Satu bulan menikah, IPTU Milka harus menelan kenyataan pahit. Kesetiaannya dibalas pengkhianatan keji oleh sang suami, Vando, yang diam-diam bermain gila dengan sahabatnya sendiri.
Hancur dan menangis di trotoar dengan seragam dinasnya, Milka tak tahu bahwa air matanya disaksikan oleh Theo, pria dari masa lalu yang kini menjadi Dokter Bedah genius sekaligus penguasa sindikat bawah tanah.
Pria yang dulu mundur demi kebahagiaan Milka, kini murka melihat wanita impiannya disia-siakan. Lewat jaringan gelapnya, Theo bergerak cepat menguliti kebusukan Vando dan Irana.
Bagi Theo, menyerahkan suami pengkhianat ke jalur hukum saja tidak cukup. Pria yang telah membuat Milka menangis ... harus merasakan kekejaman pisau bedahnya!
"Biar hukum bekerja lewat tanganmu, Milka. Tapi untuk pria yang menyakitimu ... izinkan aku yang membereskannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Jejak yang Mulai Terbuka
Milka akhirnya menghabiskan makanan yang dibawa Theo meski dengan wajah merah menahan malu.
Theo berdiri perlahan. Ia merapikan diri, lalu melirik kotak makan yang telah kosong. "Nah, gitu dong."
Milka mengembuskan napas panjang. "Sudah puas?"
Theo mengangguk pelan. "Setidaknya sekarang aku tidak perlu mengoperasi polisi yang pingsan karena selalu lupa makan."
Beberapa penyidik kembali menahan tawa.
Milka memijat pelipisnya. Wajahnya terasa begitu panas. "Kak ... jangan datang ke kantor ini lagi." Bahkan, suaminya sendiri tak pernah menengoknya sampai ke dalam kantor ini.
"Kenapa?"
"Semua orang kan jadi salah paham."
Theo memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Bukannya memang harus begitu?"
Milka mengernyit. "Maksudnya?"
Theo hanya tersenyum tipis. "Supaya rekan kerjamu tahu ... kalau ada aku yang sedang mengawasimu."
Milka sedikit terperangah. Bibirnya membulat ingin menjawab. Namun, sebelum sempat ia membalas, Theo sudah berbalik melangkah keluar ruangan.
"Terima kasih makanannya!" teriak salah seorang polisi yang iseng.
Theo mengangkat tangan tanpa menoleh. "Sama-sama."
Pintu ruangan tertutup. Hening. Lalu...
Brak!
Pintu ruang penyidik baru saja tertutup.
Keheningan hanya bertahan beberapa detik sebelum seluruh ruangan mendadak ramai.
"Bu Milka!"
"Itu tadi siapa?"
"Temen yang mana?"
"Ganteng banget!"
"Eh, bukannya dia dokter bedah yang terkenal itu?"
Milka yang masih duduk di depan meja hanya mengembuskan napas pelan.
"Cuma kakak kelas waktu SMA dulu."
"Ah ... masa cuma kakak kelas sampai rela nyuapin makan gitu?"
"Iya! Tadi dia juga bilang belum terlambat."
"Waduh ... jangan-jangan dia udah naksir Ibu sejak zaman sekolah ya?"
"Bukan!" bantah Milka spontan.
Sayangnya, wajahnya yang memerah justru membuat rekan-rekannya semakin yakin. Milka buru-buru membereskan berkas di atas meja.
"Cepat kerja lagi. Berkas kalian belum selesai."
Semua orang akhirnya kembali ke meja masing-masing, meski sesekali masih terdengar tawa kecil yang membuat Milka semakin salah tingkah.
Ia menatap kotak makan yang kini telah kosong. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat tipis. Entah kapan masa terakhir, seseorang mengingatkannya untuk makan.
Namun detik berikutnya senyum itu memudar. Ia menggeleng pelan.
"Milka ... Jangan berpikir macam-macam! Masalahmu belum selesai!"
Ia memilih melanjutkan pada pekerjaan yang tertunda karena makan tadi. Ia melirik jam di ponsel, sudah menunjukkan pulul 20.30.
.
.
Di sisi lain kota ini, SUV hitam milik Theo melaju meninggalkan kantor kepolisian.
Bonar yang duduk di kursi depan beberapa kali melirik kaca spion.
"Boss."
"Hm."
"Barusan berani juga, ya?"
Theo tetap fokus membaca laporan yang ada di layar tablet. "Yang mana?"
"Datang ke kantor Bu Polisi. Nyuapin makan. Terus bilang belum terlambat."
Theo menaruh tabletnya ke atas pangkuan dan menegakkan kepala. "Itu memang kenyataannya."
Bonar menggaruk kepala. "Tapi Bu Milka kan masih punya suami, Boss."
Theo menatap lurus ke jalanan di depan. "Selama dia masih memilih mempertahankan rumah tangganya, aku akan menghormati keputusannya."
Bonar mengangguk pelan.
"Lalu, kalau suatu hari dia memilih pergi?" Tatapan Theo berubah tenang. "Kalau hari itu datang, aku tidak akan memberi kesempatan laki-laki lain mendahuluiku."
Bonar dan Naga saling berpandangan. Dalam hati mereka kompak bergumam,
'Kali ini Big Boss benar-benar serius.'
.
.
Beberapa menit kemudian.
SUV memasuki sebuah gudang tua yang tampak tak terurus. Panel sidik jari dan mata terbuka. Lift baja membawa mereka turun menuju markas White Scalpel.
Begitu Theo memasuki ruang komando, seluruh anggota langsung berdiri.
"Selamat malam, Big Boss."
"Lanjutkan pekerjaan."
Seorang analis segera maju membawa laporan.
"Boss, kami menemukan perkembangan baru." Monitor utama menyala.
Kali ini bukan lagi rekaman perselingkuhan. Melainkan deretan transaksi keuangan.
"Selama beberapa waktu terakhir, rekening Delvando Argianda menerima transfer bertahap dari lima perusahaan berbeda."
Theo memperhatikan angka-angka yang muncul.
"Jumlahnya?"
"Tiga belas miliar."
Bonar sampai bersiul pelan. "Itu bukan angka kecil."
Analis mengangguk. "Masalahnya, kelima perusahaan itu berada di bawah grup yang sama."
"Pemilik akhirnya?"
Layar kembali berganti. Satu nama muncul memenuhi monitor.
Irana Maheswari.
Ruangan mendadak sunyi.
Bonar mengernyit.
"Dia bukan hanya seorang selingkuhan. Ternyata dia juga pemain di dunia hitam."
Analis kembali melanjutkan laporannya.
"Kami juga menemukan dugaan mark-up pengadaan alat kesehatan."
"Beberapa vendor ternyata perusahaan cangkang. Semua laporan keuangannya telah dipalsukan oleh mereka."
Tatapan Theo perlahan berubah dingin. Persoalan ini sudah jauh melampaui perselingkuhan. Ini adalah tindak pidana.
"Buktinya sudah cukup?"
"Belum, Boss."
Theo mematikan layar monitor menggunakan remote. "Kalau begitu ..."
"... jangan sentuh mereka dulu."
Bonar tampak heran. "Kenapa Boss?"
*bersambung*
dulu bapaknya Theo nyusahin Bapaknya Milka, sekarang Milka nyusahin Theo, tapi gpp, Theo suka direpotin Milka 🤣🤣🤣