Ditinggalkan tanpa harta yang sebenarnya adalah haknya, membuat Shella tidak mempunyai apapun, tapi siapa sangka, dia malah di dekati oleh pria yang lebih berkuasa dari suami lama nya, yang sudah ditemani nya sejak NOL..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Pipin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta dan Logika
"Anak dan ibu sama saja kelakuannya," cibir Helena ketus sambil menarik paksa lengan suaminya, Surya. Dia benar-benar tidak sudi terlibat lebih dalam ke dalam drama menjijikkan ini.
Helena masih ingat betul bagaimana dulu Saskia lahir dari masa lalu Sekar yang terlalu bebas. Dan sekarang? Lihatlah anaknya. Bahkan beberapa waktu lalu, gadis muda itu diam-diam telah menggugurkan kandungan—rahasia kelam yang baru diketahui Sekar beberapa minggu setelahnya. Benar-benar rusak.
"Gladis, Vino, tinggalkan ruangan ini sekarang," perintah Helena tegas, tidak ingin kedua anaknya ikut dikotori oleh masalah ini.
Sementara itu, Sekar masih terpaku di tempatnya. Matanya menatap sang putri dengan tatapan kosong yang menyedihkan.
"Kamu... kamu pasti sedang bercanda kan, Nak?" tanya Sekar lirih, suaranya bergetar menahan tangis.
Tanpa membuang waktu, Saskia merogoh tasnya dan menyerahkan selembar kertas putih. Kertas itu menampilkan foto hasil USG—bukti nyata keberadaan janin hasil hubungannya dengan Bramantyo.
"Ya Tuhan, Saskia... kamu sadar tidak, apa yang sudah kamu lakukan?!" tangis Sekar akhirnya pecah, dadanya naik-turun menahan sesak. "Dia itu suami Shella, sepupumu sendiri! Kenapa kamu bisa sejahat ini?!"
Saskia tidak menjawab amarah ibunya. Dengan wajah tanpa dosa, ia justru bertanya, "Jadi, Mama merestui aku menikah dengan Mas Bram, kan?"
Sekar menatap anaknya dengan pandangan asing, seolah gadis di depannya bukan lagi darah daging yang ia besarkan. Rasa kecewa yang teramat dalam membekukan lidahnya.
"Terserah," bisik Sekar pasrah.
Kedua orang tua itu akhirnya melangkah pergi dengan langkah gontai, meninggalkan ruangan yang kini hanya menyisakan dua orang pengkhianat. Saskia menoleh, mengukir senyum manis yang penuh kemenangan ke arah pria di sampingnya.
"Aku tahu, Mas... setelah ini, hanya akan ada kamu dan aku," bisik Saskia manja.
Bramantyo hanya mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tipis. Ia kemudian berpamitan untuk pulang. Di dalam kepalanya, Bram hanya berharap satu hal: surat cerai itu sudah selesai ditandatangani oleh istrinya.
Di sebuah kafe pinggir jalan, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Shella.
“Apa kamu sudah tahu hal ini? Soal kehamilan Saskia?”
Shella menatap layar datar itu dengan mata berkaca-kaca. Jari-jarinya yang gemetar mengetik balasan jujur, membenarkan segalanya. Setelah mengirim pesan, ia mengembuskan napas panjang yang terasa menyiksa dadanya, lalu berjalan meninggalkan kafe dengan langkah lunglai.
"Tabungan makin menipis... kami bahkan belum resmi cerai, tapi dia benar-benar sudah memotong jatah bulanan bulan ini," gumam Shella getir sambil menatap saldo di layar ponselnya.
Air mata yang sejak tadi ia tahan perlahan menetes, membasahi pipinya yang pucat. Rasa lapar dan dinginnya ketidakpastian mulai merayapinya.
"Lihat saja, Mas... aku bersumpah akan menjatuhkanmu sejatuh-jatuhnya nanti," desis Shella, mencoba menyuntikkan racun dendam ke dalam hatinya yang rapuh.
Sesampainya di rumah, Shella masuk ke dalam kamar. Di atas meja rias, dua tumpuk dokumen laknat itu masih setia menantinya. Shella mendekat, jemarinya menyentuh permukaan kertas putih itu dengan hati yang tersayat.
"Aku masih sangat mencintaimu, Mas... Apa salah kalau aku menolak perceraian ini? Aku tidak berharap banyak pada hartamu. Aku tidak butuh kekayaanmu. Aku hanya butuh seseorang yang mencintaiku dengan tulus... seperti dirimu yang dulu."
Air matanya luruh membasahi kertas dokumen di hadapannya. "Tapi dengan adanya kehamilan Saskia... apa semua itu masih mungkin?"
Shella memegang pena dengan jemari yang gemetar hebat. Ia mendekatkan mata pena ke kolom tanda tangan, namun sedetik kemudian kembali meletakkannya dengan frustrasi.
"Kalau aku menandatanganinya sekarang, berarti mereka menang. Tapi kalau aku menarik ulur waktu, apa semua ini bisa diperbaiki?" Shella tertawa hambar, menertawakan kebodohan hatinya sendiri. "Sadar, Shella! Kamu sudah dikhianati sejauh ini, tapi masih mengharapkannya kembali?"
CEKLEK.
Pintu kamar terbuka kasar. Sosok Bramantyo berdiri di sana. Tatapannya langsung tertuju pada dokumen yang masih bersih di atas meja.
"Jadi, kamu masih belum menandatangani surat ini?" tanya Bramantyo.
Shella membalikkan tubuhnya, menatap pria yang lima tahun ini mengisi seluruh hidupnya. "Mas Bram... coba pikirkan sekali lagi. Kita sudah menikah lima tahun, Mas. Apa semua kenangan kita tidak ada artinya?" ratap Shella, suaranya serak akibat tangis yang tertahan di tenggorokan.
"Aku harus bertanggung jawab, Shella. Aku harus membuat Saskia melahirkan anak itu dengan namaku sebagai ayahnya," jawab Bramantyo dingin, seolah pernikahan mereka hanyalah sebuah transaksi bisnis yang sudah kedaluwarsa.
"Mas, aku tahu siapa Saskia sebenarnya! Apa kamu benar-benar yakin itu benihmu?!" sergah Shella, mencoba menyadarkan pria egois di depannya. "Bagaimana kalau anak itu bukan anakmu?!"
"Jangan berkata hal bodoh untuk mengulur waktu, Shella!" bentak Bramantyo, matanya berkilat marah. "Saskia tidak pernah tidur dengan siapapun lagi setelah dekat denganku! Cepat tanda tangani, dan urusan kita selesai!"
Shella memejamkan matanya rapat-rapat, merasakan hantaman rasa sakit yang luar biasa di dadanya. "Beri aku waktu, Mas... Tolong, beri aku waktu," mohon Shella dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur.
Bramantyo hanya mendengus pelan, lalu berbalik dan membanting pintu kamar dengan keras, meninggalkan keheningan yang mencekik.
Tubuh Shella seketika kehilangan daya. Ia menjatuhkan diri ke atas kasur.
"Aku tahu aku dikhianati... aku tahu dia jahat..." rintih Shella di sela tangisnya yang menyayat hati. "Tapi kenapa... kenapa aku belum bisa membencinya? Kenapa cintaku sejahanam ini? Ya Tuhan... apa yang harus aku lakukan?"