NovelToon NovelToon
Logika Diatas Cinta

Logika Diatas Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Seeula

Nadine Lavena membatalkan pernikahannya tiga minggu sebelum hari H setelah membongkar perselingkuhan tunangannya, Heyden Ames, di depan diskusi formal dua keluarga besar. Pengkhianatan itu membangkitkan trauma masa kecil saat dibuang ibu kandungnya, membuat Nadine skeptis pada cinta dan hanya memercayai uang.
Seminggu kemudian, di sebuah restoran industrial, Nadine menyaksikan Kyle Ernest pewaris bisnis sedingin es disiram air oleh teman kencan butanya akibat klausul pernikahan kontrak yang teramat kaku. Senyum sinis Nadine memicu harga diri Kyle yang angkuh hingga melayangkan tantangan gila: pernikahan kontrak tiga tahun dengan gaji 100 juta per bulan dan denda pembatalan 30 miliar.
Nadine menerima tantangan itu demi uang, murni sebagai mitra kerja. Namun, Kyle tidak menduga bahwa di balik sikap acuh tak acuh Nadine, wanita itu menyimpan kecerdikan tajam untuk menghadapi badai fitnah dari Kinara Inka, masa lalu Kyle yang licik yang tiba-tiba kembali untuk merebut segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seeula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Siasat Baru sang Parasit dan Aliansi Rumah Menteng

​Setiap sudut ruang tunggu VIP di sebuah kelab malam eksklusif pusat kota Jakarta dipenuhi oleh perpaduan aroma pekat seduhan kopi luwak hangat dan wangi khas interior kulit asli yang mewah. Suasana terasa begitu privat di bawah pendaran cahaya temaram merah marun dari lampu-lampu dinding kristal, yang memproyeksikan bayangan remang-remang nan kaku. Di atas meja, hawa dingin dari mesin pendingin ruangan mulai mengembun tipis pada permukaan gelas-gelas kristal yang berjajar.

​Heyden Ames duduk dengan gelisah di atas sofa beludru merah yang empuk. Jemari tangannya yang gemetar bergerak mengetuk-ngetuk permukaan meja kaca secara konstan, sementara matanya yang menyiratkan kecemasan yang pekat terus mengawasi pintu masuk kayu ek hitam di ujung ruangan. Setelah seluruh sisa aset pribadinya dibekukan akibat rentetan gugatan hukum dari tim pengacara Ernest Group, pria itu kini tampak sangat terdesak, kehilangan sisa-sisa keangkuhan maskulinnya yang dulu selalu ia pamerkan di hadapan publik.

​Pintu kayu ek hitam bergeser perlahan. Kinara Inka melangkah masuk dengan gaun mini merahnya yang mencolok, memperlihatkan lekukan tubuh seksinya secara mencolok. Namun, gurat wajah cantiknya yang dilapisi riasan tebal tidak lagi memancarkan keangkuhan yang biasa; melainkan tampak sangat kusam dan lelah, menanggung sisa-sisa stres yang mendalam akibat kegagalan total sabotase siber di gedung konvensi tempo hari.

​Kinara menghempaskan tubuhnya ke atas sofa di samping Heyden, meletakkan tas jinjing mewahnya dengan sentakan kasar yang menimbulkan bunyi berdebum pelan.

​"Bagaimana situasi dengan tim pengacara ayah Kyle? Apakah mereka masih terus melacak aliran dana operasional yang kita gunakan untuk merekayasa dokumen palsu itu?"

​Kinara menggebrak meja kaca di hadapan mereka dengan kepalan tangannya yang bergetar hebat sebelum sempat merapikan posisi duduknya. "Sialan! Nadine Lavena itu benar-benar mengunci seluruh pergerakan kita melalui tim IT forensik siber milik ayahnya. Polisi siber terus mengawasi rekening pihak ketiga yang kugunakan. Kita sudah terpojok, Heyden!"

​"Kita tidak boleh menyerah sekarang, Kinara. Jika aku jatuh bangkrut dan masuk ke dalam sel tahanan, aku pastikan kamu juga akan ikut terseret atas kasus penipuan dokumen publik ini."

​Heyden memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Kinara dengan sorot mata yang dipenuhi oleh kilat keegoisan yang kejam.

​Kinara menarik napas dalam-dalam, mengembuskan napas panasnya yang beraroma mint kasar ke udara ruangan demi menguasai kepanikan yang kian mencekik dadanya. Perlahan, seulas senyuman culas yang baru mulai terukir di bibirnya yang dilapisi gincu merah tebal.

​"Tenang dulu, Heyden. Aku baru saja mendapatkan informasi dari salah satu mantan pelayan di rumah Menteng yang dipecat bulan lalu. Dia mengatakan bahwa Kyle dan Nadine tidur di kamar yang terpisah di sayap bangunan yang berbeda, dan mereka tidak pernah menunjukkan interaksi fisik layaknya suami istri saat tidak ada orang luar di rumah."

​Heyden menghentikan ketukan jarinya di atas meja kaca, mengernyitkan dahi rapat-rapat dengan binar mata culas yang mendadak kembali menyala terang. "Jadi berita tentang keharmonisan mereka di media massa murni hanya skenario akting berbayar?"

​"Tepat sekali. Pernikahan mereka seratus persen palsu dan didasarkan pada draf kontrak tertulis yang nilainya sangat fantastis." Kinara mendekatkan wajahnya, membisikkan siasat baru dengan mata yang berkilat penuh keserakan yang tak terbatas. "Jika kita tidak bisa menyebarkan salinan dokumen fisik karena diblokir oleh tim siber Nadine, kita akan menggunakan cara konvensional. Kita akan menyewa fotografer profesional tersembunyi untuk mengambil gambar suasana dalam rumah Menteng dari luar menggunakan lensa tele jarak jauh, menunjukkan dengan jelas bahwa mereka tinggal terpisah dan tidak memiliki hubungan apa pun sebagai suami istri. Kita akan menjual foto-foto eksklusif itu ke dewan komisaris Ernest Group yang beroposisi dengan ayah Kyle."

​Dua makhluk parasit yang dipenuhi rasa dendam itu saling bertukar senyuman culas di tengah keremangan kelab malam, mengira mereka telah menemukan celah kelemahan terbesar dari benteng kontrak yang dibangun oleh Nadine Lavena. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa dinamika di dalam rumah Menteng sudah mulai bergeser secara perlahan dari sekadar transaksi bisnis yang dingin, dan setiap pergerakan luar yang mencoba mengusik ketenangan rumah tersebut kini harus berhadapan langsung dengan persatuan taktik dingin dari dua kekuatan besar yang tinggal bersama di sana.

​Sinar matahari siang yang terik menembus kaca jendela besar sebuah restoran bergaya kolonial Perancis di kawasan Jakarta Pusat. Cahaya terang itu memantulkan kilau bersih yang indah pada permukaan cangkir teh porselen putih berbingkai emas di atas meja bundar.

​Nadine Lavena sedang duduk dengan anggun, mengenakan setelan blazer kerja berwarna krem yang memancarkan aura profesionalitas kelas atas yang teramat berwibawa. Di hadapannya, duduk seorang pria paruh baya dengan guratan wajah tegas namun dipenuhi oleh rona lelah yang teramat pekat Tuan Lavena, ayah kandung Nadine sekaligus pemilik perusahaan konsultan keuangan terkemuka yang kini sedang menghadapi masa transisi pasar yang cukup menantang.

​Aroma sup truffle yang gurih hangat berpadu dengan wangi roti mentega bawang yang baru matang memenuhi udara di sekitar meja makan mereka, menghadirkan atmosfer makan siang bisnis yang formal namun diselimuti kehangatan keluarga yang tulus.

​Tuan Lavena meletakkan garpu peraknya perlahan, menatap putri tunggalnya dengan sepasang mata yang memancarkan binar rasa bangga sekaligus kecemasan yang mendalam. "Bagaimana kehidupan pernikahanmu dengan putra mahkota Ernest Group itu, Nadine? Ayah melihat di berita bahwa kalian berdua tampak sangat serasi dan berhasil mengatasi serangan fitnah siber minggu lalu."

​Nadine menyesap teh earl grey-nya yang harum bergamot dengan gerakan tangan yang teramat tenang dan anggun sebelum meletakkan cangkir porselennya kembali ke atas tatakan dengan bunyi denting pelan yang konstan.

​"Semuanya berjalan sesuai dengan draf perencanaan awal yang sudah saya susun dengan Pak Kyle, Ayah. Tidak ada kendala operasional yang berarti, dan kerja sama ini memberikan stabilitas reputasi yang sangat baik bagi kedua belah pihak."

​"Ayah tahu kamu adalah wanita yang sangat logis dan kalkulatif dalam segala hal, Nadine. Tapi Kyle Ernest bukan sekadar rekan bisnis biasa; dia adalah pria yang memiliki kekuasaan besar dan karakter yang sangat dingin. Jangan sampai kamu terlalu fokus pada pasal-pasal keuntungan materi hingga melupakan bahwa sebuah pernikahan, meskipun dimulai di atas kertas, melibatkan ruang hidup yang sangat dekat."

​{Ayah tidak perlu khawatir. Ruang hidup yang dekat itu justru sedang berada di bawah kendali kalkulasi saya dengan sangat baik. Pak Kyle mungkin sedingin es utara, tapi dia cukup patuh pada draf kompensasi finansial yang saya ajukan, bahkan kami baru saja menyepakati biaya operasional tambahan untuk akting kemesraan akhir pekan kemarin.}

​"Saya mengendalikan situasi di rumah Menteng dengan tingkat profesionalitas kerja yang sangat ketat, Ayah. Anda tidak perlu mengkhawatirkan stabilitas emosional saya."

​"Baguslah kalau begitu. Oh ya, mengenai perkembangan kasus Heyden Ames... tim hukum perusahaan kita telah berhasil mengunci seluruh sisa aset jaminannya di bank rekanan. Pria itu kini benar-benar tidak memiliki kekuatan finansial lagi untuk mengusik kehidupanmu atau mencoba mendekatimu lagi."

​Nadine hanya menganggukkan kepalanya perlahan dengan raut wajah yang tetap datar, bersih dari segala riak emosi sentimental mendengar nama mantan tunangannya disebutkan.

​Bagi Nadine, Heyden Ames hanyalah sebaris angka piutang macet yang sudah dihapus sepenuhnya dari buku kas kehidupannya. Fokus utamanya saat ini adalah memaksimalkan keuntungan dari kontrak tiga tahunnya dengan Kyle Ernest, sembari memastikan bahwa tidak ada satu pun gangguan luar maupun dalam yang bisa merusak jalannya transaksi bisnis raksasa yang sedang ia jalani di bawah status sah sebagai Nyonya Ernest yang berwibawa.

​Malam itu, ruang makan utama di rumah Menteng dipenuhi keharuman daging sapi wagyu panggang mentega bawang putih yang teramat gurih, menghadirkan atmosfer kemewahan privat yang sangat eksklusif. Di atas meja makan panjang berbahan kayu mahoni, lilin-lilin perak yang menyala memancarkan cahaya kuning lembut yang bergoyang ditiup angin pendingin ruangan, memantulkan kilau mewah pada jajaran peralatan makan berlapis emas murni.

Suasana makan malam yang intim tersebut sengaja digelar karena malam ini, Kyle Ernest dan Nadine Lavena harus menjamu tamu yang sangat penting secara mendadak. Tamu itu adalah Wakil Komisaris Utama Ernest Group, Tuan Hendra paman Kyle sekaligus rival politik utama ayahnya di dalam jajaran direksi perusahaan yang terus mengincar celah untuk menjatuhkan kepemimpinan keluarga Kyle.

Tuan Hendra duduk di ujung meja kayu mahoni dengan senyuman ramah yang dipenuhi oleh kilat mata politikus senior yang tajam, terus mengawasi setiap gerak-gerik Kyle dan Nadine sejak awal hidangan pembuka disajikan dengan pandangan menilai yang kritis.

"Saya sangat senang melihat kalian berdua bisa meluangkan waktu untuk jamuan makan malam privat ini, Kyle, Nadine. Di luar sana, banyak rumor yang berembus di antara jajaran pemegang saham oposisi... mereka mengatakan bahwa pernikahan mendadak kalian hanyalah sebuah trik publisitas untuk mengamankan posisi ayahmu sebagai komisaris utama menjelang rapat umum pemegang saham bulan depan."

Kyle Ernest meletakkan pisau dagingnya dengan ketukan yang teramat tenang di atas piring porselen. Sepasang mata kelabunya yang sedingin es menatap sang paman dengan kedataran es yang mutlak, memancarkan aura intimidasi CEO yang kuat tanpa ada sedikit pun ekspresi panik atau salah tingkah.

"Rumor di lantai bursa selalu dibuat oleh orang-orang yang kekurangan pekerjaan atau mereka yang takut kalah dalam voting kepemilikan saham, Paman Hendra. Pernikahan saya dengan Nadine didasarkan pada keputusan pribadi yang matang, bukan urusan korporasi."

Nadine Lavena tersenyum dengan keanggunan yang luar biasa menawan. Dengan gerakan tangan yang teramat anggun dan terlihat alami, ia mengulurkan tangan lentiknya, meletakkannya di atas punggung tangan Kyle yang berada di atas meja kayu.

Sebuah sentuhan fisik akting tingkat tinggi yang terasa begitu hangat dan tulus di hadapan pamannya, melanggar batas draf pasal ketiga kontrak mereka secara sadar demi menghadapi ancaman musuh politik bersama.

"Tuan Hendra, sebagai seorang wanita, saya memilih Pak Kyle bukan karena posisi jabatannya di Ernest Group, melainkan karena stabilitas karakter dan komitmen nyata yang beliau tunjukkan sejak awal pertemuan kami. Jika ada pihak oposisi yang ingin meragukan validitas hubungan kami, silakan saja mereka mencoba mengajukan pemeriksaan audit reputasi kepada firma hukum pribadi saya. Saya pastikan mereka hanya akan menemukan draf kesetiaan hukum yang tanpa celah."

Kyle merasakan kehangatan dari telapak tangan Nadine yang menyentuh kulit tangannya yang dingin, mengirimkan getaran asing dan sengatan listrik emosional yang mendadak kembali bergejolak di dalam dadanya mendengar pembelaan verbal yang begitu cerdik dan tajam dari istri kontraknya itu.

Pria es itu membalikkan telapak tangannya perlahan, membalas genggaman tangan Nadine dengan remasan yang erat, hangat, dan penuh perlindungan di depan mata pamannya. Sepasang mata kelabunya berkilat tajam, menyelaraskan frekuensi akting mereka dengan presisi yang tanpa cacat.

Tuan Hendra terdiam sesaat, senyuman ramah penuh selubung penyelidikannya sedikit memudar melihat kekompakan pertahanan mental dan keharmonisan nyata tanpa canggung yang ditampilkan oleh pasangan muda di hadapannya itu. Maneuver investigasi politiknya malam itu gagal total di tangan kecerdikan kalkulatif Nadine Lavena yang berhasil membungkam seluruh keraguan dewan komisaris hanya dengan satu retorika bisnis yang dikemas dalam bentuk kemesraan seorang istri sah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!