NovelToon NovelToon
Tak Terkalahkan Sejak Awal

Tak Terkalahkan Sejak Awal

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:20.9k
Nilai: 5
Nama Author: D'Silent Novel

Chu Xuan menjadi orang pertama dalam sejarah yang menolak reinkarnasi.

Karena murka, utusan akhirat mengutuknya untuk menjalani delapan belas tahun kehidupan yang penuh penderitaan di dunia kultivasi tanpa bakat, tanpa kekayaan, dan tanpa harapan.

Setelah kehilangan satu-satunya keluarga yang membesarkannya dan hidup sendirian selama tiga tahun di sebuah kuil tua yang hampir roboh, Chu Xuan akhirnya disambar petir pada usia delapan belas tahun.

Hari itu, seluruh dunia kultivasi tidak mengetahui satu hal:

Orang paling malas di dua dunia akhirnya memperoleh kekuatan untuk menjadi tak terkalahkan.

Namun, Chu Xuan hanya memiliki satu tujuan.

Memperbaiki atap Kuil Qingfeng.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 — Pelajaran yang Tidak Tertulis

Mentari pagi perlahan muncul dari balik Pegunungan Tianyun.

Kabut putih menyelimuti Kuil Qingfeng, membuat suasananya tampak tenang dan damai.

Dentang...

Dentang...

Dentang...

Lonceng tua kembali berbunyi tiga kali.

Seperti biasanya...

Luo Ning dan Qin Xueyao terlebih dahulu berjalan menuju makam Pertapa Qingfeng.

Di bawah pohon tua yang menaunginya, keduanya membungkukkan badan dengan penuh hormat.

"Salam hormat kepada Pendiri Kuil Qingfeng."

"Terima kasih karena telah membesarkan Guru."

"Kami akan menjaga nama baik Kuil Qingfeng."

Angin gunung berembus lembut.

Daun-daun berguguran perlahan, seolah ikut menjadi saksi doa sederhana itu.

Beberapa saat kemudian...

Keduanya berjalan menuju halaman belakang kuil.

Di beranda Aula Utama...

Chu Xuan sedang bersandar santai di kursi bambu.

Di sampingnya terdapat teko teh dan sepiring kecil kacang panggang.

Sesekali ia melempar sebutir kacang ke mulutnya.

"Kriuk..."

"Enak juga."

Melihat kedua muridnya datang, ia mengangkat tangan tanpa berdiri.

"Pagi."

"Salam, Guru."

Keduanya memberi hormat bersamaan.

Chu Xuan mengangguk puas.

"Lumayan."

"Kalian datang tepat waktu."

Qin Xueyao tersenyum kecil.

"Guru sudah bangun lebih pagi hari ini."

Chu Xuan mengangguk serius.

"Tentu."

"Aku bangun karena tehnya sudah jadi."

"..."

"..."

Luo Ning dan Qin Xueyao saling berpandangan.

Mereka tidak tahu...

Apakah Guru sedang bercanda atau benar-benar menganggap teh lebih penting daripada tidur.

Chu Xuan memasukkan lagi sebutir kacang ke mulutnya.

"Kalian sudah sarapan?"

"Sudah, Guru."

"Bagus."

"Kalau lapar..."

"Belajar juga tidak akan masuk."

Qin Xueyao terkekeh pelan.

Semakin lama mengenal Gurunya...

Ia semakin sadar.

Guru memang tidak pernah berbicara seperti para tetua sekte lain.

Namun...

Setiap kalimatnya selalu masuk akal.

Chu Xuan berdiri perlahan.

Hari ini...

Ia tidak berniat mengajarkan jurus baru.

Ia ingin melihat hasil latihan Luo Ning selama beberapa hari terakhir.

"Luo Ning."

"Ya, Guru."

"Perlihatkan latihanmu."

Luo Ning menarik napas panjang.

Pedangnya perlahan keluar dari sarung.

Swish...

Langkah pertamanya ringan.

Pedang bergerak mengikuti aliran tubuh.

Tidak lagi kaku seperti dahulu.

Qin Xueyao memperhatikan dengan penuh kekaguman.

Setiap ayunan terasa lebih hidup dibanding beberapa hari sebelumnya.

Beberapa saat kemudian...

Luo Ning menyelesaikan jurus terakhir.

Ia membungkukkan badan.

"Mohon petunjuk Guru."

Chu Xuan tidak langsung menjawab.

Ia justru melihat ke sekitar halaman.

Tak jauh dari sana...

Terdapat sebatang ranting pohon yang baru patah semalam.

Ia mengambilnya.

Lalu mengetuk-ngetukkan ranting itu ke telapak tangannya.

"Masih lumayan."

Qin Xueyao berkedip.

"Guru..."

"Ranting itu mau dipakai apa?"

Chu Xuan menjawab santai.

"Kalau terlalu pendek..."

"Nanti kupakai buat mengaduk bubur."

"..."

"..."

Luo Ning hampir tersedak menahan tawa.

Qin Xueyao buru-buru menundukkan kepala.

Chu Xuan tersenyum tipis.

"Tapi sebelum itu..."

"Ayo kita pinjam sebentar."

Ia mengangkat ranting tersebut.

Tidak mengarah ke Luo Ning.

Tidak pula ke pohon.

Tatapannya justru tertuju pada sehelai daun yang sedang melayang tertiup angin.

"Perhatikan baik-baik."

Tap.

Ia menjentik ujung ranting itu menggunakan jari telunjuk.

Ranting kecil itu langsung melesat seperti anak panah.

Bukan menuju batang pohon...

Melainkan berputar mengikuti embusan angin.

Satu putaran.

Dua putaran.

Tiga putaran.

Lalu...

Plak.

Ranting itu kembali jatuh tepat di telapak tangan Chu Xuan.

Seolah-olah tidak pernah terlempar.

Luo Ning mengerutkan kening.

"Aneh..."

"Apa yang Guru lakukan?"

Qin Xueyao juga ikut bingung.

"Tidak mengenai apa pun..."

Namun...

Beberapa detik kemudian...

Puluhan daun yang masih beterbangan di udara...

Perlahan terbelah menjadi dua bagian yang sama persis.

Tidak satu.

Tidak dua.

Melainkan seluruh daun yang dilewati embusan angin tadi.

Belahan itu begitu rapi...

Seolah dipotong menggunakan pedang paling tajam di dunia.

Luo Ning membelalakkan mata.

"Itu..."

"Aku bahkan tidak melihat kapan Guru menyerangnya."

Qin Xueyao juga terpaku.

"Guru..."

"Apakah ranting itu sebenarnya senjata pusaka?"

Chu Xuan memandang ranting di tangannya.

Kemudian menggeleng.

"Kalau benar senjata pusaka..."

"Pasti sudah patah karena kujadikan pengaduk bubur."

Qin Xueyao akhirnya tidak mampu menahan tawanya.

"Guru..."

"Mana ada orang memperlakukan senjata pusaka seperti itu."

Chu Xuan mengangkat bahu.

"Kalau alat bisa dipakai..."

"Kenapa harus pilih-pilih?"

Suasana latihan yang semula serius...

Mendadak menjadi jauh lebih santai.

Namun...

Tatapan Luo Ning tetap tertuju pada daun-daun yang terbelah.

Ia tahu...

Guru sengaja memperlihatkan sesuatu.

Bukan sekadar membuat mereka terkejut.

Chu Xuan melihat murid pertamanya.

"Luo Ning."

"Menurutmu..."

"Kenapa daun-daun itu baru terbelah setelah beberapa saat?"

Luo Ning terdiam.

Ia berpikir cukup lama.

Namun akhirnya menggeleng.

"Murid tidak tahu."

Chu Xuan melempar ranting itu kembali ke tanah.

"Lalu..."

"Bagaimana kau berharap memahami pedang..."

"...kalau bahkan belum memahami angin?"

Kalimat itu membuat Luo Ning membeku.

Pedangnya...

Cepat.

Jurusnya...

Benar.

Namun...

Selama ini ia hanya memperhatikan pedangnya sendiri.

Ia sama sekali tidak pernah memperhatikan angin yang selalu menyertai setiap ayunan.

Melihat ekspresi muridnya...

Chu Xuan tersenyum tipis.

"Hari ini..."

"Aku tidak mengajarimu jurus."

"Aku hanya mengajarimu..."

"...cara melihat dunia."

Luo Ning perlahan membungkukkan badan.

"Terima kasih atas petunjuk Guru."

Di sampingnya...

Qin Xueyao ikut menundukkan kepala.

Meskipun pelajaran itu ditujukan kepada Luo Ning...

Entah mengapa...

Ia merasa dirinya juga memperoleh sesuatu yang sangat berharga.

Keheningan kembali menyelimuti halaman Kuil Qingfeng.

Luo Ning masih berdiri di tempatnya.

Tatapannya tertuju pada daun-daun yang terbelah rapi di atas tanah.

Semakin lama ia memandang...

Semakin ia menyadari...

Yang dipotong Gurunya bukanlah daun.

Melainkan cara berpikirnya selama ini.

Chu Xuan menyeruput tehnya dengan santai.

"Hm..."

"Masih hangat."

Kemudian ia melirik Luo Ning.

"Coba sekali lagi."

"Baik, Guru."

Luo Ning menarik napas panjang.

Namun kali ini...

Ia tidak langsung menghunus pedang.

Ia menutup mata.

Mendengarkan.

Suara angin yang melewati pepohonan.

Suara dedaunan yang saling bergesekan.

Bahkan suara air dari mata air kecil di belakang kuil.

Beberapa saat kemudian...

Ia membuka mata.

Swish...

Pedangnya bergerak perlahan.

Tidak lagi dipenuhi keinginan untuk menunjukkan kehebatan.

Ia hanya mengikuti aliran tubuhnya.

Daun-daun yang berjatuhan ikut berputar lembut di sekelilingnya.

Seekor kupu-kupu bahkan hinggap sesaat di ujung pedangnya sebelum kembali terbang.

Chu Xuan mengangguk pelan.

"Itu jauh lebih baik."

Luo Ning menghentikan gerakannya.

"Guru..."

"Pedangku terasa lebih lambat."

"Tapi..."

"Entah kenapa terasa jauh lebih ringan."

Chu Xuan tersenyum.

"Itu karena kau berhenti memaksa pedangmu."

"Pedang bukan alat untuk memamerkan kekuatan."

"Pedang adalah teman perjalananmu."

"Kalau kau memaksanya..."

"...suatu hari ia juga akan meninggalkanmu."

Luo Ning membungkukkan badan.

"Murid mengerti."

Qin Xueyao yang sedari tadi memperhatikan akhirnya mengangkat tangan.

"Guru."

"Hm?"

"Bolehkah murid bertanya?"

"Tentu."

Gadis itu tampak ragu-ragu.

"Guru..."

"Kalau begitu..."

"Siapa yang mengajari Guru ilmu pedang?"

Halaman mendadak menjadi sunyi.

Luo Ning juga menoleh.

Ia baru sadar...

Selama ini mereka tidak pernah mengetahui asal-usul kekuatan Gurunya.

Chu Xuan terdiam sejenak.

Kemudian menggeleng pelan.

"Tidak ada."

"...Eh?"

Qin Xueyao membelalakkan mata.

"Tidak ada?"

Chu Xuan mengangguk.

"Tidak ada orang yang pernah mengajariku ilmu pedang."

"Yang kudapatkan..."

"Hanyalah sebuah kesempatan."

"Setelah itu..."

"Tinggal bagaimana aku memahaminya."

Luo Ning dan Qin Xueyao saling berpandangan.

Mereka tidak benar-benar memahami maksud kalimat itu.

Namun mereka tidak berani bertanya lebih jauh.

Tatapan Chu Xuan perlahan beralih ke arah makam Pertapa Qingfeng.

Senyumnya melembut.

"Kalau Kakek..."

"Beliau juga tidak pernah mengajariku ilmu pedang."

"Tidak pernah mengajariku teknik kultivasi."

"Beliau bahkan hanya seorang pertapa tua biasa."

"Tetapi..."

"Beliaulah yang mengajariku bagaimana menjadi manusia."

"Beliau memberiku tempat tinggal."

"Memberiku makanan."

"Dan membesarkanku hingga dewasa."

Chu Xuan menatap kedua muridnya.

"Kalian ingat baik-baik."

"Orang yang mengajarimu menjadi kuat..."

"Belum tentu pantas dihormati."

"Tetapi..."

"Orang yang mengajarimu menjadi manusia..."

"...jangan pernah kalian lupakan."

Mata Luo Ning sedikit memerah.

Ia teringat kedua orang tuanya.

Qin Xueyao juga terdiam.

Ia membayangkan wajah ayah dan ibunya.

Seandainya Guru tidak datang waktu itu...

Mungkin ayahnya sudah tidak ada lagi di dunia ini.

Tanpa sadar...

Rasa hormat di dalam hatinya kepada Chu Xuan kembali bertambah.

Melihat suasana mulai menjadi berat...

Chu Xuan tiba-tiba bertepuk tangan.

"Sudah."

"Jangan memasang wajah seperti itu."

"Kalian masih muda."

"Kalau terlalu sering bersedih..."

"Nanti cepat tua."

Qin Xueyao spontan tertawa.

"Guru..."

"Masa begitu?"

"Tentu."

"Lihat saja aku."

"Aku masih tampan, kan?"

"..."

"..."

Luo Ning dan Qin Xueyao kembali saling berpandangan.

Beberapa saat kemudian...

Mereka mengangguk bersamaan.

"Guru memang tampan."

Chu Xuan langsung tersenyum puas.

"Nah."

"Berarti teoriku benar."

Di dalam benaknya...

Tulisan hitam perlahan muncul.

【Penilaian Sistem.】

【Tuan Rumah berhasil mengalihkan suasana sedih menggunakan rasa percaya diri yang tinggi.】

Chu Xuan terkekeh pelan.

"Selama berhasil..."

"Metodenya tidak penting."

【...】

【Sistem memilih tidak berkomentar.】

Tak lama kemudian...

Chu Xuan berdiri sambil meregangkan tubuh.

"Baik."

"Pelajaran pagi selesai."

Luo Ning sedikit terkejut.

"Hanya sampai di sini, Guru?"

Chu Xuan mengangguk.

"Kalian tahu..."

"Kenapa pelajaran hari ini pendek?"

Kedua murid itu menggeleng.

Chu Xuan tersenyum santai.

"Karena..."

"Pelajaran yang benar-benar penting..."

"...bukan terjadi saat Guru berbicara."

"Tetapi..."

"Saat kalian berlatih sendirian nanti."

"Kalian boleh melupakan kata-kataku."

"Tapi..."

"Jangan lupakan apa yang kalian rasakan hari ini."

Luo Ning menggenggam pedangnya erat.

"Murid mengerti."

Qin Xueyao juga membungkukkan badan.

"Murid juga mengerti."

Chu Xuan mengangguk puas.

"Lalu..."

"Guru mau istirahat."

Ia baru melangkah dua langkah menuju Aula Utama.

Namun...

Suara sistem kembali terdengar.

【Misi Guru I】

【Kemajuan meningkat.】

【Luo Ning memperoleh pemahaman baru mengenai Jalan Pedang.】

【Target tersisa: Menguasai 《Seni Pedang Angin Qingfeng》 hingga tingkat Mahir.】

Chu Xuan hanya melirik panel itu sekilas.

"Lumayan."

Kemudian ia melanjutkan langkahnya.

Sementara di belakangnya...

Luo Ning kembali mengangkat pedang.

Qin Xueyao duduk di bawah pohon tua sambil memperhatikan setiap gerakan kakak seperguruannya.

Tidak ada yang menyadari...

Di balik ketenangan Kuil Qingfeng...

Dua benih yang kelak akan mengguncang Dunia Fana...

Sedang tumbuh sedikit demi sedikit di bawah bimbingan seorang guru yang lebih suka minum teh dan tidur siang daripada mencari ketenaran.

Bersambung...

1
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
mantap Thor lanjut
Nur_aisyah Rahman
lanjut terus Thor..
Rinaldi Sigar
lanjut
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehe...buat mereka putus asa😄😄👍👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
ayooooo bantaaaaaaaiiiiii 👍👍
Arinto Ario Triharyanto
semangat Thor 💪
Arinto Ario Triharyanto
akhirnyaaaa, update lagi Thor 😎... mantap lanjut terus Thor 👍💪
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
waaahhh ada tamu tak di undang lagi🤣🤣👍 bantaaaaaaaiiiiii 🤣🤣
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
terimakasih Thor Atas keterangan nya👍👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
musnahkan keluarga Han😀👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
bantaaaaaaaiiiiii Thor bantaaaaaaaiiiiii
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
bantaaaaaaaiiiiii 👍😀
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
dalang dr semua ini berarti keluarga Han🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
owhhh bisa menjadi alkemis juga ya🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣 keluarga Han mencari apa yang tidak ada🤣
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
mantap Thor
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
terimakasih Thor sudah memberikan bacaan yang menarik dan bagus 👍👍🤣
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
waaahhh niat di rampok🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
ayoooo Thor semangat terus
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣sistem nya lebih batu daripada Chu Xuan🤣🤣👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!