Langit di atas dataran utara tidak pernah benar-benar bersih. Di bawah kekuasaan Perguruan Pedang Langit, salju yang turun tidak berwarna putih suci, melainkan abu-abu pekat cenderung hitam, terkontaminasi oleh jelaga ribuan tungku penempaan baja dan pembakaran dupa energi yang tak pernah padam. Bagian luar sekte itu adalah hamparan lumpur beku yang dingin, tempat di mana kasta terendah manusia—para budak dan pekerja paksa—merangkak demi menyambung nyawa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Siksaan di Lumpur Salju Hitam
Langit di atas dataran utara tidak pernah benar-benar bersih. Di bawah kekuasaan Perguruan Pedang Langit, salju yang turun tidak berwarna putih suci, melainkan abu-abu pekat cenderung hitam, terkontaminasi oleh jelaga ribuan tungku penempaan baja dan pembakaran dupa energi yang tak pernah padam. Bagian luar sekte itu adalah hamparan lumpur beku yang dingin, tempat di mana kasta terendah manusia—para budak dan pekerja paksa—merangkak demi menyambung nyawa.
Di tengah kubangan lumpur hitam yang setengah membeku itu, seorang bocah berusia sembilan tahun tersungkur. Namanya Kala.
Tubuhnya kurus kering, hanya dibalut selembar kain rami usang yang telah robek di berbagai sisi. Namun, bukan penampilannya yang membuat orang-orang menjauhinya dengan pandangan jijik, melainkan wajahnya. Kala tidak memiliki bola mata hitam seperti manusia normal. Kedua kelopak matanya jika terbuka hanya menampilkan selaput putih pucat tanpa pupil, kosong dan mati. Di dunia yang mengagungkan kesempurnaan fisik dan kesucian aliran energi (Qi), sepasang mata putih milik Kala dianggap sebagai tanda kutukan abadi, seonggok sampah yang mengotori tanah suci perguruan.
"Bangun, anak pembawa sial! Berani-beraninya kau menumpahkan air pembasuh kaki milik Tuan Muda?!"
Sebuah bentakan menggelegar memecah keheningan pagi yang membeku. Seorang murid luar Perguruan Pedang Langit berdiri di depan Kala dengan jubah biru yang bersih, sangat kontras dengan lingkungan sekitar. Di tangan kanannya, sebuah cambuk kulit berduri berdesing di udara, memancarkan fluktuasi energi angin tingkat rendah—bukti bahwa dia berada di r****anah nadi fana tingkat awal
TASS!
Cambuk itu menghantam punggung kurus Kala dengan telak. Kulitnya yang tipis langsung robek, menyemburkan darah segar yang dalam beberapa detik membeku menjadi kristal merah di atas salju hitam. Kala mengerang pendek, giginya menggertak menahan rasa sakit yang membakar batinnya. Dia tidak berteriak. Jeritan hanya akan membuat para penyiksa itu semakin bersemangat.
"Jika bukan karena kebaikan hati Tetua Luar yang membiarkanmu tinggal, kau dan wanita tua bangka itu sudah lama menjadi pupuk di kebun herbal!" Murid itu meludah, bersiap mengayunkan cambuknya untuk kedua kali.
Di dalam benak Kala yang limbung, dia tidak benar-benar mendengar makian tersebut. Di balik rasa sakit yang mendera fisiknya, ada sesuatu yang jauh lebih ganjil sedang terjadi di dalam kepalanya. Sejak dia bisa mengingat, ada sebuah suara ketukan konstan yang selalu bergema di pusat jiwanya.
Tik... Tok... Tik... Tok...
Suara itu berdetak secara ritmis, menyerupai detak jam mekanis kuno. Dan anehnya, setiap kali detak itu bergema, persepsi Kala terhadap dunia luar melambat. Dia bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana ujung cambuk kulit itu bergerak membelah udara, bagaimana partikel salju hitam berputar perlahan ditiup angin, dan bagaimana urat-urat wajah murid perguruan itu menegang karena amarah. Semuanya bergerak seperti siput di matanya, meski fisiknya yang lemah tetap tidak bisa menghindar karena keterbatasan Ranah Nadi Fana miliknya yang bahkan belum terbuka.
"Kala!"
Tiba-tiba, sebuah jeritan parau terdengar dari kejauhan. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian pencuci kain yang basah kuyup berlari terengah-engah, menerobos kerumunan budak yang menonton dengan dingin. Itu adalah Maryam, ibu angkat Kala. Wanita fana tanpa kekuatan kultivasi sama sekali, namun memiliki keberanian yang melampaui siapa pun di tempat itu.
Maryam langsung menjatuhkan dirinya di atas tubuh Kala, memeluk bocah itu erat-erat untuk melindungi punggungnya dari cambukan berikutnya. "Mohon ampun, Tuan Muda! Anak hamba buta, dia tidak sengaja menyenggol ember tersebut! Tolong cambuk hamba saja, jangan anak hamba!" ratap Maryam dengan air mata yang membasahi wajahnya yang dipenuhi kerutan penderitaan.
Murid luar itu menurunkan cambuknya sejenak, tersenyum sinis. "Menjijikkan. Sampah merawat sampah. Minggir, wanita tua! Atau aku akan memastikan kalian berdua tidak akan melihat matahari esok hari!"
Kala bisa merasakan kehangatan tubuh Maryam yang gemetar di atasnya. Di dalam hati kecilnya yang terdalam, sebuah pusaran emosi yang pekat mulai bergejolak. Rasa benci, amarah, dan rasa tidak berdaya bercampur menjadi satu, membuat detak jantungnya tiba-tiba berakselerasi dengan gila. Deg... Deg... Deg... Deg!
Dan bersamaan dengan puncak kemarahannya, suara di kepalanya bergema dengan dentang yang sangat keras.
DENG!
Seketika, seluruh dunia kehilangan suaranya.
Cambuk yang hendak diayunkan kembali oleh murid perguruan itu mendadak membeku kaku di udara, tepat satu jengkal di atas kepala Maryam. Serpihan salju hitam yang beterbangan tertahan di atmosfer, melayang seperti ribuan jarum kristal yang terperangkap dalam ruang hampa. Murid luar itu berdiri mematung dengan mulut terbuka setengah, matanya melotot kaku tanpa ada tanda-tanda kehidupan. Bahkan napas Maryam yang memeluknya terasa berhenti, dadanya tidak bergerak naik turun.
Waktu telah berhenti.
Kala membuka matanya yang putih pucat. Di dalam keheningan total ini, tidak ada rasa sakit, tidak ada makian, dan tidak ada ancaman. Hanya ada dia dan dunia yang telah lumpuh. Kala mencoba menggerakkan tangannya, menarik ujung baju Maryam. Namun, sesaat kemudian, rasa sakit yang luar biasa menghantam dadanya. Jantungnya terasa seperti diperas oleh tangan tak kasat mata, dan seteguk darah segar keluar dari mulutnya.
Kekuatan ini... menguras esensi kehidupannya. Menjadi waktu dunia fana saat dirinya masih berada di titik terendah adalah hal yang tabu.
Tik.
Dunia kembali berputar. Angin menderu, salju berjatuhan, dan murid luar itu menyelesaikan ayunan cambuknya. Namun, karena Kala sempat menggeser tubuh Maryam beberapa senti saat waktu berhenti, cambuk itu hanya menghantam tanah lumpur, menimbulkan suara deburan yang keras.
Murid itu mengernyit bingung, merasa ada yang aneh dengan ingatannya yang seolah melompat selama beberapa detik, tetapi dia mengabaikannya. "Beruntung kalian. Cepat bersihkan lumpur ini sebelum matahari tenggelam, atau aku sendiri yang akan memotong jatah makanan kalian selama seminggu!" Ancaman itu menjadi penutup sebelum sang murid berbalik dan berjalan pergi dengan angkuh.
Maryam segera bangkit, memeriksa tubuh Kala dengan tangan yang gemetar. "Kala, kamu tidak apa-apa? Maafkan Ibu... Ibu tidak bisa melindungi mu dengan baik," bisik wanita itu, memeluk kepala Kala ke dadanya yang hangat.
Kala menggeleng perlahan, menyeka darah di bibirnya agar tidak terlihat oleh ibunya. "Kala tidak apa-apa, Ibu. Jam di kepala Kala... tadi berdetak lagi."
Maryam tertegun. Dia tahu tentang rahasia itu. Sejak menemukan Kala bayi di dalam gerobak sampah dengan mata putih bersih, Maryam tahu anak ini memikul takdir yang sangat berat. Dia selalu berpesan agar Kala tidak pernah menceritakan hal ini kepada siapa pun di Perguruan Pedang Langit, karena jika para kultivator serakah itu tahu, mereka akan membedah tubuh Kala untuk mencari tahu rahasia sihirnya.
Saat Maryam menuntun Kala kembali ke barak mereka yang beralaskan jerami kering, dari balik celah kabut salju hitam di kejauhan, seorang gadis kecil berusia delapan tahun memperhatikan mereka dengan mata penuh kekhawatiran. Gadis itu adalah Ayla, anak seorang tabib fana di pinggiran sekte. Ayla memegang sebuah botol kecil berisi salep tanaman penyembuh luka, bersiap untuk menyelinap ke barak Kala malam nanti, seperti yang biasa dia lakukan.
Mereka bertiga hanyalah semut di kaki raksasa Perguruan Pedang Langit. Mereka belum menyadari, bahwa rantai takdir telah mulai bergerak. Jauh di atas awan bersalju hitam itu, di balik dimensi langit yang tidak terjangkau oleh mata fana, pasang-pasang mata entitas agung yang bersemayam di Istana Langit sedang mengamati pergerakan energi waktu yang baru saja bergetar di bumi. Para Dewa telah mencium aroma anomali, dan badai yang sesungguhnya akan segera meratakan dunia kecil Kala.