Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18: "Kenapa Nggak Dibalas?"
"Pacarku minta aku kabari setiap mau lepas landas dan setelah mendarat," kata pilot pengamat yang duduk di jump seat.
Dio melirik ke belakang sambil menyelesaikan pemeriksaan panel. "Bagus. Berarti ada yang memastikan kamu nggak lupa hari dan tanggal."
"Bukan begitu, Pak. Katanya supaya dia merasa aman."
Arkan yang sedang memeriksa data keberangkatan tidak ikut tertawa. Kalimat terakhir itu menetap di kepalanya lebih lama daripada seharusnya.
Merasa aman.
Selama beberapa hari menikah, ia dan Laras sudah saling menyimpan jadwal. Laras tahu kapan ia berangkat dan perkiraan kapan ia pulang. Namun, Arkan tidak pernah mengabari saat pesawat benar-benar lepas landas atau mendarat. Ia menganggap jadwal cukup menjelaskan semuanya.
Apakah Laras juga ingin mendapat kabar, tetapi tidak mengatakannya?
"Kapten?" panggil Dio.
Arkan mengalihkan perhatian ke daftar periksa. "Lanjut."
Penerbangan dari Jakarta menuju Yogyakarta seharusnya singkat. Namun, menjelang turun, gambar pada radar cuaca dipenuhi sel merah dengan bagian magenta yang memanjang di jalur kedatangan. Awan cumulonimbus membentuk dinding di sebelah barat YIA. Pesawat lain di depan melaporkan turbulensi sedang dan gagal mendapat jalur aman untuk menembus celah.
Arkan meminta deviasi. Jakarta Control memberi arah baru, tetapi sel itu terus berkembang dan menutup jalur menuju titik awal pendekatan. Bahan bakar masih mencukupi untuk menunggu, satu kali pendekatan, lalu menuju bandara alternatif beserta cadangan wajib. Akan tetapi, setiap menit yang dihabiskan untuk berharap cuaca terbuka akan mengurangi pilihan mereka.
Arkan memeriksa angka bersama Dio.
"Kita nggak mengejar celah," katanya. "Divert Solo."
Dio mengangguk. "Setuju."
Keputusan diteruskan kepada pengatur lalu lintas udara, awak kabin, operasi perusahaan, dan penumpang. A330 itu berbelok menuju Adi Soemarmo. Tidak ada kepanikan di kokpit. Hanya suara hujan, sapuan radar, serta rangkaian hitungan bahan bakar dan cuaca yang terus diperbarui.
Mereka mendarat dengan aman di Solo.
Setelah pesawat terparkir dan semua prosedur selesai, Arkan baru mengambil ponselnya. Ia teringat obrolan sebelum berangkat. Tanpa menyusun kalimat terlalu lama, ia membuka nama Laras.
Arkan:
Cuaca jelek. Kami divert ke Solo dulu.
Pesan itu terkirim pukul 17.46.
Tidak ada balasan.
Arkan menyimpan ponsel ketika petugas operasi datang membawa pembaruan. Cuaca Yogyakarta diperkirakan membaik dalam dua jam. Mereka membahas bahan bakar tambahan, batas waktu tugas kru, kemungkinan penumpang turun, dan opsi menutup perjalanan di Solo bila kondisi tidak memungkinkan.
Empat puluh menit kemudian, Arkan membuka ponsel lagi.
Pesan itu sudah dibaca.
Tetap tidak ada balasan.
Ia menatap dua centang biru di samping kalimatnya. Mungkin Laras sedang bekerja. Mungkin ia hanya membaca sekilas. Mungkin menurutnya pesan itu tidak perlu dijawab.
Semua kemungkinan itu masuk akal.
Arkan tetap membuka layar setiap kali ada jeda.
Ia sempat mengetik satu pertanyaan pendek.
Arkan:
Kamu di mana?
Tulisan itu tidak pernah dikirim. Terlalu mirip pemeriksaan, padahal Laras tidak melakukan kesalahan apa pun. Ia menghapusnya, mengunci layar, lalu lima menit kemudian memeriksa lagi seolah jawaban bisa muncul tanpa ada pesan baru.
Yang terlihat hanya foto profil langit senja dan waktu terakhir Laras aktif. Arkan bahkan mulai menghitung selisih waktunya. Ia tahu perilaku itu tidak masuk akal. Saat bertugas, ia menuntut setiap keputusan punya data dan alasan. Kini ia justru membangun dugaan dari dua centang biru.
Begitu pembahasan operasi dimulai lagi, ia memasukkan ponsel ke tas dan mengembalikan seluruh perhatian pada penerbangan. Namun, saat jeda berikutnya tiba, tangannya kembali mencari benda yang sama.
"Menunggu kabar rumah, Kapten?" tanya Dio.
"Nggak."
"Baik."
Dio menjawab terlalu cepat, jelas tidak percaya, tetapi cukup bijak untuk berhenti.
Menjelang malam, telepon dari Reno masuk.
"Lo balik Jakarta malam ini?" suara Reno langsung terdengar tanpa salam. "Gue sama Bimo mau cari makan. Ikut."
"Masih di Solo."
"Katanya terbang ke Yogya."
"Divert."
"Kalau pulang sebelum tengah malam, kabari. Gue bisa tunggu."
"Nggak usah."
Reno tertawa. "Pengantin baru sekarang buru-buru pulang, ya?"
Arkan hampir meminta Reno melakukan sesuatu yang sangat tidak masuk akal: melewati Kopi Wulan atau rumah mereka untuk melihat apakah mobil Laras ada, apakah ia sedang di luar, dan apakah nama Bagas punya hubungan dengan tidak dibalasnya pesan itu.
Pikiran itu membuat rahangnya mengeras.
Ia seorang kapten yang baru saja mengalihkan pesawat berbadan lebar tanpa ragu karena risiko cuaca. Namun, satu pesan yang tidak dibalas membuatnya hampir menyuruh temannya mengawasi istrinya sendiri.
"Kan?" panggil Reno.
"Nggak ada apa-apa. Aku tutup."
Arkan mengakhiri telepon sebelum kebodohan itu sempat berubah menjadi kalimat.
Cuaca di Yogyakarta akhirnya membaik. Setelah penilaian ulang, pengisian bahan bakar, konfirmasi waktu tugas, dan koordinasi operasi selesai, penerbangan dilanjutkan. Mereka mendarat di YIA, menyelesaikan rotasi, kemudian kembali menuju Jakarta dengan jeda sesuai prosedur.
Saat pesawat berhenti di CGK, hari sudah lewat tengah malam. Rasa lelah mulai menekan di belakang mata Arkan, tetapi tangannya tetap mengambil ponsel setelah semua pemeriksaan pascapenerbangan selesai.
Tidak ada pesan dari Laras.
Pukul tiga dini hari, ia membuka pintu rumah Alam Sutera dengan langkah pelan.
Lampu utama mati. Hanya lampu lantai di sudut ruang tamu yang menyala, membuat ruangan dipenuhi cahaya kuning lembut. Di atas meja, ada wadah makanan bertutup dan secarik kertas kecil.
Masih hangat di dalam rice cooker. Supnya di kulkas, panaskan dua menit. Jangan cuma minum kopi.
Tulisan Laras sedikit miring ke kanan.
Arkan berdiri lama di depan meja. Kekesalan yang ia bawa dari Solo melunak begitu saja, menyisakan rasa hangat yang justru lebih mengganggu. Laras tidak menjawab pesannya, tetapi perempuan itu mengingat kemungkinan ia pulang dalam keadaan lapar. Ia meninggalkan lampu agar Arkan tidak masuk ke rumah gelap.
Ia memanaskan sup, makan sendirian, lalu mencuci mangkuk agar Laras tidak menemukannya di wastafel. Sebelum tidur, Arkan melewati sisi kanan ranjang. Laras sudah pulas dengan selimut menutupi dagu.
Ponselnya tergeletak di nakas.
Arkan tidak menyentuhnya.
Ia hanya berbaring di sisi lain dan memandangi langit-langit, bertanya-tanya bagaimana satu orang bisa membuatnya kesal sekaligus tenang dalam malam yang sama.
Ketika terbangun, cahaya pagi sudah masuk melalui celah tirai. Sisi Laras kosong.
Arkan mendengar bunyi piring dari dapur. Ia bangkit, mencuci muka, lalu menemukan Laras sedang menuang susu ke dalam gelas. Perempuan itu menoleh dengan ekspresi terkejut.
"Kamu sudah bangun? Tidurnya baru sebentar."
"Cukup."
"Makanannya ketemu?"
"Ketemu."
Laras tersenyum lega, lalu kembali menutup kotak susu. Seolah tidak ada hal lain yang perlu dibicarakan.
Arkan berdiri di seberang meja dapur. Ia sudah mencoba menganggap pesannya tidak penting sejak kemarin. Usaha itu gagal di Solo, gagal selama penerbangan pulang, dan gagal lagi setelah melihat wajah Laras pagi ini.
"Laras."
"Hm?"
"Semalam WA-ku, kenapa nggak dibalas?"