Embun tidak pernah menyangka, jika dia akan berhubungan dengan seorang Bos Mafia yang kejam.
Menjadi pemuas dan juga pelampiasan amarah, Embun berusaha bertahan demi keamanan keluarganya.
Joshua Bram, membalas dendam pada cinta pertamanya yang sudah membuatnya terluka. Namun dia malah terjebak pada cinta yang kembali membara.
Penasaran...
Yuk, lanjut baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gusti Sekar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERSAHABATAN.
*Jangan Lupa Like dan Komentarnya*
Happy Reading ❤️
Dua gadis itu menoleh secara bersamaan. Embun melenguh pelan, ternyata itu adalah Karin. Gadis berambut sebahu itu segera menghampiri Embun yang tampak seperti disudutkan oleh Monica.
"Karin" gumam Embun tak bersuara.
"Embun, aku udah tunggu kamu di kantin, tapi kamu gak datang juga!"
Gadis berwajah jutek itu menatap Monica dengan tatapan tajamnya.
"Kamu! Kamu pasti yang gangguin Embun kan? Gak ada capek-capeknya juga?" Kali ini Karin memiliki kesempatan untuk memarahi Monica.
"Jangan asal tuduh!" sanggah Monica.
"Terus?" tantang Karin.
"Pokoknya jangan asal menuduh!"
Karin melirik sinis. "Pasti kamu mempermasalahkan cowok playboy itu lagi kan?"
Monica tersindir dengan ucapan Karin, tapi memang itu kenyataannya. Monica hanya terdiam sembari melirik Embun yang juga diam.
"Apa sih unggulnya cowok itu?" tanya Karin.
Tetapi, Monica tidak menggubrisnya. Dikarenakan kedua temannya memanggil-manggilnya untuk memberi tahukan, seorang pemuda baru saja memasuki gerbang Kampus.
Embun mengikuti arah pandang mereka, gadis itu hanya bisa membisu, ternyata itu adalah Nando. Dan benar dugaannya selama ini, Nando bersama dengan gadis yang dilihatnya kemarin saat di lapangan basket.
"Nando" lirih Monica merasa sedih.
"Mon, please jangan nangis sekarang" Nayla coba menenangkan Monica.
Karin mendesis tak suka. "Tuhkan! baru juga kita omongin, dia udah muncul aja sambil gandeng cewek lain lagi"
"Dikira cuma dia aja yang paling ganteng di Kampus ini? Jadi bisa seenaknya gonta ganti pacar dalam satu minggu" imbuh Karin.
Hatinya sakit mendengar ucapan Karin, tapi Embun tak bisa mengatakan banyak hal. Karena memang sahabatnya itu tidak mengetahui apa-apa tentang hubungannya dengan Nando.
"Iya kan Bun?" Karin menoleh kearah Embun.
"Bun? Embun!"
Tapi gadis itu malah tengah melamun, mendengar panggilan Karin membuatnya jadi gelagapan.
"I—iya?"
"Kamu lagi memikirkan apa? kok malah melamun?"
Embun segera menyanggahnya, ia menggeleng pelan. Lalu tatapannya kembali kearah Nando, pemuda itu tak sengaja melihatnya. Terlihat jelas wajahnya sangat terkejut saat tau Embun sudah kembali ke Kampus.
"Kamu benar, kemarin Vita. Sekarang siapa lagi?" tanya Embun dengan menatap kosong.
Karin coba mengamati gadis yang berjalan disebelah Nando, kedua remaja itu saling menggandeng tangan. Membuat Karin semakin merasa sesak, di bagian hatinya.
"Kalau tidak salah, itu adik tingkat. Anggota cheerleaders yang baru" ucap Nayla mengenalinya.
"Kamu kenal Nay?"
Monica menyeka air matanya yang berusaha keluar. Ia berusaha tidak terlihat lemah dihadapan Embun, walau sebenarnya Embun sendiri juga merasakan hal yang sama dengan Monica.
"Iya, dia anak Pak William partner Bisnis Ayahku. Aku pernah sekali bertemu dengan dia pas di Kantor"
"Anak Pak William, berarti dia orang kaya dong? setau aku Pak William adalah pemimpin perusahaan yang sangat sukses" imbuh Kristin.
Karin dan Embun hanya mengangguk pelan, tetapi Embun merasa ada yang tidak asing menurutnya. Wajah gadis itu mirip seseorang yang pernah ditemuinya, hanya saja Embun belum bisa mengingat dengan jelas.
"Aku kayak pernah ketemu sama dia? Tapi dimana ya?" gumam Embun tanpa sadar.
"Kamu juga kenal sama dia?" Karin terkejut.
Embun terkejut, ia berusaha keras mengingatnya tetapi tak juga berhasil, alhasil Embun hanya menggeleng lemah.
"Kayaknya aku cuma salah lihat" lirihnya pelan.
"Udah ah, kenapa kita harus ikut campur sama gadis rempong ini sih? Ayo Bun! kita ke kantin, aku udah lapar banget ini"
Karin menggenggam pergelangan tangan Embun, ia menarik sahabatnya itu untuk menjauh dari Monica dan teman-temannya.
Sedangkan Monica hanya diam dan mengamati raut wajah Embun yang tampak seperti mengetahui akan sesuatu hal. Tetapi Monica belum mempunyai kesempatan untuk menanyakan hal tersebut.
'Apa yang kamu sembunyikan Embun?'
...***...
Embun menyantap makan siangnya dengan tidak terlalu nafsu, Karin dan Mila yang tengah bersamanya bisa melihat perubahan sifat Embun yang tidak seperti biasanya.
"Bun, kamu kenapa sih? Apa makanannya gak enak, sampai kamu makan seperti orang yang tidak berselera seperti itu?"
Embun yang baru memasukan daging dalam mulutnya sedikit tertegun, ia tidak mengerti dengan apa yang ucapkan oleh Karin.
"Em? Maksud kamu apa? Makanannya enak kok" balas Embun.
"Dari tadi kamu makan cuma sedikit-sedikit, dan juga kamu lebih banyak melamun. Kamu kenapa Bun? kamu ada masalah? Atau kamu masih teringat kejadian saat kamu tersesat di hutan?"
Mila bertanya dengan raut wajah sedihnya, ia khawatir dengan kondisi mental Embun. Gadis itu mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Embun.
"Kamu bisa cerita sama kita, jangan dibuat beban sendiri" ujar Mila dengan sangat tulis.
Karin membenarkan ucapan Mila dengan mengangguk mantap. Embun merasa tersentuh dengan perhatian yang diberikan kedua temannya, saat ini, selain kedua orang tuanya. Merekalah orang terdekat Embun yang paling bisa ia handal kan.
"Makasih banyak buat cinta yang kalian berikan, tapi tolong percaya denganku. Aku baik-baik saja" dusta Embun.
'Maaf teman-teman, tetapi untuk masalah kali ini. Aku tidak bisa bercerita terus terang, karena masalah ini bisa membahayakan kalian berdua, dan aku tidak ingin hal itu terjadi' kata hati Embun berbicara.
Melihat wajah Embun yang bersungguh-sungguh, kedua temannya tidak bisa terlalu memaksa Embun. Tapi mereka sudah cukup merasa lega mengetahui sahabatnya masih bisa berkumpul dengan mereka.
Walau sebenarnya mereka sendiri juga penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Embun dalam waktu 2 minggu kemarin. Tidak ada yang memberi tahunya, bahkan Pak Rektor sengaja menyembunyikan sesuatu. Dan hal ini hanya diketahui beberapa pihak saja.
"Ini, kamu makan yang banyak ya" Mila memberikan sepiring daging bakarnya untuk Embun.
Embun terheran. "Kenapa dikasih ke aku? kan ini kesukaan kamu, punyaku sendiri belum habis.
Mila segera menggeleng, ia tetap mendorong piring itu mendekat ke tangan Embun.
"Kamu harus makan yang banyak, kamu harus gemuk lagi. Pipi kamu udah makin tirus dan itu sangat jelek" canda Mila.
Embun cemberut mendengarnya, namun Mila dan Karin malah tertawa renyah melihat ekspresi Embun seperti itu. Mereka senang Embun sedikit kembali seperti biasanya, yaitu Embun yang ceria.
"Iya, kamu harus habisin itu semua. Kalau perlu kamu juga makan punya sekalian" imbuh Karin menyodorkan dagingnya.
"Udah udah, bukannya gendut, nanti aku malah mengantuk pas pelajaran Pak Anwar"
"Kamu kan emang hobi tidur" sindir Karin dengan jahilnya.
Embun kembali mengerucutkan bibirnya lucu, kedua temannya bahagia melihatnya. Dan Embun pun ikut tertawa bersama mereka.
Mila melirik bekas luka yang ada dipergelangan tangan Embun, gadis itu berusaha menyembunyikannya dengan memakai baju berlengan panjang. Padahal cuaca sedang musim kemarau, dan suhunya sangat panas.
'Bun, kamu kenapa sih? please jangan buat kita khawatir'
To Be Continued...
Salam dari
- Janji Palsu Tuan Muda -