"Mas."

"Hm?"

"Minum dulu."

Mas Viyan menerimanya sambil tersenyum tipis. Namun senyum itu segera menghilang saat Bu Mirna kembali berkata,

"Fitri."

"Iya, Ma."

"Kamu punya emas lagi?" Ucap nya.

Aku langsung membeku. "Emas?"

"Iya. Buat sementara saja."

Hatiku terasa perih. Emas maharku yang dulu saja belum pernah dikembalikan. Sekarang beliau meminta lagi.

"Maaf, Ma. Aku sudah enggak punya."

Bu Mirna langsung mendengus. "Pelit..Kalau keluarga susah begini malah pelit."

Aku memilih diam. Percuma menjelaskan. Apa pun jawabanku akan tetap salah.

---

Keesokan harinya.Aku berangkat kerja seperti biasa. Saat jam istirahat, ponselku berdering. Nama peneleponnya...

Bu Rina.

"Assalamualaikum, Bu."

"Waalaikumsalam, Fitri."

"Ada apa ya, Bu?"

"Maaf mengganggu."

"Enggak apa-apa."

"Ibu cuma mau tanya."

"Iya?"

"Dinda benar kuliah hari ini?"

Aku mengernyit.

"Harusnya iya, Bu."

"Lho...Tadi Ibu lihat dia naik mobil sama laki-laki. Bukan ke arah kampus. Tapi ke arah pusat perbelanjaan."

Aku terdiam.

"Benar, Bu?"

"Iya. Ibu tadi jaraknya enggak jauh dari dia kok. Ibu kira mungkin dia lagi libur. Makanya Ibu tanya." Jelas Bu Rina.

"Oh begitu bu.. saya juga tidak tau pastinya bu.. tapi terima kasih ya, Bu. Sudah di beritahu" Jawabku.

"Iya. Sama-sama. Ibu cuma penasaran aja"

Telepon pun berakhir. Aku menarik napas panjang. Kalau benar... Berarti Dinda memang sudah mulai berbohong kepada semua orang.

---

Malamnya, Dinda pulang sambil membawa beberapa kantong belanja. Begitu melihatku duduk di ruang tamu, ia langsung menyembunyikan kantong-kantong itu ke belakang tubuhnya. Aku hanya melirik sekilas.

"Capek, Din?"

"Iya. Banyak tugas."

Aku mengangguk.

"Tadi kuliah sampai sore?"

"Iya. Presentasi."

"Alhamdulillah."

Aku sengaja tidak bertanya lebih jauh. Namun percakapan kami ternyata didengar oleh Mas Viyan yang baru pulang kerja.

"Presentasi mata kuliah apa?" Tanya Mas Viyan sambil melepas helm.

Dinda tampak terkejut.

"Eh...Mata kuliah..."

Ia berpikir cukup lama.

"...Manajemen." Lanjutnya.

"Manajemen apa?" Tanya suamiku lagi.

Dinda semakin gugup.

"Aduh Bang... Banyak banget mata kuliah. Aku lupa."

Mas Viyan mulai mengernyitkan dahi. "Lupa?"

"Iya."

"Baru tadi presentasi kok lupa?" Respon Mas Viyan.

Dinda langsung kesal. "Abang enggak percaya sama aku?"

"Bukan begitu."

"Ya udah! Aku capek." Ia langsung masuk ke kamar sambil membanting pintu.

---

Malam semakin larut. Aku dan Mas Viyan sudah berada di kamar.

"Mas."

"Hm?"

"Mas ngerasa enggak..."

"Apa?"

"Dinda akhir-akhir ini berubah."

Mas Viyan tidak langsung menjawab. Beberapa saat kemudian ia berkata pelan,

"Mas juga mulai merasa."

Aku menatapnya.

"Mas pernah telepon dosen pembimbing Dinda?"

"Belum."

"Kenapa?"

"Mas enggak enak."

Aku menggenggam tangan suamiku.

"Mas."

"Kalau memang semuanya baik-baik saja...kita pasti lega. Tapi kalau ternyata ada masalah....bukankah lebih baik kita tahu lebih awal?"

Mas Viyan mengangguk pelan.

"Kamu benar. Besok Mas coba cari nomor kampusnya."

Aku tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya... Mas Viyan tidak lagi menolak saat aku mengajaknya mencari kebenaran.

---

Sementara itu... Di balik pintu kamar, Dinda ternyata belum tidur. Ia mendengar sebagian percakapan kami. Wajahnya berubah pucat. Tangannya gemetar menggenggam ponsel. Dengan terburu-buru ia menghubungi seseorang.

"Hallo..."

"Iya, Sayang."

"Aku takut."

"Abangku mulai curiga."

Suara laki-laki di seberang terdengar menenangkan.

"Tenang. Selama ibumu masih membelamu....enggak akan ada yang bisa membongkar semuanya."

Dinda menggigit bibirnya.

"Semoga saja..."

Tanpa ia sadari... Kebohongan yang terus ditutup rapat itu justru semakin mendekati saat untuk terbongkar. Dan ketika hari itu tiba... Bukan hanya dirinya yang akan menerima akibatnya. Seluruh keluarga akan ikut terguncang.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!