NovelToon NovelToon
Kakak Tiri Kuu Yang Dingin

Kakak Tiri Kuu Yang Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Terlarang
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: bulane

"Mama akan menikah."

Kalimat itu menghantamku tanpa aba-aba.

"Aku tidak setuju, Ma..."

Suaraku bergetar, berharap keputusan itu masih bisa berubah.

"Mama berhak bahagia, Amerta."

Kalimat sederhana itu seolah menjadi palu yang menghancurkan seluruh angan-anganku.

Amerta Bunga Adiguna.

Namaku dipanggil untuk menerima kenyataan yang tak pernah siap kuhadapi.

Di balik rumah yang diselimuti nuansa temaram, berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan tatapan yang sulit ditebak. Ia hanya mengamati jalannya acara dari kejauhan, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada kata-kata.

Mahesa Putra Dirgantara.

Sosok yang kehadirannya perlahan mengubah seluruh jalan hidupku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bulane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 6

Sisa aroma parfum maskulin dan wiski semalam seolah masih tertinggal di udara saat Amerta terbangun. Ia menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang kacau-balau. Kejadian pukul dua dini hari itu terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Sentuhan dingin tangan Mahesa di dagunya, tatapan biru yang menggelap, dan kata 'teritorial' yang diucapkan dengan nada posesif yang kelam... semuanya terasa seperti mimpi buruk sekaligus nyata.

Amerta menyentuh bibir bawahnya sendiri. Mengapa Mahesa bersikap seaneh itu? Jika dia membenci kehadiran Amerta dan ibunya di rumah ini, lalu apa arti dari tindakan intimidasi yang terasa begitu intim semalam? Apakah itu hanya efek dari alkohol, atau ada sisi gelap dari kakak tirinya yang jauh lebih berbahaya dari sekadar sikap diamnya?

Dengan kepala yang berdenyut ringan karena kurang tidur, Amerta bersiap-siap menuju kampus. Ia sengaja turun ke ruang makan sedikit terlambat, berharap Mahesa sudah berangkat ke kantor. Namun, harapannya pupus.

Laki-laki itu ada di sana.

Mahesa duduk dengan gestur tubuh yang sempurna, mengenakan kemeja biru tua yang disetrika rapi, kontras dengan almamater kuning milik Amerta yang tersampir di sandaran kursi. Ia sedang menyesap kopi hitamnya sembari menatap tablet bisnis di tangan kiri. Tidak ada tanda-tanda kelelahan, tidak ada sisa aroma alkohol, dan yang paling membuat Amerta frustrasi: tidak ada perubahan ekspresi sama sekali.

Amerta melangkah ragu dan duduk di kursinya. "Pagi, Kak," bisik Amerta pelan, mencoba menguji ombak.

Mahesa tidak mendongak. Ia hanya menggeser layar tabletnya dengan ibu jari, mengabaikan sapaan Amerta sepenuhnya seolah gadis itu hanyalah sebutir debu di ruangan tersebut. Ia kembali menjelma menjadi Mahesa yang cuek, dingin, dan acuh tak acuh.

Sikap tidak peduli itu membuat Amerta meragukan kewarasannya sendiri. Apakah semalam dia benar-benar masuk ke kamarku? Atau aku yang sudah gila karena terlalu tertekan oleh Rian? batin Amerta sembari mengaduk rotinya tanpa selera.

Tak lama kemudian, Mahesa berdiri, merapikan jam tangan mewahnya, dan melangkah pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun. Deru mobil sport-nya yang menjauh meninggalkan Amerta dalam teka-teki yang semakin rumit.

Siang harinya di kampus, atmosfer terasa sedikit lebih bersahabat sampai Amerta harus menyerahkan draf tugas kelompok ke ruang asisten dosen di lantai dua gedung fakultas. Sial baginya, Rian sedang berjaga di sana bersama beberapa panitia komdis lainnya.

"Oh, lihat siapa yang datang," cibir Rian begitu melihat Amerta masuk. Laki-laki itu berdiri dari kursinya, melangkah mendekat hingga menutup jalan keluar Amerta. "Sudah memikirkan tawaranku semalam, Amerta? Mengenai... biaya kuliah atau apa pun yang kamu butuhkan dari mobil-mobil mewah itu?"

Amerta mengepalkan tangannya di balik saku almamater kuningnya. "Minggir, Kak. Saya hanya ingin mengumpulkan tugas."

"Kalau aku tidak mau?" Rian tersenyum meremehkan, melangkah satu kali lagi hingga jarak mereka mengikis, sengaja memanfaatkan posisinya sebagai senior untuk menekan Amerta yang tampak tak berdaya.

BRAK!

Pintu ruang asisten dosen yang tadinya tertutup rapat mendadak terbuka lebar karena dorongan yang kasar dari luar. Hawa dingin yang pekat seketika menyeruak masuk, membungkam seluruh suara di dalam ruangan.

Semua orang menoleh, dan detik itu juga, napas Amerta tercekat.

Di ambang pintu, berdiri Mahesa Dirgantara.

Kehadirannya dengan setelan jas formal tiga potong (three-piece suit) berwarna gelap yang melekat sempurna di tubuh tegapnya langsung mengubah atmosfer ruangan menjadi mencekam. Wajah tampannya datar, namun sepasang mata birunya yang sebiru laut luas memancarkan kilat kemarahan yang luar biasa pekat. Aura dominasi yang dibawanya begitu kuat hingga beberapa senior lain di ruangan itu refleks menegakkan posisi duduk mereka dengan cemas.

Mahesa melangkah masuk. Setiap ketukan sepatu pantofelnya di atas lantai terasa seperti ketukan lonceng kematian. Ia mengabaikan Amerta sepenuhnya, seolah gadis itu tidak ada di sana, dan mengarahkan pandangannya lurus pada Rian.

"Rian Adrianto," suara Mahesa terdengar sangat rendah, serak, namun menggema penuh ancaman di setiap sudut ruangan.

Rian yang tadinya berlagak angkuh seketika pucat pasi. Rahangnya jatuh, dan keringat dingin mulai tampak di pelipisnya. Siapa yang tidak tahu Mahesa Dirgantara di fakultas ini? Dia adalah alumni legendaris, donatur utama, dan sosok yang bisa menghancurkan masa depan karier mahasiswa mana pun hanya dengan satu jentikan jari.

"K-Kak Mahesa... ada kepemiluan apa ke ruangan kami?" tanya Rian dengan suara yang tiba-tiba bergetar, kehilangan seluruh keberaniannya.

Mahesa berhenti tepat dua langkah di depan Rian. Postur tubuhnya yang jauh lebih tinggi dan tegap membuat Rian tampak sangat kecil. Mahesa menatap Rian dari atas ke bawah dengan pandangan yang lebih menjijikkan daripada menatap sampah.

"Aku tidak suka mengulang ucapanku, terutama pada bajingan kecil sepertimu," ucap Mahesa, nadanya sangat tenang namun justru itulah yang membuatnya seratus kali lebih mengerikan. "Dua pilihan untukmu hari ini. Angkat kakimu dari kampus ini dengan surat Drop Out sebelum matahari terbenam, atau aku yang akan memastikan seluruh perusahaan di negara ini menutup pintu untuk nama belakangmu."

Ruangan itu menjadi sangat hening hingga suara embusan napas pun bisa terdengar. Rian bergetar hebat, tangannya yang memegang map tampak gemetar tak terkendali. "Kak... saya salah apa? Saya tidak melakukan apa-apa..."

Mahesa mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatap langsung ke manik mata Rian dengan kilat posesif yang gelap—kilat yang sama yang Amerta lihat di kamarnya semalam.

"Kamu menyentuh sesuatu yang menjadi bagian dari teritorialku," desis Mahesa tepat di wajah Rian, membuat senior itu hampir kehilangan keseimbangan karena ketakutan. "Dan tidak ada seorang pun yang selamat setelah mengusik apa yang sudah aku tandai."

Mahesa kembali menegakkan tubuhnya, merapikan ujung jas hitamnya yang tidak sedikit pun kusut.

Tanpa melirik Amerta sekarang pun, seolah tindakan penyelamatan ini hanyalah urusan bisnis pembersihan hama yang tidak penting, Mahesa berbalik dan melangkah keluar dari ruangan dengan langkah tegap yang berwibawa.

Amerta mematung di tempatnya, jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sakit. Ia menatap punggung tegap Mahesa yang perlahan menghilang di belokan koridor. Di satu sisi, ia merasa terbebas dari Rian yang kini lemas di kursinya, namun di sisi lain, ketakutan yang jauh lebih besar menjalar di nadinya.

Mahesa baru saja menegaskan kepemilikannya di depan umum, namun tetap memperlakukannya seperti orang asing yang tak kasat mata. Amerta semakin tersesat dalam labirin pikiran: Sebenarnya, aku ini apa bagi seorang Mahesa Dirgantara?

1
Tunik nur Agustina
seruu
Tunik nur Agustina
seruuuu thorr
azzura faradiva
Yach....cuma seuprit doang upnya😔
azzura faradiva
wow....keren poollll sekalinya up 7 bab sekaligus👏🏻👏🏻
azzura faradiva
lanjut....,bagus ceritanya
bulane: terimakasih atas dukungan nya🫶🏻🫶🏻
total 1 replies
seruuuu bangettt
ela
semangat kakk💪🤩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!