Demi menepati janji masa lalu, Mahira memilih hidup sederhana dan menjadi istri yang berbakti bagi Ziko, seorang pengusaha sukses di Bandung.
Namun, ketulusan Hira justru dibalas dengan dinginnya sikap Ziko dan hinaan bertubi-tubi dari ibu mertuanya.
Hira kerap dianggap wanita tak berpendidikan yang hanya menjadi beban keluarga. Padahal, di balik layar, koneksi rahasia Hiralah yang membuat bisnis Ziko terus meroket.
Penderitaan Hira mencapai puncaknya ketika sebuah kesalahpahaman sengaja diciptakan untuk menjebaknya. Saat Ziko terang-terangan melukai harga dirinya demi wanita lain, kesabaran Hira akhirnya habis. Ia memutuskan melangkah pergi dan menyetujui perceraian tanpa meminta harta sepeser pun.
Kepergian Hira menjadi awal kehancuran dunia Ziko. Rumah yang tadinya hangat berubah menjadi asing, dan rahasia besar di balik sukses bisnisnya perlahan terbongkar. Di sisi lain, Hira bangkit menunjukkan identitas aslinya sebagai wanita berkelas dan berpengaruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Kekacauan di Ruang Kerja
Ruang kerja pribadi Ziko di lantai dua rumah mewahnya tampak seperti area bekas diterjang badai. Tumpukan map tebal, lembaran kertas analisis modal, dan berkas perjanjian lisensi berhamburan tak beraturan di atas meja jati, bahkan beberapa di antaranya tercecer hingga ke lantai marmer.
Lampu meja dibiarkan menyala sejak semalam, memancarkan cahaya kekuningan yang memperjelas betapa semrawutnya ruangan tersebut.
Ziko berdiri di tengah ruangan dengan napas terengah-engah. Lengan kemejanya sudah digulung sembarangan hingga ke siku, dasinya miring, dan rambutnya berantakan akibat jemarinya yang terus-menerus meremas kepalanya sendiri. Pria itu baru saja merogoh seluruh laci dokumen dan lemari arsip, namun kertas penting yang ia cari tidak kunjung ditemukan.
"Sial! Di mana berkas pasal garansi bank untuk Grand Wijaya Group?" teriak Ziko frustrasi, melempar sebuah folder kosong ke atas meja hingga menimbulkan bunyi benturan keras.
Suara teriakan itu memancing langkah Bu Rani yang berjalan tergesa-gesa dari luar. Wanita tua itu masuk dengan wajah tegang, memandangi kondisi ruang kerja putranya dengan pandangan mengerikan.
"Ziko, ada apa sih pagi-pagi sudah berteriak seperti orang gila?" omel Bu Rani, mencoba melangkahi lembaran kertas yang berserakan di lantai. "Dapur bawah masih berantakan, si bibi ART baru itu malah memecahkan dua cangkir keramik kesukaan Ibu, dan sekarang kamu malah membuat ruangan ini seperti tempat sampah!"
Ziko memutar badannya kasar, menatap ibunya dengan mata yang mulai memerah karena kurang tidur. "Ibu tidak paham. Pihak bank dan auditor hukum meminta berkas pasal garansi bank yang asli pagi ini! Kalau berkas itu tidak ada, pengajuan pinjaman darurat untuk menutup kerugian pasokan baja kemarin akan ditolak total."
"Ya cari dengan benar, Ziko! Masa dokumen sepenting itu bisa hilang di rumah sendiri?" sahut Bu Rani tidak mau kalah, mengibaskan tangannya dengan wajah ketus.
"Ziko sudah cari di semua tempat, Bu!" Suara Ziko meninggi, menyuarakan kepanikan yang sudah meluap sampai ke puncak. "Biasanya Ziko cuma perlu bilang ke Mahira, dan dalam waktu lima detik berkas itu sudah ada di meja ini. Mahira yang selama ini merapikan semua arsip bisnis Ziko. Dia yang mengelompokkan kode folder, mencatat tanggal jatuh tempo, bahkan memilah mana berkas krusial dan mana yang tidak."
Bu Rani tertegun sejenak. Namun, bukannya sadar, wajahnya justru makin menegang oleh rasa gengsi. "Halah! Paling si Mahira itu cuma asal tumpuk. Mana paham perempuan desa soal berkas bisnis jutaan rupiah. Kamu saja yang terlalu memanjakan dia sampai-sampai hal sepele begitu tidak ingat menaruhnya di mana!"
"Ini bukan hal sepele, Bu!" potong Ziko tajam, napasnya memburu. "Sistem pengarsipan di ruangan ini dibuat sangat rapi oleh dia. Ziko baru sadar kalau selama tiga tahun ini, Ziko tidak pernah pusing mencari dokumen apa pun karena Mahira yang menata semuanya setiap malam setelah Ziko tidur."
Kata-kata itu terucap dari mulut Ziko dengan kebenaran yang menghantam dadanya sendiri. Tiga tahun lamanya, Ziko hanya perlu melambaikan tangan atau menyebutkan satu judul dokumen, dan Mahira, dengan wajah datarnya, akan menyerahkan kertas yang dibutuhkan tanpa cela.
Ziko selalu mengira dirinya adalah sosok pebisnis jenius yang tertib, padahal di balik kerapian dan ketertiban administrasi kerjanya, ada jemari Mahira yang bekerja secara senyap tanpa pernah meminta pujian sepeser pun.
Sekarang, setelah Mahira pergi membawa koper tua miliknya, sistem yang dibangun dengan rapi itu hancur berantakan. Ziko tidak tahu di mana dokumen asli disimpan, mana yang merupakan draf lama, dan mana dokumen vital yang memiliki cap hukum.
Ponsel di atas meja mendadak berdering nyaring, memotong perdebatan ibu dan anak tersebut. Nama Clarissa tertera di layar. Ziko menarik napas panjang, mencoba menetralkan suaranya yang bergetar sebelum menggeser tombol hijau.
"Halo, Clarissa?" ucap Ziko secepat mungkin.
"Ziko, kamu di mana sih?" Suara Clarissa dari seberang telepon terdengar agak merengek, namun ada nada mendesak yang samar. "Katanya hari ini kita mau bertemu dengan pengacara untuk mengurus percepatan sidang ceraimu dengan Mahira? Aku dan Papa sudah menunggu di restoran. Papa juga mau menanyakan kejelasan draf kerja sama investasi yang kamu janjikan kemarin."
Ziko memejamkan matanya rapat-rapat, mencengkeram tepi meja kerja dengan erat. "Clarissa, maaf... Pagi ini ada kendala sedikit di rumah. Berkas garansi bank dan draf investasi milikku terselip. Aku harus mencarinya dulu sebelum bertemu dengan papamu."
Di seberang sana, nada suara Clarissa berubah sedikit dingin. "Lho, kok bisa terselip? Bisnis kok teledor sekali, Ziko? Papa itu orang sibuk. Kalau drafnya saja belum siap, bagaimana Papaku bisa mencairkan dana bantuan untuk perusahaannmu?"
"Iya, aku tahu! Aku sedang mengusahakannya sekarang," balas Ziko yang mulai kehilangan kesabaran, membuat Clarissa terdiam sejenak sebelum akhirnya mematikan panggilan dengan nada ketus.
Ziko melempar ponselnya ke atas sofa dengan frustrasi. Wajahnya yang biasa dipenuhi kesombongan kini tampak pucat pasi dan sangat kewalahan. Kehilangan Mahira ternyata tidak sekadar kehilangan seorang istri yang bisa disuruh-suruh di dapur, melainkan hilangnya fondasi utama yang menjaga kerapian hidup dan roda kerjanya tetap berputar.
Bu Rani yang melihat putranya mulai terdesak akhirnya mendekat dengan rasa cemas yang baru. "Ziko... jadi bagaimana ini? Bantuan dana dari keluarga Clarissa tidak jadi cair hari ini?"
Ziko tidak menjawab. Ia berlutut di lantai marmer yang dingin, mulai memilah satu per satu lembaran kertas yang berserakan dengan tangan bergetar. Satu per satu lembaran kertas berdebu itu diperiksa Ziko dengan mata yang makin memerah. Setiap kali ia menemukan coretan tangan Mahira di pinggir dokumen, catatan kecil bertuliskan tanggal revisi, pengingat jatuh tempo pajak, hingga analisis risiko singkat yang ditulis dengan sangat rapi, dada Ziko terasa makin dihantam gada besar.
Dulu, ia selalu mencibir catatan-catatan kecil itu dan menganggap Mahira hanya sok tahu ikut campur urusan kantor. Namun kini, setelah membaca kembali poin-poin analisis tajam yang ditinggalkan mantan istrinya, Ziko baru menyadari bahwa prediksi Mahira soal risiko kerugian proyeknya selalu seratus persen akurat.
"Ziko, cepat panggil si bibi ART baru untuk bantu cari! Kenapa malah bengong melihat kertas-kertas itu?" desak Bu Rani dengan suara melengking, mondar-mandir di belakangnya dengan cemas.
"Ibu bisa diam tidak?" bentak Ziko akhirnya, membuat Bu Rani seketika terperanjat kaget. Ziko mencengkeram erat lembaran kertas di tangannya hingga kusut. "Si bibi ART mana tahu urusan berkas kantor. Hanya Mahira yang tahu semua rahasia dan susunan dokumen di rumah ini!"
Ziko berdiri pelan dengan lutut yang terasa lemas, menatap ruang kerjanya yang makin mirip kapal pecah. Kekacauan di ruangan ini hanyalah cerminan awal dari kehancuran hidupnya yang makin tak terkendali. Tanpa ketelitian dan keheningan Mahira yang selama ini menopangnya di balik layar, Ziko sadar bahwa dirinya yang sebenarnya hanyalah seorang pengusaha amatir yang kini sedang berjalan menuju jurang kebangkrutan.