NovelToon NovelToon
Bos Itu Mantan Pacarku

Bos Itu Mantan Pacarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Balas Dendam
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Dua tahun lalu, Tsania memilih mengakhiri hubungannya dengan Arsen, pria yang sangat ia cintai. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena sebuah rahasia pahit yang memaksanya pergi tanpa penjelasan. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup masing-masing, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

Takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyiksa.

Hari pertama bekerja di perusahaan impiannya berubah menjadi mimpi buruk ketika Tsania mengetahui bahwa CEO muda yang dingin, arogan, dan disegani semua orang adalah Arsen, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan. Kini, Arsen adalah bosnya.

Bagi Arsen, pertemuan itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk membalas rasa sakit yang selama ini ia pendam. Ia bersikap dingin, memberi tugas-tugas sulit, dan terus menguji kesabaran Tsania. Namun, di balik tatapan tajam dan sikap tak berperasaannya, masih tersimpan cinta yang tak pernah benar-benar padam.

apakah yang akan terjadi kepada mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tsania 4

Perjalanan menuju Bogor yang tersisa dilalui dalam keheningan yang mencekam. Tepat pukul sembilan pagi, SUV hitam itu memasuki kawasan resort mewah bertema alam terbuka di daerah Cisarua, tempat yang direncanakan menjadi lokasi peluncuran produk baru Pratama Group.

Hujan berganti menjadi gerimis tipis. Udara dingin khas pegunungan menusuk kulit saat Tsania melangkah keluar mobil.

"Pak Arsen, Pak Hendra dari pihak manajer resort sudah menunggu di aula utama," ujar Tsania seraya memegang payung hitam, melangkah cepat menghampiri Arsen yang baru saja keluar dari pintu penumpang.

Tsania mengarahkan payung ke atas kepala Arsen agar pria itu tidak terkena gerimis. Namun, bukannya berjalan bersama, Arsen malah menghentikan langkahnya dan melirik payung di tangan Tsania dengan tatapan meremehkan.

"Kamu pikir saya butuh dipayungi seperti anak kecil?" tegur Arsen dingin.

Tanpa menunggu jawaban, ia justru melangkah menerobos gerimis begitu saja, membiarkan bahunya basah. Tsania menghembuskan napas berat, menggigit bibir bawahnya menahan kekesalan. Sabar, Tsania. Sabar, batinnya berulang kali sebelum menyusul langkah lebar pria itu. Di dalam aula utama yang megah bertiang kayu jati, seorang pria paruh baya menyambut mereka dengan senyum sumringah.

"Selamat pagi, Pak Arsen! Selamat datang di tempat kami. Saya Hendra," panggil pria itu seraya menjabat tangan Arsen hangat.

"Pagi, Pak Hendra. Langsung saja, tunjukkan area outdoor dan panggung utamanya," potong Arsen tanpa basa-basi, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

"Oh, baik, Pak. Mari sebelah sini," ajak Pak Hendra, membawa mereka menuju area taman luas di bagian belakang resort.

Taman tersebut memiliki rumput hijau tebal yang kini agak becek akibat hujan dari subuh tadi. Di tengah taman berdiri panggung kayu semi permanen dengan pemandangan latar belakang perbukitan yang indah.

Arsen berdiri di tepi panggung, memiringkan kepalanya seolah sedang menilai sesuatu. Ia lalu menoleh pada Tsania yang berdiri beberapa langkah di belakangnya, memegang clipboard dan pulpen.

"Tsania, catat," perintah Arsen tegas.

"Baik, Pak." Tsania bersiap dengan pulpennya.

"Panggung ini terlalu rendah lima puluh sentimeter. Saya mau panggung diubah menjadi tribune bertingkat tiga. Lalu, pencahayaan di sisi kiri terlalu redup, minta mereka pasang sepuluh lampu spotlight tambahan berkekuatan 1000 watt di atas pohon-pohon pinus itu," cerocos Arsen tanpa jeda.

Pak Hendra tampak meringis kaget. "Maaf, Pak Arsen... untuk menambah spotlight di atas pohon pinus, kita butuh izin khusus dan instalasi kabelnya sangat rumit, apalagi cuaca sedang sering hujan seperti ini. Risikonya korsleting."

Arsen menatap Pak Hendra dengan pandangan dingin yang membuat pria paruh baya itu tertunduk. "Saya membayar sewa tempat ini ratusan juta, Pak Hendra. Saya tidak mau mendengar kata 'rumit' atau 'risiko'. Tugas Anda adalah mewujudkannya."

Ia kemudian kembali menatap Tsania. "Tsania, berdiri di tengah taman itu."

Tsania mendongak kaget dari clipboardnya. "Maaf, Pak?"

"Saya mau menguji sudut pandang audiens dari panggung. Berdiri di tengah rumput itu, di titik lima belas meter dari panggung. Tetap di sana sampai saya suruh bergerak."

Tsania menatap rumput taman yang basah dan sedikit berlumpur. Ia mengenakan sepatu high heels lima sentimeter bahan suede kesayangannya, sepatu yang ia beli dari gaji pertamanya dulu.

"Pak Arsen, rumputnya becek dan masih gerimis. Bisakah saya mengukurnya dari tepi lantai semen ini saja?" tawar Tsania mencoba bernegosiasi halus.

Arsen menyipitkan mata, mengikis jarak hingga hanya berjarak beberapa inci dari Tsania.

"Kamu di sini sebagai Senior Brand Strategist yang mengeksekusi lapangan, Tsania. Bukan sebagai putri raja yang takut sepatunya kotor. Atau kamu mau saya tulis di evaluasi mingguan bahwa kamu menolak perintah pimpinan?"

Mata Tsania memanas oleh kekesalan yang memuncak. Tatapan Arsen sungguh menyebalkan, pria itu dengan sengaja memanfaatkan kekuasaannya untuk membalas dendam dan mengerjainya.

"Baik, Pak Arsen yang terhormat," desis Tsania penuh penekanan.

Dengan menegakkan kepalanya, Tsania melangkah turun dari teras semen, menancapkan heels cantiknya langsung ke atas tanah dan rumput yang becek. Cring! Tumit sepatunya melesak masuk ke dalam lumpur basah, mengotori bagian bawah celana kain dan sepatunya seketika.

Tsania berjalan tegar hingga ke tengah taman, berdiri membelakangi gerimis yang makin deras. Air mulai menetes dari ujung rambutnya, membasahi pipi dan mantelnya.

"Di sini cukup, Pak?" teriak Tsania dari tengah taman, suaranya lantang menembus angin dingin.

Arsen berdiri di tepi panggung kayu, melipat kedua tangan di dada. Matanya menatap Tsania yang berdiri gemetar menahan dingin di tengah hujan. Hatinya yang keras sempat berdesir melihat tubuh mungil wanita itu basah kuyup, namun gengsi dendam kembali menguasai pikirannya.

"Bergeser dua meter ke kanan!" teriak Arsen dari panggung.

Tsania mengatupkan gigi, melangkah ke kanan. Sepatunya makin terperosok ke dalam lumpur. "Sudah?!"

"Geser tiga meter ke belakang! Saya mau lihat bagaimana tampilan maskot dari jarak jauh!" panggil Arsen lagi tanpa belas kasihan.

Pak Hendra yang berdiri di samping Arsen tampak tidak tega. "Pak Arsen... kasihan staf Bapak, gerimisnya makin lebat dan udaranya dingin sekali. Nanti beliau bisa sakit..."

"Jangan campuri urusan tim saya, Pak Hendra," potong Arsen tajam, sukses membungkam pria tua itu.

"Di sini cukup, Pak?" teriak Tsania dari tengah taman, suaranya lantang menembus angin dingin yang membawa bulir-bulir gerimis.

Di tengah taman, Tsania mencoba mundur tiga langkah. Namun, saat ia mengangkat kaki kanannya, tumit sepatunya tersangkut dalam-dalam di dalam lumpur tebal. Keseimbangannya hilang seketika.

Brak!

Tsania memekik saat tubuhnya hilang kendali dan jatuh terjerembap di atas rumput basah berlumpur. Clipboard di tangannya terlempar, kertas-kertas analisisnya terlepas, berhamburan, dan seketika basah kuyup terkena tanah hitam. Baju hangat, kemeja putih, dan celana kainnya kini kotor tertutup noda lumpur yang tebal.

Tsania meringis, telapak tangannya kotor dan perih tergores ranting kecil di tanah.

Arsen melihat kejadian itu dengan jelas. Alisnya sempat bertaut rapat, namun bukannya berlari menolong, ia justru melangkah perlahan ke tepi panggung. Pria itu menyilangkan tangannya kembali, menatap Tsania yang terduduk helpless di atas lumpur dengan tatapan yang sepenuhnya dingin dan acuh.

Pak Hendra refleks ingin berlari menolong. "Aduh, Mbak! Biar saya bantu..."

"Biarkan dia berdiri sendiri, Pak Hendra," tahan Arsen dengan suara dingin yang menusuk udara pagi yang beku.

Pak Hendra menghentikan langkahnya, menatap Arsen dengan tatapan tak percaya, lalu melirik Tsania prihatin.

Tsania mendongak. Di antara rintik gerimis yang membasahi wajahnya, ia menatap pria yang berdiri di atas panggung itu. Pria yang dulu selalu berlutut hanya untuk mengikatkan tali sepatunya, kini berdiri menjulang menatapnya jatuh di atas lumpur tanpa sedikit pun niat untuk mengulurkan tangan.

Hati Tsania hancur. Sakit di badannya tak ada apa-apanya dibandingkan rasa perih di dadanya melihat keangkuhan Arsen.

"Kenapa? Kamu menunggu saya mengambilkan kertas-kertas itu?" suara Arsen bergema datar, memotong deru angin.

"Berdiri, Tsania. Bersihkan dokumen itu. Kamu menyiakan waktu sepuluh menit hanya untuk atraksi jatuh di atas lumpur."

1
Jumi Saddah
semoga lancar deh,,tidak ada yg menggagalkan,,biar semua kembali ke tempat nya sebagai mesti nya💪💪💪arsen semangat
kymlove...
sabar nya tinggal 2 hari lagi, kalau sehari up 2 x berarti kurang 4+1 part lagi untuk menjelang malam Sabtu, kalau sehari up sekali berarti nunggu kurang 2-3 part lagi menjelang Sabtu malam... jadi harus bisa sesabar itu nunggunya aku🥲🤣
Oma Gavin
menunggu sabtu lama banget 🥺
nely_48
cinta mu begitu besar n tulus pd arsen ya tsania ☹️
nely_48
sama² terluka n hancur,,,
nely_48
semoga tsania mendengarkan curhatan mu ya arsen
nely_48
tenang tsania karna itu ada
nely_48
udh ga sabar nunggu detik² bpak nya arsen n aurelia live
nely_48
tsania km tenang, jgn histeris gtu,
nely_48
langkah yg tepat arsen,, liatt dr jauh az gpp, pastikan bpak dajjal mu itu hancur kehilangan semua harta n nama yg sll dia agung²kan
nely_48
gila bpak nya arsen jahat nya udh level dajjal
Eva Karmita
Tsania please jgn berpikir yg tidak" cukup kamu diam tenang jgn sampai membuat kesalahan dan itu bisa membuat Arsen dlm bahaya...ini demi keselamatan kamu dan Arsen 🥺
Eva Karmita
syukurlah Nia sudah mendengar semua pengakuan Arsen 🥺
Eva Karmita
bukan Arsen tidak mau mendengarkan penjelasan mu tapi kamu Nia yg ngak pernah mau menjelaskan dengan Arsen 🥺 ... kalian berdua sama"terluka dan korban ke jahat si Bisma dan keluarga Aurel, semoga kesalah pahaman ini cepat terbongkar
kymlove...
lalu kamu mau apa tsania?? pergi lagi dan berharap arsen akan tenang hidup nya?? atau mau menghalangi niat arsen untuk membongkar kejahatan bapaknya!!! trs apa lagi yang mau kamu mau?? sudah tau kalian sama2 korban kekejaman bapak nya arsen, harus nya kamu kalau bisa dukung tindakan arsen, jangan malah menghalangi dengan alasan takut arsen di hancur kan lagi, INGAT SEBELUM INI KALIAN JUGA UDAH HANCUR!! JANGAN SELALU JADI LEMAH ATAS NAMA CINTA!! CUKUP SUDAH PENDERITAAN MU INI!!
kymlove...
sabtu malam nanti segera lah tiba!! tapi ini. masih senin sore jadi kira2 kurang berapa. part lagi untuk mencapai. sabtu itu🥲 gak sabar banget. lihat para orang jahat itu hancur...
kymlove...: kayaknya kita harus sabar dulu nunggu sabtu nya kk.. soalnya sekarang masih malam selasa🤣😀
total 2 replies
Oma Gavin
kenapa menuju sabtu saja lama banget
Sri Suryati
kan Arsen nanya stania . kenapa kamu meninggalkan aku
kymlove...
kalian semua sama-sama jadi korban tapi menurut ku tsania lebih menyakitkan sampai kehilangan orang tuanya dan masih harus menerima kebencian yang mendarah daging dari keluarga arsen, jadi kalau dengan arsen menghancurkan keluarga nya dan langsung tsania maafin gitu aja, kayaknya gak terlalu adil banget buat tsania yang tersiksa terlalu lama...
gina altira
Puas kamu Arsen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!