NovelToon NovelToon
Misteri Kematian Bapak

Misteri Kematian Bapak

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Tumbal
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.

​Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.

​Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 05 - Ibu

​Langkah-langkah kaki yang gontai itu meninggalkan sisa-sisa tanah merah basah di atas lantai semen ruang tamu. Langkah itu terhenti tepat di depan ambang pintu kamar utama.

Bu Retno berjalan masuk tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada keenam anaknya yang mengekor di belakang dengan tubuh bergetar dan pakaian berdebu.

​KLAK.

​Suara kait kunci besi yang diputar kencang dari dalam kamar menggelegar menembus keheningan rumah. Selot kayu tua digeser, menyegel rapat pintunya dari dunia luar.

​"Ibu ...?" Bayu melangkah maju, memegang gagang pintu kayu yang terasa begitu dingin. Ia memutarnya pelan, lalu mendorongnya dengan bahu. Pintu itu tak bergeming sedikit pun. "Bu, buka pintunya, Bu ... istirahat di luar aja sama adek-adek. Jangan dikunci gini ...."

​Tidak ada jawaban dari dalam. Hanya ada hening yang hampa dan berat, seolah-olah ruangan di balik daun pintu kayu jati itu telah berubah menjadi rongga hampa udara yang menolak segala bentuk suara dari luar.

​"Mas, Ibu kenapa?" bisik Pertiwi sambil meremas pinggiran kain sarungnya. Air mata masih membekas di pipi gadis itu, meninggalkan alur keruh di kulitnya yang pucat. Di belakangnya, Mia menggendong Rian yang ketakutan, sementara Gilang—si bungsu berusia tujuh tahun—menempel ketat di paha Galang seperti anak ayam yang kehilangan induknya.

​Galang memandang daun pintu kamar utama yang tertutup rapat. Noda tanah merah dari pemakaman masih melekat di ujung celananya, membawa aroma kuburan tua yang seakan sengaja menyusup masuk ke dalam rumah. Ia melangkah mendekat, menggantikan Bayu di depan pintu.

​"Bu ... ini Galang," panggilnya dengan suara parau. Ia mengetuk papan kayu itu tiga kali.

Tok ... tok ... tok.

 "Adek-adek belum makan siang, Bu. Semalam warung tutup, tapi bahan masakan di dapur masih ada. Ibu mau Galang masakin apa?"

​Tetap hening.

Namun, saat Galang menempelkan telinga kirinya ke permukaan pintu kayu jati yang kasar itu, ia mendengar sesuatu.

​Bukan suara tangisan duka seorang janda yang baru ditinggal mati suaminya, melainkan suara gesekan kain yang bergerak pelan di atas lantai kayu.

Sreet ... sreet ....

Disusul oleh suara bisikan yang teramat pelan, begitu halus hingga hampir tenggelam oleh deru angin sore yang menabrak dedaunan pohon jati di luar rumah.

Suara itu monoton, diucapkan dengan irama yang patah-patah, menyerupai rapal mantra atau hitungan matematika yang diulang tanpa henti.

​... siji ... loro ... telu ... papat ... lima .. enem ... pitu ...

​Galang menarik kepalanya mundur dengan sentakan cepat. Jantungnya berdegup kencang menolak irama alami tubuhnya. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh. Kenapa ibunya menghitung sampai tujuh? Apakah wanita itu sedang menghitung jumlah anak-anaknya? Atau sedang menghitung hal lain yang tak mampu dibayangkan oleh akal sehat?

​"Kenapa, Lang?" tanya Bayu curiga melihat wajah adiknya yang mendadak memutih.

​"Nggak ... nggak apa-apa, Mas," bohong Galang pelan, tidak ingin menambah kepanikan di wajah adik-adiknya yang masih kecil. "Ibu cuma mau sendiri dulu kayaknya. Mungkin masih shock banget gara-gara kejadian di pemakaman tadi."

​"Tapi sampai kapan mau dikunci gini?" bentak Bayu pelan dengan napas memburu. Stres yang menumpuk sejak semalam mulai mengikis habis kesabarannya. "Bapak baru aja dikubur! Rumah ini butuh dibersihin, syukuran tahlilan nanti malam juga harus disiapin! Masa Ibu malah ngurung diri kayak orang gila?!"

​"Mas, pelan-pelan ngomongnya!" tegur Pertiwi menahan lengan Bayu. "Adek-adek dengar!"

​Bayu mengusap wajahnya dengan kasar, lalu mendengus frustrasi sebelum melangkah pergi ke arah dapur dengan hentakan kaki yang berat. Pertiwi menghela napas panjang, menuntun Mia, Rian, dan Gilang menuju kamar samping untuk menenangkan mereka.

​Galang tetap berdiri sendirian di lorong remang-remang itu. Matahari sore mulai tenggelam di balik ufuk Madiun, melempar bayangan-bayangan panjang menyeramkan di atas dinding semen rumah mereka. Lampu ruang tengah belum dinyalakan, menciptakan suasana temaram yang mencekam.

​Ia kembali menempelkan telinganya ke daun pintu kamar ibu.

​Ssssshhh ....

​Bau itu muncul lagi. Bau asap kemenyan yang manis-mencekam, bercampur dengan uap tanah basah dari liang lahat yang amblas tadi siang, merembes keluar melalui celah kecil di bawah pintu kamar.

Asap tipis berwarna keabu-abuan terlihat meliuk merayap di atas lantai, mengelus ujung jemari kaki Galang yang bertelanjang.

​Galang berlutut pelan. Ia menundukkan kepalanya, mendekatkan matanya ke celah bawah pintu yang berjarak hanya satu sentimeter dari lantai.

​Di dalam ruangan yang gelap gulita itu, tidak ada lampu minyak atau lilin yang menyala. Namun, dalam remang-remang bayangan, Galang bisa melihat sepasang kaki tanpa alas berdiri di tengah ruangan. Sepasang kaki itu adalah milik ibunya. Namun, posisi berdirinya sangat tidak wajar.

​Bu Retno berdiri menghadap langsung ke arah lemari pakaian kayu tua di sudut kamar—sebuah lemari jati ukir kuno peninggalan kakek mereka yang selama ini selalu dikunci rapat oleh Pak Broto dan tidak pernah boleh dibuka oleh siapa pun.

​Kedua tumit kaki Bu Retno terangkat tinggi dari lantai. Wanita itu berdiri hanya dengan menggunakan ujung jemari kakinya—jinjit sempurna, seolah-olah tubuhnya yang kurus sedang ditarik ke atas oleh utas tali tak berwujud yang terikat di langit-langit kamar.

​... pitu ... pitu ... pitu ....

​Bisikan itu kini terdengar lebih jelas dari celah di bawah pintu. Suara Bu Retno terdengar serak, dipenuhi oleh keputusasaan dan ketakutan yang teramat sangat, namun disuarakan dengan patuh.

​Galang merasa perutnya mual luar biasa. Hawa dingin yang merambat dari celah pintu menembus matanya, membuat matanya perih berair.

Tepat saat Galang hendak menarik dadanya menjauh dan berdiri, sepasang kaki jinjit itu mendadak berbalik seratus delapan puluh derajat secara patah-patah!

​Kini, sepasang kaki yang jinjit itu berdiri tepat di depan celah pintu, hanya berjarak beberapa milimeter dari wajah Galang yang terendap di lantai.

​Galang menahan napasnya total. Paru-parunya terasa membeku.

​Dari balik pintu yang terkunci rapat itu, suara Bu Broto mengalun pelan, berbisik tepat di celah kayu di mana wajah Galang berada:

​"Galang ... jangan intip apa yang bukan urusanmu."

​DEG!

​Galang melompat mundur secara refleks, punggungnya menghantam dinding lorong dengan keras.

BUMM!

Napasnya memburu kencang, dadanya naik-turun seperti habis berlari jarak jauh. Keringat dingin membasahi seluruh pelipis dan tengkuknya.

​Pintu kamar itu tidak terbuka sedikit pun. Kuncinya tetap terpasang kokoh. Namun, aroma kemenyan di luar pintu mendadak menyengat begitu keras hingga membuat Galang terbatuk-batuk parah.

​"Lang, kamu kenapa?" Pertiwi berlari keluar dari kamar samping dengan wajah panik, melihat Galang terduduk lemas di lantai sambil memegangi dadanya.

​"Nggak ... nggak apa-apa, Mbak," sahut Galang dengan suara bergetar hebat. Ia memaksakan dirinya untuk berdiri, memegangi dinding sebagai tumpuan. Tangannya masih gemetaran kaku.

​Ia memandang pintu kamar ibunya sekali lagi. Tidak ada lagi suara bisikan hitungan angka. Tidak ada lagi asap tipis yang merayap keluar. Hanya ada keheningan mati yang kembali melingkupi ruangan tersebut.

​Malam itu, tahlilan hari pertama meninggalnya Pak Broto berlangsung dalam suasana yang teramat canggung dan penuh bisik-bisik tetangga.

Hanya beberapa warga pria dan Mbah Sastro yang bersedia datang duduk di atas tikar pandan ruang tamu.

Doa-doa dilantunkan dengan tergesa-gesa, diiringi pandangan penuh ketakutan dari warga ke arah pintu kamar utama yang tetap tertutup rapat sepanjang malam.

​Bu Retno tidak keluar sedikit pun—bahkan untuk sekadar menyapa tamu atau meminum secangkir teh hangat yang disodorkan Pertiwi di depan pintu pun tidak disentuhnya.

​Ketika para tetangga pulang dan malam semakin larut menguasai pinggiran Madiun, seluruh rumah tenggelam dalam kegelapan. Bayu, Pertiwi, dan adik-adiknya ketiduran karena kelelahan fisik dan mental yang luar biasa di ruang tengah.

​Hanya Galang yang tetap terjaga di sudut ruangan, memeluk kedua lututnya. Matanya menatap lurus ke arah pintu kamar utama di lorong remang-remang.

​Setiap kali jam dinding kayu jati berdentang menandai pergantian jam di tengah malam, Galang bisa mendengar suara gesekan kuku yang halus dan berulang-ulang dari dalam kamar ibu—seperti kuku-kuku jari manusia yang sedang mencoba mencakar papan kayu jati lemari tua, mencari jalan keluar dari kegelapan yang mengurungnya.

1
kinoy
dah ah g MW komen..SKT hati baca y..bnr2 kesetanan si Retno ..abisin aj keturunan kau..nanggung. jgn ada sisa..
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Tersisa Rian dan ....... Gilang !
mereka menunggu giliran meninggal untuk diambil nyawanya oleh penagih pesugihan pakk Broto
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Sekarang kamu tahu bahwa pakk Sapta itu hanyalah fiktif alias jelmaan iblisss sang penagih tumbal garis keturunan.
Terus sekarang kamu tergesa gesa pulang ke Madiun tanpa tahu bagaimana caranya menghentikan pesugihan ini, ya sama aja bohong.
kamu tetap tidak bisa menyelamatkan nyawa Mia.
kamu datang ke Madiun hanya akan melihat nyawa Mia , sedangkan nyawa Rian dan Gilang pun masih menunggu giliran
kinoy
etdah..deg deg an..apa Mia KD tumbal ketiga kah
kinoy
iiiihhhh..tmbh seru baca y..gemes aq
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
eehhh ... authornya ngajak ke Ngawi 😄
aku belum pernah kesana , Thor ....
paling lewaT aja lalu naik kereta mau ke Surabaya
kinoy
ayo Galang slmtkan sisa adikmu..KLO MW JD tumbal si Retno aj
kinoy
nunggu smua anak broto JD tumbal x y..kasian ATH..noh ada ustadz g BS bantuin gt..geram AQ ma si sapta
kinoy
ya ALLAH kasian km Tiwi..JD tumbal..sapa donk yg BS nolongin Galang ni teh
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Jadi korban selanjutnya .... Mia.
setelah itu Rian .... terus Gilang.
5 garis keturunan.
ditambah janin anak sulung dan pakk Broto sendiri menjadi 7.

Benarkah Galang akan menyaksikan kembali kematian 3 tumbal yang tersisa?
apakah Galang benar benar tidak bisa menyelamatkan sisanya??
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
katanya udah kaya , warung banjir dengan pelanggan , lah ko lampu kamarr Pertiwi masih pakai bohlam kuning 5 Watt 🤔
kinoy
otak si Galang krng muter..dah tau BKN SKT medis..BW ke ustad ke..lah ni mlh dibw kermh LG .nunggu mati JD tumbal..si Sapta omongan y krng ajar bgt y..fisik Tiwi kering duit tmbh numpuk ..bnr2 gila
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Jawaban profesional seorang dokter .... ya begini.

Meski dokternya tahu bahwa ini bukan penyakit biasa, seorang dokter tidak akan menyarankan berobat ke kyai .
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Lahhh ... bukannya kamu udah tahu sendiri, Galang ....
kalau penyakit adikmu ini berhubungan dengan hal ghaib .

Jadi kacamata dokter tidak akan mendeteksi adanya penyakit di tubuh Pertiwi
kinoy
ALLAHU RABBI..KK otor tolongin Pertiwi ngapa..si Retno ay yg JD tumbal deh..kasian anak2nya..gemes AQ baca y
kinoy
kasian Pertiwi..si Retno ih bnr2 bikin gedek..Galang kyknya mst berstrategi ngadepin si sapta
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Jarak eksekusi Bayu ke Pertiwi 7 hari.

Dan Galang ... menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika Bayu dan sekarang Pertiwi meninggal karena sudah waktunya ditumbalkan.
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Ohhh .... ternyata potongan kain linen yang dipegang Galang ada semua nama calon tumbalnya ......
kinoy
dasar setan..si Sapta ktnya dtng bt mencegah spy gd tumbal LG eh mlh dia yg ngatur 1 per satu anak broto komit..si b Retno jg sama aj
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Tumbal selanjutnya ..... Pertiwi

dan

Galang sudah mengetahui tumbal garis keturunan ini , dan dia hanya bisa menyaksikan 1 per 1 tumbal diambil nyawanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!