Karina terbangun sebagai ibu tiri kejam dalam novel yang baru ia baca. Nathan dan Lucas, dua anak kecil yang seharusnya ia lindungi, justru gemetar setiap kali melihatnya. Lebih gawat lagi, Sebastian Wijaya, suaminya yang dingin dan berkuasa, pulang dengan kecurigaan tajam.
Karina hanya punya satu pilihan: memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Namun ketika Nathan dan Lucas mulai memanggilnya Mama, rahasia keluarga Wijaya perlahan terbuka. Pernikahan tanpa cinta berubah menjadi perjuangan melawan masa lalu, fitnah, dan keluarga besar yang ingin memisahkan mereka.
Bisakah Karina menjadi Mama yang mereka butuhkan sebelum takdir menyeretnya pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8
Guru yang Tak Bisa Dipercaya
Tok. Tok.
Ketukan terdengar lagi.
Karina memberi isyarat agar kedua anak tetap di belakangnya. Ia memindahkan cangkir enamel dari dekat tangan agar tidak tersenggol, lalu bangkit tanpa menyalakan lampu lebih terang.
"Siapa?"
"Saya, Pak Hendi. Maaf datang malam-malam."
Nathan langsung berdiri. Ia tidak meraih sapu, tetapi bergerak ke sisi Karina dan mencengkeram ujung bajunya. Lucas ikut mendekat, berlindung di belakang kakaknya.
Karina menatap reaksi itu sebelum membuka pintu hanya selebar satu lengan.
Seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluhan berdiri di luar. Kemejanya disetrika rapi, berbeda dari pakaian kerja kebanyakan warga. Rambutnya disisir ke samping. Senyum yang dipasang di wajahnya terlihat hangat, tetapi pandangannya bergerak cepat melewati bahu Karina, memeriksa isi rumah.
"Ada perlu apa, Pak?"
"Cuma mau lihat keadaan Bu Karina." Pak Hendi tertawa kecil. "Saya dengar beberapa hari ini banyak kejadian. Katanya Ibu sakit, lalu mendadak sibuk mengurus anak-anak. Saya khawatir."
"Saya baik-baik saja."
"Syukurlah. Dulu saya juga sering membantu, kan? Waktu baru tinggal di sini, Ibu bilang sangat berterima kasih karena saya mau mengurus banyak hal."
Karina tidak menjawab. Potongan ingatan dari pemilik tubuh ini bergerak samar. Seorang laki-laki membawa sekantong beras. Janji mengenalkan pekerjaan. Tangan Karina lama menyerahkan gelang, lalu buku tabungan dengan alasan dititipkan agar aman dari orang-orang keluarga Wijaya.
Rasa mual naik ke tenggorokan.
Ingatan berikutnya datang lebih jelas. Pada minggu pertama di Cibungur, Pak Hendi dua kali membawa beras dan minyak goreng, lalu berkali-kali mengingatkan bahwa orang kampung bisa membobol rumah perempuan yang tinggal tanpa suami. Ia menawarkan diri menyimpan gelang emas serta buku tabungan Karina lama di tempat yang katanya lebih aman. Ketika perempuan itu pernah meminta kembali, ia selalu menyebut biaya bantuan, ongkos, dan janji pekerjaan yang tak kunjung ada.
Yang disebut kebaikan rupanya adalah pintu masuk. Setelah Karina lama bergantung, setiap permintaan baru dibuat terdengar seperti utang yang wajib dibayar.
Pak Hendi menatap wajahnya lebih lama. "Ibu benar-benar lupa?"
"Kepala saya sempat terbentur. Ada beberapa hal yang belum saya ingat."
Senyum laki-laki itu tidak hilang, tetapi matanya menyipit. "Oh, begitu. Pantas kelihatannya berbeda."
Nathan mempererat genggaman pada baju Karina.
Pak Hendi menunduk seolah baru menyadari keberadaan anak-anak. "Nathan sudah belajar lagi? Sudah lama dia nggak datang. Sayang kalau anak sepintar dia tertinggal."
Nathan mundur setengah langkah.
Tumitnya menyentuh kaki meja. Napasnya berubah pendek. Ia menekan kedua lengan ke tubuh, berusaha membuat dirinya sekecil mungkin, lalu melirik pintu dapur seperti sedang menghitung jarak untuk membawa Lucas lari. Reaksi itu terlalu kuat untuk tawaran belajar yang terdengar biasa.
Karina tidak membutuhkan cerita lengkap malam ini untuk memahami satu hal: Nathan tidak merasa aman berada dekat Pak Hendi.
"Dia sedang memulihkan luka," jawab Karina.
"Anak laki-laki luka sedikit biasa." Pak Hendi tersenyum kepada Nathan. "Besok datang ke tempat Pak Guru. Kita belajar berdua. Nanti Pak Guru kasih buku yang bagus."
Lucas meraih tangan kakaknya. Nathan menatap lantai. Warna wajahnya berubah pucat seperti ketika Bu Sumiati menuduhnya mencuri, tetapi kali ini ia bahkan tidak berusaha mengangkat dagu.
Karina menangkapnya.
Ia tidak tahu apa yang pernah Nathan lihat atau dengar tentang laki-laki ini. Ia juga tidak akan memaksa anak itu menceritakan sesuatu di depan orang yang membuatnya takut.
Karina bergeser sedikit sehingga tubuhnya kembali menutup anak-anak.
"Terima kasih tawarannya," katanya. "Tapi Nathan yang memutuskan."
Pak Hendi terkekeh. "Dia masih kecil. Mana tahu apa yang baik buat dirinya?"
"Dia tahu apakah merasa aman atau tidak."
Karina menoleh kepada Nathan. Nada suaranya melunak. "Kamu mau nggak, Nak? Mama ikut kamu maunya apa."
Nathan mengangkat wajah. Pandangannya berpindah dari Pak Hendi kepada Karina, seolah mencari jebakan di dalam pertanyaan tersebut.
"Kalau aku bilang nggak?"
"Ya, kita bilang nggak."
"Nggak dimarahin?"
"Nggak."
Nathan menelan ludah. Genggamannya pada baju Karina masih erat, tetapi suaranya ketika menjawab tidak lagi berbisik.
"Nggak mau."
Pak Hendi mengembuskan napas melalui hidung. "Anak kecil memang suka malas. Kalau semua kemauannya dituruti, nanti makin susah diatur."
"Nathan sudah menjawab." Karina menatapnya lurus. "Dia nggak mau."
Anak itu terdiam. Matanya melebar sedikit, lalu tangannya yang mencengkeram baju Karina perlahan melemas. Bukan karena ingin melepaskan, melainkan karena ia tak perlu lagi menahan perempuan itu agar tetap berada di sisinya.
Pak Hendi mengubah posisi berdiri. Senyum ramahnya mulai terlihat dipaksakan.
"Saya cuma berniat baik. Bu Karina dulu percaya sekali sama saya. Bahkan barang-barang berharga juga dititipkan ke saya." Ia menekan kata *percaya*. "Gelang, beberapa surat, buku tabungan. Masih saya simpan baik-baik."
"Kalau memang dititipkan, kembalikan."
Pak Hendi tertawa, kali ini lebih pendek. "Jangan terburu-buru. Ibu sendiri yang memberikan. Saya sudah banyak membantu waktu keluarga suami Ibu membuang kalian ke sini. Beras, informasi, urusan desa. Semua ada nilainya."
"Bantuan yang diam-diam dibayar dengan gelang dan buku tabungan bukan bantuan."
Wajah laki-laki itu mengeras sesaat. "Ibu belum ingat apa-apa. Sebaiknya jangan menuduh."
Karina menahan pintu dengan satu tangan. "Kalau barang itu pemberian, seharusnya Bapak punya bukti penyerahan. Kalau hanya dititipkan, barangnya tetap milik saya."
"Bukti? Kita tinggal di kampung, bukan kantor polisi."
Pak Hendi melirik rumah tetangga yang gelap, lalu merendahkan suaranya. "Ibu nggak perlu membuat ini jadi urusan orang banyak. Besok datang sendiri saja. Kita bisa menghitung semua bantuan saya tanpa anak-anak ikut mendengar."
"Saya akan datang bersama anak-anak," jawab Karina. "Dan pembicaraan soal milik saya nggak perlu dirahasiakan."
"Justru karena itu Bapak merasa bisa bicara sesuka hati?"
Keheningan di antara mereka terasa lebih dingin daripada angin malam.
Pak Hendi akhirnya tersenyum lagi. "Saya paham sekarang. Ibu dengar kabar suami akan datang, ya? Jadi sudah nggak butuh bantuan orang kampung."
Nama Sebastian tidak disebut, tetapi maksudnya jelas. Laki-laki itu sedang menguji seberapa banyak uang dan perlindungan yang mungkin akan masuk ke rumah ini.
Karina tidak memberinya jawaban.
Pak Hendi mundur dari ambang pintu. "Baiklah. Saya pulang dulu. Kalau berubah pikiran soal Nathan, antar saja besok. Soal barang-barang itu, nanti kita bicarakan baik-baik."
"Tidak perlu nanti."
Pak Hendi berhenti.
Karina mengingat gelang di telapak tangannya yang asing, buku tabungan yang berpindah, dan sorot takut Nathan ketika laki-laki itu menyebut belajar berdua.
"Barang itu bukan hak Bapak. Besok saya ambil kembali."
Ia menutup pintu.
Melalui celah kayu, senyum Pak Hendi lenyap. Laki-laki itu berdiri beberapa detik di halaman dengan wajah gelap sebelum langkahnya akhirnya menjauh.