NovelToon NovelToon
Mantan Ratu Pembunuh

Mantan Ratu Pembunuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:803
Nilai: 5
Nama Author: Joice 758

Dulu ia dipanggil Ratu Pembunuh. Kini ia hanya Laras, wanita biasa yang bersembunyi di desa terpencil.

Ia berjanji takkan pernah mengangkat senjata lagi. Namun kedatangan Dika, laki-laki yang membawa rahasia serupa, mengubah segalanya. Di antara hamparan hijau dan sungai jernih, benih cinta tumbuh di tanah yang dulu subur oleh dendam. Antara melupakan masa lalu atau kembali menjadi sosok yang ditakuti—Laras harus memilih: bertahan hidup, atau berani mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joice 758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Ancaman yang Kembali Menghampiri

Pintu kayu ditutup perlahan dengan bunyi decit halus, namun keheningan yang tersisa terasa jauh lebih menyesakkan daripada sebelumnya. Laras masih berdiri mematung di ambang pintu, matanya tak lepas menatap Dika. Kata-kata laki-laki tadi berputar kencang di kepalanya: bukan datang untuk mencariku. Artinya, mereka datang untuk mencari dia.

"Maksudmu..." suaranya serak, hampir tak terdengar. "Mereka tahu aku ada di sini?"

Dika berjalan mundur sedikit, memandang ke arah jalan setapak tempat kedua pria itu menghilang, lalu menoleh kembali ke arah Laras dengan wajah tegang. "Belum tentu tahu dengan pasti, tapi mereka sedang melacak jejak seseorang yang berharga bagi mereka. Dan caramu bersembunyi selama dua tahun ini... sepertinya mulai tidak cukup lagi."

Laras berbalik badan dengan kasar, tangannya mencengkeram pinggiran meja hingga kayu itu berderit pelan. Selama ini ia yakin telah menghapus setiap jejak, mengubah penampilan, nama, dan kebiasaan hidupnya sedemikian rupa hingga tak ada satu pun yang menghubungkannya dengan Ratu Bayangan. Namun ternyata, bayang-bayang masa lalunya masih mampu merayap hingga ke desa terpencil ini.

"Siapa sebenarnya mereka?" tanyanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih bergetar. "Prajurit kerajaan? Sisa-sisa kelompokku yang dulu mengkhianatiku?"

Dika menggeleng pelan. "Bukan keduanya. Mereka adalah pemburu jejak bayaran yang sangat terlatih. Cara mereka berdiri, cara memindai sekeliling, dan tatapan mata yang tak berkedip... aku mengenali gaya ini. Mereka bekerja untuk seseorang yang memiliki kekayaan dan kekuasaan luar biasa, seseorang yang tidak ingin berurusan secara langsung."

Ia berhenti sejenak, lalu melangkah mendekat sedikit, namun berhenti saat Laras menegakkan badannya waspada.

"Kau berhak tidak percaya padaku," ucapnya lembut namun tegas. "Tapi aku melihat luka bekas senjata di pergelangan tanganmu saat kau membuka pintu tadi. Dan aku tahu cara memegang pisau kecil yang kau sembunyikan di saku depan rokmu itu—cara yang hanya diajarkan kepada pemimpin tertinggi di dunia bayangan."

Darah Laras terasa mendidih dingin. Ia segera menyembunyikan tangannya di balik punggung, sementara pisau yang tadi ia pegang kini tergenggam erat di balik kain. "Kau mengawasiku," tuduhnya tajam.

"Aku sekadar mengamati bahaya, sama sepertimu," balas Dika tenang. "Dengar, Laras. Jika mereka benar-benar datang untukmu, kau tidak bisa lagi menghadapinya sendirian. Rumah ini tidak aman, desa ini pun perlahan tidak akan aman lagi."

Laras tertawa kecil getir, matanya berkaca-kaca namun dengan tatapan yang setajam elang. "Selama bertahun-tahun aku hidup sendirian untuk bertahan hidup. Aku meninggalkan segalanya agar tidak perlu bergantung pada siapa pun. Dan sekarang kau datang... menyusup, mengintip rahasia, lalu bilang aku butuh bantuanmu?"

"Kau tidak sedang berhadapan dengan satu atau dua orang pembunuh biasa," potong Dika cepat, nadanya kini mengeras. "Mereka adalah langkah awal. Jika mereka tidak kembali membawa kabar atau membawa targetnya, pasukan yang jauh lebih besar dan berbahaya akan datang menyusul. Apakah kau siap membiarkan penduduk desa yang tidak bersalah ini menjadi korban karena kau menolak bantuan?"

Kalimat itu menampar kesadaran Laras seketika. Ia terpaku, memikirkan warga desa yang ramah, anak-anak yang bermain di pinggir sungai, dan kedamaian yang selama ini ia nikmati dengan diam-diam. Ia bisa melawan mereka, ia bisa membunuh mereka sebelum sempat berteriak, tapi ia tak sanggup membiarkan darah tertumpah di tanah desa yang damai ini.

Angin berhembus kencang mengguncang daun-daun di luar, seolah membawa peringatan bahwa badai besar tak lama lagi akan tiba. Laras perlahan merilekskan cengkeramannya pada pisau itu, meski kewaspadaannya tak pernah hilang. Ia menatap lurus ke mata Dika, mencari kepastian di sana—meski hatinya masih penuh keraguan.

"Baiklah," ucapnya akhirnya dengan suara berat. "Tapi ingat satu hal. Jika kau berkhianat, jika kau mengantarku pada mereka... aku pastikan kau adalah orang pertama yang mati di tanganku."

Dika tersenyum tipis, kali ini tanpa menyembunyikan kekaguman yang samar. "Aku tidak berharap lain darimu, Ratu."

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!