NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dosen / Duda
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Dokter mengangguk pelan kepada perawat di sampingnya.

"Baik, kita mulai ya."

Perawat segera menyiapkan peralatan steril, sementara dokter kembali memastikan obat bius lokal sudah bekerja dengan baik.

Ia menatap Arjun sambil tersenyum ramah. "Arjun, Om Dokter mau jahit lukanya supaya cepat sembuh. Nanti mungkin terasa sedikit ditekan, tapi tidak akan lama."

Arjun langsung menggenggam tangan Azel semakin erat. "Kak... Aku takut."

Azel mengusap pelan pipi bocah itu. "Nggak apa-apa. Lihat Kak Azel aja. Jangan lihat lukanya."

"Iya..." Arjun langsung menyembunyikan wajahnya di pelukan Azel.

Dokter memberi isyarat kepada perawat. "Mulai."

Jarum pertama menembus kulit di sekitar luka.

Tubuh Arjun sempat menegang. "Kak... Sakit..."

Air mata kembali menetes dari sudut matanya. Azel langsung mengusap kepalanya dengan lembut.

"Iya, sayang. Sebentar lagi selesai. Arjun kan anak yang paling hebat. Tarik napas sama Kakak."

"Satu... Dua... Tiga..."

Arjun mengikuti hitungan itu sambil terus memeluk Azel.

Dokter bekerja dengan hati-hati. Setiap jahitan dipasang perlahan untuk menutup robekan di kulit kepala Arjun.

Ruangan menjadi hening. Hanya terdengar suara alat bedah dan sesekali isakan pelan Arjun.

Di sudut ruangan, Ibra berdiri dengan kedua tangan mengepal. Rasanya ingin sekali menggantikan rasa sakit itu.

Namun ia tau, saat ini yang paling dibutuhkan Arjun adalah ketenangan. Dan ketenangan itu sedang diberikan oleh Azel.

Beberapa menit kemudian Dokter menggunting benang terakhir.

"Nah... Selesai."

Perawat segera membersihkan sisa darah di sekitar luka, lalu memasang perban kecil untuk melindungi area jahitan.

Dokter tersenyum. "Masya Allah. Arjun hebat sekali. Bisa bekerja sama sampai selesai."

Arjun mengangkat wajahnya perlahan dari bahu Azel. "Udah...?"

"Iya. Sudah selesai."

Mata bocah itu langsung berbinar. "Beneran?"

Dokter mengangguk. "Bener. Nggak ada jahitan lagi."

Arjun mengembuskan napas panjang. "Alhamdulillah..."

Ucapan polos itu membuat dokter, perawat, bahkan Azel tersenyum.

Ibra yang sejak tadi menahan napas akhirnya mengembuskannya perlahan. Beban besar di dadanya seolah ikut terangkat ketika mendengar dokter berkata,

"Pak Ibra, proses penjahitannya berjalan lancar. Lukanya berhasil kami tutup dengan baik. Selanjutnya Arjun perlu diobservasi beberapa jam untuk memastikan tidak muncul keluhan akibat benturan di kepala. Jika kondisinya tetap stabil, insya Allah nanti boleh pulang dengan beberapa instruksi perawatan di rumah."

"Terima kasih banyak, Dok."

Ibra mengucapkannya dengan suara yang sedikit bergetar.

Kemudian pandangannya beralih kepada Azel yang masih memeluk Arjun.

"Dan..." ucap Ibra tulus, "Terima kasih, Azel. Kalau kamu tidak datang mungkin proses ini tidak akan semudah tadi."

Azel menggeleng sambil tersenyum kecil. "Sama-sama, Pak. Yang penting Arjun baik-baik saja."

"Makasih ya, Kak, udah datang." Arjun tersenyum malu-malu sambil memegang tangan Azel.

Azel membalas dengan mengusap lembut kepala bocah itu, menghindari bagian yang baru saja dijahit.

"Sama-sama. Kakak juga khawatir sama Arjun. Pas Ayah kamu telpon, kakak langsung kesini. Lain kali hati-hati ya kalau main."

"Iya, Kak. Janji."

Azel tersenyum. "Anak baik."

Ia kemudian melirik meja kecil di samping ranjang. "Arjun udah makan?"

Arjun mengangguk pelan. "Udah."

"Hebat. Kalau gitu... mau makan apel nggak?"

"Mau."

Azel mengambil sebuah apel dari kantong buah yang tadi dibawa Bu Zinda.

"Yaudah, Kakak kupasin dulu ya."

Baru saja ia hendak mengambil pisau buah...

"Biar saya saja." Suara Ibra membuat Azel menghentikan gerakannya.

"Oh... Iya, Pak."

Ibra mengambil apel itu lalu mulai mengupas kulitnya dengan cekatan. Kupasannya tipis dan rapi, nyaris tidak ada daging buah yang ikut terbuang.

Azel memperhatikannya sekilas. "Pantesan Arjun bilang ayahnya jago masak..." batinnya.

Suasana ruangan kembali hening. Hanya terdengar suara pisau yang menggesek kulit apel.

Tiba-tiba Azel teringat sesuatu. "Oh iya..."

Ia menoleh ke arah Arjun. "Makasih ya udah ngasih Kakak bekal tadi."

Arjun mengernyit bingung. "Bekal?"

"Iya. Yang sandwich itu."

"Aku nggak ngasih Kakak bekal."

Azel ikut mengernyit. "Loh? Bukannya tadi Ayah kamu bilang..."

Arjun langsung menoleh ke arah Ibra yang masih mengupas apel.

"Tadi Ayah emang bikin bekal dua. Tapi kata Aya yang satu buat Ayah."

Arjun memiringkan kepalanya polos. "Oh.... Ternyata buat Kak Azel toh."

Pisau di tangan Ibra mendadak berhenti bergerak.

"Arjun." Nada suaranya datar, tetapi telinganya mulai memanas.

Arjun menatap ayahnya tanpa merasa bersalah. "Lah emang iya, kan? Ayah yang buat dan bilangnya tadi untuk Ayah?"

Azel perlahan mengalihkan pandangannya kepada Ibra. Tatapan mereka bertemu.

Untuk pertama kalinya, Azel melihat dosennya itu benar-benar salah tingkah. Sudut bibirnya langsung terangkat.

"Jadi... Itu bukan bekal Bapak?"

Ibra berdeham pelan. "Itu memang saya buat."

"Untuk kamu."

Jawabannya singkat. Namun cukup membuat suasana menjadi canggung.

Azel membulatkan mata. "Untuk saya? Kenapa, Pak?"

Ibra tetap fokus mengupas apel, berusaha menghindari tatapan gadis itu.

"Kamu sudah banyak membantu Arjun. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih."

Azel terdiam beberapa saat. Lalu tanpa sadar tersenyum kecil.

"Pak, Sebenarnya Bapak tinggal bilang aja. Nggak usah ngeles bilang dari Arjun."

Arjun langsung mengangguk semangat. "Iya, Yah. Kalau bohong itu dosa."

Ibra menutup matanya sejenak. "Arjun."

"Iya?"

"Diam dulu."

"Baik, Yah." Arjun langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, tetapi matanya berbinar penuh rasa puas.

Melihat ekspresi datar Ibra yang kali ini tampak benar-benar kehabisan kata, Azel tidak bisa menahan tawanya.

"Hehehe... Maaf, Pak. Tapi baru kali ini saya lihat Bapak malu."

Ibra mengembuskan napas pelan. "Saya tidak malu."

"Oh ya?"

"Kalau nggak malu kenapa telinganya merah, Pak?"

Kalimat itu membuat Ibra refleks menyentuh telinganya sendiri. Sedetik kemudian, ia menyadari Azel sedang menggodanya.

Azel pun tertawa semakin lepas. "Nah, ketahuan."

"Bisa diam?"

"Oke diam." Azel mengatupkan bibirnya. Berusaha menahan tawanya.

Ibra selesai memotong apel menjadi potongan-potongan kecil, lalu meletakkannya di dalam wadah plastik.

Ia menyerahkannya kepada Azel.

"Nah." Azel menerimanya sambil tersenyum. "Kalau gitu... Kakak yang suapin ya?"

"Iya." Arjun membuka mulutnya lebar-lebar.

"Ahhh..."

Azel tertawa kecil lalu menyuapkan sepotong apel. "Gimana apelnya? Manis gak?"

"Manis Kak, kaya senyum Kak Azel."

Azel spontan tertawa. "Ish bocah kok bisa-bisanya gombal.

Beberapa suapan kemudian, Azel kembali tersenyum kepada bocah itu.

"Karena Arjun hari ini sudah jadi anak yang hebat meskipun tadi sempat takut, tapi akhirnya berani dijahit. Nanti Kakak kasih hadiah."

Mata Arjun langsung berbinar. "Hadiah?"

"Iya. Mau apa?"

Arjun berpikir cukup lama. Alis kecilnya sampai berkerut.

"Apa kalau Arjun bilang, Kakak bakal ngabulin?"

Azel terkekeh. "Kalau hadiahnya gampang dicari dan nggak mahal insya Allah Kakak kasih. Kalau susah dicari ya Kakak butuh waktu."

Arjun mengangguk pelan. "Nggak susah kok dan nggak mahal juga."

"Oh ya? Apa memangnya?"

Arjun melirik ke arah ayahnya.nIbra yang berdiri di dekat jendela ikut mengangkat alis.

Ia pun penasaran. "Apa yang akan diminta anak ini?"

Arjun kembali menatap Azel. "Cuma..."

Ia menggenggam tangan Azel pelan. "Arjun... Mau Kak Azel."

Azel tersenyum bingung. "Loh? Kakak kan udah di sini."

Arjun menggeleng. "Bukan itu."

"Terus?"

Arjun menggenggam tangan Azel semakin erat. Ia menatap wajah gadis itu beberapa detik. Lalu, dengan suara lirih namun penuh harap, ia berkata, "Arjun... mau Kak Azel jadi Mama Arjun."

Deg!

1
Aidil Kenzie Zie
hm hm si Kutub Utara mulai mencair 🤣🤣🤣🤣🤣
Syti Sarah
cie cie yg mulai pdkt nih,kyak nya gak lma lgi nih.cahayo pak dosen,kejar trus smpai dpat 🤭🤭
Syti Sarah: waaah bnran Thor .jdi gak sbar nunggu besok nih 😍😍😍jngan2 lngsung di lamar lgi 😅😅
total 2 replies
Anak manis
aku prnh kya Azel, emang gak enak bgt klo bocor tuh. Rsanya malu bgt🥲
cutegirl
ibra mulai terang-terangan🤣
syora
ya allah semoga slain takdir sbgai penentu mohon bersamai dan ridho jln mnuju halal buat mereka
biarkan apa yg oma arsyila ucapkan mnjadi kenyataan amiin
jjr slalu ada /Sob/kadang luka yg berujung trauma blm tentu bisa stiap org hadapi apalagi smpai berujung ke hal yg merugikan dan negatif
Syti Sarah
Ibra mmang laki laki yg baik .klau mmang brjodoh,smoga Allah mudhkn sgla jlan nya .
syora
andai iya utk kli ini biarkan hati klian menuntun bertemu,dgn melalui takdir dan ridhoNzya
amiiiin
Syti Sarah
haaa kyak nya mreka ber2 blum mnydari prasaan nya masing2 deh.kok jdi aku yg snyum2 sndiri ya PGI ini 😅😅😅
kembangperawan
zel itu udah kode loh🤣
Naya En-lish
/Heart//Heart//Heart/
Syti Sarah
ayoo mai jawab ape zel,yg sprti bang iba kaaah 🤭kok jdi aku yg deg degan ya,huuuh 😅😅
Ayu Oktaviana
aduh abang ibra mulai pdkt ne.. trs semangat bang😍😍
Fegajon: yuhuuu😋
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
Cie cie cie yang lagi pdkt
anakkeren
ibra mulai maju🤣
syora
ibra jgn menghindar ckp jlni takdir
Syti Sarah
smoga di prmudah sgla nya,Daan klau mmang brjodoh smoga Allah mudhkn smpai halal.
Aidil Kenzie Zie
Ibra langsung deg degan di tantang langsung kerumah sama Opa kalo ada niat baik🥰🥰🥰🥰
Syti Sarah
semoga smua di prmudah oleh Allah,kok jdi Mellow ya stiap BCA crita Arjun ini 🥺
Syti Sarah: iya btul bnget Thor .suka bnget sama crita Thor ,smoga azel bisa mnerima prmintaaan Arjun dgn ikhlas .amiiiin
total 2 replies
syora
mkasih thor slalu mnyajikan crita yg keseimbangan antra dunia dan akhirat brjln beriringan
bnyak hikmah dlm stiap critamu
Fegajon: Sama-sama Kak. Dukungan kamu juga membuat aku mau terus nulis🙏
total 1 replies
syora
ya allah thor kyknya kbnyakan bawang bombay ceritanya
sejak kemunculan arjun bawaan stiap bc pasti sedih,menangis
ya allah
syora: wah hbr dong laper aja bs ngabisin karya yg bagus
andai puasa pasti double tuh bagusnya hehee
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!