NovelToon NovelToon
Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Putri asli/palsu / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:28.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Lima tahun dipenjara. Enam puluh bulan tanpa satu pun kunjungan.

Keira Pratama keluar dengan kaki pincang, ginjal yang hilang, dan hati yang sudah membeku. Dia putri kandung keluarga konglomerat Pratama, tetapi sejak kecil dibuang ke panti asuhan, sementara Vanessa, anak orang lain, dimanjakan sebagai putri kesayangan.

Dulu, Vanessa mendorong seseorang dari tangga, tetapi Keira yang dipenjara. Mama-nya menghapus CCTV. Papa-nya menyuruhnya diam. Lucas, pria yang pernah dia cintai, justru menjadi orang yang mengirimnya ke balik jeruji.

Namun Keira yang kembali bukan lagi gadis penurut.

Saat rahasia mulai terbongkar, keluarga yang dulu membuangnya satu per satu hancur oleh penyesalan. Dan di saat semua orang meninggalkannya, Rayhan Hartono, pewaris Hartono Group, diam-diam berdiri di sisinya.

Kini mereka semua berlutut di bawah hujan.

Tapi bagi Keira, satu hal tetap belum terjawab: **apakah penyesalan mereka datang terlambat?**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18

Oma Hartono

Brandon menjemput Keira menuju Menteng pada siang berikutnya.

Mobil berhenti di depan rumah tua bergaya kolonial dengan jendela tinggi dan pilar putih. Pohon beringin berusia hampir satu abad menaungi halaman. Di dalam aula, potret keluarga Hartono dari beberapa generasi berjajar tanpa satu pun bingkai miring.

Rumah itu sama megahnya dengan kediaman Pratama, tetapi tidak terasa seperti ruang pamer. Ada bekas tangan pada pegangan tangga, buku terbuka di meja, dan aroma kaldu dari dapur.

"Oma menunggu di ruang tengah," kata Brandon.

Keira mengikuti dengan tongkat. Ia baru melewati dua potret ketika suara lantang terdengar.

"Kurus sekali! Apa keluargamu tidak memberimu makan?"

Oma Hartono duduk di kursi kayu besar, mengenakan blus merah tua dan kacamata berbingkai tipis. Usianya delapan puluh tahun, tetapi suaranya cukup kuat untuk membuat dua staf di belakang berdiri lebih tegak.

Keira berhenti. "Selamat siang, Oma."

"Hó bô? Tidak, tentu saja tidak baik." Oma memukul ringan sandaran kursi. "Duduk. Jangan berdiri hanya karena rumah ini punya aturan bodoh tentang tamu."

Keira duduk di kursi yang sudah diberi bantal tambahan. Oma menatap perban tangan, tongkat, dan bekas jahitan di kepala tanpa berusaha menyembunyikan kemarahan.

"Brandon bilang kamu yang menyulam peony di jas Rayhan."

"Saya hanya menutup bekas setrika."

"Hanya? Penjahit keluarga meneleponku setengah jam untuk menjelaskan empat puluh delapan serat. Dia hampir menangis."

Brandon menahan senyum.

Oma mengambil ponsel dari meja. Foto Keira mencengkeram kerah Rayhan memenuhi layar.

"Ini juga hanya?"

Keira membeku. "Saya sedang tidak sadar penuh."

"Bagus. Kalau sadar mungkin cucuku sudah kamu suruh berlutut."

"Oma," tegur Brandon pelan.

"Apa? Dua puluh sembilan tahun dia tidak pernah membawa perempuan pulang. Sekarang perempuan pertama langsung merusak kerahnya. Aku suka efisiensi."

Wajah Keira terasa hangat, kali ini bukan karena obat.

"Oma tidak mau bertanya kenapa aku pernah dipenjara?" tanyanya.

Brandon menahan napas, tetapi Oma hanya meletakkan ponsel.

"Aku membaca beritanya. Berita itu ditulis orang yang tidak pernah duduk bersamamu."

"Pengadilan menyatakan aku bersalah."

"Pengadilan juga bisa diperdaya manusia." Oma menatapnya lurus. "Kalau kamu ingin bercerita, aku dengar. Kalau tidak, aku menilai dari apa yang kulihat hari ini."

"Oma tidak takut aku membahayakan Rayhan?"

Oma tertawa keras. "Cucuku membeli lahan lima belas triliun lewat telepon dan membuat puluhan musuh sebelum makan malam. Kalau ada yang perlu dikhawatirkan, mungkin kamu."

Keira hampir tersenyum. Untuk pertama kalinya, masa lalunya tidak dipakai sebagai syarat masuk ke sebuah ruangan.

Oma tertawa, lalu mengubah topik tanpa memaksa penjelasan. "Ayo. Aku mau lihat apakah tanganmu cuma pandai memperbaiki jas."

Ia membawa Keira ke ruangan di sayap timur. Dindingnya dipenuhi sulaman sutra dalam bingkai kaca: burung, bambu, bunga, dan pemandangan yang berubah warna ketika dilihat dari sudut berbeda.

Keira mendekat tanpa sadar.

"Oma mengumpulkannya sejak muda," jelas Brandon.

"Karena anak-anak sekarang pikir tradisi cukup dipajang saat Imlek," gerutu Oma. "Keterampilan harus hidup di tangan, bukan cuma di lemari."

Di tengah ruangan ada bingkai sulam besar yang ditutup kain putih. Oma membukanya.

Sebuah taman peony memenuhi setengah kain. Kelopak merah dan putih di sisi kiri tampak hidup, tetapi sisi kanan berhenti pada garis pola pucat.

"Peony Agung," kata Oma. "Penyulamnya meninggal sebelum selesai. Sudah dua puluh tahun tidak ada yang berani melanjutkan."

Keira melihat peralihan warna, arah serat, dan kepadatan tusukan. "Kalau diteruskan dengan tangan yang berbeda, batasnya akan terlihat."

"Kamu tahu hanya dengan melihat?"

"Tegangannya berubah di tiga baris terakhir. Penyulamnya mungkin sudah sakit."

Oma menatapnya dengan kesungguhan baru. "Maukah kamu mencoba suatu hari nanti?"

Keira tidak langsung menjawab. Tangan kirinya baru memiliki empat jari dan masih dalam terapi. "Kalau tangan saya sudah pulih cukup baik, saya ingin mempelajarinya dulu. Saya tidak bisa berjanji menyelesaikan karya orang lain tanpa menghormati caranya."

"Jawaban yang benar." Oma menutup sulaman. "Kamu tidak serakah pada karya yang bukan milikmu."

Saat mereka kembali ke aula, seorang perempuan paruh baya membawa teh hangat dan kue lembut.

"Nona, hati-hati, tehnya..."

Suara itu membuat Keira berhenti.

Perempuan tersebut juga membeku. Tatapannya turun ke kaki kiri Keira, lalu naik ke wajahnya.

"Anak di Stasiun Gambir?"

Ingatan lama terbuka.

Delapan tahun lalu, beberapa minggu setelah dibawa ke rumah Pratama, Keira pernah mencoba kembali ke panti asuhan. Ia hanya membawa uang receh dan pingsan di Stasiun Gambir karena tidak makan seharian.

Seorang perempuan berseragam rumah tangga mengangkatnya dari lantai, membelikan bubur, dan membungkus kakinya yang lecet. Perempuan itu memanggilnya `Nak` tanpa bertanya keluarga mana yang membuangnya.

"Bi Sari?" bisik Keira.

Nampan di tangan Bi Sari bergetar. "Astaga... benar kamu."

Ia meletakkan nampan dan memegang bahu Keira dengan hati-hati. "Bi mencari setelah kembali dari membeli tiket. Kamu sudah tidak ada."

"Orang rumah menjemputku."

"Mereka merawatmu?"

Pertanyaan itu jatuh di antara perban, tongkat, dan tubuh kurus Keira.

Keira mencoba menjawab. Namun satu kata keluar lebih dulu, tanpa izin dari pikirannya.

"Mama."

Mata Bi Sari langsung merah.

Keira juga terkejut oleh dirinya sendiri. Ia tidak pernah memanggil Yolanda dengan suara selembut itu setelah kembali dari panti.

Bi Sari memeluknya. "Iya, Nak. Mama di sini."

Oma memalingkan wajah untuk mengusap sudut matanya, lalu berdeham keras. "Sudah. Jangan bikin tehnya dingin. Gadis ini harus makan dua porsi sebelum pulang."

Sore itu, Keira menghabiskan bubur, kue lembut, dan sup tanpa dipaksa. Warna abu di wajahnya sedikit berkurang.

Sebelum Keira pergi, Oma menunjuk kamar di lantai dasar yang sudah disiapkan tanpa anak tangga dan memiliki pegangan di kamar mandi.

"Kalau kamu mau tinggal beberapa hari untuk terapi atau mengerjakan sulaman, kamar itu milikmu sebagai tamu," katanya. "Bukan sebagai pembayaran, bukan karena foto, dan bukan karena perjodohan. Kamu boleh menolak."

Keira melihat pintu kamar yang terbuka. Tidak ada gudang, tidak ada kunci dari luar.

"Saya akan memikirkannya."

Brandon pun tidak mendesak.

"Bagus. Orang yang langsung bilang iya biasanya tidak membaca syarat."

Oma meminta Bi Sari membungkus makanan untuk perjalanan dan tidak memaksa Keira membawa apa pun selain yang ia pilih sendiri.

Dalam perjalanan kembali, Brandon menyerahkan sebuah amplop.

"Ini salinan dokumen operasi Anda. Bos meminta saya menyerahkannya langsung, bukan melalui keluarga Pratama."

Keira membuka amplop. Pandangannya berhenti pada kolom hubungan dengan pasien.

`Tunangan.`

Di bawahnya ada tanda tangan yang tegas.

`Rayhan Hartono.`

Empat jari Keira bergetar pada tepi kertas.

"Dia... menandatangani sebagai tunanganku?"

1
Intan Marliah
mewekkk banget... ceritanya disusun seepik ini.
Iba Sa Iba Daud
apa ginjal tu tuk bokapnya ato evelyn
Iba Sa Iba Daud
Kluarga bangat iblis... si kevin ni ga bs apa" klo udh depan bokapny.. bilang priksa CCTV tp bentakn bokap diam..
Iba Sa Iba Daud
sungguh orgtua yg pling kejam.. tunggu sj katmamu tua bngka
Iba Sa Iba Daud
kavin klo lo sayg kaira cari tau ksuus 5 thn llu dn sobeknya baju adk tiri manja lo tu
Rina Arie
good book
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!