elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22
Kho Cheng An Tahu
Kata Oke tetap berada di layar sampai ojek online Nan Shin tiba di depan rumah.
Tidak ada pertanyaan tentang bagaimana pertemuan berlangsung. Tidak ada telepon. Tidak ada kalimat tunggu aku pulang.
Di Cluster Verona, Yi Chen sedang menyusun balok di lantai ruang keluarga. Begitu melihat ibunya, ia mengangkat satu bangunan miring.
“Mama, ini rumah.”
Nan Shin duduk di sampingnya meski pakaian bagian bahu masih basah oleh hujan.
“Bagus. Pintunya mana?”
Yi Chen menunjuk celah kecil. “Mama masuk sini.”
Balok itu terlalu sempit untuk jari Nan Shin. Ia pura-pura mengetuk dan membuat Yi Chen tertawa.
Yi Ming datang membawa handuk. “Mama basah.”
“Payungnya bocor sedikit.”
“Aku ambilkan baju.”
“Nggak usah. Mama bisa.”
Namun Yi Ming sudah berlari naik. Nan Shin menatap kedua anaknya dan bertanya-tanya sejak kapan perhatian paling cepat di rumah itu selalu datang dari mereka.
Cheng An baru pulang setelah pukul sembilan. Ia meletakkan tas kerja, mencuci tangan, lalu membuka lemari makanan tanpa melihat siapa pun.
Nan Shin menunggu sampai anak-anak masuk kamar.
“Kamu baca pesanku?”
“Iya.”
“Itu saja?”
Cheng An mengambil air minum. “Aku sedang di rapat waktu kamu kirim.”
“Sekarang sudah tidak rapat.”
Ia menutup pintu kulkas. “Apa yang kamu mau aku katakan?”
Nan Shin meletakkan paket HRD di meja makan. “Baca. Mereka menghentikan kontrak dua minggu lagi. Rp 45 juta itu belum memasukkan masa kerja seperti yang seharusnya.”
Cheng An membuka halaman pertama, melewati lampiran, lalu berhenti pada total.
“Mereka sudah kasih waktu meninjau?”
“Tiga hari. Saya sudah ajukan keberatan. Ditolak.”
“Kamu bicara baik-baik?”
Nan Shin merasa seolah ada benda tajam menyentuh kulitnya. “Maksudmu?”
“Jangan salah paham. Aku cuma tanya apakah kamu membuat suasana tegang. Kita bekerja di rumah sakit yang sama.”
“Aku kehilangan pekerjaan. Yang kamu khawatirkan suasana?”
“Namaku sedang dinilai untuk posisi pimpinan. Kalau ada perselisihan besar dengan HRD, orang bisa menghubungkannya.”
“Jadi aku harus menerima angka apa pun supaya reputasimu aman?”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Lalu apa?”
Cheng An membalik halaman terakhir. “Kalau keputusan berhenti sudah final dan tidak tanda tangan juga tidak membuatmu tinggal, apa gunanya memperpanjang masalah?”
“Gunanya supaya dua belas tahunku tidak dihapus.”
“Tidak ada yang menghapus. Kamu tetap punya pengalaman.”
“Pengalaman tidak membayar kebutuhan bulan depan.”
“Aku masih bekerja.”
Nan Shin menatapnya. “Selama ini kita membayar rumah dengan dua penghasilan.”
“Kita bisa menyesuaikan.”
“Bagaimana?”
“Kurangi pengeluaran.”
“Pengeluaran siapa?”
“Kita tunda hal yang tidak penting,” kata Cheng An.
“Les yang Mama daftarkan termasuk tidak penting?”
“Kita bicarakan lagi.”
“Cicilan, sekolah, dan kebutuhan dapur tidak bisa ditunda. Saya perlu angka, bukan kata nanti.”
“Kita hitung akhir pekan,” kata Cheng An.
“Saya mau waktu yang pasti.”
Cheng An terdiam.
Nan Shin membuka buku catatan kecil yang dibawanya dari kamar. Bukan buku biru, hanya salinan perhitungan agar sampul asli tetap tersembunyi.
“Sekolah dan kebutuhan anak tidak hilang. Cicilan tidak hilang. Biaya rumah tidak hilang. Kalau saya berhenti, siapa mengganti bagian ini?”
“Aku bilang kita atur.”
“Aku meminta rencana, bukan kalimat.”
Nada suara Cheng An mulai naik. “Aku baru selesai rangkaian presentasi dan operasi. Aku juga capek.”
“Aku juga baru diberhentikan.”
Keheningan jatuh di meja makan.
Ibu Kho membuka pintu kamar, melihat mereka, lalu menutupnya lagi. Untuk sekali itu ia tidak ikut campur.
Cheng An duduk dan memijat kening. “Begini juga bagus, kamu bisa lebih urus rumah.”
Nan Shin tidak langsung memahami kalimat itu.
“Bagus?”
“Maksudku, ada sisi baiknya. Kamu tidak perlu shift malam. Anak-anak lebih terurus. Mama juga tidak terlalu capek.”
“Lalu aku?”
“Kamu bisa istirahat dulu.”
“Dengan mengurus seluruh rumah?”
“Jangan dipelintir.”
“Aku bertanya. Di mana bagian istirahatnya?”
Cheng An mendorong paket HRD kembali kepadanya. “Kita tidak akan menyelesaikan apa pun kalau kamu terus mencari hal yang salah dari setiap kalimat.”
“Karena setiap kalimatmu menjelaskan hidup semua orang kecuali hidupku.”
Wajah suaminya mengeras. “Kalau kamu ingin bekerja lagi, nanti cari pekerjaan lain. Tidak harus sekarang.”
“Usiaku tiga puluh tujuh. Rumah sakit baru memasang batas usia. Pengalamanku dianggap mahal. Aku tidak bisa menganggapnya mudah.”
“Belum dicoba sudah menyerah.”
Nan Shin hampir tidak percaya. “Aku yang menyerah?”
Ia membuka kembali paket HRD pada halaman lampiran. “Kamu bahkan belum membaca semuanya.”
“Aku bukan orang HRD.”
“Kamu dokter. Kamu tidak akan meminta pasien menandatangani persetujuan tindakan tanpa membaca risiko.”
“Itu beda.”
“Kenapa? Karena ini pekerjaanku?”
Cheng An menarik kursi, tetapi tidak duduk. “Apa yang sebenarnya kamu minta dariku?”
“Lihat dokumennya. Bantu aku menghitung dampaknya. Kalau perlu, temani aku meminta penjelasan karena kita bekerja di institusi yang sama.”
“Aku tidak bisa ikut menekan HRD saat proses promosiku belum resmi.”
“Aku tidak minta kamu menekan. Aku minta kamu berdiri di sampingku.”
“Orang tidak akan melihatnya sesederhana itu.”
Nan Shin mengangguk pelan. Akhirnya ada jawaban yang jujur. “Jadi kamu memilih menjaga jarak.”
“Aku menjaga agar masalah ini tidak merusak kita berdua.”
“Masalah ini sudah merusak aku.”
Cheng An menatapnya, lalu memalingkan wajah.
Nan Shin menulis tiga angka di kertas: penghasilan bulanan yang hilang, kebutuhan tetap keluarga, dan Rp 45 juta yang ditawarkan.
“Kalau aku belum dapat pekerjaan setelah tiga bulan, apa rencanamu?”
“Kita pakai tabungan.”
“Tabungan bersama tidak cukup lama.”
“Aku akan tambah shift operasi.”
“Lalu waktu untuk anak berkurang lagi, dan aku mengambil semuanya di rumah.”
“Memangnya salah kalau sementara begitu?”
“Sementara tanpa batas selalu berubah menjadi kewajiban tetap untukku.”
Cheng An mengambil tas kerja. “Aku mandi dulu. Besok kita bicara kalau sudah tenang.”
Ia pergi meninggalkan dokumen di meja.
Nan Shin duduk lama. Air dari ujung rambutnya menetes ke kerah. Ponsel Cheng An yang tertinggal sebentar di meja menyala karena pesan dari grup kerja. Di layar terkunci muncul ucapan selamat atas presentasi yang sukses.
Dua karier berada di rumah yang sama malam itu.
Yang satu sedang didorong naik oleh semua orang.
Yang satu disuruh melihat kehilangan sebagai kesempatan mengurus rumah.
Setelah lampu ruang keluarga padam, Nan Shin masuk ke kamar dan membuka laci dokumen keluarga. Di bawah akta kelahiran anak-anak dan salinan kartu keluarga, tersimpan kutipan akta perkawinan mereka.
Kertasnya masih bersih. Nama Nan Shin Sim dan Cheng An Kho tercetak berdampingan, diikuti tanggal ketika mereka berjanji membangun hidup bersama.
Alamat yang tercantum masih rumah kontrakan pertama. Tidak ada gelar jabatan, tidak ada kolom yang mengatakan pekerjaan siapa lebih penting, dan tidak ada keterangan bahwa satu orang kelak harus mengecil agar yang lain bisa terus naik.
Dulu, kedua nama itu tampak sepenuhnya setara.
Ia memegang dokumen itu begitu lama sampai ujung jarinya meninggalkan bekas lembap.