NovelToon NovelToon
Angsa Cantikku

Angsa Cantikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Myz Pena

​"Tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kau cintai,
ragu memilihmu demi seseorang yang paling kau benci.
​Dan di antara amarah yang membakar serta air mata yang bengkak,
dua jiwa yang terluka dipaksa melangkah di jalan yang sama...
tanpa sadar, bahaya sebenarnya justru sedang mengintai dari jarak paling dekat"

​Bagi Lulu, menjadi sosok culun dan tak kasat mata di kantor adalah hal biasa. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, senyum hangat dan ketulusannya justru menjadi "racun" paling mematikan bagi dua pria kelas atas.

​Angga, manajer berdingin hati yang membenci kesalahan, mendadak kehilangan fokus tiap kali Lulu berada di dekatnya.

Sementara Riko, CEO angkuh yang awalnya
memandang Lulu sebelah mata, malah terjatuh paling dalam akibat sebuah insiden tak terduga. Ketika dua pria berkuasa ini saling berhadapan demi merebut satu perhatian...

siapakah yang akhirnya memenangkan hati Lulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myz Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 : DI ANTARA DUA SERIGALA

"Ciiiih, Luar biasa" Ujar Riko yang tak sengaja mendapati Angga sedang mendekap Lulu dipelukannya. Alisnya sempat terangkat tinggi karena kaget, namun detik berikutnya matanya menyipit penuh selidik. Tatapannya tertuju lurus pada adik tirinya itu, dingin dan menghakimi.

"Pak sebaiknya kita segera masuk"

"Sedikit lagi acara sudah di mulai " Ucap Ivan kembali memfokuskan atasannya agar segera bergegas berjalan menuju ke sebuah rumah besar dan mewah yang tak jauh di depannya saat ini.

Mendengar hal tersebut Riko, segera berjalan lurus ke depan melewati mereka yang sedang asyik bersitatap seolah - olah dunia hanya milik mereka berdua.

Rahang Riko mengeras, perasaan bencinya semakin membuncah. Ingin rasanya ia mengusir Angga dan teman wanitanya itu pergi jauh dari lingkungan rumah orangtuanya. Meskipun disisi lain ia sangat berharap kedatangannya kali ini bisa membuat Adik kecilnya bahagia namun tetap saja perasaannya yang lain tidak bisa di sembunyikan. Ada amarah besar didalamnya yang kini ia tahan dan tak tahu kapan ia akan meledak. Rasa frustasi menumpuk dikepalanya, ia hanya bisa mengepalkan tangannya dengan kuat dan rahannya benar - benar mengeras menahan amarah untuk sementara waktu. Sekali lagi ia tidak sudi Angga dan teman wanitanya itu hadir di pesta ulang tahun adik kecilnya, Ami.

"Um okey, aku nggak apa - apa" Ucap Lulu segera mengatur posisinya kembali tegap seperti biasanya. Pipinya masih memerah, ia masih begitu malu dengan apa yang terjadi padanya saat ini. Ingin rasanya menghilang dari peredaran ketika ia tak sengaja bersitatap dengan atasan angkuhnya itu.

"Oke baguslah kalau begitu, setidaknya jangan menyusahkan ku atau kamu akan tahu apa akibatnya" Ancamnya kembali dengan segera merapikan jas dan kemejanya yang sempat kusut lalu memalingkan wajahnya ke sisi yang lain, menghembuskan nafasnya dengan kasar dan bergegas pergi meninggalkan Lulu secepat mungkin.

"Ini aneh,, apa hanya perasaan ku saja" Ucap Lulu merasa kebingungan dengan situasinya saat ini.

"Sudah ku tebak, aku hanya diliputi nafsu" Batin Angga mencoba menenangkan pikiran dan hatinya yang tak karuan setelah satu menit bersitatap dan dada Angga serasa dihantam gelombang aneh. Jantungnya berdegup kencang secara tidak rasional.

Bagaimana mungkin seseorang yang sangat tidak ia sukai memberikan efek seperti ini. Namun, tak ada satu pun riak emosi yang lolos di wajahnya. Matanya tetap sedingin es, datar dan tak terjangkau, membuat Lulu di hadapannya tak bisa membaca apa pun. Tanpa mengedipkan mata, tanpa mengucap sepatah kata pun, ia langsung berjalan lurus dan melangkah pergi dengan cepat. Meninggalkan Lulu dalam kebingungan atas reaksinya yang mendadak dingin.

"Apa - apaan ini,, dikiranya aku jin kali yang bisa terbang" Cibir Lulu dengan kesal menapaki satu persatu anak tangga.

Tangga batu alam berdesain megah itu meliuk lebar di halaman depan, tampak anggun bagi siapa pun yang melihatnya, namun menjadi siksaan nyata bagi fisik Lulu yang terkuras. Tumitnya terasa berdenyut nyeri tiap kali menghantam permukaan tangga yang keras. Ia terpaksa melangkah perlahan, meniti anak tangga satu demi satu dengan napas yang mulai tersengal. Paha dan betisnya serasa terbakar oleh rasa pegal yang memuncak, memaksa tubuhnya sedikit membungkuk hanya untuk menopang berat badan yang kian terasa menghimpit di setiap pijakan.

"Aku benci memakai sendal seperti ini"

"Ini menyusahkanku, aku ingin segera membuangnya" Keluh Lulu yang tiada henti memperhatikan langkah kakinya dengan memakai hells tinggi. Ia teringat sewaktu beranjak remaja, ayahnya memberikan sendal hells yang di dapatkannya di pembuangan sampah. Dan pertama kalinya juga ia memakai sendal itu saat pesta pernikahan sepupunya sendiri.

Sendal hellsnya membuatnya berjalan aneh dan yang lebih memalukannya didepan semua orang ia hampir tersungkur hingga salah satu pergelangan kakinya mengalami cedera cukup serius. Meskipun itu hajatan kecil di kampung halamannya sendiri, namun rasa malunya tetap saja tidak bisa disembunyikan jika mengingat kembali momen pertama kalinya ia memakai hells. Sejak saat itu dan sampai sekarang pun ia sangat membenci dengan segala bentuk sendal hells.

"Kok orang - orang pada bisa ya,,? sedangkan aku nggak bisa - bisa sampai sekarang "

"Lastri aja bisa, malah aku yang nggak bisa" Ucapnya kembali dengan nada sedih memperhatikan beberapa wanita yang lalu lalang di depannya memakai seragam yang rapi dan profesional nampak begitu lihai memakai hells yang cukup tinggi dengan membawa nampan berisi gelas di atas telapak tangannya.

"Bagus,,, akhirnya aku berhasil melewati tangga ular ini" Ucap Lulu dengan perasaan legah sudah melewati beberapa anak tangga yang membuat tumit dan pergelangan kakinya cukup pegal.

"Pak Angga kemana ya,,?"

"Tadi nyuruh aku cepat - cepat, malah aku yang disini sendirian" Gumamnya begitu cemas bagaikan anak yang di tinggal induknya.

"Aku harus cari kemana ?"

"Apa aku ikutin aja orang - orang ini ?" Pikirnya begitu canggung melihat banyaknya tamu undangan melewati arah dan lorong yang sama. Lulu pun berbaris rapi layaknya menunggu antrian sembari memikirkan kemungkinan apa yang akan terjadi selanjutnya. Dengan perasaan bingung dan juga gelisah kedua matanya masih sibuk mencari keberadaan sosok atasan angkuhnya itu. Setibanya di ambang pintu, tatapan tajam pengawal berbadan kekar dan tegap itu seolah mengunci langkahnya.

"Tolong perlihatkan kartu undangannya nona ?" Tanyanya sekali lagi seorang pria kekar berseragam lengkap dengan jas hitamnya. Ketika pertanyaan demi pertanyaan menuntut kartu undangan dilontarkan dengan nada dingin, dadanya mendadak terasa dihimpit beban berat. Napasnya menjadi pendek dan dangkal. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga suaranya seolah menggema di dalam kepala, mengalahkan riuh musik dari dalam ruangan pesta.

"Em,, a..a...aku.." Ucap Lulu begitu bingung dengan pertanyaan pengawal tersebut. Perasaan yang begitu cemas membuat​ Otaknya mendadak bekerja terlalu cepat, membayangkan skenario terburuk yang bisa terjadi dalam hitungan detik. Ia membayangkan pengawal itu mencengkeram lengannya, memanggil petugas keamanan lain dan menyeretnya keluar di hadapan puluhan pasang mata tamu VIP. Lebih buruk lagi, bisikan-bisikan jahat di kepalanya mulai berputar

"Bagaimana jika mereka mengira aku penyusup? Bagaimana jika aku dituduh hendak mencuri atau bertindak kriminal malam ini?" Pikir Lulu tak karuan. Di tengah kepanikan yang nyaris membekukan napasnya, sebuah suara bas yang berat dan dingin memotong udara dari arah belakang.

​"Dia bersamaku." Belum sempat ia berbalik, sebuah lengan dengan jas hitam mahal terulur, menepuk pelan bahu pengawal itu dengan gestur yang terkesan santai namun penuh intrik intimidasi.

Pria itu menyusup berdiri di sampingnya begitu dekat hingga aroma parfum sandalwood dan tobacco milik atasannya yang sangat ia benci menyeruak masuk ke indra penciumannya.

​Pengawal tegap yang tadinya menatapnya seperti calon penjahat tiba-tiba menegakkan tubuh, menunduk hormat dengan sorot mata yang berubah patuh.

"Maafkan saya, Pak. Saya tidak tahu Nona ini tamu Anda." Ucap pengawal tersebut, namun Angga nampak tidak tersenyum. Dengan tatapan meremehkan yang amat dikenal wanita itu, Angga merengkuh pinggangnya sedikit terlalu erat layaknya seseorang yang memamerkan barang berharga sekaligus mengunci pergerakannya agar tak bisa lari.

​"Lain kali, gunakan matamu dengan benar," Bisik Angga dingin pada pengawal itu, sebelum menunduk berbisik tepat di telinga wanita itu dengan nada yang sama sekali tidak manis.

"Senyumlah atau kamu akan di sangka sebagai penyusup" Bisik Angga dengan ketus. Mendengar bisikan ketus tersebut, Lulu hanya bisa menatap kesal dengan senyum tipisnya yang manis namun hati Lulu begitu berkecamuk dan meronta - ronta seras ingin mengeluarkan kata - kata makian yang tak pantas untuk atasan sombongnya itu.

Mereka pun berjalan berdampingan layaknya sepasang kekasih melewati pintu ganda kayu jati setinggi empat meter yang terbuka lebar, atmosfer hangat dan megah langsung menyergap. Rumah mewah itu tidak sekadar besar, tetapi memancarkan kekayaan turun-temurun. Foyer beratap tinggi dengan tangga melingkar ganda di tengahnya tampak bagai panggung megah, tempat para tamu VIP berbusana kustom saling bertukar sapa.

Lantai marmer impor menyegarkan pandangan dengan pantulan pendar keemasan dari chandelier kristal raksasa yang menggantung di langit-langit berukir. Cahaya lampu yang lembut memantul di dinding-dinding berpanel kayu mahal, yang dihiasi lukisan-lukisan seni bernilai tinggi.

Ruang keluarga utama yang amat lapang disulap menjadi area pesta tanpa sekat. Sofa-sofa beludru digeser ke tepi untuk memberi ruang bagi live acoustic band di sudut ruangan. Bunga-bunga lily dan mawar putih segar tersusun tinggi di atas meja-meja konsol perak, menyebarkan aroma harum manis yang memenuhi setiap sudut rumah.

"Ya Tuhan... rumah macam apa ini ? Besar dan begitu mewah. Sekali pun rumah orang kaya di kampung ku tidak sebesar dan semegah ini" Pikir Lulu menatap takjub segala dekorasi mewah dalam rumah besar tersebut.

Musik akustik yang mengalun ceria di dalam ballroom rumah mewah itu mendadak terasa hambar ketika kerumunan tamu di dekat tangga utama perlahan terbelah. Dari balik pilar marmer, seorang pria dengan gagahnya melangkah maju. Pendekatannya tidak terburu-buru, tetapi setiap pijakan sepatunya di atas lantai mengilap itu membawa bobot aura yang mencekam memaksa orang-orang di sekitarnya refleks memberi jalan.

Pria itu adalah Riko dengan Ivan nampak berjalan mengikutinya dari arah belakang. Riko mengenakan setelan jas hitam dengan garis potong yang sangat tegas, tajam seperti perangainya. Namun, yang membuat napas Lulu tertahan bukanlah pakaian mewahnya, melainkan tatapan matanya.

​Manik matanya memancarkan ketidaksukaan yang begitu pekat. Tidak ada senyum formalitas, tidak ada topeng ramah tamah khas pesta VIP. Tatapannya dingin, menusuk, dan sarat akan penghinaan yang terarah lurus pada Angga, sebelum akhirnya bergulir perlahan meneliti wanita di sampingnya bagaikan menilai barang murahan yang salah tempat.

"Bukankah, pria itu yang pernah datang ke kantor kami ?" Batin Lulu mengingat kembali momen pertama kalinya bertemu dengan Riko yang tak sengaja mendapatinya bersama Angga yang terbaring bersama di lantai ruang kerjanya waktu itu.

Saat jarak mereka tersisa dua langkah, tekanan udara di antara mereka bertiga seolah merosot tajam. Riko pun berhenti, berdiri sedikit lebih tinggi dengan postur yang mengintimidasi. Ia menyelipkan satu tangannya ke dalam saku celana, sementara pandangannya terkunci rapat pada saudara tirinya itu. Udara di sekitar mereka yang tadinya hangat oleh wangi bunga dan hidangan langsung terasa membeku. Lulu bisa merasakan cengkeraman Angha di pinggangnya mendadak mengeras—sebuah refleks tubuh yang tak bisa disembunyikan dari rasa terancam.

Tatapan dingin Riko menyapu wajah mereka berdua, berhenti sejenak pada jemari Angga yang mencengkeram pinggang Lulu di sampingnya. Sebuah sunggingan tipis di sudut bibir Riko tercipta. Bukan senyuman manis, melainkan ejekan terselubung.

​"Aku tidak tahu rumahku sekarang menerima sembarang tamu" Cibir Riko terdengar rendah dan halus, namun cukup tajam untuk mengiris keheningan di antara mereka. Matanya yang tajam kembali menatap Lulu dengan rasa jijik yang terang-terangan.

"Pilihan yang menarik untuk malam ini... Adikku sayang"

"Apa ?? Jadi mereka saudara ?? Batin Lulu begitu terkejut mendengar ucapan pria asing di depannya saat ini.

​Fakta itu berputar-putar di kepalanya bagai mimpi buruk. Segala teka-teki dan atmosfer beracun yang ia rasakan sejak melangkah ke rumah mewah ini seketika terjawab dengan cara yang paling mengerikan. Pria bersikap dingin yang menjadi atasannya, pria yang paling ia benci di tempat kerja dan pria asing berdarah dingin yang berdiri di depannya saat ini berasal dari akar yang sama.

​Kesadaran itu membawa gelombang paranoid baru.

" Aku tidak hanya sedang berdiri di antara dua orang berkuasa, tetapi aku terjebak tepat di tengah-tengah perang dingin diantara mereka" Batin lulu kembali mengingat Alasan atasannya tersebut mengajaknya ke pesta ini.

Ia menyadari alasan sebenarnya mengapa Angga membawa dirinya ke pesta ini. Dia bukan sekadar rekan kerja atau pendamping biasa, melainkan dia adalah umpan, pembuat masalah atau mungkin korban yang sengaja diseret Angga untuk memprovokasi saudaranya tersebut.

Cengkeraman tangan Angga di pinggangnya tidak lagi terasa seperti perlindungan, melainkan rantai yang menguncinya. Ia merasa sangat kecil, telanjang, dan tak berdaya. Di dalam mansion megah yang dimiliki oleh keluarga ini, Lulu sadar bahwa ia hanyalah seekor domba yang baru saja melangkah masuk ke dalam kandang dua ekor serigala yang saling membenci.

1
-Thiea-
kenapa wanita itu bisa sampai dibunuh? Apa yang menjadi dasar dari tindakannya itu kira-kira?"
ginevra
astaga!!! tokoh utamanya meninggal dari episode pertama.
Myz Pena: penasaran kan.. ?? 🤭
total 1 replies
ginevra
ada apa ini? awal udah disuguhi adegan bekap membekap.
sinnox
Hayoloh lulu🫢
Myz Pena: Lulu OTW kerja keras 💪
total 1 replies
Wawan
Salam kenal untuk Lulu 💪✍️
Wawan
Waow /Toasted/
Myz Pena: ini karya pertama ku,, mohon selalu dukungannya ya... dan mari kita saling mendukung 🥹❤️❤️❤️❤️
total 1 replies
ciber ara
makin suka sama ceritanya
semangat thor
Myz Pena: mohon dukungannya ya,, jalan ceritanya akan tetap mendebarkan hanya saya menyesuaikan bab2 sebelumnya karena terlalu panjang..terimah kasih sudah memberi banyk dukungan 🥹❤️❤️
total 2 replies
Anisa Nur Afifah
haii kak mampir lagi nih aku, semangat yaa . jngan lup mampir lagi di novelku🥰
Myz Pena: siap 🤩🤩
total 2 replies
Myz Pena
terimah kasih 😍❤️❤️❤️
Anisa Nur Afifah
seruu banget kaa, aku balik lagiii nih🥰
ciber ara
lnjut💪
Myz Pena: siap, updatenya setiap hari ya.. 😍
total 1 replies
Nisaicha
wah menarik kak ada visualnya juga 😍
jadi penasaran nih lanjut baca..
Myz Pena: di tunggu ya... updatenya tiap hari 😍
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut kakkk
Myz Pena: terimah,, kasih ❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!