Sinopsis
Sabrina, seorang gadis desa yang cerdas, berhasil meraih impiannya berkuliah di kampus elite ibu kota lewat jalur beasiswa.
Namun, kehidupan barunya yang tampak sempurna hancur berantakan ketika sebuah tragedi tak terduga terjadi: Sabrina nekat melompat dari lantai atas gedung kampus dan tewas seketika.
Kematian tragis tersebut menyisakan tanda tanya besar bagi orang-orang di sekitarnya. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok kampus megah itu hingga mendorong Sabrina mengambil langkah se-ekstrem itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terenggut!
Rian menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar hebat, mundur setengah langkah karena ketakutan dan rasa mual yang mendadak menyerang perutnya.
"Itu... itu kan..."
"Sabrina?!" pungkasi Adrian dengan suara tertahan yang bergetar.
Ketiga sahabat itu saling pandang, tak percaya, dengan apa yang mereka lihat. Di depan mereka tubuh Sabrina kaku dengan darah yang mengalir deras dari kepalanya yang hancur.
Lidah Rian seolah terkelu, Fano mematung dengan mata melotot lebar, sementara Adrian terus menggelengkan kepala seakan berusaha membuang pemandangan horor di hadapannya dari ingatan.
Di tengah suasana yang kian histeris dan panik, hembusan angin sore yang membawa bau amis darah terasa begitu kuat. Jeritan mahasiswa perempuan dan teriakan petugas keamanan yang berusaha menjauhkan semua dari area seolah berubah menjadi suara latar yang samar-samar.
Tak lama kemudian, terlihat Julian juga menembus kerumunan, bertanya-tanya dalam hati apa yang terjadi. Langkah tegapnya melesat mengabaikan sikut dan dorongan mahasiswa lain yang berdesakan.
Firasat asing yang teramat dingin telah mencengkeram dadanya sejak ia mendengar jeritan massal di pelataran utama.
Dia melangkah maju. Dan saat melihat Sabrina dengan tubuh bergenang darah, seketika lututnya lemas, dan dia jatuh terduduk.
Kedua lutut Julian menghantam lantai ubin tanpa ampun, namun rasa sakit di fisiknya tak sebanding dengan rasa hancur yang menghantam dadanya dalam seketika.
Napasnya langsung tertahan di tenggorokan. Matanya membelalak, menatap lurus pada sosok gadis yang dia pacari diam-diam itu.
"Sa... Sabrina?" suara Julian meluncur sangat lirih, hampir berupa bisikan parau yang kehilangan daya.
Dunia di sekitar Julian mendadak senyap total. Waktu seolah berhenti berputar.
Perempuan yang dia pacari diam-diam itu kini terbaring tanpa nyawa di depannya. Hubungan yang selama enam bulan ini sengaja disembunyikan rapat-rapat dari publik kampus.
Hanya ada jasad kaku Sabrina yang membusa darah di tengah tatapan banyaknya pasang mata.
Julian tidak mengatakan apa-apa, dia terlalu syok melihat itu. Suaranya seolah tersangkut dan mati di dasar tenggorokan.
Lidahnya kelu, napasnya memburu cepat, dan matanya membelalak kosong menatap lurus pada kemeja Sabrina yang kini memerah pekat.
Seluruh persendian tubuhnya lumpuh total. Di sekelilingnya, suasana makin tak terkendali. Raungan sirine yang melengking memecah udara sore menandakan kedatangan mobil ambulans dan beberapa unit mobil polisi.
Deru langkah sepatu boot yang berat beradu cepat dengan ubin pelataran kampus. Sampailah, polisi pun tiba di tempat kejadian.
"Mundur semuanya! Beri jalan! Sterilkan tempat kejadian perkara!" teriak seorang perwira polisi dengan nada tegas membelah keriuhan.
Petugas kepolisian berpakaian dinas bergerak cepat tempat jasad Sabrina terbaring memisahkan kerumunan mahasiswa yang panik dengan tempat kejadian perkara yang begitu berdarah.
Beberapa petugas langsung mengamankan area dari paparan kamera ponsel mahasiswa yang mencoba mengabadikan momen traumatik tersebut.
Petugas ambulans yang mengenakan sarung tangan latex putih melangkah mendekati jasad Sabrina, berlutut untuk mulai melakukan pemeriksaan awal dan mendokumentasikan posisi jatuhnya korban dari ketinggian lantai paling atas.
"Siapa yang pertama kali melihat kejadian? Siapa saksi utamanya?" tanya seorang penyidik polisi berpangkat Inspektur, matanya mengedarkan pandangan tajam ke arah kerumunan yang gemetar.
Julian masih terduduk kaku di atas tanah, tak mempedulikan celananya yang mulai ternoda debu. Tatapannya terkunci mati pada kantong mayat berwarna oranye yang kini perlahan dibuka oleh petugas untuk menutupi tubuh Sabrina.
Pintu belakang mobil ambulans berwarna putih itu ditutup dengan dentuman keras yang bergema di seluruh pelataran. Sirene daruratnya mendungkal-dungkal, membelah lautan mahasiswa yang berdiri mematung dalam histeria dan keheningan yang mencekam.
Perlahan, kendaraan itu bergerak membelah kerumunan, membawa pergi jasad Sabrina beserta seluruh rahasia kelam yang dibawanya hingga embusan napas terakhir.
Mobil itu kian menjauh, meninggalkan kilatan lampu sirine merah-biru yang memantul di kaca-kaca gedung tinggi Universitas Artha Persada, sebelum akhirnya menghilang di balik gerbang utama kampus.
****
"Papa dengar di kampus kamu ada yang melompat bunuh diri," tanya Pramudiya, ayah Julian, seorang pengusaha berpengaruh sekaligus salah satu donatur terbesar di universitas itu, saat Julian baru masuk kedalam rumah.
Suara beratnya terdengar santai dari sambil memencet remot televisi menganti siarannya yang di tontonnya malam itu. Bagi Pramudiya, kabar itu tak lebih dari sekelumit kekacauan kecil yang berpotensi merusak nama baik kampus tempat ia menanamkan banyak modal.
"I... Iya, Pa," sahut Julian dengan pandangan yang masih redup.
Suaranya terputus-putus dan lirih, hampir tak bertenaga. Pria muda yang biasanya tampil percaya diri itu kini berdiri dengan bahu terkulai di hadapan sang ayah.
Bayang-bayang Sabrina tadi masih berputar hebat di matanya, seperti rekaman maut yang diputar berulang-ulang tanpa henti.
Setiap kali Julian memejamkan mata, bayangan itu kembali menghantam benaknya, genangan darah segar berwarna merah pekat yang mengalir dari kepalanya yang hancur karena telah melompat dari lantai paling atas gedung bertingkat 12 itu.
Bau amis yang membeku di udara sore, kertas-kertas modul yang ternoda merah, serta rupa Sabrina yang tak lagi utuh di atas ubin dingin terus mencengkeram pikirannya hingga membuatnya mual.
Pramudiya mematikan layar televisi dengan satu ketukan jari. Suasana ruang tamu yang megah dan hening itu seketika dihinggapi ketegangan yang menekan.
Pria paruh baya itu memutar tubuhnya perlahan, menyandarkan punggung ke sofa kulit mahal, lalu melemparkan pandangan tajam persis seperti seorang hakim yang sedang menginterogasi terdakwa.
"Kamu tidak ada kaitannya dengan kejadian ini, kan?" pangkasi Pramudiya dengan nada dingin yang menuntut kejujuran mutlak.
Pertanyaan itu meluncur bak sembilu tajam yang langsung menghujam jantung Julian. Udara di sekitarnya seolah mendadak mengkristal, menyisakan sesak luar biasa di dalam rongga dadanya.
Julian mematung di tempatnya berdiri. Lidahnya mendadak mati rasa. Suara deru napasnya sendiri terdengar begitu keras dan tidak beraturan di dalam telinganya.
Di dalam benaknya, kilasan ingatan selama enam bulan terakhir meledak secara bersamaan.
Bayangan saat ia pertama kali menggenggam jemari Sabrina secara sembunyi-sembunyi di dalam mobil, janji-janji manis yang diucapkannya demi memikat hati mahasiswi polos itu, hingga pertemuan-pertemuan rahasia mereka di luar jangkauan publik kampus.
Ia tahu betul tabiat ayahnya. Bagi Pramudiya, reputasi keluarga dan status sosial adalah segalanya. Mengetahui anak tunggalnya menjalin hubungan rahasia dengan mahasiswi penerima beasiswa dari keluarga biasa, terlebih lagi sampai terlibat dalam tragedi berdarah ini, akan menjadi bencana besar yang tak terampuni.
"Julian. Papa tanya sama kamu," tekan Pramudiya lagi, kini dengan alis yang terangkat tinggi dan tatapan yang makin mengintimidasi.
"Kenapa kamu diam saja? Kamu kenal dengan mahasiswi itu?"
Julian mengepalkan kedua tangannya erat-erat di samping tubuh. Ia berusaha keras menelan ludahnya yang terasa sepahit racun.
Dengan sisa-sisa tenaga dan keberanian yang hancur berkeping-keping, ia memaksa dirinya untuk mendongak tipis, menatap ayahnya tanpa keberanian penuh.
"N...nggak, Pa... Julian nggak kenal," Ucap Julian dengan suara bergetar yang dipaksakan terdengar mantap.
Kebohongan itu meluncur begitu saja dari bibirnya.
Pramudiya mengamati wajah anaknya selama beberapa detik yang terasa bagai keabadian bagi Julian. Setelah penantian yang mendebarkan, Pramudiya akhirnya menghela napas pendek dan mengangguk-angguk pelan, seolah menerima alasan tersebut.
"Bagus kalau begitu," ujar Pramudiya seraya kembali menyandarkan tubuhnya.
"Papa cuma tidak mau nama baik keluarga kita terseret. Besok Papa akan minta rektorat untuk mempercepat penanganan kasus ini agar berita di media tidak makin liar. Kamu mandi, lalu istirahat."
"I...iya, Pa..." sahut Julian.
Dengan langkah yang menyeret dan lutut yang masih gemetar hebat, Julian berjalan meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya di lantai atas.
Saat ia menutup pintu kamar dan menyenderkan tubuhnya di sana, Julian akhirnya luruh ke lantai. Kebohongan yang baru saja ia lontarkan kepada ayahnya terasa bagai pengkhianatan terbesar bagi jasad Sabrina yang kini terbaring dingin di ruang jenazah.
Pria muda itu mencengkeram rambutnya sendiri, ditelan oleh ketakutan mendalam yang kini resmi menjadi hantu dalam hidupnya.
*****
🥰 Untuk Para Pembaca Tersayang 🥰
Terima kasih banyak atas dukungan kalian untuk karya aku. Setiap vote, komentar, dan waktu yang kalian luangkan untuk membaca benar-benar menjadi semangat bagi aku untuk terus berkarya.
Sebagai bentuk rasa terima kasih, saat novel ini tamat nanti, aku berencana mengadakan giveaway 50.000 untuk satu pembaca acak ya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan komen ya. Jangan lupa juga, like dan vote
Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan cerita-ceritaku. Semoga kalian terus menikmati setiap bab hingga akhir.