NovelToon NovelToon
Paradoks Waktu

Paradoks Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Sci-Fi / Misteri
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.

Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Hening. Tak ada yang bersuara di dalam ruangan itu, selain helaan napas berat Profesor Surya.

​Tangannya masih gemetar hebat. Selama puluhan tahun, ia selalu mengira bahwa ingatan-ingatan yang hilang itu pupus akibat gerusan usia dan tekanan pekerjaan. Namun ternyata, ada kemungkinan yang jauh lebih mengerikan: sebagian dari ingatan itu... belum pernah ia alami sama sekali.

​"Prof..." Ardi memecah kesunyian dengan suara bergetar. "Tadi... itu benar-benar masa lalu?"

​Profesor tidak langsung menjawab. Matanya masih terpaku menatap cincin logam di hadapan mereka. "Aku tidak tahu. Bisa jadi itu sekadar rekaman, gema energi... atau sesuatu yang jauh lebih rumit."

​Zain mengernyit bingung. "Lebih rumit bagaimana?"

​Profesor menarik sebuah kursi, lalu duduk lemas. Ia tahu, kini saatnya menjelaskan teori yang selama ini ia sembunyikan.

​"Bayangkan kamu sedang berdiri di depan cermin. Cermin memantulkan gerak-gerikmu, itu hal normal," ujar Profesor lambat-lambat. "Tapi... bagaimana kalau suatu hari, pantulan di dalam cermin itu justru bergerak lebih dulu daripada dirimu?"

​Zain menggeleng cepat. "Itu mengerikan."

​Profesor tersenyum tipis, sebuah senyum getir. "Itulah paradoks waktu. Sebuah akibat bisa saja muncul... sebelum penyebabnya terjadi."

​Ardi mengangguk pelan, mulai memahami. "Berarti... pesan yang kita lihat tadi belum tentu berasal dari masa lalu?"

​"Bisa saja," jawab Profesor seraya menunjuk ke arah cincin logam. "Karena bagi sesuatu yang berkaitan dengan dimensi waktu, urutan kejadian tidak selalu berjalan lurus."

​Ruangan kembali hening mencekam. Zain berusaha keras mencerna semua fakta gila ini. "Kalau begitu... Profesor muda yang ada di rekaman tadi sudah tahu saya akan datang ke sini lagi?"

​Profesor mengembuskan napas panjang. "Itulah yang membuatku sangat takut."

​"Kenapa?"

​"Karena kalau benar begitu... berarti ada masa depan yang sudah pernah menyaksikan masa kini kita."

​Tiba-tiba, layar monokrom kecil pada panel kembali berkedip menyala. Huruf-huruf hijau terang bermunculan perlahan:

​PERINGATAN

​Seketika, mereka bertiga merinding dan mendongak bersamaan. Baris tulisan berikutnya menyusul:

​PARADOKS MENINGKAT

​Ardi dengan cepat mengarahkan kamera ponselnya dan memotret layar. "Paradoks meningkat?"

​Belum sempat mereka mencernanya, tulisan lain kembali muncul:

​JANGAN AKTIFKAN GERBANG

​Profesor seketika berdiri tegak. "Aku... aku tidak pernah memprogram peringatan seperti ini!"

​Layar berkedip sekali lagi, lalu menampilkan kalimat terakhir yang terasa begitu dingin:

​KARENA DIA SUDAH MENUNGGU

​Ruangan seketika membeku.

​"Dia?" bisik Zain, tenggorokannya terasa kering. "Siapa... 'dia'?"

​Tak ada jawaban. Panel instrumen mati total. Lampu hijau pada cincin logam ikut padam sepintas kemudian, seolah seluruh sistem sengaja mengunci dan menutup dirinya rapat-rapat.

​Ardi menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. "Prof... menurut saya, sebaiknya untuk sementara kita hentikan dulu semua percobaan ini."

​Profesor mengangguk setuju. "Ya, aku setuju. Mulai besok, tidak ada lagi eksperimen. Kita hanya akan fokus mempelajari arsip-arsip lama."

​Zain menghela napas lega. Setidaknya, ada jeda untuk bernapas.

​Namun, saat mereka bertiga melangkah hendak meninggalkan Ruang Observasi Temporal, Zain tanpa sengaja menoleh kembali ke arah cincin logam raksasa itu.

​Sesaat... ia melihat sesuatu.

​Sesosok pria.

​Siluet seorang pria tampak berdiri tepat di tengah-tengah cincin logam. Wajahnya tertutup samar, hanya membentuk bayangan legam yang berdiri tegap. Pria itu perlahan mengangkat tangannya... seolah melambaikan salam perpisahan.

​Lalu... menguap menghilang.

​Zain mendadak menghentikan langkahnya.

​"Kenapa, Zain?" tanya Ardi yang menyadari keanehan sikapnya.

​Zain kembali menatap ke arah cincin. Ruangan itu kini benar-benar kosong, tak ada siapa pun di sana. Ia terdiam selama beberapa detik, mencoba merasionalkan penglihatannya.

​"Tidak... tidak apa-apa," bisik Zain samar. "Mungkin mata saya cuma capek."

​Namun jauh di dalam lubuk hatinya, Zain teramat yakin. Ia benar-benar melihat seseorang berdiri di sana. Dan yang paling membingungkan... entah mengapa, sosok siluet misterius itu terasa begitu familiar baginya.

Malam itu, Zain sama sekali tidak bisa memejamkan mata.

​Setiap kali ia mengatupkan kelopak matanya, bayangan sosok pria di tengah cincin logam itu selalu hadir membayangi. Wajahnya memang samar dan tertutup bayang-bayang, tetapi postur tubuhnya, cara berdirinya, hingga gerakan tangannya terasa sangat akrab. Seolah-olah, Zain telah melihat orang itu berkali-kali di dalam hidupnya... hanya saja ia tak mampu mengingat di mana.

​Keesokan paginya, Zain memutuskan untuk kembali ke rumah kakeknya.

​"Kakek," panggil Zain ragu.

​"Hm?" Pak Hasan mendongak dari mejanya.

​"Kakek kenal orang dengan ciri-ciri seperti ini tidak?" Zain menyodorkan sebuah buku gambar kecil. Ia telah berusaha merekonstruksi siluet pria yang dilihatnya semalam. Meski hasil gambarnya terbilang kasar—hanya memperlihatkan gestur dan bentuk tubuhnya—raut wajah Pak Hasan seketika berubah.

​Gerakan tangannya yang sedang mengaduk cangkir kopi mendadak terhenti.

​"Kenapa, Kek?" tanya Zain penuh selidik.

​Pak Hasan menggeleng perlahan. "Tidak... cuma..."

​"Cuma apa, Kek?"

​"Kakek merasa pernah melihat seseorang dengan gaya berdiri persis seperti itu."

​"Siapa?"

​Pak Hasan menghela napas panjang. "Profesor Surya."

​Zain mengernyit bingung. "Lho? Tapi kan..."

​"Tapi orang yang Kakek maksud saat itu... usianya jauh lebih tua," potong Pak Hasan lambat-lambat.

​Jauh lebih tua? Zain seketika membeku. "Maksud Kakek bagaimana?"

​Pak Hasan melempar pandangannya jauh ke luar jendela, memanggil kembali ingatan usang puluhan tahun silam.

​"Dulu... beberapa hari setelah insiden di laboratorium, Kakek pernah diam-diam masuk ke ruang bawah tanah. Di sana, Kakek melihat seorang laki-laki. Rambutnya sudah memutih, wajahnya tampak amat lelah, dan ia mengenakan jas laboratorium."

​Zain langsung berdiri dari kursinya. "Profesor Surya?"

​"Kakek awalnya tidak yakin," sahut Pak Hasan. "Tapi... orang tua itu memanggil nama Surya dengan begitu akrab, seolah ia sangat mengenal Surya muda."

​Jantung Zain berdetak jauh lebih kencang. "Lalu, apa yang terjadi?"

​"Surya muda kelihatan sangat kaget saat melihatnya. Mereka sempat bicara sebentar."

​"Apa yang mereka bicarakan, Kek?"

​Pak Hasan memejamkan mata, berusaha mengingat detail malam itu. "Kakek tidak tahu pasti, karena pintu ruangan itu ditutup rapat. Tapi ada satu hal yang paling Kakek ingat."

​"Apa?"

​"Waktu orang tua itu berjalan keluar ruangan... dia sempat berhenti, lalu mengusap kepalamu dengan lembut."

​Ruangan tengah itu seketika menjadi sunyi senyap.

​"Kepala... saya?" bisik Zain tak percaya.

​"Iya. Lalu dia berbisik pelan sekali..." Pak Hasan menghentikan kalimatnya sejenak. "‘Maafkan kami.’"

​Tenggorokan Zain terasa amat kering. "Terus... orang tua itu pergi ke mana, Kek?"

​Pak Hasan menggeleng pasrah. "Kakek tidak tahu. Begitu Kakek memberanikan diri masuk ke dalam ruangan, orang tua itu sudah hilang tanpa jejak."

​Siang harinya, Zain langsung melaju kembali ke laboratorium untuk menceritakan seluruh pengakuan kakeknya kepada Profesor Surya dan Ardi.

​Mendengar kisah tersebut, Profesor Surya terduduk lemas di kursinya. Wajahnya pucat pasi.

​"Rambut putih... memanggilku dengan nama..." gumam Profesor dengan suara gemetar.

​Ardi menatap sang Profesor dengan tatapan tak percaya. "Prof... jangan-jangan..."

​"Belum!" potong Profesor cepat sambil menggeleng keras. "Kita belum boleh menarik kesimpulan secepat itu! Tapi... kemungkinan itu memang ada."

​"Kemungkinan apa, Prof?" tanya Zain mendesak.

​Profesor menatap foto dirinya sewaktu muda yang membingkai dinding laboratorium, lalu mengalihkan pandangan pada pantulan wajah senjanya di kaca jendela.

​Dengan suara berat dan pelan, ia berkata, "Kalau cerita itu benar... berarti di masa depan nanti, aku pernah berhasil kembali ke tahun 1998."

​Ruangan Observasi Temporal itu kembali diselimuti keheningan yang mencekam.

​Untuk pertama kalinya, teori perjalanan waktu bukan lagi sekadar susunan rumus dan hipotesis di atas kertas. Sebab seseorang... pernah benar-benar melakukannya.

​Dan sosok penjelajah waktu itu... mungkin adalah Profesor Surya sendiri.

1
Aegis
dan si kakek mentransfer dia ke masa lalu🥴
DeZigur: kalo mao skip langsung bab 20 aja. misterinya mulai
total 2 replies
Aegis
👍
Aegis
masalah psikotis tuh maksudnya apa bang?
DeZigur: ya kalo orangnya parnoan garaw pas bangun udah di dimensi lain terus ga bisa balik lagi ke kenyataan gimana?
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!