Katanya Paris adalah kota paling romantis di dunia.
Entahlah.
Aku belum pernah punya waktu untuk jatuh cinta.
Namaku Maël. Enam belas tahun. Pagi menjual koran, siang berlari dari polisi, malam mencari tempat tidur yang tidak terlalu dingin. Kadang hidup memaksaku mencopet, tapi percayalah, itu bukan bagian yang paling berbahaya dari kota ini.
Kalau kalian ingin melihat Paris dari balik jendela hotel, kalian salah memilih buku.
Tapi kalau kalian berani menyusuri lorong-lorong sempit, stasiun métro yang penuh sesak, dan jalanan tempat orang-orang seperti kami belajar bertahan hidup...
Bienvenue à Paris.
Aku akan menjadi pemandu kalian.
Oh, dan satu lagi...
Jaga dompet kalian. Aku mungkin sudah berubah. Teman-temanku belum. 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yossi anugrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 Nama yang Dihapus
Aku menatap foto itu cukup lama.
Adrien Delacroix.
Nama itu terdengar asing.
Tapi wajahnya...
Tidak.
Wajah itu terasa terlalu familiar.
Hidungnya.
Bentuk matanya.
Bahkan cara bibirnya tersenyum tipis.
Aku melihat pantulan wajahku di kaca jendela.
Lalu melihat foto itu lagi.
Aku tertawa kecil.
"Hebat."
Tak ada yang menjawab.
"Jadi selama ini..."
Aku menunjuk wajah di foto.
"...aku mirip orang mati?"
Léo mengangkat tangan.
"Secara teknis..."
Aku menatapnya.
Ia langsung menurunkan tangan.
"Baik. Aku diam."
── Maël kepada kalian ──
Kalau kalian sedang membaca ini sambil makan...
Maaf.
Mungkin kalian baru saja kehilangan selera.
Tapi percayalah.
Aku juga.
Aku bahkan belum makan malam.
Dan sekarang aku baru tahu ayahku sudah mati sebelum aku sempat mengenalnya.
Paris memang romantis.
Sangat romantis.
Sampai-sampai bisa membuat hidup seseorang terasa seperti tragedi Shakespeare.
── Kembali ke cerita ──
Aku mengambil foto Adrien dari dalam map.
"Siapa dia sebenarnya?"
Henri duduk di depanku.
"Ayahmu."
"Itu aku tahu."
"Yang tidak kau tahu..."
"...adalah apa yang dia lakukan."
Aku menunggu.
Henri membuka halaman berikutnya.
Ada beberapa dokumen.
Sebagian besar sudah rusak.
Sebagian lainnya ditutupi tinta hitam.
Aku menunjuk bagian yang masih terbaca.
Projet Orphée.
"Proyek apa?"
Étienne menjawab.
"Orphée."
"Program rahasia."
"Untuk apa?"
Henri diam beberapa saat.
Lalu berkata,
"Melindungi anak-anak yang tidak tercatat."
Aku mengernyit.
"Seperti aku?"
"Ya."
"Jadi ayahku..."
"...membantu anak jalanan?"
Henri mengangguk.
"Dia membuat jaringan tempat perlindungan."
"Orang-orang yang kau temui hari ini..."
"...sebagian besar pernah bekerja dengannya."
Aku melihat Pierre.
Ia menunduk.
Marcel menghela napas.
Camille menatap lantai.
Tiba-tiba semuanya masuk akal.
Toko buku.
Bengkel.
Lorong bawah tanah.
Anak-anak yang hidup tanpa identitas.
Burung layang-layang.
Semuanya terhubung.
"Kalau begitu..."
kataku pelan.
"...kenapa namanya dihapus?"
Henri tidak menjawab.
Aku membalik halaman.
Ada foto lama.
Ayahku berdiri bersama beberapa orang.
Di belakang mereka ada papan bertuliskan:
LES ENFANTS INVISIBLES.
Aku menunjuk foto itu.
"Ini organisasi yang tadi?"
Étienne mengangguk.
"Dulu."
"Lalu apa yang terjadi?"
"Pengkhianatan."
Satu kata.
Sederhana.
Tapi membuat seluruh ruangan berubah.
"Siapa yang mengkhianati?"
Henri memandangku.
"Orang yang paling dipercaya Adrien."
"Siapa?"
Henri menarik napas.
"Lima belas tahun lalu..."
"...seseorang menyerahkan lokasi semua rumah perlindungan kepada Lucien Vallois."
Aku membeku.
"Kenapa?"
"Uang."
"Uang?"
"Dan kekuasaan."
Aku tertawa pahit.
"Selalu begitu."
Pierre tiba-tiba berdiri.
"Ada yang tidak masuk akal."
Semua menoleh.
Pierre menunjuk dokumen.
"Kalau Adrien meninggal..."
"...kenapa Lucien mengatakan Maël harus mencari ayahnya?"
Aku langsung menatap Henri.
Pertanyaan itu juga ada di kepalaku.
Henri mengambil map itu.
"Karena mungkin..."
"...catatan ini sengaja dibuat seperti itu."
Aku mengernyit.
"Maksudnya?"
"Catatan kematian."
"Foto."
"Semua dokumen ini..."
Henri mengetuk map.
"...bisa saja palsu."
Ruangan langsung hening.
Aku menatap halaman itu.
"Jadi ayahku mungkin masih hidup?"
"Jangan terlalu cepat berharap."
kata Étienne.
"Kita belum tahu."
Aku mengangguk.
"Baik."
Aku menutup map.
"Lalu kita cari tahu."
Henri tersenyum kecil.
"Kau sudah berubah."
"Dulu..."
"...kau selalu lari."
Aku menatapnya.
"Sekarang aku punya alasan untuk mengejar."
Malam semakin larut.
Anak-anak sudah tidur.
Pierre memperbaiki pintu yang terbakar.
Camille membersihkan pecahan kaca.
Léo duduk di atas meja sambil makan roti.
Aku berjalan keluar bengkel.
Paris malam itu sangat indah.
Menara Eiffel terlihat dari kejauhan.
Lampunya berkilauan.
Aku berdiri di trotoar.
Memandangnya cukup lama.
"Jadi ini Paris..."
gumamku.
Kota yang selalu dibilang romantis.
Aku tertawa kecil.
"Lucu."
Léo keluar dan berdiri di sampingku.
"Apa?"
"Semua orang datang ke sini untuk mencari cinta."
Aku memasukkan tangan ke saku.
"Aku malah datang untuk mencari ayah yang mungkin sudah mati."
Léo menatapku.
"Kalau begitu..."
"...kita cari bersama."
Aku menoleh.
"Kau serius?"
"Iya."
"Kenapa?"
Ia mengangkat bahu.
"Karena kau temanku."
Aku tersenyum.
"Merci."
"Jangan terharu."
"Aku tidak."
"Matamu berkaca-kaca."
"Itu angin."
"Anginnya di dalam mata?"
"Diam."
Léo tertawa.
Aku ikut tertawa.
Untuk beberapa detik...
Aku lupa semua masalah.
Hanya dua anak jalanan.
Berdiri di tengah Paris.
Menertawakan hidup yang terlalu rumit.
Namun tawa kami berhenti ketika suara langkah terdengar dari belakang.
Tok.
Tok.
Tok.
Aku menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya jalan kosong.
Aku mengerutkan dahi.
"Léo."
"Hm?"
"Kau dengar?"
"Apa?"
Aku menunjuk ujung gang.
Sebuah bayangan baru saja bergerak.
Kami langsung berlari mengejarnya.
"Hei!"
Bayangan itu masuk ke gang.
Aku berlari lebih cepat.
Kaki kami menghantam jalan basah.
Tap! Tap! Tap!
"Berhenti!"
Orang itu tidak berhenti.
Aku mengenali cara berlarinya.
Bukan orang dewasa.
Langkahnya ringan.
Cepat.
Seperti anak jalanan.
Aku mempercepat langkah.
Hampir berhasil meraih jaketnya.
Namun orang itu berbelok.
Aku ikut berbelok.
Dan...
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya sebuah tas kecil tergeletak di tanah.
Aku mengambilnya.
Léo datang sambil terengah-engah.
"Siapa dia?"
"Tidak tahu."
Aku membuka tas itu.
Isinya hanya satu benda.
Sebuah buku kecil.
Sampulnya hitam.
Di halaman pertama terdapat tulisan tangan.
Aku langsung mengenali tulisan itu.
Aku pernah melihatnya di surat ibuku.
Tanganku mulai gemetar.
Di halaman itu tertulis:
Untuk Maël.
Aku membuka halaman berikutnya.
Ada satu kalimat.
"Kalau kau membaca ini, berarti mereka gagal membuatmu lupa."
Aku menahan napas.
Halaman berikutnya.
"Jangan percaya Henri."
Aku membeku.
Léo membaca dari balik bahuku.
"Apa?"
Aku membalik halaman.
Tidak ada tulisan lain.
Hanya sebuah alamat.
Dan nama.
Adrien Delacroix.
Aku menatap Léo.
"Léo..."
"Hm?"
"Besok kita pergi."
"Ke mana?"
Aku menunjukkan alamat itu.
"Ke tempat terakhir ayahku terlihat."
Léo membaca alamatnya.
Wajahnya berubah.
"Maël..."
"Apa?"
"Itu..."
"...bukan di Paris."
Aku mengangguk.
"Aku tahu."
"Di mana?"
Aku menutup buku itu.
"Versailles."
Dan malam itu...
Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun...
Aku memiliki sebuah tujuan.
Bukan untuk melarikan diri.
Bukan untuk mencuri.
Bukan untuk bertahan hidup.
Tetapi untuk menemukan jawaban.
Tentang ibuku.
Tentang ayahku.
Tentang Marcel.
Tentang Henri.
Dan mungkin...
Tentang diriku sendiri.