"Kecantikan tak bisa memakan racun kiamat, dan jabatan tak bisa membendung gigitan mayat."
Bereinkarnasi satu tahun sebelum bencana wabah The Them pecah, Thomas—seorang pria asal Indonesia—memilih jalan kelam demi bertahan hidup. Bergabung dengan sindikat perdagangan manusia, ia membiarkan tangannya berlumuran darah, memburu wanita-wanita Jepang untuk dijual kepada para pejabat demi satu tujuan: mengumpulkan modal tanpa batas.
Seluruh uang haram itu ia sulap menjadi sebuah Fortress Mansion bernilai miliaran yen di puncak pegunungan dekat SMA Fujimi—benteng pertahanan baja mandiri yang dilengkapi teknologi tinggi, stok logistik melimpah, dan persenjataan lengkap yang dapat dioperasikan seorang diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamang to get her...., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 Kembali Ke Benteng Baja
Langkah kaki Thomas berdering teratur menghantam aspal jalanan pegunungan yang sunyi. Makin tinggi ia mendaki, suara jeritan histeris dan raungan mesin kendaraan dari arah kota terdengar makin samar, digantikan oleh bisikan angin malam yang berhembus menembus rimbunnya pepohonan pine.
Ia melirik jam tangannya. Pukul 14.20 siang.
Setelah berjalan sekitar tiga puluh menit menyusuri jalur khusus yang tertutup pepohonan rindang, Thomas tiba di depan gerbang utama propertinya. Gerbang setinggi lima meter itu terbuat dari baja tebal bercat hitam dop, dilengkapi dengan kawat berduri dialiri listrik di bagian atasnya serta kamera pengawas yang terlindung dalam kubah kaca tahan peluru.
Thomas mendekatkan telapak tangannya ke pemindai biometrik di samping gerbang, disusul dengan pemindaian retina mata.
*BZZZT... KLIK!*
Mekanisme hidrolik berat berbunyi halus saat pintu baja itu tergeser terbuka cukup lebar untuk dilewati satu orang, lalu otomatis terkunci kembali dengan empat selot baja yang menghantam bingkainya.
Di hadapannya kini berdiri **Fortress Mansion**—sebuah bangunan megah berkonstruksi beton bertulang baja yang terbenam sebagian ke dalam tebing pegunungan. Kaca-kacanya menggunakan lapisan komposit tebal tahan ledakan, sementara atapnya dipenuhi oleh panel surya generasi terbaru dan sistem penampungan air hujan yang terhubung langsung ke filter sterilisasi tingkat tinggi.
Uang miliaran yen hasil darah dan air mata yang ia kumpulkan dari kejahatan sindikat dalam satu tahun terakhir kini wujudnya berdiri kokoh di depan matanya.
"Selamat datang kembali, Thomas," batinnya dengan hela napas lega.
Ia memasuki ruang dekontaminasi di samping garasi utama. Thomas melepas sepatu bot militernya yang bernoda darah, lalu mengaktifkan semprotan disinfektan otomatis untuk membersihkan rompi taktis serta *machete* miliknya. Setelah memastikan tidak ada cairan infeksius yang terbawa ke dalam area tempat tinggal, ia melangkah masuk ke ruangan kontrol utama.
Di dalam ruangan berpendingin udara itu, belasan layar monitor menampilkan sudut pandang 360 derajat dari seluruh kamera pengawas yang terpasang di sekeliling area pegunungan hingga jalan akses menuju SMA Fujimi.
Di salah satu layar, Thomas bisa melihat bus sekolah yang dinaiki Takashi dan rombongannya melaju kencang menyusuri jalan raya kota yang kini dipenuhi mobil-mobil mogok dan kerumunan mayat hidup.
"Mereka pikir melarikan diri ke kota adalah pilihan cerdas," kata Thomas dingin sembari meminum segelas air mineral dingin dari kulkas. "Padahal semakin padat populasi suatu tempat, semakin cepat tempat itu berubah menjadi kuburan massal."
Thomas berjalan menuju ruang penyimpanan senjata dan logistik (*safe room*). Ia membuka pintu besi tebal bersandi ganda.
Di dalam ruangan yang sangat luas itu, tersusun rapi ratusan dus makanan kaleng, beras bernutrisi tinggi, suplemen vitamin, serta ribuan liter air bersih yang disimpan dalam tangki steril. Di rak dinding sebelah kanan, terbaris rapi belasan senapan serbu, amunisi berkaliber besar, bahan peledak, serta stok parang *machete* baja perisai cadangan yang masih terbungkus minyak pelindung.
Semua ini dirancang agar bisa bertahan dan dioperasikan secara mandiri oleh **satu orang saja** selama bertahun-tahun tanpa perlu menginjakkan kaki ke dunia luar.
Thomas menjatuhkan tubuhnya di kursi kulit ruang kontrol, menatap layar monitor yang menampilkan kekacauan peradaban manusia yang mulai runtuh secara dramatis. Tidak ada rasa kesepian atau penyesalan di matanya karena harus bertahan hidup sendirian.
Bagi Thomas, kesendirian di dalam benteng baja yang aman ribuan kali lebih bernilai daripada berada di tengah kelompok yang dipenuhi kepalsuan, ego, dan rasa saling curiga.
Namun, di saat Thomas sedang menikmati ketenangannya, salah satu monitor pengawas yang mengarahkan pandangan ke area hutan terpencil di lereng barat menangkap pergerakan yang sangat tidak biasa.
Bukan zombie manusia kaku seperti yang ia tebas di sekolah tadi. Sosok itu bergerak dengan kecepatan tak wajar di antara semak-semak.
Thomas memicingkan matanya, memperbesar tampilan kamera. Tangannya perlahan meraih gagang parang yang ada di meja. Waktu istirahatnya tampaknya harus tertunda.