"Aku memaafkan pengkhianatanmu demi nama baik keluarga, tapi hatiku sudah mati."
Arga, CEO 30 tahun, terjebak nikah bisnis dengan istri yang hamil anak orang lain. Hatinya dikunci rapat.
Sampai Queen, mahasiswi bar-bar 20 tahun + pewaris universitasnya, datang dan menantang semua aturan.
Satu ciuman di club malam meruntuhkan tembok esnya.
Sekarang Arga harus pilih: Tetap di neraka pernikahan, atau terbakar dalam gairah terlarang dengan mahasiswinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI BAWAH KABUT HASRAT
Keheningan kamar rahasia di dalam kantor privat Arga seketika pecah oleh suara deru napas yang memburu pendek. Cahaya matahari siang yang terik di luar sana terhalang sepenuhnya oleh tirai kedap cahaya, menyisakan pencahayaan temaram dari lampu dinding bernuansa kuning hangat yang memayungi kedua tubuh. Di atas ranjang minimalis itu, dominasi Arga sebagai pria dewasa runtuh seutuhnya, berganti menjadi sosok predator jantan yang haus akan penawar luka di tengah hari bolong.
Kancing kemeja biru dongker milik Arga telah terlepas seluruhnya akibat jemari lentik Queen yang bergerak dengan ugal-ugalan dan tidak sabaran. Kain formal itu terlempar begitu saja ke lantai berkarpet, mengekspos dada bidang Arga yang kokoh, berotot, dan dipenuhi bulu-bulu halus tipis yang maskulin. Kulit mereka yang saling bersentuhan mengirimkan gelombang panas yang membakar akal sehat.
"Queen..." bisik Arga, suara baritonnya berubah menjadi sangat serak, dalam, dan bergetar hebat di dekat rungu gadis itu.
"Iya, Sayang? Aku di sini..." sahut Queen dengan nada yang teramat manja sekaligus menantang.
Sepasang mata bulat Queen menatap lurus ke dalam netra elang Arga yang telah menggelap seutuhnya. Tidak ada ketakutan, tidak ada keraguan di dalam binar mata baby face itu. Yang ada hanyalah ketulusan yang murni dan kepasrahan total seorang wanita yang telah menyerahkan seluruh jiwa dan raganya kepada pria yang dikejarnya setengah mati.
Arga tidak lagi menahan diri. Rasa sakit hati, dikhianati, dan kekosongan jiwa yang selama ini ia pendam akibat ulah Keysha seolah menguap setiap kali ia menyentuh kulit lembut Queen. Pria berusia 30 tahun itu menundukkan wajah tegasnya, kembali membungkam bibir ranum Queen dengan sebuah lumatan yang jauh lebih intens, dalam, dan posesif.
Chup...
Ciuman mereka terdengar basah dan memabukkan di dalam kesunyian kamar rahasia tersebut. Lidah Arga dengan lihai menyapu rongga mulut Queen, mengklaim setiap sudutnya dengan dominasi penuh. Queen melenguh pasrah, meremas bahu kekar Arga yang keras bagai batu, membalas setiap hisapan bibir pria itu dengan keliaran cegil-nya yang tak pernah padam.
Tangan kekar Arga yang hangat tidak tinggal diam. Jemari nebbalnya bergerak perlahan menelusuri lekuk pinggang ramping Queen, lalu naik ke atas, dengan terampil membuka kancing kemeja rajut oversized berwarna krem yang dikenakan mahasiswinya. Begitu kain itu tersingkap, keindahan tubuh seksi Queen terekspos di bawah temaram lampu. Syal tipis yang menutupi leher Queen pun terlepas, memperlihatkan tanda merah hasil mahakarya Arga kemarin pagi yang kini kembali siap ditambah.
Arga menurunkan kecupannya ke arah rahang tegas Queen, lalu turun ke leher jenjangnya yang putih mulus. Pria matang itu memberikan gigitan-gigitan kecil yang sensual, menghisap kulit lembut itu hingga meninggalkan tanda kepemilikan baru yang lebih pekat.
"Ahhh... Pak Arga... Nngghh..." Queen mendesah tertahan, kepalanya mendongak pasrah dengan mata yang terpejam rapat. Sentuhan bibir dan lidah panas Arga di lehernya membuat seluruh tubuhnya meremang hebat, aliran darahnya berdesir kencang memicu gairah yang meledak-ledak. "Sayang... pelan-pelan..."
Mendengar bisikan manja dan sebutan 'Sayang' dari bibir Queen, Arga justru semakin terpacu. Gairah purbanya sebagai seorang jantan bergejolak hebat. Dengan gerakan yang penuh kehati-hatian namun menuntut, Arga melucuti sisa pakaian yang melekat pada tubuh mereka berdua, hingga dalam hitungan detik, keduanya kembali berada dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun, sama seperti kejadian di apartemen kemarin.
Arga menatap tubuh molek di bawah kungkungannya dengan pandangan memuja. Ia mengusap pipi Queen lembut dengan ibu janinya, menatap mata bulat yang kini tampak sayu dan sayup karena dilingkupi kabut asmara.
"Maafkan saya jika ini akan sedikit terasa sakit seperti kemarin, Queen," bisik Arga dengan napas yang memburu ngos-ngosan tepat di depan bibir Queen.
Queen menggelengkan kepalanya pelan, menyunggingkan senyuman manis yang teramat tulus. "Gak apa-apa, Sayang. Sakitnya gak sebanding sama rasa bahagia aku karena bisa milikin kamu seutuhnya siang ini. Masuk, Sayang... buat aku jadi milik kamu lagi."
Permintaan frontal nan berani dari Queen menjadi sumbu terakhir yang meledakkan seluruh pertahanan Arga. Pria itu menyatukan tubuh mereka dalam satu hentakan yang dalam, tegas, dan penuh tuntutan biologis yang memuncak.
"Nngghhh! Ahhh... Sayang..." Queen memekik pelan, tangannya spontan mencengkeram erat punggung berotot Arga hingga kuku-kuku lentiknya meninggalkan bekas guratan merah di sana. Rasa perih di bagian intinya yang belum pulih seutuhnya kembali tersengat, namun dalam sekejap rasa perih itu tergantikan oleh sensasi kenikmatan duniawi yang teramat intens dan membakar.
Arga mulai menggerakkan tubuh tegapnya dengan ritme yang teratur, menenggelamkan mereka berdua dalam lautan gairah terlarang yang teramat candu. Kamar rahasia di dalam kantor dosen itu menjadi saksi bisu bagaimana seorang dosen killer yang dikenal dingin bak es batu, berubah menjadi sosok yang begitu hangat, liar, dan penuh damba di atas ranjang bersama mahasiswinya sendiri pada jam istirahat siang.
Setiap peluh yang menetes, setiap desahan pasrah yang lolos dari bibir Queen, dan setiap erangan rendah dari penuturan Arga berpadu menjadi melodi asmara yang teramat romantis sekaligus erotis. Arga terus memacu ritmenya, membawa Queen terbang tinggi menuju puncak pelepasan hasrat bersama hingga beberapa saat kemudian, keheningan kembali merayap seiring dengan tumpahnya benih-benih kepuasan di dalam dekapan hangat yang erat.
Satu jam telah berlalu sejak badai gairah itu mereda. Jam dinding di dalam kamar menunjukkan pukul satu siang lewat sedikit.
Suasana di dalam kamar rahasia itu kini terasa begitu menyejukkan dan romantis. Arga berbaring telentang dengan selimut tebal yang menutupi bagian perut hingga kakinya. Dada bidangnya yang polos naik turun dengan napas yang sudah kembali teratur. Di lengan kirinya, Queen bersandar dengan nyaman, menjadikan lengan kekar sang dosen sebagai bantal utamanya.
Queen melingkarkan lengan lentiknya di perut berotot Arga, menyurukkan wajah manisnya di ceruk leher kokoh pria itu, menghirup dalam-dalam aroma tubuh khas Arga yang maskulin bercampur keringat tipis yang teramat jantan. Tangan kanan Queen dengan iseng memainkan bulu-bulu halus di dada Arga, menggambar pola abstrak tak beraturan di sana.
Arga yang merasakan sentuhan itu menolehkan kepalanya ke samping. Tatapan matanya yang biasanya tajam dan sedingin es, kini melunak seutuhnya saat menatap wajah baby face kekasih mudanya. Tangan kanan Arga bergerak naik, mengusap lembut rambut bergelombang Queen yang sedikit berantakan dan basah karena keringat.
"Kamu bener-bener tidak ada kapoknya, Queen," ucap Arga dengan suara baritonnya yang serak dan terdengar begitu tenang. Ada nada geli yang tersembunyi di balik kalimatnya. "Ini masih siang, di lingkungan kampus pula. Bagaimana kalau tadi ada staf rektorat yang mengetuk pintu kantor luar dan mendengar suaramu, Hem?"
Queen mendongak, menatap Arga dengan binar mata nakal yang teramat manja. Ia mengerucutkan bibirnya seksi. "Kan ruangan Bapak kedap suara, lagian pintunya udah dikunci rahasia sama Bapak sendiri. Siapa juga yang berani masuk ke sarang singa killer kayak Pak Arga?"
Arga terkekeh tipis, sebuah kekehan tulus yang bener-bener langka. Ia mengecup dahi Queen dengan lembut selama beberapa detik, menyalurkan rasa nyaman yang teramat besar yang kini merayap di hatinya. "Kamu selalu punya jawaban untuk membela diri, Cegil."
Mendengar panggilan baru dari Arga, Queen tertawa renyah, mempererat dekapannya pada tubuh tegap sang kekasih. "Biarin, yang penting Cegil ini sekarang udah resmi jadi pemilik hati Pak Arga ganteng. Oh iya, Sayang... punggung kamu tadi aku cakar ya? Maaf ya, habisnya kamu tadi mainnya skakmat banget, bikin aku gak tahan."
Wajah tegas Arga seketika memerah tipis mendengar ucapan frontal Queen. Pria berusia 30 tahun itu berdehem kaku, mencoba menyembunyikan rasa salah tingkahnya. "Tidak apa-apa. Itu... salah saya juga yang terlalu kehilangan kendali."
"Ih, kok bahasanya formal banget sih? Pakai 'saya-saya' segala. Kalau lagi berdua gini, panggilnya 'Aku-Kamu' dong, biar romantis kayak pacaran pada umumnya," protes Queen bar-bar sambil mencubit pelan dada bidang Arga.
Arga mengembuskan napas panjang, menatap langit-langit kamar dengan senyuman tipis yang enggan hilang dari wajahnya. "Baiklah. Aku... akan mencobanya."
Queen tersenyum sangat lebar, hatinya serasa meleleh mendengar perubahan panggilan dari Arga. Meskipun ia tahu di luar ruangan ini matahari siang masih bersinar terik dan Arga harus kembali bersiap untuk sisa jadwal kampusnya, namun untuk saat ini, di dalam kamar rahasia ini, Queen tahu bahwa ia telah berhasil menanamkan benih-benih cinta yang mendalam di dalam hati sang dosen.
Queen memejamkan matanya dengan damai, menikmati setiap detak jantung Arga yang berdegup konstan di bawah telinganya, siap menghadapi hari-hari berikutnya sebagai selingkuhan rahasia yang paling bahagia di dunia.