Di dunia modern di mana kultivasi berjalan beriringan dengan teknologi, Chen Mo adalah siswa jenius dengan nilai teori sempurna yang bermimpi menjadi kultivator hebat.
Namun, kenyataan pahit menghantam di hari kelulusan saat Upacara Kebangkitan menunjukkan bahwa dia hanya memiliki Bakat Rank F—level terendah yang dicap sebagai "sampah".
Kekecewaannya bertambah ketika teman masa kecilnya, Su Mengqi, yang membangkitkan Bakat Rank S, langsung memutuskannya demi mengejar masa depan bersama para elit.
Meskipun diremehkan oleh semua orang dan masuk ke Akademi Naga Bintang yang bergengsi hanya karena jalur akademis, Chen Mo tidak putus asa, terutama setelah dia secara tak terduga membangkitkan "Sistem Check-in".
Melalui sistem ini, dia mendapatkan hadiah tak terbatas mulai dari pil langka, teknik kuno, hingga uang tunai hanya dengan melakukan check-in di berbagai lokasi akademi.
Diam-diam, di balik tembok akademi yang penuh cemoohan, Chen Mo mulai menumpuk kekuatan dan kekayaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Hari ini adalah penentuan nasib bagi seluruh siswa tingkat akhir.
Suasana di aula SMA Pertama Kota Jinghai terasa sangat panas dan mencekam.
Ribuan siswa berkumpul dengan wajah tegang yang tidak bisa disembunyikan.
Mereka sedang menunggu giliran untuk naik ke atas panggung utama.
Di atas panggung itu, terdapat sebuah batu kristal raksasa yang memancarkan cahaya biru redup.
Itu adalah Batu Kebangkitan, artefak yang akan menentukan masa depan mereka semua.
"Hei, kau dengar tidak? Katanya tahun ini standar kelulusan Akademi Naga Bintang dinaikkan lagi!"
"Benarkah? Aduh, tamatlah riwayatku kalau begitu."
"Kalau aku tidak membangkitkan bakat minimal Rank C, ayahku pasti akan membunuhku."
Suara obrolan dan bisik-bisik para siswa terdengar saling bersahutan di seluruh penjuru aula.
Di tengah kerumunan yang gelisah itu, Chen Mo berdiri dengan sangat tenang.
Wajahnya datar, tangannya dimasukkan dengan santai ke dalam saku celana seragamnya.
Seolah-olah acara kebangkitan ini hanyalah tes ulangan harian biasa baginya.
"Chen Mo, apa kau tidak gugup sama sekali?"
Sebuah suara lembut terdengar dari sampingnya.
Chen Mo menoleh dan melihat Su Mengqi sedang menatapnya dengan raut wajah khawatir.
Gadis itu sangat cantik, dengan rambut hitam panjang yang diikat menyerupai ekor kuda.
Su Mengqi adalah teman masa kecilnya yang selalu menempel bersamanya sejak mereka masih di taman kanak-kanak.
"Tidak ada gunanya merasa gugup, Mengqi."
"Lagipula, nilai ujian teoriku sudah cukup untuk mengamankan satu kursi di akademi," Chen Mo menjawab dengan nada datar.
Su Mengqi memanyunkan bibirnya, tampak sedikit kesal dengan jawaban yang kelewat santai itu.
"Kau ini selalu saja begitu, terlalu percaya diri dengan nilai teorimu."
"Tapi dunia ini digerakkan oleh kekuatan kultivasi, bukan sekadar angka di atas kertas."
"Aku hanya berharap kita berdua bisa mendapatkan bakat yang bagus hari ini," Su Mengqi menundukkan kepalanya, memainkan ujung seragamnya.
"Ya, semoga saja begitu," Chen Mo mengangguk pelan.
Teng! Teng! Teng!
Suara bel yang menggema keras memecah keributan di dalam aula.
Seorang pria paruh baya dengan aura yang sangat mengintimidasi melangkah maju ke depan Batu Kebangkitan.
Dia adalah Kepala Sekolah Lin, sosok kultivator kuat yang dihormati di Kota Jinghai.
"Semuanya, harap diam!"
Suara Kepala Sekolah Lin bergema, diperkuat oleh energi spiritual hingga membuat dada para siswa bergetar.
Aula yang tadinya berisik seketika menjadi hening tanpa suara.
"Upacara Kebangkitan akan segera dimulai."
"Ingat, apa pun hasil yang kalian dapatkan hari ini, itulah takdir kalian."
"Siswa pertama, Su Mengqi! Silakan naik ke panggung!"
Mendengar namanya dipanggil pertama kali, bahu Su Mengqi tersentak kaget.
Dia menatap Chen Mo dengan mata yang sedikit gemetar.
"Pergilah, semuanya akan baik-baik saja," Chen Mo memberinya senyuman tipis untuk menenangkannya.
"Mm! Aku akan berjuang!"
Su Mengqi mengangguk kuat dan melangkah naik ke atas panggung.
Semua mata kini tertuju pada gadis cantik nomor satu di sekolah itu.
Su Mengqi meletakkan kedua telapak tangannya di atas permukaan Batu Kebangkitan yang dingin.
Dia menutup matanya dan menarik napas dalam-dalam.
Wuuush!
Seketika, gelombang energi yang luar biasa besar meledak dari dalam batu tersebut.
Cahaya biru redup itu tiba-tiba berubah menjadi cahaya keemasan yang sangat menyilaukan mata.
Cahaya itu membumbung tinggi hingga menembus atap aula.
Brak!
Beberapa jendela kaca di aula bahkan retak akibat tekanan energi yang melonjak tiba-tiba.
Layar holografik di atas batu itu berkedip cepat sebelum menampilkan huruf besar berwarna emas.
[Bakat Terdeteksi: Elemen Es Ilahi - Rank S!]
Keheningan total melanda aula selama beberapa detik.
Semua orang terpaku, mulut mereka terbuka lebar tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat.
"Rank S?! Apakah aku tidak salah lihat?!"
"Ya Tuhan! Seorang jenius telah lahir di sekolah kita!"
"Ini gila! Sudah sepuluh tahun tidak ada yang membangkitkan bakat Rank S di Kota Jinghai!"
Aula itu seketika meledak oleh sorak-sorai dan teriakan histeris dari para siswa dan guru.
Kepala Sekolah Lin bahkan gemetar karena terlalu bersemangat.
Dia menatap Su Mengqi seolah sedang melihat harta karun nasional.
"Luar biasa! Sangat luar biasa, Nak Mengqi!"
"Akademi Naga Bintang pasti akan langsung mengirimkan undangan VIP untukmu hari ini juga!" Kepala Sekolah Lin tertawa terbahak-bahak.
Su Mengqi membuka matanya perlahan.
Gadis itu menatap kedua tangannya sendiri dengan tatapan tidak percaya, lalu senyum lebar merekah di wajahnya.
Dia telah berhasil dan baru saja melangkah ke puncak dunia.
Di bawah panggung, Chen Mo masih berdiri dengan tenang.
"Syukurlah, dia mendapatkan bakat yang hebat," batin Chen Mo dengan tulus.
Namun, saat Su Mengqi turun dari panggung, sesuatu yang janggal terjadi.
Gadis itu tidak berjalan kembali ke arah Chen Mo.
Langkah kaki Su Mengqi terhenti di tengah jalan.
Dia ditahan oleh sekelompok siswa dari kelas elit, yang dipimpin oleh pemuda arogan bernama Lin Feng.
"Selamat, Mengqi. Aku sudah tahu kau pasti akan mendapatkan hasil yang luar biasa," Lin Feng tersenyum penuh pesona.
"Terima kasih, Tuan Muda Lin," Su Mengqi tersipu malu, nadanya jauh lebih lembut dari biasanya.
"Mulai sekarang, lingkaran pergaulanmu sudah berbeda."
"Kau tidak perlu lagi bergaul dengan orang-orang biasa," Lin Feng melirik sinis ke arah Chen Mo di kejauhan.
Chen Mo melihat kejadian itu dengan jelas.
Dia melangkah maju beberapa langkah dan melambaikan tangannya.
"Mengqi, selamat ya," ucap Chen Mo santai.
Su Mengqi menoleh ke arah Chen Mo.
Namun, tatapan gadis itu tidak lagi sehangat tadi.
Ada jarak, rasa superioritas, dan keengganan yang jelas terlihat di matanya.
"Ah, iya. Terima kasih, Chen Mo."
Su Mengqi menjawab dengan nada dingin dan kaku.
Dia bahkan tidak menatap mata Chen Mo saat mengucapkan kalimat itu.
Gadis itu kemudian membuang muka dan kembali asyik mengobrol dengan kelompok elit Lin Feng.
Seolah-olah Chen Mo tiba-tiba menjadi makhluk tak kasat mata yang tidak penting baginya.
Chen Mo memiringkan kepalanya sedikit.
Tangan kanannya yang tadinya melambai kini perlahan turun kembali ke dalam sakunya.
"Oh. Jadi begini jalannya. Kehidupan yang sangat realistis," batin Chen Mo tanpa ekspresi.
Tidak ada rasa sakit hati yang meledak-ledak, hanya sebuah pemahaman pragmatis tentang sifat dasar manusia.
Manusia akan selalu mencari tempat yang lebih tinggi, dan beban lama harus ditinggalkan.
"Siswa selanjutnya, Chen Mo! Naik ke panggung!"
Suara panggilan dari guru memecah lamunannya.