NovelToon NovelToon
Sistem Bakat: Dari Pengangguran Menjadi Raja Bisnis

Sistem Bakat: Dari Pengangguran Menjadi Raja Bisnis

Status: tamat
Genre:System / Balas dendam. / Perubahan Hidup / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid

"Raka Pradana, pengangguran dengan uang pas-pasan, tiba-tiba mendapatkan Sistem Arsitek Talenta—kemampuan melihat potensi tersembunyi yang dibuang perusahaan besar.

Syaratnya: dirikan perusahaan legal, bayar karyawan layak, ubah bakat menjadi keuntungan. Dari pabrik kasur kecil di Cikarang, ia membangun PT Arunika Karya Nusantara menjadi jaringan bisnis raksasa.
Konglomerat lama panik dan melancarkan fitnah, perang harga, hingga sabotase ekspor. Namun setiap serangan justru membuka kekuatan baru. Ketika Arunika ekspansi ke Kuala Lumpur, musuh menawarkan harga yang bisa membuatnya kaya seumur hidup.

Dua pilihan: menjual semua orang yang percaya padanya, atau gunakan bakat yang dulu diremehkan untuk menumbangkan imperium. Kali ini, sistem tak akan memilihkan jawabannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Pagi itu, Reza tidak ikut masuk ke ruang pemeriksaan.

Ia berdiri di koridor Disperindag DKI Jakarta dengan map hitam di tangan, wajahnya kaku seperti orang yang dipaksa menonton pertandingan dari luar lapangan. Raka tidak memarahinya. Justru itu yang membuat Reza lebih tidak nyaman.

"Kamu masuk kalau diminta," kata Raka sebelum pintu dibuka. "Hari ini bukan panggung strategi."

"Saya penanggung jawab Saga."

"Benar. Maka jangan ubah pemeriksaan jadi debat ego."

Reza menutup mulutnya.

Nadia membawa map hukum. Yusuf membawa laptop dan dua hard disk cadangan. Raka membawa satu tas berisi dokumen cetak, adalah karena angka yang dicetak di atas kertas terasa lebih berat ketika harus dipertanggungjawabkan.

Bu Lestari Handayani menunggu di ujung meja. Rambutnya diikat rapi, kacamata tipis, suara datar. Di belakangnya ada dua staf yang membuka formulir pemeriksaan.

"PT Akar Karya Nusantara?" tanyanya.

"Benar, Bu," jawab Raka.

"Silakan duduk. Saya tidak membutuhkan presentasi pemasaran. Saya membutuhkan data yang bisa diperiksa."

Kalimat pertama itu langsung memotong semua kemungkinan basa-basi.

Yusuf membuka laptop. Nadia menyerahkan daftar dokumen dan keterangan data pribadi yang sudah disamarkan. Bu Lestari membaca tanpa ekspresi.

"Penjualan resmi."

Yusuf menampilkan tabel mentah. Bukan grafik cantik. Bukan slide berwarna. Baris transaksi muncul satu per satu: waktu pembelian, kanal resmi, jumlah pack, status refund, lokasi toko mitra, dan tanda data pribadi yang sudah dihapus.

Salah satu staf mengangkat alis. "Ini semua transaksi?"

"Ya," kata Yusuf. "Kami juga membawa hash arsip sebelum dan sesudah pembersihan data pribadi. Kalau perlu, pemeriksaan lanjutan bisa dilakukan dengan prosedur resmi."

Bu Lestari tidak memuji. Ia hanya mencatat.

"Refund."

Yusuf membuka lembar kedua. Jumlah refund resmi tidak kecil. Raka tahu angka itu akan melukai wajah perusahaan. Tetapi ia tidak mengizinkan Yusuf menyembunyikannya di balik persentase manis.

"Kami buka refund window untuk pembelian resmi yang belum dibuka, terutama jika wali membeli untuk anak atau merasa tidak memahami mekanisme," kata Raka.

"Kenapa tidak semua pembelian?" tanya Bu Lestari.

Nadia menjawab, "Untuk pack yang sudah dibuka, kondisi barang dan distribusi kartu tidak lagi bisa diverifikasi. Tetapi kami membuat kanal pengaduan kasus khusus. Keputusan refund tambahan dicatat per alasan, bukan otomatis ditolak."

Bu Lestari menatap Raka. "Anda sadar fixed price dan refund tidak menghapus masalah desain yang memancing rasa takut kehabisan?"

"Sadar, Bu."

"Jadi jangan jawab saya seolah-olah harga resmi adalah obat semua penyakit."

"Tidak akan."

Ruangan terasa makin dingin. Raka bisa merasakan keringat di punggungnya. Ini bukan musuh bisnis yang bisa dipukul dengan bukti viral. Ini negara dengan buku catatan, dan setiap kalimat bisa menjadi kewajiban.

Bu Lestari masuk ke inti.

"Probability card."

Yusuf menampilkan rancangan halaman informasi peluang kartu. Persentase muncul jelas, bukan ditaruh di ujung halaman abu-abu.

"Sebelumnya ini tidak ada?"

"Belum ada, Bu," kata Raka.

"Kenapa?"

Reza seharusnya ada di sana untuk menjawab, tetapi Raka tidak melempar beban ke koridor.

"Karena kami salah mengira pemain akan melihat Saga terutama sebagai permainan strategi, bukan sebagai pembelian acak. Kami terlambat membaca bahwa iklan dan kelangkaan membuat orang fokus pada rare card."

Pena Bu Lestari berhenti.

"Kalimat itu saya catat."

"Silakan."

Nadia melirik Raka, seolah memastikan ia sadar ucapannya bukan kalimat ringan. Raka sadar. Justru karena sadar, ia mengucapkannya lurus.

Bu Lestari melanjutkan ke usia pengguna, batas belanja bulanan, iklan yang dihentikan, dan kanal distribusi. Setiap poin ditanya sampai ujung.

"Di iklan ini, kenapa kartu rare muncul dengan kilau emas?"

"Itu keputusan visual kami," jawab Raka. "Sudah dihentikan."

"Dihentikan sementara atau permanen?"

Naya file revisinya ada. Nadia membuka pedoman visual baru.

"Untuk konten anak dan remaja, tampilan jackpot, hitungan mundur yang memicu panic buying, dan klaim langka berlebihan dilarang. Konten komunitas boleh menunjukkan kartu, tetapi tidak memakai framing hadiah uang."

Bu Lestari membaca tiga halaman tanpa bicara.

Di luar ruangan, Reza menatap pintu kaca. Dimas yang menunggu bersamanya beberapa kali ingin bercanda, tetapi gagal. Bima datang membawa kopi dari mesin otomatis.

"Minum."

"Saya tidak perlu."

"Justru karena kamu perlu, kamu bilang tidak."

Reza mengambil gelas itu dengan wajah kesal.

Di dalam, Yusuf membuka data yang paling jelek: refund berdasarkan keluhan orang tua. Ada kalimat-kalimat yang menyakitkan.

Anak saya menangis karena merasa tertinggal.

Saya tidak mengerti ini random.

Toko menjual di atas harga.

Raka membaca ulang dari layar. Setiap kalimat seperti paku kecil.

Bu Lestari bertanya, "Kenapa Anda tidak hanya menyalahkan calo?"

"Karena calo muncul di celah yang kami biarkan," jawab Raka.

"Bagus kalau Anda paham. Tapi paham tidak berarti bebas."

"Saya tidak meminta bebas, Bu. Saya meminta jalur untuk memperbaiki dan menjual lagi setelah bisa diperiksa."

Itu tujuan sebenarnya. Bukan mencari pernyataan bahwa AKN suci. Bukan membuat Bu Lestari memuji mereka di depan media. Raka hanya butuh jalan yang jelas: apa yang harus diperbaiki, kapan boleh diuji, dan dokumen apa yang harus tersedia.

Menjelang akhir, Bu Lestari meminta penanggung jawab strategi masuk.

Reza masuk tanpa senyum. Untuk ukuran dirinya, ia terlihat seperti baru kehilangan separuh senjata.

"Anda yang merancang kampanye awal?" tanya Bu Lestari.

"Saya menyusun strategi pertumbuhan dan komunitas."

"Jawab langsung."

Reza menelan. "Ya, Bu."

"Apakah Anda melihat risiko pembelian acak oleh anak?"

"Saya melihatnya terlalu kecil."

"Kenapa?"

Reza diam beberapa detik. Raka tidak membantunya.

"Karena saya melihat engagement sebagai sinyal sehat. Saya terlalu fokus pada angka antrean, harga pasar, dan pembicaraan komunitas. Saya tidak cukup melihat tekanan pada pemain yang merasa tertinggal."

Bu Lestari menatapnya lama. "Kalau Anda menjawab dengan bahasa iklan, saya hentikan."

"Saya mengerti."

"Turnamen?"

Reza membuka proposal baru. Tidak ada hadiah uang tunai. Tidak ada biaya masuk wajib. Basic set non-random menjadi standar. Hadiah berupa merchandise bernilai rendah dan poin komunitas, bukan uang atau kartu langka acak. Anak di bawah umur harus memakai persetujuan wali untuk akun kompetitif.

"Kami ingin mendorong strategi, bukan perburuan rare," kata Reza.

"Itu kalimat bagus," ujar Bu Lestari. "Nanti saya periksa apakah sistemnya sesuai."

Reza menutup mulut. Ia hampir berkata sesuatu, tetapi berhenti. Untuk pertama kalinya, Raka melihat Reza menelan kalimat tajam demi hasil.

Satu jam kemudian, Bu Lestari mengeluarkan surat hasil awal. AKN tidak dinyatakan bersih. Tidak ada kalimat yang bisa dijadikan poster kemenangan.

Tetapi ada jalur.

Saga boleh mengajukan pemulihan penjualan terbatas setelah tujuh hari jika refund berjalan, probability card tampil, iklan berisiko ditarik, basic set siap, dan kanal komplain bisa diuji. Disperindag berhak melakukan pemeriksaan ulang.

Di luar gedung, beberapa akun media sudah menunggu. Salah satu reporter bertanya keras, "Apakah Disperindag menyatakan Saga aman?"

Raka berhenti.

"Tidak. Disperindag memberi daftar perbaikan yang bisa diperiksa. Kami akan menyelesaikannya."

"Jadi AKN bersalah?"

"AKN bertanggung jawab atas produknya."

Jawaban itu tidak indah. Tetapi tidak ada celah untuk dipotong menjadi kebohongan.

Sore hari, di kantor, tim menunggu hasil seperti menunggu vonis. Ketika Raka membacakan jalur pemulihan tujuh hari, ruangan mengeluarkan napas bersama.

Dimas mengangkat tangan. "Jadi kita tidak mati?"

"Belum," kata Nadia.

Bima menambahkan, "Dan kalau malas, bisa mati minggu depan."

Tawa pecah, kecil tapi hidup.

Yusuf tidak tertawa. Ia meletakkan tas kertas di meja rapat dan mengeluarkan sepuluh pack Saga.

"Ini bukan dari gudang kita."

Reza langsung berdiri. "Dari mana?"

"Tiga marketplace, dua toko kecil, satu penjual dekat sekolah. Semua dijual saat official channel masih berhenti."

Farhan, yang baru kembali dari lapangan, menyusun kartu di meja. Tidak ada kode batch. Warna sedikit pudar. Logo hampir benar. Untuk pembeli biasa, cukup mirip.

"Pak, banyak orang kira ini stok resmi bocor," kata Farhan.

Reza mengambil satu kartu dan mengusap tepinya. Matanya menyipit.

"Potongannya..."

Ia mengambil kartu asli dari laci, membandingkan sudutnya, lalu melihat pola serat kertas di bawah lampu meja.

"Ini mirip hasil mesin pabrik luar yang pernah dipakai Titan untuk mockup."

Nadia langsung berkata, "Jangan ucapkan itu di luar ruangan."

Reza menatapnya. "Saya bilang mirip."

"Dan kata mirip bisa berubah jadi gugatan kalau kamu mengatakannya dengan logo perusahaan di belakangmu."

Raka memandang sepuluh sampel palsu yang berbaris seperti ejekan.

Regulator baru saja memberi jalan untuk kembali.

Pasar palsu sudah menunggu di pintu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!