Bagi dunia, Hades Sterling adalah pengusaha kejam yang tak tersentuh. Namun bagi Persephone Sinclair, dia adalah suami posesif yang memanggilnya "Ma chérie". Percy suka petualangan dan kegilaan keliling dunia, sementara Hades suka membiarkannya bebas, dalam pengawasan ratusan pengawal bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Suara pecahan kaca yang berderak nyaring akhirnya mereda, digantikan oleh isak tangis tertahan yang menggema di setiap sudut kamar mewah bernuansa Mediterania itu. Percy duduk bersimpuh di tengah hamparan puing-puing kaca dan benda-benda pecah belah yang berserakan di atas lantai marmer dingin. Gaun sutranya ternoda debu, sementara telapak tangannya bahkan tergores kecil, mengeluarkan darah tipis yang menyatu dengan air matanya.
Namun, rasa sakit fisik itu sama sekali tidak sebanding dengan hancurnya harga diri di dalam dadanya. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa permainan konyol yang selalu ia menangkan kini berbalik menghantamnya dengan telak. Singa itu tidak lagi sekadar memperingatkannya Hades benar-benar menunjukkan taringnya tanpa ampun.
Di luar pintu kamar, para pengawal dan pelayan yang mendengar suara keributan hebat di dalam sempat bergeming ketakutan, namun tidak ada seorang pun yang berani mendekat atau membuka pintu tanpa perintah langsung dari sang tuan besar. Mereka tahu betul akibat fatal dari mencampuri urusan privasi Hades Sterling.
Sementara itu, jauh di lantai bawah villa, Hades berdiri di dekat dinding kaca besar yang menghadap langsung ke Laut Mediterania yang gelap gulita. Pria berdarah Yunani-Italia itu menyesap segelas bourbon dingin, rahangnya mengeras sempurna. Suara pecahan kaca dari lantai atas sempat terdengar samar-samar di telinganya, namun ia tidak berniat untuk kembali naik atau menenangkan istrinya.
Hades tahu betul psikologi Percy. Burung kecilnya sedang memberontak, marah, dan frustrasi karena sayapnya dipatahkan secara paksa malam ini. Biarlah Percy menghabiskan seluruh air matanya dan melampiaskan amarahnya malam ini esok pagi, wanita itu akan mengerti bahwa tidak ada tempat berlari selain kembali ke dalam dekapannya.
Ponsel di atas meja bar berdering pelan. Dionisos Volkov menyambungkan panggilan tersebut dengan suara hati-hati.
"Tuan," lapor suara dari ujung telepon, kepala keamanan hotel di Zurich tempat Iris Montgomery menginap. "Nona Montgomery baru saja keluar dari kamarnya menuju lobi utama, berniat menyebar lebih banyak foto ke media pagi ini."
Hades mendengus dingin. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang mengerikan.
"Bagus," balas Hades dengan suara baritonnya yang rendah dan mematikan. "Biarkan dia melangkah lebih jauh. Biarkan dia menikmati detik-detik terakhir dari ilusi kebebasannya. Besok, setelah aku membawa istriku kembali ke New York, kita akhiri permainan murah ini selamanya."
Malam di atas tebing Santorini terus merayap dalam keheningan yang mencekam, memisahkan dua jiwa yang sama-sama dikuasai oleh amarah, obsesi, dan luka yang belum kering.
Fajar menyingsing di atas tebing Santorini, memancarkan bias cahaya keemasan yang memantul di permukaan Laut Mediterania. Namun, keindahan alam tersebut tidak mampu menghapus sisa-sisa ketegangan dan kedinginan yang masih menyelimuti villa mewah keluarga Sterling.
Di dalam kamar utama di lantai atas, suasana tampak begitu sunyi. Puing-puing pecahan barang yang dihancurkan Percy semalam masih berserakan di atas lantai marmer, menjadi saksi bisu atas badai emosi yang meledak hebat beberapa jam lalu. Di sudut ruangan, Percy meringkuk di atas sofa beludru dengan lutut ditekuk ke dada. Matanya bengkak dan sembab akibat menangis sepanjang malam, sementara gaun sutranya tampak kusut dan kusam. Tidak ada lagi sisa kilat keangkuhan di mata ambernya yang tersisa hanya kelelahan yang teramat sangat.
Pintu kamar terbuka perlahan.
Hades Sterling melangkah masuk dengan setelan jas hitam yang sudah kembali melekat sempurna di tubuh atletisnya. Pria itu menatap sekilas ke arah lantai yang dipenuhi pecahan kaca, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Percy yang duduk meringkuk tanpa menatapnya.
Tidak ada sepatah kata pun yang diucapkan Hades. Pria itu berjalan mendekat, membungkuk, lalu mengangkat tubuh mungil istrinya dalam gendongan tanpa memedulikan rontaan lemah atau kebisuan Percy.
"Kita pulang, Ma chérie," bisik Hades dingin namun datar di dekat telinga istrinya.
Percy tidak melawan. Ia membiarkan dirinya dibawa keluar dari villa, menuruni tangga, hingga masuk ke dalam mobil SUV hitam yang telah menanti di halaman. Tyche Vance, yang sudah menunggu di mobil terpisah dengan wajah pucat dan penyesalan mendalam, hanya bisa menunduk dalam-dalam saat melihat konvoi kendaraan tersebut mulai bergerak meninggalkan villa menuju bandara privat.
Beberapa jam kemudian, jet pribadi keluarga Sterling mendarat dengan mulus di landasan pacu khusus bandara Manhattan. Suasana New York menyambut mereka dengan langit kelabu yang mendung, seolah merefleksikan suasana hati di dalam kabin kendaraan mewah yang membawa mereka kembali ke mansion utama.
Begitu mobil berhenti di depan lobi marmer, Hades membawa Percy langsung masuk ke dalam mansion. Para pelayan menunduk hormat dalam keheningan total, tidak berani mengangkat wajah atau mengeluarkan suara sedikit pun.
Hades membawa istrinya langsung ke kamar tidur utama, menurunkan Percy perlahan di atas tempat tidur king size yang bersih. Pria itu merapikan helai rambut chesnut brown yang menutupi wajah kusam istrinya sejenak, sebelum berdiri tegak dan merapikan manset jasnya.
"Istirahatlah di sini," ucap Hades dengan suara baritonnya yang tegas. "Aku harus pergi menyelesaikan urusan terakhir di luar. Pintu kamar ini tidak akan dikunci, tetapi ingatlah baik-baik batasmu, Percy. Jangan pernah mencoba menguji kesabaranku lagi."
Setelah melontarkan peringatan mutlak itu, Hades berbalik dan melangkah keluar kamar, meninggalkan Percy seorang diri di dalam sangkar emas yang kembali merapat sempurna.
Sementara itu, di sebuah hotel mewah di Zurich, Swiss, permainan catur yang dirajut oleh obsesi bodoh akhirnya mencapai babak akhir.
Iris Montgomery berdiri di dekat jendela kamar hotelnya dengan senyuman penuh kemenangan palsu. Ia baru saja mengirimkan beberapa foto candid dirinya di lobi hotel kepada beberapa media gosip, bersiap untuk melancarkan serangan publik terakhirnya terhadap keluarga Sterling.
Namun, sebelum jemarinya sempat menekan tombol kirim, pintu kamar hotelnya digedor dengan keras dari luar.
Brak!
Tanpa menunggu izin, Dionisos Volkov bersama empat orang agen keamanan internasional berbadan tegap merangsek masuk ke dalam kamar. Wajah Dionisos tampak dingin tanpa ekspresi, memegang sebuah map tebal berisi dokumen hukum internasional.
Iris membelalakkan matanya kaget, ponselnya nyaris terlepas dari genggamannya. "Kalian... apa-apaan ini?! Berani sekali kalian mendobrak...!"
"Nona Iris Montgomery," potong Dionisos dengan suara datar yang mematikan. "Atas perintah mutlak dari Sterling Global dan dewan direksi internasional, Anda dinyatakan bersalah atas pencemaran nama baik, pelanggaran privasi tingkat tinggi, serta percobaan pemerasan terhadap pimpinan tertinggi kami."
Dionisos melempar map dokumen itu tepat di hadapan Iris di atas meja rias. "Ini adalah surat perintah penahanan internasional dan gugatan pailit total atas seluruh aset yang Anda miliki. Anda tidak memiliki hak untuk melawan."
Iris menjerit histeris, mencoba meraih ponselnya untuk meminta bantuan, namun salah satu pengawal dengan sigap merampas perangkat tersebut. Dalam hitungan detik, tanpa sempat melayangkan satu pun pembelaan atau menikmati hasil dari skandal murahan yang ia ciptakan, Iris Montgomery digelandang keluar dari kamar hotel dengan tangan diborgol oleh aparat penegak hukum setempat, dihilangkan dari dunia hiburan dan masyarakat elit untuk selamanya, terkubur dalam bayangan kekuasaan mutlak keluarga Sterling.
Di Manhattan, singa itu telah membersihkan duri terakhir di jalurnya. Dan di dalam sangkar emasnya, sang ratu, yang terluka dan tak berdaya, akhirnya memahami arti sesungguhnya dari kekuasaan yang tidak pernah bisa ia taklukkan.